Mengkaji Diri, Menguatkan Toleransi Penghuni Negeri

Sudah kodratnya Indonesia terwujud dalam kebhinekaan : keragaman yang indah manunggal dalam ideologi Pancasila. Tidak semua manusia memahami ini, mengejawantahkan kemajemukan itu dalam pangkal fikiran yang bertitik tolak keimanan dan ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa kemudian menjadi manusia yang Adil dan Beradab untuk hidup dalam persatuan Indonesia. Hingga sangatlah bisa Saya fahami mengapa masih banyak manusia yang mengaku sebagai umat beragama tidak memahami atau mungkin malah tidak mau mengerti tentang hakekat hidup dalam perbedaan ini, menjadikannya sebagai masalah yang serius untuk bersikap intoleran dalam setiap kesempatan.

Kodrat keberagaman ini penting dikaji lagi ketika kedamaian Kita hari ini terusik oleh keributan yang berpangkal dari perbedaan dan dari duhulu kala tidak menjadi soal. Karena bisa jadi Kita sedang bermanifestasi menjadi dua tipikal aktor perusuh negeri zaman kiwari. Pertama, mungkin kita sedang menjadi aktor yang gagal dalam memahami sejarah bangsa dan negara ini. Kajilah diri Kita, sejauh mana pengetahuan dan pemahaman akar sejarah dari bangsa dan negara ini. Sebelum Kita gagah berani berwacana negatif tentang suatu hal yang menyebabkan terjadinya gejolak di tengah-tengah masyarakat yang beragam, bercerminlah terlebih dulu. Sangat mungkin terjadi, wacana Kita dibangun dari banyaknya missed (gagal) faham Kita dalam memandang bangsa dan negara ini.

Kedua, boleh jadi Kita ini sedang tidak sadar menjadi aktor yang terkondisikan oleh pihak – pihak yang sengaja ingin memecah belah persatuan dan kesatuan antar warga negara. Oleh karena itu, jika Kita sering larut dalam wacana isu isu tentang SARA, sudah pasti Kita sedang dijadikan aktor siber yang terlekat (embedded) senjata paling ampuh untuk meretakkan hubungan antar umat beragama, suku, ras, dan antar golongan di bumi nusantara. Sangat mungkin terjadi, fikiran Kita sedang dikondisikan untuk mengoptimalisasi retaknya keberagaman bumi pertiwi ini dengan dua bilah mata pisau. Satu sisi fikiran Kita memanfaatkan keberagaman itu agar bisa menjadi kekuatan yang menyatukan, namun di lain hal keberagaman mindset buruk dalam diri Kita menjadi alat pemecah belah keberagaman itu sendiri.

Kita perlu menyadari toleransi yang rusak oleh para buzzer. Jelas terlihat di era global yang sarat dengan muatan informasi ini, semakin banyak buzzer yang misqueen literasi. Mereka tidak sadar larut dalam penggiringan opini yang masif dilakukan oleh aktor – aktor asing maupun elit politik pengkhianat bangsa.  mereka tidak sadar setiap hari bekerja membuat jebakan – jebakan ranjau informasi dengan issue – issue sensitif yang sengaja maupun tidak sengaja dibuat viral. Dalam hal ini, ketergantungan Kita pada media sosial jangan sampai merusak kedamaian hidup di bumi nusantara karena terjebak pada kata toleransi yang kemudian dengan mudah mengatakan orang lain intoleransi hanya karena berbeda prinsip dengan Kita. Toleransi tidak cukup dengan kata-kata, lebih utama membuktikan sikap, tindakan dan tingkah laku nyata dengan menghargai perbedaan keyakinan yang ada.

Dosmud Seskoad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *