Terhipnotis oleh Hafalan

Penganut tatanan lama yang masih memuja – muja bagusnya sistem hafalan sesungguhnya tidak sadar betapa terbelakangnya mereka dalam memahami proses pendidikan yang dirancang oleh Tuhan. Mereka tidak faham bagaimana sebenarnya proses pencernaan informasi dalam ingatan manusia. Mereka memang tidak faham. Mengapa ? Karena kebiasaan menghafal bukan untuk menciptakan pemahaman.

Maka jangan heran, dunia para penghafal adalah dunia konservatisme, jadul dan penuh retorika. Keindahan hati sulit didapat dari interaksi dengan para penghafal. Bagi para pengingat, dunia para penghafal berada di lapisan bumi paling bawah yang mungkin belum terjamah dan penuh misteri.

Bagaimanapun para pengingat tidak boleh menjauhi para penghafal. Karena lapisan paling bawah menopang lapisan paling atas yang sedang dieksplorasi para kaum pengingat. Para pengingat perlu tahu bahwa kegiatan menghafal hanyalah salah satu dari sekian banyak proses menempatkan informasi ke dalam ingatan (memori). Namun para pengingat harus tetap sadar bahwa output hafalan memiliki format yang berbeda dengan format utuh dari proses pembelajaran.

Jika kaum pengingat menemukan manusia – manusia yang kuat menghafal, hendaklah para pengingat bersikap biasa saja. Jangan terhipnotis oleh hafalannya itu. Sadarilah bahwa hafalan itu hanyalah proses mengubah informasi menjadi kode dalam proses penyimpanan ke memori otak. Bolehlah kita sebut kegiatan ini sebagai coding (pengkodean) informasi.

Menghafal sama dengan memberi tanda pada otak kita. Namun pemberian tanda melalui hafalan hanya menyediakan satu jawaban atas satu persoalan. Sistem hafalan tidak membangun hubungan antar informasi yang disimpan. Inilah yang sangat dijauhi oleh para kaum pengingat seperti saya. Terlena dalam hafalan hanya akan membuat saya menjadi robot, musuh masa depan yang akan menggerogoti eksistensi akal manusia.

Proses pengkodean informasi melalui metode hafalan dilakukan dengan cara mengulang. Cara menghafal ini sama halnya dengan kegiatan olah fisik. Semakin rajin melakukan latihan secara berulang, otot kita akan makin mekar. Bisa diibaratkan otot ini bak “memori” yang ada dalam otak. Konsekuensinya, bila proses mengulang ini Kita hentikan, maka secara perlahan tanda itu akan hilang. Dan akhirnya Kita akan lupa. Setinggi bagaimanapun IQ nya kaum penghafal, hafalannya segera akan terlupakan.

Kalaupun ada cara lain dalam proses menghafal – yang dipandang sudah menghubungkan informasi – kita kenal dengan metode jembatan keledai. Ingatan kita dipaksa untuk menelan informasi dengan mencerna kode – kode informasi yang lucu atau menarik imajinasi kita. Seringkali jembatan keledai itu nggak ada hubungannya sama sekali dengan obyek materi yang sedang kita hafalkan. Sehingga ditengah proses menghafal, jembatannya putus, tinggal keledainya yang menyeringai, menertawakan kebodohan si penghafal.

Sewaktu kita masih berusia kanak-anak, proses pembelajaran yang kita lalui banyak didapat dengan cara menghafal. Usia kanak – kanak menungkinkan untik menghafal dengan cepat. Tapi semakin bertambah usia, hafalan itu juga makin cepat dilupakan. Karena tugas kita sebenarnya bukan menjejali memori otak dengan hafalan. Umur kita di dunia ini meliputi masa untuk menciptakan ruang-ruang pemahaman sebanyak mungkin. Khususnya di usia kanak – kanak yang memorinya masih segar, diisi dengan fondasi logika untuk lebih mudah menyerap informasi pada tahap selanjutnya, berbasis pada pemahaman.

Sekali lagi otak kita bukan untuk dijejali dengan hafalan. Kaum pengingat tidak suka melakukan pengulangan demi mempertahankan hafalan. Kegiatan ini kurang menguntungkan karena sebaiknya memanfaatkan waktu dan energinya untuk mengumpulkan informasi lain yang lebih baru. Para pengingat selalu sadar bahwa sesuatu yang dihafal adalah sesuatu yang statis, tidak mengalami pembaruan. Dirinya tidak mau terhipnotis oleh hafalan yang absurd dan penuh kode yang segera akan dilupakan.

#Belajar bukan menghafal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *