When a bird should be back to her nest

“Hellloo…boss…as you see..when a bird should be back to her nest, she will spend her time on nurturing her old place. By this deed, she is getting ready for her upcoming journey.” Still there, a beautiful sentence I wrote two years ago. There had been a lot of time during these periods when I’m so busy consolidating my self, managing my family and taking care everything, those are my 

responsibility. Today, I try to awake my truly mind as I begin to see a point of light, a source of energy that suddenly come to me. After five days, my house being fulfilled by spiritual energy coming from 41 reading of ya sin.

Is today A New Season?
the half-empty glass
leaking rust-tinged memories
into the polished keyhole
of a closed door
stained
with
streaks of manipulation
frozen beneath intense sunshine
baked
broiled
burned
Let’s see for two or five days. i hope this writing will be continued…

Emosi yang Tak Cerdas

“Terima kasih …. semoga selamat sampai di tujuan..”, tak harus menunggu 1 menit kantong bekas permen itu ada di depan paras manis Sasya. Tertegun sekejap karena sebelumnya dirinya sempat menikmati lagunya Titi Kamal yang dinyanyikan sang Pengamen dengan timbre cowok tentunya,
La lai la lai la lai 

Panggil aku si jablai
Abang jarang pulang
Aku jarang dibelai…
“Hiiii…..emang sich gw jomblo, tapi nggak segitunya lah, dasar pengamen alay…he2x…” Sasya tersenyum sendiri mendengar lagu itu sambil merenungi istilah cewek jablay dan cowok alay yang semakin sering masuk dalam benaknya.
Menurutnya penggunaan istilah-istilah tersebut telah menjadi standard penilaian yang nggak jelas dalam zaman yang makin nggak karuan ini. Tidak ada padanan kata yang tepat untuk menjelaskan dua istilah pergaulan modern itu karena dua kata tersebut menegaskan suatu gaya hidup yang hanya mengutamakan penampilan sebagai penilaian awal yang menjadi patokan. Bila kita ingin mengawali kesan yang baik di mata orang lain, maka tampillah juga dengan ukuran yang menjauhi kata-kata “tidaaak” dari orang itu. Namun rumitnya, orang lain itu siapa? Bagi seorang sarjana komunikasi seperti dirinya, patokan nilai jaman sekarang sudah menjadi pola pandang terhadap dunia yang tidak jelas juga kesefahamannya. Itu semua terjadi akibat saluran komunikasi sosial yang sudah sangat padat merayap seperti jalanan macet yang dilihatnya sekarang. Hukum dan norma yang berlaku seakan tidak berfungsi seperti lampu dan rambu lalu lintas yang dipajang sekedar untuk dilihat namun tidak bisa mengatur sinergi kecepatan semua kendaraan yang mengantar kepentingan-kepentingan manusia sampai ke tujuannya. Manusia sekarang susah diatur, ragam kepentingan sulit untuk berpadu. Semakin banyak manusia yang memahami isi dunia ini tidak pula berarti semakin banyak manusia yang menyadari bahwa dunia ini masih bulat atau sudah agak lonjong seperti telur ayam puyuh. Sopo ngerti?
Ah, memikirkan keruwetan teori itu membuat kepala Sasya pusing. Kehidupan manusia sekarang sudah parah, apalagi bagi seorang cewek seperti dirinya. Dalam usianya yang masih relatif muda, Sasya seringkali berganti-ganti penampilan. Suatu perilaku ekspresif yang menunjukkan bahwa dirinya masih termasuk seorang manusia yang belum begitu dewasa memandang makna kehidupan. Dari beragam analisa penampilannya itu, Sasya bisa menyimpulkan bahwa terbuka maupun tidak, seksi maupun tidak, anggun atau lebay…tetap saja banyak mulut cowok yang berkomentar macam-macam. Bahkan pernah suatu saat Sasya jalan bareng temannya dengan dandanan yang sangat wajar, tiba-tiba nongol kepala gundul meneriakinya dari dalam mobil Jazz merah “Heiiii…..JABLAY, godain kita dong!”
UUhhhhhh… salah apa dirinya ? Keruwetan aliran darah di kepalanya mulai bergolak, mengaduk sedikit demi sedikit perasaan kecewa terhadap kehidupan yang terasa tidak adil bagi dirinya. Mendadak saja memorinya memutar kenangan buruk dirinya bersama mantan tunangan yang begitu menghormatinya dalam kurun keindahan asmara selama tiga tahun. Perubahan drastis terjadi saat mendekati masa penantian terindah dalam hubungan mereka, Sasya tiba-tiba dicampakkan. Hanya gara-gara sebuah penilaian yang tidak jelas dari calon ibu mertuanya. Tanpa berkomunikasi terlebih dahulu dengan dirinya, sang ibu mulai melancarkan kritik pedas terhadap semua perilaku yang menurut diri Sasya memang sedikit demi sedikit berubah untuk kebaikan. Awal kemalangan itu terjadi menjelang saat lamaran, Sasya memutuskan untuk bekerja setelah dirinya lulus kuliah. Namun rupanya, pergaulan lingkungan kerja telah mempengaruhi sifat Sasya yang dulu pendiam dan rendah hati. Di mata calon ibu mertuanya, sosok Sasya tidak lagi terlihat seperti dewi kemayu. Tuntutan pekerjaan membuat sifat Sasya yang disiplin dan mandiri terbentuk dalam pribadi yang superior. Sasya sekarang melihat sesuatu dalam perspektif nilai guna, sehingga sedikit cacat dalam suatu hal dapat memancing emosinya meledak. Siapapun yang dekat dengan Sasya sekarang akan berkata bahwa dirinya galak.
Hmmm….sedemikian merosotkah persepsi publik terhadap citra dirinya ? Masihkah dirinya memiliki nurani? Ah, pasti orang – orang itu keliru. Buktinya manusia di depanku ini tahan beberapa menit mematung, memahat tampang kasihan agar terwujud interaksi belas asih diantara sang penyanyi dengan sang penikmat lagu. Pengamen ini pasti melihat aura kebaikan dalam wajahku, pikir Sasya. Kalau dirinya terlihat galak, tentunya si pengamen alay ini akan berlalu cepat dari semenjak dia menyodorkan kantung permen itu padanya. Buktinya juga dia tidak berbicara sepatah kata apapun untuk mengungkapkan keperluannya. Dia masih memandangi wajah Sasya sambil memancarkan pesan “hey, tak ada pengamen yang mau gratisan menyanyi”. Yup, itulah pertanda masa materialistik-kapitalis berkuasa mandraguna.
Sambil berfikir dan gugup Sasya membuka dompet. Dicarinya sekeping logam seribuan yang tersisa. “Duh, dimana pula kusimpan”, pikir Sasya. Jari – jari Sasya terus mengorek – orek kantung – kantung dompetnya, namun tidak jua dirinya menemukan kepingan uang tersebut. Sasya lalu berdiri menaruh dompetnya di kursi. Kedua tangannya kini merogoh kedua kantung saku rok kerja berwarna ungu yang dipakainya hari itu. “ah, ini dia..”. Sekeping uang logam seribu rupiah akhirnya masuk juga ke dalam kantong permen lusuh itu. Pengamen itu pun cepat berlalu, mengedarkan kembali kantongnya menuju kebagian belakang bus sumpek itu.
Mata Sasya tanpa sadar mengikuti sekilas gerak pengamen itu. Dia membayangkan kantong pengamen itu pasti sudah penuh dengan uang receh. Apalagi kalau banyak orang yang memberi lebih banyak dari jumlah uang yang dia berikan. Ah, lagi – lagi jiwa Sasya bergolak, emosinya kembali tersulut saat mendadak muncul pendapat kritis dalam benaknya mengenai ketidakadilan sistem pemerataan yang bisa mendorong setiap kaum berlebih untuk berderma bagi kemajuan negeri ini. Dalam pandangan akal Sasya, semua pemilik uang di negeri ini hanyalah penjajah yang beralih rupa. Tidak ada satupun orang besar sekarang yang perlu dikenang kebaikannya. Yya..yah..bila mengenang kebaikan seseorang… tadi rasanya…
Sekejap mata Sasya tertumbuk pada sebentuk wajah. Wajah seorang pemuda yang sepertinya sangat dikenalnya. Dan ….oops ketika si pemilik wajah itu merasa diperhatikan dia tersenyum. Sasya ingat.. .. , wajah itu kan milik pemuda yang mempersilakan dia duduk tadi, yang rela memberikan tempat duduk untuk kenyamanannya sekarang. Sasya tersentak. Ia bahkan belum setidaknya menyapa dan mengenal pemuda baik itu. Dan lihatlah, meskipun ia tidak dibalas atas kerelaannya terhadap Sasya, ia masih ramah dengan senyumnya. Sasya malu. Senyum balasannya agak bersemu merah. Sasya semakin tak berani menengok ke belakang lagi beberapa saat.
“Permisi Mbak, Saya duluan yach .. di depan itu saya turun” ada bisik dibelakang telinganya, dan setipis raba di lengannya. Sasya tersentak kembali. Ia tahu pasti pemuda penolong itu. Tetapi ketika Sasya mendongak untuk memastikan, pemuda itu sudah lenyap di balik kerumunan orang yang sudah turun tadi. Sasya hanya melihat sang pemuda yang akan menyeberang jalan. Dia ingin melambaikan tangan. Namun mungkin tak ada gunanya lagi. Dia hanya berdoa semoga Tuhan membalas kerelaan sang Pemuda. Namun baru saja Sasya mengungkapkan sebait do’a yang biasa dipanjatkan jikalau ada rasa yang berkecamuk di hatinya. Pada kalimat:”Tuhan berikanlah kebaikan untuk dia…” selesai diucapkan, sebuah telapak tangan menepuk pundaknya. “Ma’af mbak, ongkosnya …”. Sejenak Sasya kaget, namun sesaat itu pula Sasya bereaksi. Meraba lagi kantong tasnya untuk…”hah..???!!!. ufff….ya Tuhan..mamaa…dompetku..??” &***.
Saat itu, badan bis tersentak karena sang supir mengerem secara mendadak. Namun guncangan bis itu seakan tidak terasa oleh Sasya yang tiba-tiba merasa stres. Suasana mengharu biru tentang si pemuda yang tadi hadir di benak kepalanya, langsung lenyap tergantikan lagi oleh perasaan – perasaan yang hadir sewaktu dia memasuki bis kota yang pengap itu. Rasa risih dan malu pada sang pemuda tiba – tiba saja berubah menjadi perasaan muak, benci, kalut, resah, menyesal, beraduk menjadi satu gumpalan emosi yang sepertinya saat itu juga ingin menyeruak keluar dari dalam hatinya. Kali ini tidak ada lagi mekanisme pertahanan diri Sasya yang biasanya diam dan tenang kala menyikapi sebuah suasana yang sungguh tidak mengenakan. Kali ini kuasa diri Sasya sangat lemah, hingga tidak bisa lagi menahan mulutnya untuk berteriak, mengeluarkan segenap angkara murka yang sudah hadir mendesak di dada sejak menginjakkan kakinya di lantai bis kota itu.
“ccccooooppeeeettt…pa…cccooopppeeettt…!! !
Teriakan itu begitu keras terdengar beserta lantangnya kalimat yang meluncur begitu saja dari mulutnya yang mungil. Bibir merahnya yang basah seakan menjadi kering kesumba terbakar oleh hawa amarah yang keluar mengiringi kata – kata cemas yang baru saja diucapkannya. Wajahnya sekarang lebih jauh memerah daripada tadi sewaktu membalas senyuman pemuda itu. “Bajingan..!!!” umpat Sasya dalam hati. Sekelebat raut wajah pemuda itu kembali terbayang, namun kali ini bukan bayangan yang menghanyutkan dirinya. Walau bayang itu terupa dalam sebuah senyuman, bukanlah sebuah senyum manis yang mengawali dorongan hatinya untuk memberikan do’anya yang tulus tadi. Dalam pikirannya saat itu, sang senyum hadir bersama tampang seseorang yang penuh dengan kelicikan..
Sejenak Sasya tertegun dengan apa yang dipikirkannya saat itu. Tidak lama memang, namun hasilnya sungguh di luar dugaan orang – orang disekitarnya. Sasya berteriak lagi, lebih keras bahkan diiringi dengan tetesan air mata. “Cccoooopppeeeetttt…maaa..huuu…hhuuu..oraaannn g itu maaa…huu..”entah kenapa Sasya memanggil mamanya. Mungkin kedekatan diri dengan sang mama telah mempengaruhi banyak karakter individunya. Terbayang olehnya wajah seorang perempuan yang penuh dengan kelembutan, selembut belaian tangannya yang sering mengusap kepala Sasya di saat dia pulang dari kantor. “Mmmaaaammmaa…..ttoollonnnnggg maaa….laki – laki itu maaa…”tangisan Sasya makin keras. Sambil berdiri, Sasya berteriak sambil memejamkan matanya. Entah apa yang ingin dilakukan Sasya saat itu. Yang pasti tidak ada satupun penumpang di bis itu yang tidak kaget. Hampir semua pandangan mata menuju pada Sasya.
Namun perasaan Sasya tidak mampu bereaksi terhadap tatapan penumpang bis yang heran dan kasihan. Penglihatannya sudah tertutup oleh air mata yang tiba – tiba saja mengalir sangat deras. Kontrol diri terhadap lingkungannya sudah hampir tidak berbentuk lagi, tidak seperti sikapnya yang biasa tegar menghadapi aneka masalah dunia yang dia atasi setiap hari. Kepalanya menunduk. Dunia memang kejam, tidak pernah mau tahu kalau dirinya lelah menahan berbagai macam perasaan yang berkecamuk di dadanya. Dunia yang mungkin hanya bisa dimengerti oleh mamanya, seorang wanita yang selalu mau menampung semua aliran rasa yang “bocor” mengalir begitu saja dari mulutnya. Mamanya akan selalu siap menampung semua kelelahan hatinya sambil mengusap – usap rambutnya dan lalu berkata “Kenapa nak?”
“Hei, kenapa? Kenapa Sasya harus menangis?” pikiran responsif Sasya baru muncul seketika. Pertanyaan itu membuatnya tiba – tiba sadar. Urat malunya baru bekerja merespon tatapan kasihan, aneh, sayang…bahkan sempat ada sensor motorik yang mengantarkan persepsi kekaguman pada dirinya..hah? (masih ada juga yang naksir dirinya dalam situasi seperti ini..?) Dilihatnya perlahan pemandangan dalam bis. Pada saat kepalanya terangkat terlihat ada seseorang yang menghampirinya, si kernet bis yang tadi menepuk bahunya. “Tenang mbak…” sang kernet berusaha menenangkan Sasya. Diraihnya bahu Sasya dan dibawanya untuk duduk kembali. Sasya menurut. Saat itu sebenarnya perasaan malu sudah begitu ketat menguasai dirinya. Hanya saja api kemarahan masih tetap menyala, emosinya berada dalam level paling rendah. Pikirannya masih belum bisa menghilangkan bayangan senyum jelek yang terus menyeringai hingga membuatnya menangis tadi. “Ccooppeeettt pa.., dompet saya hilangaa..paaa… huuuu…”
“Emh, ma’af ya mbak…Sabaaaar. Mbak kelihatannya lelah. Ini dompet mbak. Barusan saya ambil dari bawah tempat duduk mbak. Mungkin tadi jatuh.”
Blaaaarrrr!!! Kali ini tubuh Sasya terasa semakin lunglai. Mukanya semakin pucat. Semesta kegelapan seolah menerjang dirinya membabi buta. Perasaan malu sudah melewati ambang rasa, suasana kerlap kerlip yang serasa berganti begitu saja membuatnya terhenyak. Matanya membeliak. Saat itu, tiba – tiba Sasya melihat bayangan sang pemuda lagi. Tapi kali ini tidak lagi tersenyum menjengkelkan. Bukan pula sebuah senyum manis yang menggetarkan hati. Kali ini sebuah senyum yang kelihatan lebih lucu dan seakan lebih mengejek kelemahan kontrol emosi dirinya. He2x….he2x….he2x…

A will or a destiny?

June 30th, 2006 by sequentiallife

Think about ways I can get a fresh start. Well, I don’t have tostart with big, dramatic gestures either. I just need to make a commitment toeating better for biig repercussions on my life in the long run.
I just called my mother and promise for helping her going forHajj. I just want to please her and let her happy after my dad had passed away.I don’t know where the money would be going from but I believe nothing moves or is brought to rest, except by the Power of Allah. HisWill specified and what He knew with His Knowledge.
The Prophet (May Allah bless him & give him peace) said, “There is no ability or power except through Allah (la hawla wa la quwwata illabillah).” [Bukhari (3883); Muslim (4873), and others]
Allah tells us this clearly in the Qur’an:
“Allah hath created you and what you do.” [Qur’an, 37.96]
And:
“Lo! this is an Admonishment, that whosoever will may choose a way unto hisLord. Yet you will not, unless Allah wills. Lo! Allah is Knower, Wise. He makeswhom He will to enter His mercy, and for evil-doers hath prepared a painfuldoom.” [Qur’an, 76.29-31]
Well, what I’am thinking is my moral responsibility. It is at the same timetrue that Allah has made us morally responsible for our acts and it is we whoshall be questioned about the choices we made.
Allah tells us that,
“We shall question, every one, of what they used to do.” [Qur’an,15.92-93]
And:
“He will not be questioned as to that which He does, but they will bequestioned.” [Qur’an, 21.23]
Great Islamic theologians said: “Allah has willed that you act based onchoice.”
And I choose to marry my fiancee that I’m thinking so much about my past. I’mso afraid that something will happenned between us because of my sin.
Ya allah, please forgive me, accept my taubat.

Think Positively

June 28th, 2006 by sequentiallife

You are what you think.You are responsible for your thinking. Change your thinking and life will get better. But, what thoughts do you change? Your troublesome thoughts about a situation can easily be found in your self-talk. Self-talk is that inner running dialogue you have with

yourself. It is what you tell yourself about life’s situations.

Everytime I woke up in the morning, a self talk begin search for a meaning.”why should you leave your dream?””dream? What dream? I can’t see it, could you?””what? didn’t you enjoy it? You had a sound sleep, I don’t understand..””no, I’m not living in my dream, am I ?”well.then I woke up…”you are so bad yoday!””No…look I’m handsome..,he2x…and cute…””handsome?ha2xha2x….what a crazy person who said that..””well, at least a devil such as you is worse than me..””so, you are a devil..?””well, since you are still inside me, yes, you are..””ha2xha2x…

I am changing

June 24th, 2006 by sequentiallife

Mulai kemarin ada sesuatu yang terasa lega dalam dada, plong…sebuah beban menghimpit usai sudah menguntit kebebasan akalku untuk berbicara. Entah berada dimanakah saya ini sekarang. Yang aku sadari, aku sedang membawa diriku dalam proses perubahan. Sebuah metomorfosa yang tidak aku sadari akan menghasilkan sebuah bentuk yang tidak pernah aku kenali dari diriku selama ini. Pertaruhan dimulai diantara ketidakpastian peristiwa yang akan aku hadapi nanti.


Since yesterday, therewas something relieved in my heart….free…as pressure with burdens of responsibility was over, ended its surveillance in my talkative brain. I just feel such I don’t know where I am. I just realized that I am bringing my self into a transformation. A metamorphism I don’t realize. What were the impacts ? Were the results going to be something that I have known inside myself and then continue on ? It is a bet between uncertainty and contingency.

Untuk Kekasihku

June 10th, 2006

Ambang gejolak rasa
punahkan semburat resah
nan kemelam kusam
ronai wajah
entah…
mentari ini terasa terik
meski dingin menggigit sanubari
tetap menyayat telapak kaki

mengiringi jejak kelana
sinaran ini merintih menjepit perih
teriakkan lelah
Ambang gejolak rasa
redupkan kemilau permata
tenggelam dalam alam
tiada cerah
resah …
kala asmara arungi sepi
berat menepi terpisah deburan samudera
hanya desah …
jemari lentik berbisik
menisik hidup yang pelik
lirih tak ada perih
cahaya hati itulah dirimu
waktu telah membawamu pada diriku
kutemui dirimu disaat aku lusuh
engkau tetap mencintaiku

My love, my country

February 20th, 2006 

Saat tulisan ini dibuat, ini saya belum pernah mengalami pernikahan apalagi punya anak. Belum pernah merasakan bagaimana dekatnya perasaan dua jenis kelamin yang berbeda setelah ada dalam satu atap, satu nuansa. Atau mengalami kekhawatiran di saat ada karunia cinta yang lain sebagai suatu anugerah dari cinta yang menyatu itu.
Namun dari sekian banyak praktek dan teori tentang cinta dan semua perilaku yang disebabkan oleh karenanya, saya mungkin bisa meraba mengapa selalu ada alasan dalam ikatan antara sesama anak bangsa.Cinta yang saya tahu ternyata tidak saja memberikan kebahagiaan. Ada dua tujuan disaat manusia menentukan pilihan dari kebijaksanaan yang diambil dalam hidupnya. Mungkin bisa saja cinta itu untuk memberikan kesenangan atau mungkin untuk menghindari penderitaan. Yang pasti, dari semua tanda – tanda tentang cinta, ada satu faktor yang selalu ada, yaitu kepedulian.
Kalau kita masih ribut tentang Aceh, Papua, Poso dan wilayah – wilayah di tanah air lainnya itu artinya kita masih punya rasa peduli pada saudara – saudara kita. Kita masih melihat, ada sinaran kasih sayang diantara kekumuhan kilauan air mata kemiskinan yang berusaha meraih senjangnya ketamakan. Hanya saja, kalau ternyata ada yang lebih bisa membuktikan kepedulian itu, tidak hanya karsa, tapi juga karya, mungkin saja cinta itu terpudarkan, tenggelam dengan kemilau lain yang lebih bermakna daripada cinta.
Saya belum pernah punya anak pungut atau anak tiri. Tapi saya sudah sering melihat perbedaan yang mana anak adopsi yang diberikan cinta, mana yang hanya diberikan kasih sayang, atau mana yang hanya dimanjakan kesenangan, atau ada yang malah dinafikan dari rasa cinta yang seharusnya dia miliki. Ada banyak kondisi yang menyebabkan semua itu terjadi. Tapi yang pasti, ada satu ukuran yang sering menjadi perenungan orang tua, yaitu dengan menyadari bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya memberikan kebahagiaan pada anak – anaknya, apakah mereka akan lalu memutuskan untuk melepaskan anak mereka begitu saja? Apakah mereka akan memutuskan untuk menyerahkan pengurusan anaknya pada orang lain yang mencintainya, tapi lebih bisa membuktikan kepeduliannya? Apakah orang yang sang orang tua percayai, benar benar mencintai anak- anaknya? Apakah sang orang tua sudah meyakinkan diri mereka sendiri bahwa cinta yang lain untuk anak-anaknya itu benar – benar cinta sejati?
Mencintai tanah air tidak bisa saya uraikan dengan kata – kata atau kebijakan politik dan rujukan sejarah semata. Cinta tercipta karena ada satu tujuan. Apakah untuk hanya sekedar pilihan politis atau historis yang sering membuat manusia munafik? Atau mungkin cinta kita pada sang ibu pertiwi buta, tidak punya tujuan? Saya nggak berani menjawabnya. Terlalu naif bagi saya untuk menilai kadar cinta tanah air yang dimiliki oleh saudara – saudara saya sebangsa hanya untuk standard pilihan – pilihan itu saja. Karena buat saya, cinta adalah satu karunia Tuhan, yang baru bisa didefinisikan kadar dan ukurannya oleh sang makhluk yang dikaruniai cinta itu sendiri.
Kalaulah memang, rumah saya di negeri tercinta ditakdirkan untuk menjadi ajang penafian cinta, jika memang realita cinta sudah semakin bergeser pada nilai – nilai yang tidak abadi, saya lebih baik bertanya pada diri saya. Mungkinkah kisah sejarah negeri tercinta menjadi sentimentil seperti kisah cinta romeo dan juliet yang baru bisa terpisahkan oleh maut dan air mata? Atau mungkin zaman sekarang cinta sudah biasa diukur dengan harta? Yang pasti, saya akan didatangi kegelisahan, menunggu giliran cinta yang ada pada saya dicabut oleh Tuhan dari jiwa dan raga saya.

In God I Change

February 14th, 2006 by sequential life


The wind blows and shakes the trees
at those moments time seems meaningless
leaves are falling down
soon they cover the ground
and hopes seems beyond me



My learning will continue throughout my life
‘cos no one deserves to have
a perfect pattern of love
of honesty and sincerity
of unselfishness in values
Being the change I’d like to see
it’s not as easy as somebody
turning his palm upside down
or getting my life the right way round
always a burning question remains
the search for the truth in each of our hearts
let the spirit wind blow and reveal where to start
O, my Lord
I feel worthless to be in your presence
nor am I ready to live with your anger
bad choices have made some people live like princes
while others are suffering a hell on earth
So…please help me face this malaise
for the sake of the unforeseen future
to dedicate my life to You Almighty
to be changed as You wish me to change
for the sake of a better world I seek Your guidance