Tuhan Membawamu Kembali


Gesekan menyayat halus suara biola mengalun indah. Irama syahdunya menggelayut semu di telinga, hati dan otak Kasih. Terlihat sosok seorang lelaki yang memakai seragam putih abu-abu, mengayun – ayunkan tangannya menari di atas biola putih itu. Menghantarkan deretan nada-nada yang indah, bahkan sangat indah.


Tegar mendongakkan kepalanya dan menatap gadis yang sedari tadi duduk di sebelahnya, menatapnya penuh arti. Suara Tegar memecah keheningan. “Tidak perlu bakat untuk menjadi hebat dalam sesuatu, hanya butuh kemauan dan kerja keras. Keajaiban akan membuatmu hebat”. Kasih terbungkam. Suasana hatinya kali ini sungguh bergejolak dengan jutaan amarah dan ketidakpercayaan. “Tapi aku beneran ga bisa Gar.” “Ga ada yang ga bisa Sih, kamu masih bisa belajar. Kesempatan itu masih ada Sih. Aku mau tangan kamu yang mainin biola putih ini, bukan aku.” “Tapi Gar …”. “Demi aku Sih, demi aku. Kasih mendekat ke arah Tegar, menatap matanya dalam kesungguhan. Tak butuh waktu 2 detik, Kasih sudah memeluk erat Tegar. Cairan hangat di pelupuk matanya tumpah melimpah tanpa diperintah. Semakin erat Kasih memeluk Tegar semakin kencang pula tangisannya. “Demi Tuhan, aku cinta kamu Gar !!! Jangan tinggalin aku please, aku butuh kamu ! Aku sayang, aku cinta, aku ga mau kehilangan kamu Gar ?!” Tegar mendorong halus tubuh mungil Kasih. Mengusap air matanya kemudian membelai rambut hitam sebahu yang sering dikaguminya. “Aku juga cinta kamu Sih, lebih dari sekedar cinta. Tapi, aku gak bisa Sih! Maaf”. Tubuh Kasih masih terguncang. Tak perlu orang yang ahli psikologi, bahwa tangisannya terlalu perih. Lebih dari sekedar menangis, lirih isakannya tak hanya menguakkan kesedihan, bukan semata meronta dalam kepiluan ataupun meminta kehadiran dalam kesunyian.

Tegar mengepalkan tangannya, meninju cermin yang ada di hadapannya. Seketika pucuk tangannya mengeluarkan cairan berwarna merah, yang ia biarkan mengalir begitu saja. Nafasnya naik-turun tak karuan, emosinya memuncak. Setelah kejadian di ruang musik tadi pagi, butuh waktu yang cukup lama untuk mengembalikan stabilitas emosinya. Tidak cukup belasan helaan nafas untuk memurnikan paru-parunya dengan oksigen yang sepertinya sangat susah untuk di dapatkan dalam terpaan amarah yang sedang mengaliri jiwanya. Dalam hitungan keduapuluhsatu, helaan nafasnya berhasil menguak himpitan sesak di sekitar ulu hatinya, Tegar akhirnya tenang, dibersihkannya luka di pucuk tangan dan membalutnya dengan perban – asal saja. Sementara otaknya berputar, namun hatinya, telah jauh menerawang mengapa hal ini terjadi. Pertanyaan itu kemudian menyedot kembali hawa sesak yang merangsang perasaan pusing di kepalanya. Tegas merasa Tuhan sedang tak adil. Mengapa disaat ia telah menemukan seorang gadis yang sangat ia cinta dan juga mencintainya. Tapi, Tuhan malah mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Semakin Tegar memikirkan ketidakadilan dalam persepsi dirinya, tanpa sadar mengasah pinggiran hawa sesak yang dari tadi mencengkramnya untuk mengiris – iris hatinya .

Dua minggu yang lalu itu kejadian yang sangat mengerikan sepanjang umurnya. Kecelakaan yang merenggut nyawa sang Kakak sungguh membuat hidupnya tak berarti. Ditambah lagi, saat dokter menyatakan kedua kaki Tegar mengalami cedera serius yang mengharuskan tindakan medis, amputasi ! Memotong tungkai kakinya hingga batas lutut. Tapi malaikat mungkin sudah siap menjemputnya. Mengamputasi kedua kakinya ternyata masih tidak cukup untuk menyelamatkan nyawanya. Waktunya sebentar lagi. Tuhan tak memberinya pilihan. Hanya itu-lah jalan, yang harus ia tempuh. Harus.

Sementara Kasih sudah terbaring di atas brangkar menuju ruang operasi. Sebelum operasi cangkok jantung dilakukan. Kasih sudah tak sadarkan diri sejak satu jam yang lalu, di samping brangkarnya, ada kedua orang tuanya dan Ray, sang kakak. Tegar masuk ke dalam ruang operasi menggunakan kursi rodanya. Menempatkan posisi tepat di samping Kasih. Kedua orang tua Kasih telah keluar dari ruangan sesaat setelah Tegar datang. Tersisa 3 orang di dalam ruangan bernuansa putih tersebut. Ray, Tegar dan Kasih. Suasana saat itu hening. Tak satu pun bersuara. Efek obat bius yang disuntikkan dokter anestesi pada Kasih membuatnya terlelap, Kasih masih tetap berada di posisi yang sama, tak bergerak sedikitpun. Perlahan, Tegar menyentuh tangan Kasih. Kepalanya menengok ke arah samping memberi isyarat agar Ray keluar dari ruangan. Tanpa bicara, Ray sudah berjalan ke arah pintu dan hilang dari balik pintu. Tegar mencium lembut punggung tangan Kasih. Pelupuk matanya tak bisa lagi menahan air mata yang sudah terkumpul sejak tadi. Tangannya lagi-lagi membelai halus rambut Kasih. “Maaf, aku jatuh cinta… sama kamu.” Tegar tertunduk, tapi tangannya masih menggenggam erat tangan Kasih. Satu kata terakhir yang terucap dari mulut Tegar. “Maafkan aku Kasih”. 

Pagi itu matahari masih enggan keluar dari tempat persembunyiannya. Burung-burung berkicauan, menyanyikan senandung yang menyemangatkan pagi hari ini. Kasih terduduk di bangku taman yang memang menjadi tempat favouritenya sejak dulu. Kasih tidak sendiri, ia ditemani oleh Ray lengkap dengan angin pagi yang menusuk tulangnya. Terlalu dingin pikirnya. “Wanita yang tegar, wanita yang selalu menghadapi masalah dengan senyuman. Dan aku yakin kamu itu termasuk ke dalam kategori wanita yang tegar. Keep smile my sista.” Ray membelai halus rambut Kasih dan memberikannya sepucuk surat berwarna putih dan sekuntum mawar putih. Ray berjalan menjauh dari Kasih dan meninggalkannya sendiri. Saat Kasih sadar Ray tidak lagi berada disampingnya, nafasnya tercekat, jantungnya berdebar dengan cepat. Entah mengapa, perasaannya begitu campur aduk melihat tulisan tangan yang tertera di bagian atas surat. Kasih sangat sangat mengenali pemilik dari tulisan tangan itu.

“To : Kasih.

Mengenalmu adalah hal yang sangat indah. Memilikimu adalah karunia terbesar yang pernah kumiliki. Dan mengenangmu, membuatku tahu bahwa kau adalah anugerah terindah yang pernah ku miliki? Kasih, aku mencintaimu. Sangat amat mencintaimu. Melebihi bintang yang mencintai rembulan. Biarkan aku menjadi bagian dari dirimu, hidup bersamamu selamanya. Aku memang sudah tak terlihat, aku menjadi semu. Tapi yang perlu kamu tau, aku ada dan selalu ada dalam dirimu, setiap waktu. Akulah hidupmu, aku bukanlah lagi seorang lelaki yang akan selalu menjagamu. Tapi akulah yang selalu ada setiap detik untukmu. Hanya untukmu. Aku ada di dalam jantungmu, jantungku adalah jantungmu. Dan kini, kita akan terus bersama. Selamanya!! Tersenyumlah, dengan begitu aku bisa merasakan kebahagiaan darimu ? Aku hadir di setiap detak jantungmu. Aku ada di setiap denyut nadimu. Jangan biarkan, kisah kita menjadi usang di sudut ingatan. Kau mampu membuat hidupku yang singkat ini menjadi lebih berwarna. Terima kasih, Kasih. Aku mencintaimu ! Kita memang berbeda, kau putih dan aku hitam. Tapi, layaknya biola dan penggeseknya. Kita akan tetap bersatu memainkan nada-nada yang indah. Jika takdir memisahkan kita di dunia ini. Maka, yakinlah bahwa takdir akan membawa kita bersama di surga nanti ? I LOVE YOU, Kasih. SO MUCH ! TEGAR.

Degup jantung Kasih berpacu hebat. Tak ada satu kata pun yang terlintas dalam fikirannya. Semua yang hadir dalam benaknya seakan – akan menggumpal menjadi kabut. Sulit untuk di cerna. Dedaunan kering yang jatuh tertiup angin, mendukung suasana hatinya saat ini. Kegalauan, kehampaan, dan kepiluan, kini menyatu dalam gumpalan fikiran kotor. Perih. Menyayat hati, pelupuk matanya tak sanggup lagi menahan cairan bening yang terkumpul sejak tadi. Air matanya mulai terjatuh tanpa bisa di tahan, bahkan hanya untuk sedetik. Beribu pertanyaan kini hadir dalam benaknya.

Sore itu, awan mulai bergeser menutupi matahari sehingga terlihat eksotika warna kejinggaanya. 8 Desember 2012, harusnya ia berdiri disini didampingi Tegar. Bersenda gurau penuh canda di atas rerumputan taman yang hijau. Memeluk Tegar. Tapi Kasih saat ini sendiri. Berjalan selangkah demi selangkah. Tersenyum manis memandang awan. “Kamu pasti dapet tempat selembut awan Gar”. Kasih terpejam cukup lama, menahan airmatanya agar tidak tumpah. “Tuhan, jagain Tegar ya…, biar Tegar bisa jagain aku dari sana juga. ”Malam ini bintang begitu agung memancarkan kempakannya, taburannya begitu indah menghias awan hitam. Namun pandangan mata Kasih tertuju hanya pada satu bintang yang berkilau paling bersinar. Sirius. Bibirnya melengkungkan senyuman. Kasih yakin bintang yang paling bersinar itulah yang akan selalu menjaga dan memperhatikannya setiap hari. Walaupun malam berubah menjadi siang. “Tegar? Kamu liat aku kan ? Aku kangen sama kamu. Kamu temenin aku ya, Gar. Aku sayang banget sama kamu. Tunggu aku ya Gar, I love you”.

THE END

Tarian Hening Batang Gelagah

Aku masih duduk terpaku. Membisu. Memandang riuh-riuh kecil ombak pantai yang menyapa butir-butir pasir putih di tepiannya. Sesekali kuambil salah satu cangkang kerang yang berserakan di sekelilingku, lalu kulemparkan cangkang itu ke arah laut. Bunyi kecipaknya nyaris tak terdengar. Kulihat sebatang gelagah, tegak menjulang di bibir sebuah telaga yang hampir kering. Batangnya bergoyang tertiup hembusan angin, meliuk ke sana ke mari menuruti irama sepoi – sepoi. Hanya sebatang saja diantara gelagah – gelagah lain yang telah lama layu dan mati. Gelagah – gelagah muda belum lagi muncul. Dia hanya sendiri, namun dalam sepinya terus bergerak, meliuk tanpa keluh dan kesah.

Saat tiupan angin yang keras membuat sang gelagah menunduk, terlihat bayangan dirinya tercermin dalam beningnya genangan air telaga, memantulkan keheningan dirinya yang tak merasa sepi. Butiran – butiran benih di pucuknya terlihat seperti mata yang melihat tarian dirinya yang gemulai diiringi senyuman bersama hembusan angin segar. Tak ada penonton yang memberikan tepukan meriah, tak ada suara sorakan gempita. Tak ada aku dan kamu yang memperhatikannya. Namun ia tetap meliuk. Ia tetap menari. Ia menari untuk mensyukuri hadiah hari ini dan hari kemarin. Ia mempersembahkan tariannya hari ini buat hari esok.
 
Ah, betapa sering aku menantikan orang lain memberikan kata-kata motivasi yang tak pernah muncul. Betapa sering aku melimpahkan semua masalahku pada sesuatu di luar diriku. Betapa aku sering lupa, kalau aku harus mengerti diriku sendiri lebih dari pada dimengerti oleh orang lain, bahwa aku harus mencintai diriku sendiri lebih dahulu sebelum aku dicintai orang lain.
 
Aku harus belajar menari – seperti batang gelagah di bibir telaga itu – walau tak seorangpun bertepuk tangan memberikan sorakan. Aku harus lebih mampu mengaktualisasikan diriku dalam waktu yang tidak lama, selalu bisa menikmati, mensyukuri setiap karunia yang telah aku miliki.
 
Terima kasih batang gelagah yang gemulai, yang hidup dalam jangka waktu sebentar. Engkau telah mengajarkan aku tentang berartinya hidup, untuk lebih mencintai dan dicintai dalam hidupku.

 

Kekuatan dari Kata – kata yang Terucap

Mengungkapkan kata-kata secara sadar atau tidak sadar merupakan pilihan. Kekuatan kata-kata bisa merubah kebiasaan bahkan kegiatan kita dalam kehidupan karena setiap ucapan ataupun isyarat yang dipilih merupakan pesan untuk mengkomunikasikan suara hati maupun fikiran. Cognito ergo Sum, kehidupan kita terbentuk oleh pikiran, sehingga setiap kata-kata yang terucap menjadi alat yang mendorong kesadaran untuk mengungkapkan kehendak dalam diri kita. Salah satu contoh kisah untuk memahami hal ini dapat kita baca dalam karya Joe Vitale yang berjudul ‘Zero Limits, Metoda Rahasia Hawaii untuk Memperoleh Kekayaan, Kesehatan, Kedamaian. Kisah yang diceritakan Joe Vitale dalam buku tersebut menggambarkan pertemuannya dengan sosok Ihaleakala Hew Len yang memiliki metode penyembuhan yang unik.
Hal yang aneh bagi praktisi medis adalah Hew Len menyembuhkan sebangsal penuh narapidana yang sakit jiwa tanpa pernah melihat seorang pun dari mereka secara profesional. Ternyata Hew Len menggunakan metoda penyembuhan dengan tuntunan ho’oponopono sebuah cara “pembersihan diri” secara terus menerus kepada diri sendiri. Lebih jelasnya pembersihan diri tersebut adalah dengan ungkapan “Saya mengasihi Anda”, “Maafkanlah Saya”, “Terimakasih”, dan terakhir adalah “Salam kedamaian”. Dalam pandangan Hew Len, untuk memperbaiki dunia, lingkungan atau siapapun maka langkah awal yang harus dilakukan adalah memperbaiki diri sendiri terus menerus. Sehingga diri kita selalu dalam keadaan bahagia, damai dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang kepada semua makhluk baik yang bernyawa maupun yang kelihatan tidak bernyawa. Dan semua “kegagalan” di dunia ini menjadi 100% tanggung jawab manusia. Ketika tanggung jawab sudah 100% kita ambil, maka tidak ada lagi alasan untuk menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam dan alasan-alasan lainnya yang dicari-cari.
Bila semua orang memiliki sikap seperti ini maka dunia ini akan sangat damai, atmosfer yang dipenuhi dengan energi positif yang bertebaran dimana – mana. Alam semesta akan tersenyum melihat mental-mental manusia yang sehat, sikap-sikap manusia sebagai pemimpin dunia yang adil. Karena setiap diri manusia mengerakkan gelombang – gelombang resonansi yang menggetarkan kesadarannya. Karena hampir 80 persen tubuh kita terdiri dari air, tidak heran kalau penelitian Masaru Emoto dalam The Power of Water membuka wawasan kita tentang resonansi energi positif dan negatif yang bertebaran di sekitar kita. Hasil penelitiannya tentang bentuk – bentuk kristal air mengungkapkan pengaruh ungkapan manusia terhadap karakter air. Bentuk kristal air yang diberi ungkapan-ungkapan yang baik-baik akan terlihat sangat indah. Sementara air yang dimaki, dimarahi, dibenci akan memunculkan bentuk kristal yang jelek.
Secara jujur kita perlu menyadari, dunia kita sudah terlalu sesak dipenuhi energi negatif yang bertebaran di sana-sini. Ada satu hikayat yang menyebutkan bahwa keburukan di dunia ini bisa dihitung dengan jumlah setan yang masih berkeliaran sejak zaman Nabi Adam. Dalam hikayat itu tersebut setiap kali bayi lahir maka seekor setan juga tercipta, namun saat bayi itu tumbuh menjadi orang dewasa kemudian meninggal, setan yang mengiringinya tetap bergentayangan sampai hari akhir. Bisa dibayangkan bila jumlah manusia saat ini sekitar 7,7 Milyar berapa ekor jumlah setan yang sedang bergentayangan saat ini. Dihitung dari sejak turunnya Nabi Adam, entah berapa perbandingan kuantitatif antara energi positif dengan energi negatif yang bertebaran. Meskipun jumlah energi negatif tersebut semakin banyak, konon ada pandangan yang mengatakan bahwa 9 energi negatif akan netral dengan 1 energi positif. Benarkah? Memang kita belum memiliki bukti secara ilmiah yang menyimpulkan tesis tersebut. Tapi secara sederhana kita bisa membuktikan, kalau ada sekelompok orang yang bertikai, kemudian datang seorang arif bijak yang mendamaikan pertikaian tersebut, besar kemungkinan pertikaian tadi bisa dihentikan.
Dari hikayat tersebut, sadarkah kita akan tanggungjawab yang ada pada diri kita? Kalau kita mengambil tanggung jawab 100% untuk membuat kebaikan di lingkungan sekitar kita, maka 1:10 atau bahkan lebih banyak lagi, kita bisa membuat energi positif lebih banyak bertebaran di alam semesta ini. Cukup dengan hal sederhana, dengan memperbaiki tata cara kita berkata – kata. Apa sih susahnya untuk mengatakan “Saya Mengasihi Anda”, “Terimakasih”, “Maafkanlah Saya”, “Salam kedamaian”, atau bisa ditambah lagi dengan kata-kata lain seperti “Sukses Selalu buat Anda”, “Bahagia selalu untuk Anda”, “Keberkahan untuk Anda” dll. Dengan ucapan terebut, kita berniat untuk mengisinya dengan do’a-do’a baik untuk orang sekitar kita dan ungkapan rasa syukur. Mau mencoba? Ya, harus kita coba dulu efektifitas ungkapan kata-kata tersebut. Dan ungkapan tadi tidak hanya kepada manusia, kepada benda, hewan atau makhluk tidak hidup lainnya juga patut untuk diungkapkan. 
Kata-kata adalah jiwanya komunikasi. Tentu saja untuk berkomunikasi lisan bagi orang dengan panca indera yang berfungsi optimal. Bagi sebagian saudara kita yang “luar biasa”, penggunaan kata-kata termanifestasi melalui gerak isyarat dan suara. Misalnya pada saudara kita yang tuna rungu, bisu dan tuli, yang lebih menggunakan body language (gesture) dalam komunikasinya. Bilamana kita amati kegunaan kata – kata dalam kehidupan kita sehari – hari, berbicara dengan menggunakan kata-kata positif dan negatif merupakan pilihan seorang manusia. Berbicara dengan kata-kata positif sangat sangat berbeda dampaknya dengan menggunakan kata-kata negatif. Sangat jelas. Para pakar psikologi mengatakan ucapan dan perbuatan yang positif berawal dari adanya pikiran atau pola pikir yang positif pula. Demikian sebaliknya. Mengucapkan kata-kata negatif seperti halnya seseorang menancapkan paku-paku di sebatang pohon. Walaupun paku-paku tersebut telah dicabut, tetap saja meninggalkan bekas yang dalam. Sedangkan kata-kata positif akan memberkas baik bagi pembicaranya maupun bagi pendengarnya. Seperti halnya yang dilakukan oleh Hew Len, pilihan kata – katanya menghasilkan perbuatan positif yang berdampak pada tercapainya hasil yang positif pula.
Memang tidak cukup hanya dengan mengeluarkan kata-kata tersebut di atas lantas perbuatan kita akan memperbaiki segalanya. Namun apabila kata-kata tersebut di atas diucapkan berulang-ulang sampai menyatu dengan diri kita, menyatu dengan pikiran dan hati, Tuhan akan memunculkan keajaiban-keajaiban. Tentunya kata-kata tersebut harus diucapkan dengan sepenuh hati sehingga memunculkan perasaan bahagia dan damai setiap saat. Mengucapkan kata – kata positif tersebut di sisi lain akan memberi dampak berupa terpeliharanya kita dari godaan-godaan untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat. Sebenarnya kata-kata yang kita ungkapkan memiliki makna berbeda setelah masuk ke dalam pikiran kita. Pikiran akan memberikan gambaran atas kata yang kita ucapkan. Ketika kita mengucapkan kata mengasihi maka pikiran menggambarkan seseorang yang mengusap-usap seseorang (anak kecil), atau memberikan perhatian kepada orang yang kesusahan atau memberikan menjaga orang yang membutuhkan bantuan.
Hal ini penting karena, jika Anda mengelola Hidup Anda dengan arti yang berbeda maka perasaan Anda juga akan ikut berbeda. Ketika mengungkapkan kata “Maafkan saya”, ketika itu pula ada rasa melepaskan energi negatif dan beban yang ada di pikiran dengan sebuah pengakuan. Dan orang yang mendengar kata-kata tersebut juga akan muncul rasa yang lembut yang juga mengucapkan kata yang sama, “Maafkan saya juga”.  Kalau perasaan Anda berbeda, maka tindakan Anda pun akan berbeda. Jika tindakan Anda berbeda, hasilnya juga berbeda. Dan jika hasilnya berbeda, maka nasibnya berbeda. Kalau nasibnya berbeda, maka hidupnya pun berbeda. Karena pada dasarnya setiap orang mempunyai definisi hidup yang berbeda- beda.
Jika Anda beranggapan hidup itu penuh dengan perjuangan, maka kehidupan Anda selamanya hanya berjuang. Memangnya enak kalau berjuang terus dan Anda tidak menikmati hidup? Disini Anda hanya berjuang terus menerus. Mungkin tidak ada yang salah dalam hal ini, namun definisi Anda menggambarkan kehidupan Anda untuk sekarang dan untuk kedepannya. Berhati- hatilah terhadap definisi hidup tersebut. Anda memberikan arti hidup yang Anda inginkan. Dan jika Anda salah dalam memberikan arti hidup maka pengelolaan hidup nomor satu anda sudah GaTot – Gagal Total. Untuk itu, yang paling pertama dalam langkah kita mengatur hidup adalah bagaimana kita bisa memberikan arti hidup itu sendiri. Jawablah pertanyaan ini sekarang : seperti apa dan hendak kemana hidup itu …??? (Anda bisa menjawabnya dengan jawaban Anda sendiri).
Dalam menjawab pertanyaan itu, sandingkanlah pilihan jawaban anda dengan kata – kata berikut ini : “Luar biasa indah dunia ini bilamana diisi dengan kata-kata yang berenergi positif. Sudah saatnya kita menyadari akan kekuatan kata – kata positif sehingga diri kita lebih ikhlas, lebih memancarkan kekuatan syukur, kekuatan damai, kekuatan cinta dan kasih sayang dan bahagia”. Ucapkan kata-kata tersebut terus menerus setiap saat, maka kita akan senantiasa berada dalam pencerahan yang luar biasa. Pilihlah kata – kata yang benar- benar bermakna, kata – kata yang berarti besarnya kekuatan positif dalam hidup anda.