Belajar itu bukan menghafal

Kebanyakan orang sok pintar tentang kompetensi hafalan. Namun ada juga yang sok tahu tentang bedanya hafalan dengan ingatan. Proses menghafal sangat jauh berbeda dengan proses mengingat, sehingga hasil akhirnya pun juga sangat berlainan. Seumur – umur selama menjadi peserta didik, saya sangat tidak suka dengan ujian – ujian yang memaksa saya untuk menghafal. Sangat tidak cocok dengan jiwa saya yang senang bereksplorasi untuk menemukan kebenaran yang sejati.

Saya tidak suka mengingat – ingat sesuatu yang belum mutlak kebenarannya, karena yang dipaksakan dalam ujian itu kebanyakan bersifat teori, hanya sedikit yang bersifat dalil ataupun hukum. Namun meskipun tidak suka, mau tidak mau saya dipaksa untuk menghafal karena sebagian jiwa saya senang berkompetisi untuk mendapat pengakuan atas hasil usaha saya dalam kegiatan belajar yang diajari.

Kini saya semakin yakin bahwa memang bukan hafalan yang utama dalam proses belajar. Iqro itu bukan hafalan. Membaca itu bukan hafalan. Kompetensi itu dibentuk bukan dengan menghafal yang porsinya hanya sebagian kecil saja dari produk ingatan manusia.

Kenapa saya semakin sadar bahwa manusia yang suka menghafal tidak pernah memenangkan kompetisi? Karena ternyata hafalan tersimpan di bagian otak limbik, di bagian neo korteks yang sebagian besar terpenuhi oleh naluri reptil. Hingga pada akhirnya jutaan hafalan berkeliaran dalam kode – kode naluriah yang emosional.

Manusia yang suka menghafal tidak mampu menjangkau sisi lain informasi yang akan mengantarkannya pada kebenaran yang sejati. Fikirannya terkungkung dalam logika yang terbentuk di lapisan limbik. Sebagian besar waktu dalam usia hidupnya habis dalam logika – logika hafalan yang seringkali absurd, sukar diterima oleh sebagian manusia lain yang sudah menjangkau lapisan lain dari kebenaran yang tersajikan di dunia ini.

Saya tidak bermaksud mengkritik siapa – siapa. Tulisan ini sekedar menampilkan peringatan dari sesosok manusia yang berupaya untuk menempa sebuah ingatan. Melalui sebuah ingatan, sosok manusia ini sedang berupaya mendapatkan kebenaran yang mutlak. Yang mungkin baru terwujud setelah wujud fisiknya masuk kotak.

Lalu apa yang dimaksud dengan ingatan ? Saya yakin istilah ini tidak populer di kalangan manusia yang merasa dirinya terdidik. Silakan Anda eksplorasi, jangan terjebak dengan doktrin hafalan yang telah mengungkung Anda. Jangan tersudut dalam fikiran sempit yang mungkin telah menjebak Anda dalam perilaku senang membenci orang yang berbeda dengan Anda.

Bandung, menjelang long week end.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *