Saat Hidup adalah Anugerah

La tahzan, semua peristiwa memuat untaian informasi yang akan memproyeksikan pemikiran saat ini untuk saat-saat berikutnya. Karena dari peristiwa yang baru saja terjadi, akan terekam rangkaian kode-kode gambaran diri yang akan dapat terlihat wujudnya sebentar lagi, nanti, esok atau lusa. La Tahzan, karenanya kita tidak perlu berlarut dalam kedalaman rasa
yang sedang mendera hati dan kompleksitas pikiran yang melanda akal. Badai pasti berlalu, sayangku. Selalu tersenyum di saat apapun kau menerima keadaan yang sedang terjadi.
Kesedihan tak perlu diresapi karena hal itu akan selalu mengiringi kegembiraan yang akan menjadi fokus kita di masa-masa menjelang. Setiap diri yang berjiwa, setiap badan yang bernyawa akan berjumpa dengan saat-saat perpisahan, saat-saat hidup berganti dunia ke lain dunia.
Hidup di dunia tidaklah kekal, kesenangan di bumi bukanlah sesuatu yang dapat bersublimasi dengan proses kesemestaan diri. Kematangan jiwa disini bukanlah segala-galanya jika sang ruh belum menggapai Sang Pemilik yang berkehendak atas semua peristiwa. Dialah yang mematangkan semua pemrograman tentang diri kita hingga hidup abadi dalam alam manusia yang sebenarnya, alam dimana Adam-leluhur kita diwujudkan.
La Tahzan, diriku juga pernah mengalami hal yang sama ketika saat-saat ini datang. Dan karenanya kuberitahukan, sayangku, dalamilah dengan makin sepenuh hati makna-makna kode peristiwa yang telah dialami dan yang sedang kita alami. Dalam saat-saat inilah kita bisa lebih tekun berinstropeksi tentang kelemahan dan kekurangan yang masih kita miliki. Di saat ini, kita bisa melihat terang karena suasana sekarang yang begitu gelap. Segelap mendung duka yang menggelayuti rasamu saat ini.
Ku tahu, betapa berat diri mulai melangkah benar-benar sendiri. Tanpa ada lagi nasehat-nasehat dan petuah-petuah ketangguhan seorang laki-laki. Memaknai hari-hari tanpa kebijaksanaan dan kebaikan ayah yang benar mengenali siapa diri kita ini.
Kini yakinlah bahwa diriku tercipta untuk dirimu untuk selalu menemani dan mendampingi.


Teruntuk istriku yang baru saja melewati masa duka
Do’a baktiku dan permohonan ma’afku untuk ayah mertua,
Semoga tenang damai di alam sana dan menjadi kekasih yang mulia di sisi-Nya

Think and Act Positively 2010

      Well, hari ini perjuangan menyibak kabut pemikiran yang runyam mendekati tahap berikutnya. Saat angan berkelana, di waktu senggang pemikiran asyik mencari jati diri tercetus sebuah ide tentang makna perjalanan hidup yang telah kualami. Dalam usia yang terus bertambah,

dorongan semangat selalu harus kugugah, mesti sering dirubah manifestasinya baik dalam kata, sikap ataupun ingatan yang terekam dalam benak.

      Semesta alam terus beriak menyodorkan fakta dan fenomena yang memiliki aneka frekuensi makna. Bagi sebagian umat manusia, sajian-sajian alam berupa kejadian dan peristiwa mungkin cuma dianggap desiran angin yang mengelus keterlenaan jiwanya dalam kehidupan dunia. Namun, tidak bagi sebagian yang lain. Kupasan-kupasan proses di balik berbagai kejadian dan persitiwa itu akan menjadi penanda waktu yang akan membawa dirinya pada satu pencapaian hidup yang sedang dilakoninya. Kupasan itu akan terasa pedih, asam, manis atau asin tergantung dari melankoli memori dan dramatisasi aksi yang secara spontan sedang dan akan diciptakannya. As time goes on minute by minute, he thinks and acts to produce his next thoughts and actions.
       Putaran bumi terus bertambah, kisaran jarak planet makin memuai sementara manusia yang terlena terus mengurangi daya kembang otaknya. Bagi mereka yang terus berusaha menyadari pemikiran dan aksinya, sezarah pecahan waktu akan selalu dipertimbangkannya agar tidak menimbulkan reaksi yang tidak perlu terjadi baik bagi/dari dirinya maupun bagi/dari alam yang sedang dihadapinya. Meski, toh tak ada manusia yang punya maksud serius terhadap nasib dirinya, kepedulian pada kualitas pikiran dan aksi tersebut akan berdampak sistemik terhadap nasib diri dan kehidupan-kehidupan makhluk yang ada di sekelilingnya.
         Namun tidak banyak yang menangkap maksud dari hal yang mendasar ini. Mungkin hanya satu persen dari segenap pemilik kelimpahan dunia yang sedang berbahagia bisa memahami maksud kata-kata saya di atas. Bahkan, saya yang menulisnya pun masih tidak mengerti mengapa dalam beberapa saat kemudian, pemikiran dan aksi saya mungkin belum selaras dengan frekwensi makna yang dipancarkan dari tulisan saya sekarang.