Memandang Kepemimpinan di Era Sinergi

Pemimpin zaman sekarang sejatinya hanya manusia biasa, yang membedakannya dengan umat yang dipimpinnya adalah amanah untuk membawa seluruh umatnya selamat sampai tujuan. Namun siapa yang bisa menjamin setiap manusia bisa selamat 100 persen sampai di tujuan selain Tuhan Yang Maha Kuasa atas kehidupan ini ?
Kesadaran akan jaminan keselamatan hidup di dunia yang tidak seratus persen ini seharusnya ada dalam setiap benak manusia. Termasuk kesadaran para pemimpin, dirinya membawa amanah nasib

keselamatan para umatnya, tidak bisa membiarkan dirinya sebagai obyek pengkultusan umatnya demikian juga sebaliknya menjadikan umat sebagai obyek kepemimpinannya. Banyak faktor yang berpengaruh dalam kepemimpinan, dalam menautkan hubungan kausalitas antara keselamatan nasib umat dengan sosok pemimpinnya. Manusia modern semestinya semakin menyadari bahwasanya antara subyek dengan obyek, metode serta faktor – faktor yang berpengaruh dalam kepemimpinan terdapat hubungan transendental yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesamanya, dan hanya menyembah semata-mata kepada Yang Maha Kuasa. Kesadaran puncak yang menegaskan realita kun fayaa kun, bahwa semua yang terjadi di dunia ini semata-mata atas kehendak-Nya.

Teknologi dan gaya hidup modern mungkin telah menghipnotis kesejatian sebagian besar umat sekarang menjadi terkubur, mati, tidak memiliki kemuliaan, menjadi umat yang ‘ummi’. Terbelenggu oleh taklid dan kultus, sebagan besar umat membiarkan kesadaran dirinya terenggut oleh nafsu yang merasa paling benar karena terbawa perasaan sudah dimenangkan oleh Tuhan. Secara tidak sadar sebagian umat ter”hack” oleh kesemuan yang melenakan akalnya, sebagian besar saraf otaknya berfungsi namun dalam kondisi idle, terlihat ada dalam “task manager” namun menjadi “zonk” ketika dipaksa menampilkan kesejatian. Karena merasa nyaman dengan sang pemimpin, sebagian besar umat membiarkan alam kesadarannya menuju pemujaan buta, bahkan ikut serta menjadikannya sosok ‘sesembahan’, bersedia melakukan apa saja agar ketokohan sang pemimpin menjadi ‘ma’shum’, tanpa dosa, bahkan mencitrakan ucapannya sebagai ‘wahyu’ atau ‘titah’, yang wajib ditaati agar bisa hidup sukses. Sementara pendapat atau pandangan yang bersifat bantahan atau penolakan dianggap sebagai ‘ra’yu’, meskipun diiringi dalil yang mantiq sekalipun.
Pemashuman atas pemimpin bukan hanya terjadi di kalangan kaum marginal yang membentuk kelompok fanatik, di kalangan kaum mainstream yang terbilang moderat pun terjadi. Saya melihatnya seperti konservatisme dalam kemoderatan, menjadi wahana baru dalam memetakan proses pemashuman yang sekarang terjadi dilingkungan umat saat ini. Betapapun menyimpangnya perilaku para pemimpin, dan betapa dosanya, yang dilakukan para pemimpin, semuanya mereka maklumi. Kadang-kadang para pengikutnya, mengatakan kita belum sampai kepada maqomnya, agar bisa memahami apa yang dilakukan para pemimpin. Padahal semakin maju peradaban, semestinya umat manusia ini makin faham bahwa Pemimpin adalah manusia biasa yang terus melalui proses pembelajaran. Kapan saja dan dimana saja pemimpin bisa khilaf, namun yakinlah sang pemimpin selalu belajar dan memperbaiki kesalahannya.
Di zaman yang semakin modern ini, semestinya para umat menyadari sinergisitas dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Sekarang bukan zamannya lagi mencari-cari sosok pemimpin yang sempurna untuk ditokohkan, kemudian ramai-ramai mencari pembenaran atas ketidaksempurnaan upaya penokohan yang sudah dilakukan. Sudah bukan jamannya kita meletakkan segala kesalahan hanya pada pemimpin sementara umat melenakan dirinya dalam forum debat yang tidak berkesudahan. Mestinya umat sekarang tidak membiasakan untuk menghabiskan waktu dalam gaya hidup “ayti” (IT) untuk cuci tangan atas segala permasalahan yang ada padahal semestinya bisa menyelami “ayat” untuk senantiasa berpartisipasi saat dibutuhkan : tolong menolong dan gotong royong menjadi fitrah bagi semua umat yang ingin maju dalam peradaban.
Pada hakikatnya kita adalah pemimpin dan menjadi bagian dari kepemimpinan itu sendiri. Semakin dalamnya pengetahuan umat, semestinya makin menyadarkan diri bahwa segala daya dan upaya manusia tidak bisa disandarkan pada satu sosok manusia, tidak bisa menyandarkan semuanya pada sang pemimpin. Semakin terang kesadaran semestinya menggugah tekad untuk saling bekerjasama dalam memuliakan tujuan hidup bersama. Semakin tercerahkan semestinya umat makin bersatu dalam kebhinekaan. Semakin faham kebenaran sejati mestinya makin bersinergi.