Mengatasi Penguatan dan Penyebaran Prasangka Sosial dalam Kemajemukan Masyakat Indonesia di Era Global

Negeri Indonesia sudah lama menjadi daya tarik berbagai bangsa yang hidup di muka bumi ini. Kemasyhuran Indonesia terkenal karena wujudnya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.508 pulau beserta aneka macam flora dan fauna serta ratusan etnis dengan beragam budaya yang hidup di dalamnya. Indonesia merupakan
salah satu tujuan utama bagi pelancong yang berkeinginan melihat Negara yang mempunyai banyak suku, golongan, ras agama, adat istiadat. Pesona Indonesia terpancar dari keunikan wujud kesatuan budayanya yang dapat memadukan ratusan macam bahasa, tarian, dan lagu daerah, cerita rakyat, pakaian dan ritual adat dalam satu khasanah kebangsaan, yaitu Bhineka Tunggal Ika.

Keberagaman adalah realitas yang harus diterima oleh rakyat Indonesia sebagai tempaan perjalanan sejarah sampai akhirnya ratusan etnis dari Sabang sampai Merauke bersepakat bersama-sama berjuang mewujudkan sebuah Negara yang merdeka dari belenggu kolonialisme. Kemerdekaan itulah yang menghimpun kebersamaan nasib dan cita-cita sebagai lem kuat yang merekatkan berbagai macam suku, agama, ras dan golongan ke dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun tampaknya, kemerdekaan itu pulalah yang dapat mencerai-beraikan ikatan tersebut. Kemerdekaan yang saat ini banyak dianut oleh generasi sekarang sangat jauh berbeda dengan makna kemerdekaan “jembatan emas” sebagaimana diuraikan oleh Presiden Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945.

Ideologi global rupanya telah membawa dampak perubahan di semua aspek kehidupan manusia, tanpa terkecuali dalam makna Kemerdekaan. Perubahan di semua aspek kehidupan yang menjadi inspirasi global mampu menghilangkan sekat-sekat negara. Didukung oleh kemajuan Iptek, faham perubahan telah menggeser makna kemerdekaan yang seharusnya mengacu pada aspek tanggung jawab menuju pada azasi kebebasan tanpa batas. Dalam teori anthropology kebudayaan, kebebasan sekarang tidak seperti konsep strukturalismeClaude LeviStrauss, yaitu secara warisan keturunan (genetis) setiap manusia memiliki kemampuan menyusun suatu struktur tertentu di hadapan gejala-gejala yang dihadapi. Sebaliknya kebebasan terkini lebih mendekati konsepsi subyektifitas Jean Paul Sartre tentang eksistensi manusia sebagai mahluk yang bebas dan otonom (Yusuf, 2010).

Dalam dimensi perubahan pola fikir masyarakat yang mengglobal tersebut, peran ilmu anthropologi menjadi sangat penting untuk menjelaskan permasalahan dalam integrasi Nasional dan persatuan bangsa Indonesia. Khasanah budaya yang merupakan hasil olah pikir dan karsa manusia merupakan rujukan bernilai guna dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan sila ke tiga dari Pancasila. Karena dalam kebudayaan itulah, manusia dapat menemukan nilai-nilai hakikat kemanusiaan yang sesungguhnya. Di dalam warisan budaya yang menumbuhkembangkan kepribadiannya itulah, manusia Indonesia dipengaruhi oleh pemahaman azas kebebasan tanpa batas yang mengandung banyak potensi negatip untuk memperlemah jati dirinya sebagai suatu bangsa. Dan oleh karena itulah, maka  pihak-pihak tertentu yang berkeinginan melakukan praktek adu domba dapat secara leluasa memainkan perannya dalam kedok nilai-nilai budaya dengan slogan-slogan memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebagaimana terlihat dalam kompleksitas permasalahan bangsa Indonesia saat ini, persoalan demi persoalan selalu memuat wajah-wajah budaya asing yang ingin membenturkan nilai-nilai budaya lokal untuk merangsang tumbuhnya potensi anarkisme antar golongan yang semakin besar serta menurunnya kepercayaan masyarakat pada kebijakan pimpinannya masing-masing. 

Dihadapkan dengan komitmen “NKRI harga mati!”, maka permasalahan yang sebenarnya terjadi di masyarakat Indonesia sekarang ini merupakan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan menguatnya dan menyebarnya prasangka sosial yang dapat menimbulkan keretakan hubungan antar etnis, suku atau golongan (SARA). Dari tinjauan ilmu anthropologi, penguatan dan penyebaran prasangka sosial yang berkembang dalam budaya masyarakat Indonesia merupakan dampak dari keanekaragaman budaya yang mempengaruhi tindakan sosial/perilaku manusia sebagai anggota kelompok masyarakat. Karena secara teoritis, Kebhinekaan Indonesia mengandung arti identitas multikultural yang tetap melekat kuat dan akan tetap ada selama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila tetap eksis. Kenyataan alamiah inilah yang menjadi rujukan naluriah setiap manusia Indonesia, yaitu ikatan emosional yang kuat dengan segala sesuatu yang menjadi simbol identitas dirinya berbeda dengan manusia lainnya[1]. Identitas ini biasanya terkait dengan tanda-tanda yang terberi atau kodrati. Bagi manusia Indonesia ungkapan “Di dadaku Merah putih ! Aku cinta Indonesia !” mengatasi symbol atau pun tanda-tanda primordial seperti suku, ras, adat istiadat, agama dan asal daerah. Namun demikian kondisi ideal tersebut tampaknya sulit terwujud apabila tidak diiringi upaya untuk mengatasi gejala menguatnya prasangka sosial di masyarakat.
  
Beberapa kerangka analisis yang dapat digunakan untuk memahami pengaruh prasangka sosial dalam kemajemukan masyarakat Indonesia terdapat dalam tulisan Rahardjo (2010). Menurutnya, etnosentrisme, stereotip dan prasangka menyebabkan pemahaman yang relatif terbatas tentang pluralitas kultural. Orang secara individual maupun kelompok sering dengan sangat mudah mengekspresikan kendala-kendala dalam komunikasi antarbudaya (intercultural inhibitors), meskipun faktor-faktor penyebab dari konflik tersebut sebenarnya tidak mempunyai kaitan langsung dengan perbedaan-perbedaan latar belakang kultural. Dalam paparan Rahardjo (2010) disebutkan juga pandangan antropolog UI, Parsudi Suparlan (dalam I. Wibowo (ed.), 1999:165), bahwa sentimen etnis dapat diaktifkan untuk menciptakan solidaritas sosial. Kemudian saat terjadi situasi persaingan seperti perebutan sumber-sumber ekonomi dan pengalokasian pendistribusiannya, atau untuk mempertahankan dan memperjuangkan kehormatan etnisnya, sentiment etnis itulah yang dimainkan. Mengacu pada pendapat antropolog Kathryn Robinson (2000) dalam Rahardjo (2010), untuk mengerti kekerasan atau teror kita harus bisa memahami pikiran orang lain, yaitu mengapa mereka benci kepada kita atau karena mereka tidak mengerti.
   
Rangkuman mengenai teori prasangka juga terdapat dalam tulisan Nuraeni dan Faturrohman (2006) dan Maulana, dkk (2010). Feldman (1985); Mar’at (1981), Kimball Young dan Sherif and Sherif memandangnya sebagai sikap dan dugaan-dugaan actorn yang hanya didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok itu sebagai acto khas pertentangan antara kelompok yang ditandai oleh kuatnya ingroup dan outgroup. Pengertian teori prasangka tidak jauh dari pemahaman pelopor teori tersebut, G. Allport (1954) yang menyebutkan, bahwa prasangka adalah antipati berdasarkan generalisasi yang salah atau generalisasi yang tidak luwes, yang dapat dinyatakan dan dirasakan. Antipati bisa muncul pada seseorang secara individual atau pada kelompok. Menurut (David O. Sears, :149), prasangka adalah penilaian terhadap suatu kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok orang itu. Prasangka adalah sikap (biasanya negatif) kepada anggota kelompok tertentu yang semata-mata didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok (Baron & Byrne, 1991). Misalnya karena setiap orang suku Baduy sering bepergian jauh tanpa menggunakan sandal, maka setiap orang yang bertelanjang kaki dianggap memiliki perilaku seperti orang Baduy. Sementara itu, definisi prasangka lebih spesifik diberikan oleh Daft (1999) yakni kecenderungan untuk menilai secara negatif orang yang memiliki perbedaan dari umumnya orang dalam hal seksualitas, ras, etnik, atau yang memiliki kekurangan kemampuan fisik. Soekanto (1993) dalam ‘Kamus Sosiologi’ menyebutkan pula adanya prasangka kelas, yakni sikap-sikap diskriminatif terselubung terhadap gagasan atau perilaku kelas tertentu. Prasangka ini ada pada kelas masyarakat tertentu dan dialamatkan pada kelas masyarakat lain yang ada didalam masyarakat.

Ciri-ciri prasangka sosial menurut Brighman (1991) mempunyai kecenderungan untuk membuat kategori sosial (social categorization) dan dikuatkan oleh pengamat maupun anggota kelompok tersebut. Kategori sosial adalah kecenderungan untuk membagi dunia sosial menjadi dua kelompok, yaitu “kelompok kita” (ingroup) dan “kelompok mereka” (outgroup). Ingroup adalah kelompok sosial di mana individu merasa dirinya dimiliki atau memiliki  (“kelompok kami”). Sementara outgroup adalah grup di luar grup sendiri (“kelompok mereka”). Menurut Winedar (1997) dalam Nuraini dan Faturahman (2006), aspek-aspek prasangka terdiri dari kepribadian, frustasi dan peng”kambinghitam”-an, konflik karena kompetesi, kecemburuan sosial, norma/kultural, penilaian terlalu ekstrim dan menggeneralisir. Sedangkan komponen prasangka menurut Poortinga (1990) dalam Maulana, dkk (2010) terdiri dari tiga faktor utama yakni stereotip, jarak sosial, dan sikap diskriminasi. Ketiga faktor itu tidak terpisahkan dalam prasangka. Stereotip memunculkan prasangka, lalu karena prasangka maka terjadi jarak sosial, dan setiap orang yang berprasangka cenderung melakukan diskriminasi. Sementara itu Sears, Freedman & Peplau (1999) dalam Maulana, dkk (2010) menggolongkan prasangka, stereotip dan diskriminasi sebagai komponen dari antagonisme kelompok, yaitu suatu bentuk oposisi terhadap kelompok lain. Stereotip adalah komponen kognitif dimana kita memiliki keyakinan akan suatu kelompok. Stereotip adalah kombinasi dari ciri-ciri yang paling sering diterapkan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lain, atau oleh seseorang kepada orang lain (Soekanto, 1993).

Secara lebih tegas Matsumoto (1996) mendefinisikan stereotip sebagai generalisasi kesan yang kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian. Stereotip dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui bahasa verbal tanpa pernah adanya kontak dengan tujuan/objek stereotip (Brisslin,1993). Prasangka sebagai komponen afektif dimana kita memiliki perasaan tidak suka. Sedangkan, diskriminasi adalah komponen perilaku, yaitu menerima atau menolak seseorang semata-mata berdasarkan keanggotaannya dalam kelompok (Sears, Freedman & Peplau, 1999). Diskriminasi bisa terjadi tanpa adanya prasangka dan sebaliknya seseorang yang berprasangka juga belum tentu akan mendiskriminasikan (Duffy & Wong, 1996). Akan tetapi selalu terjadi kecenderungan kuat bahwa prasangka melahirkan diskriminasi. Prasangka menjadi sebab diskriminasi manakala digunakan sebagai rasionalisasi diskriminasi. Artinya prasangka yang dimiliki terhadap kelompok tertentu menjadi alasan untuk mendiskriminasikan kelompok tersebut. Menurut Turmono (2007), apabila prasangka telah begitu menguat dan menyebar dalam komunitas masyarakat yang majemuk akan berpengaruh pada pola komunikasi antar-etnik. Efek prasangka menimbulkan ketidaktulusan dalam menjalin interaksi yang dicerminkan oleh konsep mindlessness, yaitu orang yang sangat percaya pada kerangka referensi yang sudah dikenal atau kategori-kategori yang bersifat rutin dan cara-cara melakukan sesuatu yang sudah lazim (Ting-Toomey, 1999 dalam Rahardjo, 2010). Dalam kondisi seperti ini, jalinan komunikasi hanya sekadar untuk berbasa-basi dan tidak menyampaikan pesan yang sebenarnya. Hal ini berarti bahwa seseorang cenderung lebih bersikap reaktif daripada proaktifpada saat seseorang melakukan kontak antarbudaya dengan “orang asing” (stranger). Sehingga individu yang berada dalam keadaan mindless akibat pengaruh prasangka sosial, menjalankan aktivitas komunikasinya seperti “jalan sendiri” yang tidak dilandasi dengan kesadaran dalam berpikir.

Apabila kita perhatikan pendapat Rahardjo (2010), ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain yang dianggapnya berbeda, maka ia akan mengalami kerentanan emosional. Dalam arti, identitas kelompok (seperti misalnya identitas kultural) dan identitas individu (seperti misalnya sifat-sifat kepribadian) akan mempengaruhi cara-cara seseorang dalam mempersepsikan, berpikir dan berperilaku. Perilaku komunikasi yang tanpa kesadaran berfikir (mindless) disebabkan oleh ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) yang dialami oleh seseorang. Rahardjo mengutip Griffin (2000:396-397); Dodd (1998:9) dan Gudykunst & Kim, 1997:14) bahwa ketidakpastian dan kecemasan merupakan faktor-faktor penyebab dari kegagalan komunikasi dalam situasi antarkultural. Hal ini menimbulkan ekspresi dari perilaku yang tidak fungsional sehingga tidak memiliki kepedulian terhadap eksistensi orang lain, ketidaktulusan dalam berkomunikasi dengan orang lain, melakukan penghindaran komunikasi dan cenderung menciptakan permusuhan dengan orang lain (Dodd, 1998:9). Kehidupan bermasyarakat di Indonesia berlangsung unik dan berbeda dengan kelompok masyarakat di belahan bumi manapun. Keragaman yang sangat menonjol dalam proses interaksi timbal balik antara individu satu dengan yang lain menghasilkan khasanah demografis maupun sosiologis bangsa yang majemuk. Ciri khas kemajemukan ini, yang berupa perbedaan bahasa, (etnis) dan keyakinan agama serta kebiasaan-kebiasaan kultural lainnya, pada satu sisi merupakan kekayaan bangsa yang sangat bernilai. Namun pada sisi yang lain keragaman tersebut dapat berubah menjadi pemicu terjadinya disintegrasi atau perpecahan di masyarakat. Meskipun faktor-faktor penyebab dari pertikaian tersebut lebih cenderung pada aspek politik, ketidakadilan sosial dan kesenjangan ekonomi, kondisi budaya masyarakat yang plural ini seringkali dimanipulasi menjadi bahan provokasi konflik suku bangsa, agama, ras dan antargolongan (Rahardjo, 2010 : 12). 

Sebagaimana yang diungkap Koentjaraningrat (1993) dalam Idrus (2007), tidak hanya Indonesia yang memiliki penduduk heterogen karena diantara 175 negara yang tercatat di PBB, hanya 12 negara saja yang memiliki penduduk agak homogen. Dengan komposisi kemasyarakatan satu bangsa yang terjalin oleh kurang lebih 358 suku bangsa dan 200 sub-suku bangsa, bervariasinya etnis dan budaya yang melebur dalam satu wadah negara kesatuan merupakan wujud keinginan membangun bangsa berdasar keanekaragaman (kebhinekaan). Kondisi ini tentunya membutuhkan proses negosiasi diantara kelompok-kelompok yang berkepentingan agar tercapai kesepakatan win-win solution bukannya prasyarat yang mungkin saja merugikan kelompok tertentu namun sisi lainnya menguntungkan kelompok lain. Oleh karena itu proses musyawarah untuk mufakat, rembuk desa dan sejenisnya sebagai wujud peran serta masyarakat dalam memberi konstibusi yang positif kepada Pemerintah adalah sangat menentukan dalam mendinamisasi gerak Pembangunan Nasional di negara ini. Sebagai implikasi dari hal tersebut, pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, dan penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain sangat berpengaruh terhadap setiap hasil kesepakatan yang dicapai dalam proses musyawarah dan mufakat di Indonesia. Menurut pendapat Blum (2001: 16) dalam Idrus (2007), hal ini meliputi penilaian terhadap kebudayaan-kebudayaan orang lain, bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari kebudayaan-kebudayaan tersebut, melainkan mencoba melihat bagaimana kebudayaan tertentu dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-anggotanya sendiri. Penilaian tersebut tentunya bisa menghasilkan persepsi yang bermacam-macam tergantung dari aspek sikap dan perilaku individu sesuai dengan standard atau acuan karakter dalam kelompoknya. Dalam kondisi inilah kemungkinan besar munculnya pertentangan antara prasangka sosial dengan identitas etnik sehingga melahirkan stereotype yang sering terjadi akibat keterbatasan masyarakat Indonesia dalam memahami makna dari kemajemukan budaya bangsa Indonesia.

Berbagai peristiwa kekerasan sosial yang terjadi belakangan ini merupakan indikasi bahwa proses musyawarah mufakat sebagai bentuk negosiasi kepentingan antar warga tidak lagi murni dalam pelaksanaannya. Aplikasi musyawarah untuk mufakat sudah membias jauh, sulit ditempuh dan bahkan cenderung lebih mengedepankan kepentingan sesaat dengan berbagai alibi yang pada akhirnya berpotensi anarkisme golongan. Di sisi lain telah terjadi krisis kepercayaan di masyarakat, sehingga pada penghujung tahun 2011, banyak terjadi unjuk rasa masyarakat yang berkembang dengan tindakan brutal dengan dalih menuntut keadilan dan menentang kebijakan Pimpinan Daerah yang dinilai oleh sebagian pihak seolah-olah tidak memihak kepada kepentingan rakyat kecil/Wong Cilik. Figur aparat dinilai tidak sudi menengahi, akan tetapi cenderung pasang badan untuk membela penguasa dan pengusaha. Dalam kondisi tersebut terlihat bahwa proses musyawarah yang menghasilkan keputusan bersama maupun kebijakan unsur pimpinan maupun ketegasan aparat dalam membuat keputusan yang bersifat netral tidak lagi dapat diterapkan dengan sempurna. Seharusnya keputusan dalam musyawarah dan mufakat harus dapat dijunjung sebagai pertanggungjawaban bersama. Namun tampaknya forum musyawarah dan mufakat berubah menjadi sarana formalitas belaka sehingga sekarang tidak lagi dapat membendung kepentingan etnis tertentu yang bersikukuh untuk mempertahankan budayanya dan upaya-upaya untuk mengisolasi pengaruh budaya lain terhadap kelompoknya. Semakin kompleksnya permasalahan di masyarakat ditambah dengan pengaruh globalisasi mendorong perilaku-perilaku etnosentris semakin tajam.

Di sisi lain, pucuk-pucuk pimpinan masyarakat yang diandalkan untuk dapat berperan sebagai penengah kurang sensitif terhadap aspek-aspek budaya dan cenderung mengelompokkan etnis-etnis tertentu dalam kondisi yang terbelakang (untuk tidak menyebutnya sebagai primitif). Kondisi-kondisi seperti inilah yang tampaknya sedang berkembang di masyarakat Indonesia saat ini, yaitu penguatan dan penyebaran prasangka sosial sebagai akibat pemahaman yang sempit terhadap identitas kultural dalam wujud kebanggaan etnis atau fanatisme agama oleh masing-masing kelompok. Sebagai bagian dari masyarakat majemuk, kondisi seperti ini menunjukkan ketidakmampuan masyarakat dalam menjalankan komunikasi antarbudaya yang efektif. Hubungan yang terjalin kuat selama beberapa dekade sejak jaman revolusi kemerdekaan rupanya tidak menjamin kuatnya ikatan antar manusia yang bertujuan untuk meminimalkan kesalahpahaman budaya. Kondisi keberagaman masyarakat dan budaya di Indonesia seharusnya menumbuhkembangkan kebanggaan nasionalis yang menggambarkan kekayaan potensi sebuah masyarakat yang bertipe pluralis. Namun kondisi sekarang rupanya lebih menguatkan semangat dan ideologi yang etnosentris, yang menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior daripada kelompok etnik atau ras lain (Jones, dalam Liliweri, 2003). Kenyataan seperti ini mencerminkan penguatan prasangka sosial lebih cenderung pada tahap penilaian terhadap stereotype etnik namun dalam lingkup stereotype kebangsaan mengalami pertentangan (paradox). Di satu sisi stereotype terhadap kesukuan seakan mendapat pembenaran, misalnya suku bangsa A cenderung kasar, sedangkan etnis B identik dengan kehalusannya. Sementara itu dalam lingkup yang lebih besar, setereotype tersebut seakan dilemahkan. Manusia Indonesia memiliki gambaran stereotype bangsa yang ramah, terbuka pada siap saja, mudah tersenyum, mudah bergaul dan sebagainya. Namun pada kenyataannya stereotype tersebut tidak berlaku mutlak, bahkan cenderung berbeda 180 derajat seperti yang tercermin dalam vandalisme, kerusuhan, demo anarkis, bom teroris dan aksi-aksi kekerasan sosial yang muncul di tanah air belakangan ini. Pemandangan yang tergambar dari hal tersebut seakan menjelaskan sesuatu yang tidak lagi pas (inkonkurensi) antara pandangan yang terlihat dengan pandangan hidup yang diiinginkan dalam Pancasila sebagai pedoman hidup manusia Indonesia. 

Adanya kesenjangan antara realita kondisi masyarakat yang majemuk dan harapan untuk mewujudkan ke-bhineka-an dalam ke-tunggal ika-an seharusnya dapat dijembatani melalui komunikasi antar-budaya yang kaya toleransi. Semua unsur-unsur budaya akan memberikan makna yang khas bagi budaya tertentu membuka peluang terjadinya perbedaan makna. Bila terjadi perbedaan makna dalam komunikasi antarbudaya, dan perbedaan tersebut dapat diterima oleh masing-masing budaya secara apa adanya, maka komunikasi yang terjadi diharapkan dapat efektif. Tetapi, bila budaya lain dimaknai dari kacamata budaya kelompok tertentu maka efek komunikasi yang diterapkan justru sebaliknya. Hal inilah yang dimaksud dalam Pancasila sebagai nilai-nilai toleransi. Sehingga untuk mengatasi perbedaan makna dalam komunikasi antar budaya diperlukan nilai-nilai yang disepakati bersama. Dalam hal ini, kita harus mengakui kecerdasan pendahulu negeri ini yang telah merumuskan nilai-nilai yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia sebagai pedoman dalam menempatkan jutaan perbedaan makna budaya di negeri ini ke dalam satu konteks budaya nusantara. Sarana yang mengikat nilai-nilai kebangsaan tersebut terwujud dalam simbol-simbol negara berupa dasar negara Pancasila, bendera Merah Putih, bahasa Indonesia, lagu kebangsaan Indonesia Raya, sistem konstitusi UUD 1945 dan pranata-pranata budaya lainnya yang telah kokoh selama enam puluh tujuh tahun menjadi pengikat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Adapun saat ini, nilai-nilai yang termuat dalam Pancasila mendapat tantangan dari berkembangnya nilai-nilai kebebasan pasca reformasi yang dipandang sebagai nilai-nilai universal bagi berkembangnya masyarakat global. Globalisasi yang diiringi kemajuan Iptek dan derasnya arus informasi telah merubah tatanan masyarakat internasional. 

Berdasarkan laporan UNESCO (2011), erosi budaya merupakan masalah yang semakin menjadi sorotan dunia mengingat dampak yang muncul dari berbagai paradigma Barat yang seringkali berlebihan. Di satu sisi globalisasi dipandang sebagai suatu proses multidimensi dan multiarah yang melibatkan aliran segala macam hal (modal, komoditas, informasi, ide, kepercayaan, manusia) yang semakin kencang dan meningkat. Globalisasi juga mengakibatkan pertukaran internasional yang mengarah pada integrasi budaya suatu ‘pembauran kompleks’ identitas-identitas budaya. Namun di sisi lain, berbagai dampak negatif dari dorongan globalisasi terhadap keanekaragaman praktik-praktik budaya tidak dapat diabaikan. Salah satu efek utama dari globalisasi tersebut adalah melemahnya identitas baik secara kedaerahan maupun nasional. Sekarang, kita semakin banyak melihat warga negara Indonesia (WNI) yang memiliki identitas kewarganegaraan lain ataupun sebaliknya warga negara asing yang hidup menetap di negara kita selama bertahun-tahun menjadi WNI. Hal ini menegaskan fenomena yang dimaksud dalam laporan UNESCO bahwa dalam dunia yang semakin global, identitas budaya semakin luwes yang tercermin pada semakin kompleksnya aliran manusia, barang, dan informasi ke berbagai penjuru dunia. Dalam suatu lingkungan multikultur, seperti di negara kita, sekelompok orang akan memilih untuk mengadopsi bentuk identitas tertentu, sekelompok yang lain memilih hidup di dua bentuk identitas, dan sisanya menciptakan identitas campuran. Globalisasi dan teknologi baru telah memperluas ruang lingkup pilihan budaya yang memungkinkan masyarakat minoritas menjadikan diri mereka dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini dapat menjadi prasarana untuk mengembangkan usaha terus-menerus yang diperlukan untuk membatasi stereotip dan prasangka yang sering ditujukan kepada masyarakat tersebut. Oleh karena itu pendidikan merupakan hal yang fundamental untuk mengatasi ketidaktahuan dan ketidakpercayaan yang merupakan sumber konflik manusia. Berhubung prasangka didasarkan antara lain pada ketidaktahuan kita atau prasangka yang salah, memfasilitasi budaya keterbukaan adalah kunci untuk mendorong dialog antarbudaya. Dengan demikian pengembangan kompetensi antarbudaya tidak hanya terbatas di dalam ruang kelas saja melainkan harus dipupuk di lingkungan sekolah secara umum, serta melalui keterlibatan orang tua dan masyarakat setempat.

Sebagai akhir dari tulisan ini, dapat dibuatkesimpulan bahwa fenomena melemahnya forum musyawarah dan mufakat serta meningkatnya kekecewaan masyarakat pada pimpinan daerah diakibatkan oleh Prasangka Sosial yang berlebihan. Penguatan dan penyebaran prasangka sosial tersebut terjadi karena semakin kompleksnya permasalahan dalam masyarakat sehingga tidak lagi sesuai dengan kapasitas forum musyawarah dan mufakat yang menjadi acuan solusi dialogis antar budaya sesuai ajaran Pancasila. Di sisi lain, faktor kepemimpinan yang dipandang mampu menjadi penengah juga semakin kurang sensitif dalam memahami aspek-aspek kemajemukan budaya. Kedua faktor tersebut menyebabkan pemahaman terhadap identitas kultural oleh masing-masing kelompok menjadi sempit. Kebanggaan etnis atau fanatisme agama pada akhirnya menyebabkan komunikasi antar budaya juga tidak efektif sebagai akibat melemahnya pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai toleransi yang dimaksud dalam Pancasila maupun nilai-nilai lain yang merupakan pemersatu keragaman nilai-nilai budaya yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adapun saat ini, nilai-nilai Pancasila juga sedang menghadapi tantangan dari nilai-nilai kebebasan yang terdapat dalam globalisasi. Untuk itu, agar pengaruhnya tidak semakin memperkuat sentimen kedaerahan yang sudah ada, diperlukan upaya untuk memberikan pendidikan kompetensi antar budaya sebagai wahana untuk menghilangkan prasangka dan stereotip di masyarakat. Mengacu pada tugas pemberdayaan wilayah pertahanan matra darat, menguatnya prasangka sosial perlu dipandang sebagai sumber ancaman yang dapat melemahkan ketahanan nasional. Oleh karena itu, semua faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya kondisi tersebut harus dihilangkan. Sehingga untuk itu disarankan agar pelaksanaan tugas binter TNI AD senantiasa diiringi dengan upaya-upaya penanaman nilai-nilai empat pilar kebangsaan yang terangkum dalam Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya dihadapkan dengan tuntutan global yang mempersyaratakan kebutuhan terhadap pendidikan kompetensi antar budaya, disarankan agar nilai-nilai Pancasila dapat dikembangkan secara internasional karena pada prinsipnya telah teruji selama puluhan tahun mengatasi perbedaan budaya dalam kemajemukan masyarakat Indonesia.


Daftar Pustaka

Naskah Departemen tentang Antropologi Budaya untuk Pendidikan Reguler Sekolah Staf Dan Komando TNI AD NO  :    52 – 07 – C1 – I  0101, 2009, Keputusan  Danseskoad Nomor  Kep / 120  / Xii / 2009 Tanggal   31  Desember  2009

Yusuf, Andi, 2010, Claude Lévi-Strauss, http://oechoe.blogspot.com/2010/04/claude-levi-strauss.html

Idrus, Muhammad, S.Psi., M.Pd, 2007, Separatisme Etnis (Bukan Sekadar) Sebuah Wacana, Jakarta Publikasi internet .

Nuraeni dan Faturrohman (2006), Faktor Prasangka Sosial dan Identitas Sosial dalam Perilaku Agresi pada Konflik Warga (Kasus Konflik Warga Bearland dan Warga Palmeriam Matraman Jakarta Timur), Program Studi Psikologi UGM, Jogjakarta.

Faturohman, 2008, Mengelola Prasangka Sosial Dan Stereotipe Etnik-Keagamaan Melalui Psychological And Global Education, Publikasi internet.
Rahardjo, Turnomo (2010) Memahami Kemajemukan Masyarakat Indonesia (Perspektif Komunikasi Antarbudaya). Tesis PhD, Universitas Diponegoro, Semarang.

Taum, Yoseph Yapi, 2006, Masalah-Masalah Sosial dalam Masyarakat Multietnik, Makalah Focus Group Discussion (FGD) “Identifikasi Isu-isu Strategis yang Berkaitan dengan Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa”, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, tanggal 10 Oktober 2006, Yogyakarta

Suparlan, Parsudi, 2000,  Masyarakat Majemuk dan Perawatannya, makalah utama Simposium Internasional Jurnal ANTROPOLOGI INDONESIA ‘Mengawali abad ke-21: Menyongsong Otonomi Daerah, Mengenali Budaya Lokal, Membangun Integrasi Bangsa’, Kampus Universitas Hassanuddin, Makassar, 1-4 Agustus 2000.

Laporan Dunia UNESCO No. 2, 2011, Berinvestasi dalam KeanekaragamanBudaya dan Dialog Antarbudaya, UNESCU publishing, Spanyol <http://www.unesco. org/en/world-reports/cultural-diversity>

Suparlan, Parsudi, 2004, Masyarakat Majemuk, Masyarakat Multikultural, dan Minoritas: Memperjuangakan Hak-hak Minoritas, presentasi dalam Workshop Yayasan Interseksi, Hak-hak Minoritas dalam Landscape Multikultural, Mungkinkah di Indonesia? Wisma PKBI, 10 Agustus 2004, Jakarta.
 http://interseksi.org/publications/essays/articles/masyarakat_majemuk.html#_ftn1
Maulana, Ahmad, dkk, Prasangka & Politik, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung. <http://technurlogy.wordpress.com/2011/01/10/prasang ka-politik/>


[1]http://juliefisipuns.blogspot.com/2011/08/antara-keberagaman-dan-keseragaman_11.html

Zen: Sepersekian detik waktu dan sepersekian sempit ruang dalam sekecil apapun kejadian

Setiap hari selalu ada hal-hal yang kita alami dalam hidup ini yang kita abaikan sebagai suatu keberuntungan atau suatu kesempatan atau hanya sesuatu yang lewat begitu saja. Tentu saja hal ini terjadi karena ada waktu-waktu tertentu dalam peristiwa yang melemparkan kita hingga
benar-benar kehilangan keseimbangan atau membuat kita merasa lemah atau merasa takut. 

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu nikmat yg kekal, yg tidak berpindah dan hilang. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keamanan dalam hari ketakutan.”
 
Saya berpikir bahwa sebagian besar waktu yang kita alami, begitu banyak berhubungan dengan rutinitas sehari-hari kita, entah itu pekerjaan, perjalanan dinas, tugas rutin dan sejenisnya. Semua hal tersebut menyebabkan kita lupa untuk memperhatikan hal-hal di sekitar kita yang membuat hidup kita lebih baik. Padahal …

Dibutuhkan satu pohon untuk membuat ribuan korek api namun butuh satu korek api untuk menghancurkan ribuan pohon.
Satu peristiwa yang membuat kita berpikir negatif dapat menghancurkan ribuan hal yang kita bangun untuk berpikir positif.

Sesungguhnya tidak ada saat-saat yang biasa, tidak ada menit atau detik yang berarti di saat kita tidak peduli apa yang sedang terjadi dalam hidup kita, Dan yang paling penting adalah bahwa kita tidak akan pernah kembali ke “saat-saat yang berlalu tanpa pengenalan” tersebut. Jadi, saudarakau, sangatlah masuk akal bagi kita untuk mencari , mengakui dan mensyukuri “hadiah harian” yang berasal dari alam semesta.

“ Jika anda membiarkan sesuatu yang kecil berlalu, anda akan menemukan hal yang kecil juga. Jika anda membiarkan lebih banyak hal berlalu, anda akan meraih lebih banyak kedamaian. Jika anda benar-benar membiarkan seluruhnya berlalu, anda akan mendapatkan seluruh kedamaian”.

Seperti pagi ini disaat diri saya terbangun mendengar kicau burung di luar jendela, kemudian bangkit dan membuat secangkir teh panas yang harum dan beberapa roti bakar mentega yang hangat. Kemudian siang hari saya menemukan anak saya mendengkur terlelap di tempat tidur yang terkena hangatnya sinar matahari. Saya menikmati saat-saat bermain dengan anak saya, sementara semua perasaan saya bersyukur terhadap hal-hal yang kecil, atas banyak hadiah kecil yang menyenangkan dalam hidup saya, seperti teh panas, anak saya yang selalu menggoda saya dan burung yang selalu bernyanyi.

Pada pandangan pertama, hal-hal ini mungkin tampak agak tidak penting, saudaraku, tetapi ketika saya berpikir tentang apakah hidup seperti ini mungkin tanpa mereka, saya menjadi lebih menghargai mereka semua, lebih besar dan lebih indah daripada apa yang mereka tampakkan. Dan jika Anda memikirkannya, Anda mungkin setuju bahwa hal-hal kecil adalah apa saja yang membuat kita gila atau membuat kita bahagia. Oleh karena itu, hal-hal kecil dalam hidup itu benar-benar penting, bahkan mungkin jika mereka tidak tampak pada saat itu.

Orang menaiki tangga tentu dimulai dari tangga yang paling bawah, setapak demi setapak barulah sampai diatas. Manusia sendiri dilahirkan dan menjadi bayi,anak-anak, remaja, dewasa, kemudian menjadi tua. Demikian pula untuk menjadi sesuatu yang besar tentunya berawal dari hal-hal yang kecil. Jangan pernah kita menyepelekan sesuatu yang kita peroleh meskipun kecil sekali, karena dari awal yang kecil itu kita akan mendapatkan hal yang lebih besar.

Bagi saya, hal terbaik untuk mengenali saat-saat seperti itu adalah bahwa ketika saya memperhatikan dan membuka diri ini kepada mereka. Saya melihat hal-hal tersebut dengan semua keluarbiasaan dan dengan perasaan seakan-akan seperti saya dapat menarik lebih banyak daripada yang hal-hal itu tampakkan. Tentunya dengan cara saya sendiri. Hasil akhirnya adalah bahwa saya merasa lebih bahagia dan lebih mendalami hidup saya apa adanya. Hingga saya akan mempertimbangkan setiap hari secara berbeda sebagaimana apa adanya dengan cara saya sendiri.

Apakah orang-orang sedikit lelah hari ini? Energi di sekitar Anda mungkin sedang jenuh, tetapi jangan biarkan hal itu mempengaruhi suasana hati Anda. Cobalah untuk membawa diri anda pada ketenangan dan getaran terpusat menghadapi depresi dan stres yang sedang berputar-putar melalui hari-hari Anda. Sebuah niat positif untuk mendalami Zen bisa mengubah mood anda secara keseluruhan.

Saudaraku, sedikit keajaiban terjadi setiap hari. Bunga-bunga yang mekar, bayi-bayi yang dilahirkan, sinar matahari yang menghangatkan kulit kita, membuat kita tetap hidup. Meskipun kecil, semua itu merupakan bagian dari pernapasan hidup ini, pernafasan alam semesta. Saya berharap bahwa pekan ini Anda akan meluangkan waktu untuk mengenali kehangatan semesta, saat khusus yang Anda luangkan untuk merasa baik tentang diri Anda dan dunia di sekitar Anda.

You can’t be bothered to do things the easy way today — you’d much rather take chances and bet big on risky bets. It’s one of those days when living large might actually pay off for you.

Teori Sistem

Penggunaan istilah “system” dalam kehidupan kita menunjukkan dua hal yaitu “Wujud / entitas” dan “Metode / Rencana / Alat / Tata Cara”. Menurut Murdick dan Ross (1982:9) sistem merupakan suatu susunan elemen yang membentuk suatu kegiatan atau suatu prosedur atau skema yang berorientasi ke arah tujuan yang sama dengan melalui pengoperasian data dan/atau energi dan/atau materi

untuk memperoleh suatu informasi sewaktu-waktu. Falsafah sistem adalah “Way of thinking” yaitu memberikan kemampuan mengenai cara berfikir memperlakukan segenap gejala dunia ini sebagai suatu keseluruhan termasuk bagian-bagiannya dan hubungan antar bagian. Falsafah sistem memiliki permasalahan secara konseptual dengan cara kogatif (memiliki, merenung), mengembangkan perhatian pada komponen-komponennya pada segi-segi religius, melihat kaitan sistem dengan lingkungannya, mempertimbangkan komponen-komponen sistem yang perlu diaktifkan/dipilih dan sebagainya. Salah satu pemikiran yang dikembangkan dalam falsafah sistem adalah menganalogikakan sistem dengan ilmu ialah sebagai struktural pengetahuan yang sistematis, melibatkan rangkaian prinsip-prinsip yang penting ataupun fakta-fakta yang disusun dalam suatu hubungan atau ketergantungan secara rasional, serangkaian ide-ide, prinsip-prinsip, hukum-hukum/rumus-rumus yang secara keseluruhan membentuk satu kesatuan yang lengkap.

Antara “sistem” dengan lingkungannya akan berinteraksi, yang kemudian menimbulkan permasalahan-permasalahan. Oleh karena itu alasan dasar mengapa analisis sistem digunakan yaitu dalam rangka pemecahan problem (Problem Solving), syarat baru (New reguirement), pengimplementasian ide atau teknologi baru dan perbaikan-perbaikan sistem secara luas (Broad systems improvement). Analisa pemecahan masalah digunakan apabila sistem yang ada tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Misalnya bagian tertentu dalam tubuh organisasi menghadapi suatu problem dalam bidang penetapan waktu (Scheduling), peramalan (Forecasting), kontrol persediaan (Inventoy Control), yang perlu diperbaiki/dikoreksi. Sedangkan untuk menganlisa syarat saru, maka terdapat peraturan baru yang dihadapi oleh organisasi misalnya berupa : undang-undang baru, praktek acounting, jasa organisasi, produk baru dan sebagainya. Adapun analisa sistem untuk mengimplementasikan ide atau teknologi baru berhbungan dengan adanya ide ataupun teknologi baru akan menyebabkan timbulnya sebuah sub sistem baru yang perlu dirancang hingga dapat memanfaatkan peralatan tersebut secara optimal. Misalnya suatu perusahaan mulai menggunakan alat OCH (optical character recognition). Terakhir, analisa sistem berguna untuk perbaikan-perbaikan sistem secara luas (Broad systems improvement), yaitu suatu keinginan untuk menemukan cara yang lebih baik terhadap pekerjaan yang kini sedang dilakukan. Sasaran-sasaran umum perbaikan sistem antara lain mencakup tentang pengurangan biaya, servis lebih baik terhadap langganan, pelaporan lebih cepat.

Era global menyajikan berbagai perubahan mendasar dalam kehidupan manusia yang berakibat pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan pendekatan multiperspektif, artinya tidak hanya berdasarkan disiplin tunggal. Untuk itu diperlukan pemikiran secara sistem (system thinking), pendekatan sistem (system approach), konsep sistem (system concept), pandangan sistem (system viewpoint) ataupun lebih sederhana dengan sistem-sistem (system). Dengan konsep ataupun sistem-sistem ini maka masalah yang komplek dalam suatu persoalan akan menjadi lebih sederhana sehigga lebih mudah diselesaikan. Dengan demikian teori sistem merujuk pada serangkaian pernyataan mengenai hubungan diantara berbagai unsur yang berinteraksi satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Pandangan mengenai system bisa bermacam-macam. Sistem bisa berupa suatu kegiatan atau suatu prosedur/skema yang berorientasi kearah tujuan yang sama (Murdick dan Ross: 1982). Bila dipandang sebagai suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau terorganisir (Johason Katzn, Roseuzwey: 1980). Bisa berupa suatu set atau rangkaian dari benda-benda; suatu himpunan entity (unsur/bagian) yang saling berkaitan; atau agregesi.

Pendekatan secara sistem adalah cara yang meliputi berfikir untuk mencari solusi yang terbaik dengan memperhatikan unsur-unsur yang berhubungan dengan suatu masalah secara menyeluruh dan rasional. Pendekatan kesisteman mempunyai pengertian suatu kerangka pikir yang menghendaki agar dalam melihat sesuatu harus memperhatikan bahwa sesuatu tersebut terdiri dari sejumlah aspek yang saling berkaitan. Aspek yang berkaitan tersebut dapat bersifat internal maupun eksternal dan harus memperhatikan/mempertimbangkan peran dan pengaruh tindakan factor-faktor tersebut terhadap lingkungan. Dengan demikian maka pendekatan kesisteman adalah suatu metode berfikir yang merupakan analisa dari berbagai fenomena untuk menjadi suatu sintesis. Penggunaan pendekatan dan analisa sistem dapat membantu pimpinan untuk melihat persoalan yang rumit menjadi lebih sederhana. Sebuah sistem bisa longgar atau ketat, stabil atau tidak stabil. Sistem lebih kecil yang disebut subsistem mungkin hidup dalam sistem yang lebih luas. Di sisi lain sebuah sistem memiliki batas-batas yang membedakan dari lingkungan dan merupakan jaringan komunikasi yang membuka aliran informasi untuk proses penyesuaian diri. Dari dua sisi tersebut saja, kita dapat memahami bahwa untuk mengurai kompleksitas permasalahan yang kita temui diperlukan teori dan pendekatan kesisteman.

Hal-hal yang perlu dikembangkan dalam Teori system ini adalah adalah bagaimana merumuskan permasalahan berdasarkan komponen-komponen yang terdapat dalam suatu permasalahan lalu mengembangkan alaternatif pemecahan masalah. Penekanannya yaitu pemahaman tentang perlunya memeriksa seluruh bagian sistem. Karena sering sekali kita menganalisa sebuah permasalahan dengan memusatkan perhatian hanya pada satu komponen sistem, yang berarti dia telah mengambil tindakan yang mungkin tidak efektif, karena beberapa komponen yang penting diabaikan. Hal lain yang perlu dikembangkan yaitu bagaimana kita memahami pengaruh dari luar sistem dan memahami karakter dari sistem yang sedang kita tempati. Apakah kita berada dalam sistem yang terbuka atau tertutup ? Bagaimanakah kita memecahkan masalah dalam sistem yang tertutup? Lalu bagaimana kita mengolah informasi dari luar sistem namun tetap dapat digunakan untuk sebuah sistem yang bersifat tertutup?