Menggali Makna Sejarah Benteng Kedung Cowek, Menelusuri Warisan Leluhur Prajurit Arhanud

Kedung Cowek saat ini hanya dikenal sebagai areal wisata alternatif bagi penduduk Surabaya. Di daerah itu terdapat kumpulan bangunan yang telah begitu tua menghadap ke arah selat Madura. Tidak banyak yang tahu asal-muasal bangunan tua yang sering disebut “Benteng” oleh penduduk kampung di sekitarnya. Meski hanya terpaut  beberapa ratus meter di sebelah timur pembangunan jembatan Suramadu, tidak banyak orang yang peduli dengan kebesaran nama benteng Kedung Cowek. Mungkin beberapa orang saja yang pernah tahu bahwa disana terkubur jiwa-jiwa yang mulia, yang telah ikut membesarkan nama negara dan bangsa Indonesia. Dan tidak banyak pula yang mengerti, diantara reruntuhan bangunan benteng tersebut terselip peristiwa bersejarah yang begitu bermakna bagi keluhuran jati diri korps dan identitas prajurit-prajurit Artileri Pertahanan Udara.

Sejarah Benteng Kedung Cowek

          Arti penting dari fungsi benteng Kedung Cowek, baru diulas dengan jelas “pada tahun 2001 dalam buku “10 November ’45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?” karangan Batara R. Hutagalung. Pada saat terjadinya pertempuran hebat antara pejuang-pejuang kita dengan tentara sekutu, benteng tersebut menjadi saksi bisu keberanian prajurit-prajurit yang mengawaki meriam penangkis serangan udara melawan keganasan mesin perang pasukan asing yang lebih modern.

          Berdasarkan buku Hutagalung, rentetan benteng pantai yang menghiasi Kedung Cowek dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Sejumlah meriam yang besar dilindungi oleh beton yang tebal dan kokoh, dimaksudkan untuk menghadapi kapal musuh yang mendekati pelabuhan dan pantai Surabaya. Namun sampai saat pasukan Jepang menduduki wilayah jajahan Belanda, benteng tersebut tidak sempat digunakan. Tentara Jepang kemudian menambah persenjataan dan memperkuat perlindungan. Itupun, setelah Jepang menyerah benteng-benteng tersebut masih utuh karena mereka tak sempat memanfaatkannya. Sehingga lokasi pertahanan yang kokoh dan lengkap dengan persenjataannya boleh dikatakan jatuh secara utuh ke tangan pejuang-pejuang Republik Indonesia.

          Menjelang pertempuran 10 November 1945 Pasukan yang menduduki Kedung Cowek dikenal dengan nama pasukan Sriwijaya yang merupakan mantan pasukan Gyugun ( bentukan Jepang ) dan telah mempunyai pengalaman tempur melawan tentara Amerika Serikat. Pasukan ini sebagian besar berasal dari Tapanuli, Deli dan Aceh  yang di bawa oleh Jepang ke Morotai, Halmahera Utara, karena Jepang kekurangan tentara selama Perang Dunia ke-II, pasukan tersebut telah mengalami pemboman serta gempuran pesawat terbang dan kapal perang Amerika, saat mempertahankan Morotai. Ketika Jepang menyerah pasukan Gyugun termasuk yang berada di Morotai dibubarkan mereka dilepaskan begitu saja, kemudian berupaya keluar Morotai dengan berbagai cara. Sekitar 400-500 orang diantaranya dengan menaiki sejumlah perahu terdampar di Madura. Dari sana mereka menyeberang ke Surabaya tanpa mengetahui lokasi yang di tempuh tidak mengusai bahasa Jawa bahkan tidak memiliki uang.

Kedung Cowek
Jalan Setapak Kedung Cowek

          Secara kebetulan, Kolonel dr. Wiliater Hutagalung berjumpa dengan dua orang pimpinan rombongan petualang tersebut, yang juga berasal dari Tapanuli. Setelah diberitahu tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mereka sepakat membentuk pasukan sendiri dan bergabung dengan tentara Indonesia yang sedang dalam proses pembentukan. Selanjutnya pasukan sriwijaya tersebut ikut dalam perebutan senjata dari tentara Jepang di Morokrembangan. Dari pasukan itu, yang sudah biasa melayani meriam ditempatkan di Kedung Cowek. Sedangkan yang sanggup menggunakan senjata penangkis serangan udara disebarkan menurut lokasi meriam penangkis serangan udara.

          Saat berlangsung pertempuran 10 November 1945, terjadi pertempuran hebat di benteng Kedung Cowek. Pada waktu kapal perang Inggris menembaki kota Surabaya, pihak Inggris sangat terkejut melihat perlawanan dari arah benteng-benteng tersebut. Dari kualitas tembakan, Inggris mengira yang melayani meriam-meriam itu adalah anggota tentara Jepang yang tak tunduk pada perintah sekutu, sehingga perlawanan itu disangka sebagai tindakan penjahat-penjahat perang (War Criminals). Atas dasar alasan itulah , maka Inggris membombardir benteng tersebut. Dikemudian hari, dari sejumlah orang Indonesia yang di Pasukan Inggris itu terungkap bahwa Inggris tidak memperhitungkan kalau pihak Indonesia memiliki anggota pasukan berkemampuan melayani meriam-meriam Berat di benteng-benteng Kedung cowek.

          “Setelah pertempuran tiga minggu di Surabaya sejak 10 November 1945, jumlah anggota pasukan sangat menyusut, maka pada Desember 1945, sisa pasukan Sriwijaya digabungkan ke pasukan Jarot Subiantoro. Pada bulan Juli 1947, sebagian dari mereka ikut dengan dr. Hutagalung untuk berjuang di Sumatera, namun karena agresi militer Belanda yang pertama tanggal 21 Juli 1947, perjalanan mereka terhenti di Yogyakarta.”(Hutagalung, 2001).

Makna Sejarah Benteng Kedung Cowek

          “To know history is to know your self”. Di era globalisasi dewasa ini, arti penting dari sebuah jati diri bangsa menjadi sangat penting. Jati diri bangsa merupakan kekuatan terbesar dalam menonjolkan identitas di tengah hiruk pikuk nilai-nilai universal yang dianut masyarakat global. Dan salah satu sumber untuk menyelami jati diri bangsa ini adalah memahami kandungan nilai-nilai sejarah yang dimiliki. Tanpa kita mengerti dan menguasai sejarah bangsa ini, mustahil ada penghargaan dari bangsa lain kepada kita. Salah satu pembuktian dari hal tersebut adalah Press release yang dikeluarkan oleh kedutaan besar Inggris pada tanggal 27 Oktober 2000 di Lemhanas Jakarta tentang permohonan maaf dan penyesalan orang Inggris atas begitu banyaknya korban korban dalam pertempuran 10 November 1945. Pernyataan tersebut merupakan suatu pembelajaran bahwa pengorbanan jiwa dan raga yang diberikan oleh pejuang-pejuang pendahulu kita telah berbuah menjadi nilai-nilai martabat bangsa yang dihargai oleh bangsa lain.

            Demikian pula halnya dengan kandungan nilai sejarah di balik kumpulan bangunan benteng Kedung Cowek. Data dan fakta sejarah yang ada disana merupakan acuan dalam menguak kebesaran hati, keberanian dan heroisme prajurit-prajurit eks Gyugun yang terkubur tanpa nisan. Sebagai bagian dari kehebatan pertempuran 10 November 1945, kontroversi atas perbedaan interpretasi atas peristiwa tersebut tidak perlu menjadikan nilai-nilai kejuangan dan pembelajaran aspek-aspek pertempuran yang termuat di dalam keberadaan benteng tersebut menjadi terlupakan begitu saja. Mereka mungkin tidak tercatat sebagai bagian yang paling penting dalam kisah pertempuran yang senantiasa dikenang oleh seluruh bangsa Indonesia. Namun di balik bekas-bekas bangunan yang kusam, ada selarik sinar yang bisa membuka mata hati generasi sekarang untuk memahami siapa dan bagaimana bangsa ini memperjuangkan martabat dan harga diri sehingga sekarang dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia internasional.

          Oleh karena itu keberadaan Benteng Kedung Cowek perlu tetap dilestarikan. Sisa-sisa bangunan, rel-rel galangan pengantar munisi meriam dan keterangan para saksi yang menyatakan adanya pasukan yang mengawaki senjata meriam besar di sana, tidak sepatutnya dinilai sebatas kepingan masa lalu, hanya sebatas kisah kepahlawanan nasional. Data dan fakta tersebut justru menjadi pembelajaran bagi “generasi-generasi pengisi kemerdekaan”untuk merenungi makna di balik peristiwa heroik yang pernah terjadi disana. Jika kita berdiri di atas benteng tersebut dan kemudian melepas pandangan ke arah laut lepas, kita akan merasakan betapa besarnya pengorbanan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan, cita-cita dan martabat bangsa Indonesia.

Keterkaitan Sejarah benteng kedung Cowek dengan Sejarah Kecabangan Artileri Pertahanan Udara TNI AD

          Jika pasukan Arhanud Australia memiliki cerita bersejarah “ack-ack unit” yang dikenal dengan the “sitting duck” pada saat pertempuran di Normandia, kisah kehebatan pasukan penangkis serangan udara yang dimiliki rakyat Indonesia  juga tidak kalah hebatnya. Yang berbeda, sasaran yang dihadapi oleh pasukan Sriwijaya saat itu adalah kapal laut, dan pesawat udara. Di dalam buku “10 November 1945, Gelora Kepahlawanan Indonesia” karangan Brigjen (purn) Barlan Setiadijaya, kehebatan pasukan penangkis serangan udara juga ditunjukkan di daerah Tandes. Dalam pertempuran 10 November 1945 hari pertama, pasukan-pasukan meriam penangkis serangan udara sudah dapat merontokkan 2 pesawat Inggris.

          Pertempuran di Kedung Cowek beserta kisah pasukan penangkis serangan udara yang turut mewarnai kedahsyatan perang 10 November 1945 merupakan acuan peristiwa yang melambangkan fungsi dan peran penting pasukan penangkis serangan udara dalam suatu situasi peperangan yang sesungguhnya. Dalam peristiwa tersebut, dapat kita pelajari bagaimana pasukan penangkis serangan udara menghadapi serangan musuh saat itu. Penempatan benteng Kedung Cowek yang dibangun untuk gelar statis meriam-meriam penangkis serangan udara merupakan aspek pembelajaran penting dalam peran dan fungsi kecabangan Artileri Pertahanan Udara. Pada masa itu tidak ada doktrin yang menjadi dasar bagi susunan bertempur pasukan untuk menghadapi serangan musuh. Pasukan Sriwijaya yang bertempur di benteng Kedung Cowek saat itu hanya mengandalkan pengalaman bertempur mereka pada saat mendukung pasukan Jepang melawan tentara Amerika di Morotai.

          Mungkin tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan dari perlawanan pasukan Sriwijaya di benteng Kedung Cowek. Hanya keberanian dan semangat pengorbanan luar biasa yang bisa kita kenang sebagai lambang kesatriaan dan patriotisme prajurit kebanggaan rakyat. Namun itu sudah cukup untuk membangun nilai-nilai identitas prajurit-prajurit Arhanud TNI AD. Dalam catatan sejarah kecabangan Arhanud TNI AD, tidak ada lagi peristiwa serupa yang dapat menggambarkan aspek pertempuran pasukan penangkis serangan udara. Bagaimanapun taktik, pengalaman bertempur dan persenjataan yang canggih tidak berarti apa-apa tanpa diiringi nilai-nilai keprajuritan yang sesungguhnya. Kekalahan yang dialami oleh pasukan Sriwijaya justru merupakan pelajaran penting bahwa wilayah-wilayah di negara ini memerlukan pasukan-pasukan penangkis serangan udara yang tangguh dan dapat diandalkan untuk mengusir serangan musuh.

          Pada intinya sejarah benteng Kedung Cowek yang sempat menjadi medan pertempuran pasukan penangkis serangan udara merupakan peristiwa penting dalam pengenalan jati diri prajurit Arhanud TNI AD. Karena di tempat tersebut pertama kali digunakan meriam-meriam penangkis serangan udara yang saat ini telah berkembang menjadi kecabangan “Artileri Pertahanan Udara TNI AD”. Sejarah perlawanan pasukan penangkis serangan udara mungkin hanya terjadi di Kedung Cowek. Meskipun pasukan tersebut tidak menamakan dirinya sebagai pasukan Artileri, namun kemampuan mengawaki meriam penangkis serangan udara melawan serangan musuh jelas merupakan identitas utama yang harus dijadikan sumber pengakuan siapa sesungguhnya senior-senior prajurit-prajurit Artileri Pertahanan Udara TNI AD.

          Oleh karena itu keberadaan benteng Kedung Cowek yang saat ini dalam kondisi kritis karena sedang direncanakan untuk dialihkan fungsinya sebagai obyek non-militer perlu mendapatkan perhatian yang besar dari pimpinan generasi masa kini. Meskipun sampai saat ini pengelolaan bangunan tersebut telah berada dalam tanggung jawab dinas Kodam, nilai historis bangunan tersebut perlu dieksplorasi untuk dilestarikan. Patriotisme para prajurit yang pernah bertempur di benteng Kedung Cowek yang semestinya kita kenang selalu sebagai bagian dari sejarah yang mencerminkan jati diri dan sumber pembelajaran kita untuk menjadi bangsa yang besar dan dihormati oleh masyarakat internasional. Sudah selayaknya areal benteng Kedung Cowek menjadi cagar sejarah yang dapat dijadikan sumber inspirasi dan rujukan dalam mengenang jasa-jasa para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan negeri tercinta ini.

 

Referensi

Setiadijaya, Barlan, 1991, “10 November 1945 Gelora Kepahlawanan Indonesia”, Yayasan Dwi Warna, Jakarta.

Hutagalung, Batara R, 2001, “10 November ’45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?” Milenium Publisher, Jakarta.

Rahasia Si Untung

Salah satu karakter komik Disney yang kita kenal, mengungkapkan sisi keberuntungan seseorang melalui tokoh Gladstone. Si untung Gladstone tidak bersedia untuk membuat usaha sedikit pun untuk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa memberinya keberuntungan, dan, bila ada yang salah, ia mengundurkan diri segera, yakin bahwa di langkah berikutnya, akan dijatuhkan dompet oleh orang lewat, menunggunya untuk mengambil keberuntungan yang menghampirinya. Mengagumkan memang, betapa enak hidupnya : tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donald.

Bilamana Gladstone dan Donald berjalan bersama, tiba-tiba saja si Untung menemukan sekeping uang dijalan. Untuk sejumlah keberuntungan konyol yang ditemukannya, Gladstone memiliki pencapaian yang patut dibanggakan, meskipun terlihat sangat malas dan tidak memiliki ambisi atau panggilan yang benar dalam hidupnya. Padahal sesungguhnya dia tidak mampu membuat perencanaan jangka panjang. Semua ini bertentangan dengan prinsip kerabatnya Gober Bebek, yang juga mampu mengambil keuntungan dari peluang namun melalui kerja keras untuk menciptakan situasi yang menguntungkan baginya. Tokoh Gober mengungkapkan karakter yang penuh motivasi bersama dengan ambisi dan kebanggaannya yang besar untuk mewujudkan kekayaan dengan usahanya sendiri.

Lalu apakah cerita tokoh si Untung ini benar-benar ada dan apakah ada ilmu orang beruntung ? Ada, salah satunya teori Professor Richard Wiseman yang telah dibukukan dengan judul “The Luck Factor”. Apakah anda penasaran dengan ilmu keberuntungan Prof Wiseman ? Mari kita gali lebih dalam bagaimana sang Professor meneliti hal-hal yang membedakan orang – orang beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang merasa hidupnya selalu sial. Dalam penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang – orang dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 (dua) menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja ! Lho kok bisa?

Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada empatpuluhtiga gambar di koran ini“. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah-tengah koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke pengawas, Anda menemukan ini, dan menangkan $250!“ Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar-benar sial.

Kesimpulan penelitian ilmiah Wiseman mengungkapkan cara baru yang radikal dalam memandang keberuntungan sebagai salah satu hal yang berperan penting dalam kehidupan kita. Pekerjaan Wiseman menunjukkan keadaan tentang nasib baik dan buruk yang kita temui adalah hasil dari pikiran dan perilaku manusia. Proyek ini juga menunjukkan bagaimana skeptisisme dapat memainkan peran positif dalam kehidupan masyarakat. Bagaimana peristiwa keberuntungan memiliki pengaruh dramatis atas hidup kita ? Keberuntungan memiliki kekuatan untuk mengubah hal yang mustahil menjadi mungkin, membuat perbedaan antara hidup dan mati, penghargaan dan penghinaan, kebahagiaan dan putus asa. Penelitian Wiseman bukan hanya membongkar pemikiran dan perilaku takhayul. Sebaliknya, hal ini mendorong orang untuk menjauhi cara berpikir tentang keajaiban, menuju pandangan yang lebih rasional mengenai keberuntungan. Wiseman mengarahkan kita untuk menggunakan ilmu pengetahuan dan skeptisisme agar lebih mampu meningkatkan tingkat keberuntungan, kebahagiaan, dan keberhasilan dalam kehidupan masyarakat.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific“ ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial, yaitu :

1. Sikap terhadap peluang. Bagaimana orang beruntung menyikapi keadaan ternyata membawa kondisi yang lebih terbuka terhadap peluang. Kepekaan mereka lebih terasah dalam mendeteksi adanya kesempatan. Orang beruntung pandai dan terampil menciptakan, melihat dan bertindak terhadap setiap kesempatan yang mendatangkan peluang. Mereka melakukan ini dengan berbagai cara, termasuk membentuk jaringan, mengadopsi sikap yang santai untuk hidup dan dengan menjadi lebih terbuka terhadap setiap pengalaman baru. Mereka lebih terbuka saat berinteraksi dengan orang-orang yang baru dikenal, hingga berhasil menciptakan jaringan-jaringan sosial yang baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru yang ditemukannya.
Gambaran sikap orang beruntung ini dapat kita ambil dari kisah Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York. Suatu hari ia berjalan melewati Hotel Plaza di New York ketika ia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya, “Mr. Buffett !” Helzberg bertanya-tanya apakah orang ini mungkin Warren Buffett – salah satu investor paling sukses di Amerika. Helzberg tidak pernah bertemu Buffett, tetapi dia telah membaca tentang kriteria keuangan yang Buffett gunakan ketika akan membeli sebuah perusahaan. Helzberg saat itu berusia enam puluh, sedang berpikir untuk menjual perusahaannya, dan menyadari bahwa tokonya mungkin termasuk jenis perusahaan yang akan menarik minat Buffett. Helzberg merebut kesempatan, berjalan ke orang asing itu dan memperkenalkan diri. Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung.

2. Menggunakan intuisi keberuntungan dalam membuat keputusan. Orang yang beruntung lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Selain itu, mereka mengambil langkah-langkah untuk secara aktif meningkatkan kemampuan intuitifnya, misalnya, bermeditasi dan membersihkan pikiran mereka dari pikiran yang lain. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya berasal dari “gut feeling“. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.

Disinilah menurut saya, letak “benar” yang bertemu dengan “betul” dalam suatu peristiwa. Intuisi merupakan wujud dari olah fikir jernih yang diperoleh setelah kita menemukan diri Kita yang sejati. Intuisi berhubungan dengan kemampuan batin untuk memperoleh pengetahuan tanpa bukti – bukti ilmiah, atau penalaran sadar, atau tanpa memahami bagaimana sebuah pengetahuan diperoleh. Apakah intuisi masuk melalui telinga ? Melalui mata ? Atau melalui perasaan ?

Memahami intuisi cenderung subyektif, mungkin saja ada orang yang mendengar suara, melihat sesuatu atau merasakan isyarat. Karena sesungguhnya intuisi sering muncul dalam berbagai bentuk, yaitu :
– Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Ketika saya suka merasa tiba-tiba senang dan ingin melakukan perjalanan belajar dan tugas ke luar negeri. Saya selalu merasa excited ketika melihat dan mendengar teman – teman yang bercerita tentang pengalamannya ke Luar Negeri. Beberapa tahun kemudian saya ternyata pergi belajar ke Australia. Dan beberapa tahun kemudian, saya berangkat tugas ke Timur Tengah.
– Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Mata gue yang sebelah kiri atas kok tiba-tiba kedut-kedutan ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat-isyarat tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba-tiba meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba-tiba meriang lagi.
– Isyarat dari luar. “Follow the omen” demikian kalau kata Paulo Coelho di buku the Alchemist. Baca “isyarat-isyarat” dari luar yang datang pada Anda. Saya juga beberapa kali mengalami. Misalnya bawahan saya mengatakan berulangkali tentang kemungkinan saya kembali ditempatkan dalam penugasan di satuan yang sama. Dan ternyata hal ini benar – benar membawa keberuntungan setelah lima tahun kemudian saya kembali bertugas dan bertemu dengan bawahan saya tersebut. Oleh karena itu tidaklah salah, jika akhir-akhir ini Anda sering melalui rumah mewah di sebuah kompleks elit, anda berucap syukur dan barangkali itu menjadi suatu pertanda.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang. Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik. Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah – tengah perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit“. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan

Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School. Saya yakin Anda semua sudah beruntung dan tidak perlu bersekolah di Luck School. Tapi ada baiknya mengintip sedikit, latihan – latihan apa yang diberikan di Luck School. Salah satu yang menonjol dari orang sial adalah betapa mereka sering mengabaikan hal-hal yang positif di sekitar mereka. Misalnya salah satu pasien Prof Wiseman, adalah seorang wanita single parent, yang sangat sial. Ketika diminta menceritakan hidupnya akan segera nyerocos menceritakan setiap detil kesialannya. Betapa sulitnya memperoleh pasangan, sudah ketemu pria yang cocok tapi si pria jatuh dari motor, di lain kesempatan si pria jatuh dan patah hidungnya, sudah hampir menikah, gereja nya terbakar, dan sebagainya. Pokoknya benar – benar sial. Padahal, dalam setiap interview, si wanita datang membawa dua orang anak yang sangat lucu – lucu dan sehat. Sebagian besar dari kita akan merasa sangat beruntung memiliki dua anak tadi. Tapi tidak bagi si wanita sial tadi. Karena dua anak lucu tadi tidak ada dalam pikiran si wanita, yang otaknya sudah penuh dengan “kesialan”.
Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang – orang semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary“, buku harian keberuntungan. Setiap hari, wanita tadi harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan. Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, semakin mereka akan sadari betapa mereka beruntung. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Bilamana Kita telaah kembali empat prinsip dasar keberuntungan Wiseman, kuncinya adalah selalu bersyukur. Orang beruntung senantiasa terampil membesarkan kemampuan bersyukurnya dengan menciptakan dan memperhatikan peluang kesempatan, membuat keputusan beruntung dengan mendengarkan intuisi, membuat “self-fulfilling prophecy” melalui harapan positif, dan mengadopsi sikap tangguh yang mengubah nasib buruk menjadi baik. Kunci kedua adalah pandai dalam mengelola waktu untuk menghindari kerugian, yaitu dengan sealu beriman, beramal saleh serta selalu ingat mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk Anda. Siap mulai menjadi si Untung hari ini?

Tuhan Membawamu Kembali


Gesekan menyayat halus suara biola mengalun indah. Irama syahdunya menggelayut semu di telinga, hati dan otak Kasih. Terlihat sosok seorang lelaki yang memakai seragam putih abu-abu, mengayun – ayunkan tangannya menari di atas biola putih itu. Menghantarkan deretan nada-nada yang indah, bahkan sangat indah.


Tegar mendongakkan kepalanya dan menatap gadis yang sedari tadi duduk di sebelahnya, menatapnya penuh arti. Suara Tegar memecah keheningan. “Tidak perlu bakat untuk menjadi hebat dalam sesuatu, hanya butuh kemauan dan kerja keras. Keajaiban akan membuatmu hebat”. Kasih terbungkam. Suasana hatinya kali ini sungguh bergejolak dengan jutaan amarah dan ketidakpercayaan. “Tapi aku beneran ga bisa Gar.” “Ga ada yang ga bisa Sih, kamu masih bisa belajar. Kesempatan itu masih ada Sih. Aku mau tangan kamu yang mainin biola putih ini, bukan aku.” “Tapi Gar …”. “Demi aku Sih, demi aku. Kasih mendekat ke arah Tegar, menatap matanya dalam kesungguhan. Tak butuh waktu 2 detik, Kasih sudah memeluk erat Tegar. Cairan hangat di pelupuk matanya tumpah melimpah tanpa diperintah. Semakin erat Kasih memeluk Tegar semakin kencang pula tangisannya. “Demi Tuhan, aku cinta kamu Gar !!! Jangan tinggalin aku please, aku butuh kamu ! Aku sayang, aku cinta, aku ga mau kehilangan kamu Gar ?!” Tegar mendorong halus tubuh mungil Kasih. Mengusap air matanya kemudian membelai rambut hitam sebahu yang sering dikaguminya. “Aku juga cinta kamu Sih, lebih dari sekedar cinta. Tapi, aku gak bisa Sih! Maaf”. Tubuh Kasih masih terguncang. Tak perlu orang yang ahli psikologi, bahwa tangisannya terlalu perih. Lebih dari sekedar menangis, lirih isakannya tak hanya menguakkan kesedihan, bukan semata meronta dalam kepiluan ataupun meminta kehadiran dalam kesunyian.

Tegar mengepalkan tangannya, meninju cermin yang ada di hadapannya. Seketika pucuk tangannya mengeluarkan cairan berwarna merah, yang ia biarkan mengalir begitu saja. Nafasnya naik-turun tak karuan, emosinya memuncak. Setelah kejadian di ruang musik tadi pagi, butuh waktu yang cukup lama untuk mengembalikan stabilitas emosinya. Tidak cukup belasan helaan nafas untuk memurnikan paru-parunya dengan oksigen yang sepertinya sangat susah untuk di dapatkan dalam terpaan amarah yang sedang mengaliri jiwanya. Dalam hitungan keduapuluhsatu, helaan nafasnya berhasil menguak himpitan sesak di sekitar ulu hatinya, Tegar akhirnya tenang, dibersihkannya luka di pucuk tangan dan membalutnya dengan perban – asal saja. Sementara otaknya berputar, namun hatinya, telah jauh menerawang mengapa hal ini terjadi. Pertanyaan itu kemudian menyedot kembali hawa sesak yang merangsang perasaan pusing di kepalanya. Tegas merasa Tuhan sedang tak adil. Mengapa disaat ia telah menemukan seorang gadis yang sangat ia cinta dan juga mencintainya. Tapi, Tuhan malah mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Semakin Tegar memikirkan ketidakadilan dalam persepsi dirinya, tanpa sadar mengasah pinggiran hawa sesak yang dari tadi mencengkramnya untuk mengiris – iris hatinya .

Dua minggu yang lalu itu kejadian yang sangat mengerikan sepanjang umurnya. Kecelakaan yang merenggut nyawa sang Kakak sungguh membuat hidupnya tak berarti. Ditambah lagi, saat dokter menyatakan kedua kaki Tegar mengalami cedera serius yang mengharuskan tindakan medis, amputasi ! Memotong tungkai kakinya hingga batas lutut. Tapi malaikat mungkin sudah siap menjemputnya. Mengamputasi kedua kakinya ternyata masih tidak cukup untuk menyelamatkan nyawanya. Waktunya sebentar lagi. Tuhan tak memberinya pilihan. Hanya itu-lah jalan, yang harus ia tempuh. Harus.

Sementara Kasih sudah terbaring di atas brangkar menuju ruang operasi. Sebelum operasi cangkok jantung dilakukan. Kasih sudah tak sadarkan diri sejak satu jam yang lalu, di samping brangkarnya, ada kedua orang tuanya dan Ray, sang kakak. Tegar masuk ke dalam ruang operasi menggunakan kursi rodanya. Menempatkan posisi tepat di samping Kasih. Kedua orang tua Kasih telah keluar dari ruangan sesaat setelah Tegar datang. Tersisa 3 orang di dalam ruangan bernuansa putih tersebut. Ray, Tegar dan Kasih. Suasana saat itu hening. Tak satu pun bersuara. Efek obat bius yang disuntikkan dokter anestesi pada Kasih membuatnya terlelap, Kasih masih tetap berada di posisi yang sama, tak bergerak sedikitpun. Perlahan, Tegar menyentuh tangan Kasih. Kepalanya menengok ke arah samping memberi isyarat agar Ray keluar dari ruangan. Tanpa bicara, Ray sudah berjalan ke arah pintu dan hilang dari balik pintu. Tegar mencium lembut punggung tangan Kasih. Pelupuk matanya tak bisa lagi menahan air mata yang sudah terkumpul sejak tadi. Tangannya lagi-lagi membelai halus rambut Kasih. “Maaf, aku jatuh cinta… sama kamu.” Tegar tertunduk, tapi tangannya masih menggenggam erat tangan Kasih. Satu kata terakhir yang terucap dari mulut Tegar. “Maafkan aku Kasih”. 

Pagi itu matahari masih enggan keluar dari tempat persembunyiannya. Burung-burung berkicauan, menyanyikan senandung yang menyemangatkan pagi hari ini. Kasih terduduk di bangku taman yang memang menjadi tempat favouritenya sejak dulu. Kasih tidak sendiri, ia ditemani oleh Ray lengkap dengan angin pagi yang menusuk tulangnya. Terlalu dingin pikirnya. “Wanita yang tegar, wanita yang selalu menghadapi masalah dengan senyuman. Dan aku yakin kamu itu termasuk ke dalam kategori wanita yang tegar. Keep smile my sista.” Ray membelai halus rambut Kasih dan memberikannya sepucuk surat berwarna putih dan sekuntum mawar putih. Ray berjalan menjauh dari Kasih dan meninggalkannya sendiri. Saat Kasih sadar Ray tidak lagi berada disampingnya, nafasnya tercekat, jantungnya berdebar dengan cepat. Entah mengapa, perasaannya begitu campur aduk melihat tulisan tangan yang tertera di bagian atas surat. Kasih sangat sangat mengenali pemilik dari tulisan tangan itu.

“To : Kasih.

Mengenalmu adalah hal yang sangat indah. Memilikimu adalah karunia terbesar yang pernah kumiliki. Dan mengenangmu, membuatku tahu bahwa kau adalah anugerah terindah yang pernah ku miliki? Kasih, aku mencintaimu. Sangat amat mencintaimu. Melebihi bintang yang mencintai rembulan. Biarkan aku menjadi bagian dari dirimu, hidup bersamamu selamanya. Aku memang sudah tak terlihat, aku menjadi semu. Tapi yang perlu kamu tau, aku ada dan selalu ada dalam dirimu, setiap waktu. Akulah hidupmu, aku bukanlah lagi seorang lelaki yang akan selalu menjagamu. Tapi akulah yang selalu ada setiap detik untukmu. Hanya untukmu. Aku ada di dalam jantungmu, jantungku adalah jantungmu. Dan kini, kita akan terus bersama. Selamanya!! Tersenyumlah, dengan begitu aku bisa merasakan kebahagiaan darimu ? Aku hadir di setiap detak jantungmu. Aku ada di setiap denyut nadimu. Jangan biarkan, kisah kita menjadi usang di sudut ingatan. Kau mampu membuat hidupku yang singkat ini menjadi lebih berwarna. Terima kasih, Kasih. Aku mencintaimu ! Kita memang berbeda, kau putih dan aku hitam. Tapi, layaknya biola dan penggeseknya. Kita akan tetap bersatu memainkan nada-nada yang indah. Jika takdir memisahkan kita di dunia ini. Maka, yakinlah bahwa takdir akan membawa kita bersama di surga nanti ? I LOVE YOU, Kasih. SO MUCH ! TEGAR.

Degup jantung Kasih berpacu hebat. Tak ada satu kata pun yang terlintas dalam fikirannya. Semua yang hadir dalam benaknya seakan – akan menggumpal menjadi kabut. Sulit untuk di cerna. Dedaunan kering yang jatuh tertiup angin, mendukung suasana hatinya saat ini. Kegalauan, kehampaan, dan kepiluan, kini menyatu dalam gumpalan fikiran kotor. Perih. Menyayat hati, pelupuk matanya tak sanggup lagi menahan cairan bening yang terkumpul sejak tadi. Air matanya mulai terjatuh tanpa bisa di tahan, bahkan hanya untuk sedetik. Beribu pertanyaan kini hadir dalam benaknya.

Sore itu, awan mulai bergeser menutupi matahari sehingga terlihat eksotika warna kejinggaanya. 8 Desember 2012, harusnya ia berdiri disini didampingi Tegar. Bersenda gurau penuh canda di atas rerumputan taman yang hijau. Memeluk Tegar. Tapi Kasih saat ini sendiri. Berjalan selangkah demi selangkah. Tersenyum manis memandang awan. “Kamu pasti dapet tempat selembut awan Gar”. Kasih terpejam cukup lama, menahan airmatanya agar tidak tumpah. “Tuhan, jagain Tegar ya…, biar Tegar bisa jagain aku dari sana juga. ”Malam ini bintang begitu agung memancarkan kempakannya, taburannya begitu indah menghias awan hitam. Namun pandangan mata Kasih tertuju hanya pada satu bintang yang berkilau paling bersinar. Sirius. Bibirnya melengkungkan senyuman. Kasih yakin bintang yang paling bersinar itulah yang akan selalu menjaga dan memperhatikannya setiap hari. Walaupun malam berubah menjadi siang. “Tegar? Kamu liat aku kan ? Aku kangen sama kamu. Kamu temenin aku ya, Gar. Aku sayang banget sama kamu. Tunggu aku ya Gar, I love you”.

THE END

Tarian Hening Batang Gelagah

Aku masih duduk terpaku. Membisu. Memandang riuh-riuh kecil ombak pantai yang menyapa butir-butir pasir putih di tepiannya. Sesekali kuambil salah satu cangkang kerang yang berserakan di sekelilingku, lalu kulemparkan cangkang itu ke arah laut. Bunyi kecipaknya nyaris tak terdengar. Kulihat sebatang gelagah, tegak menjulang di bibir sebuah telaga yang hampir kering. Batangnya bergoyang tertiup hembusan angin, meliuk ke sana ke mari menuruti irama sepoi – sepoi. Hanya sebatang saja diantara gelagah – gelagah lain yang telah lama layu dan mati. Gelagah – gelagah muda belum lagi muncul. Dia hanya sendiri, namun dalam sepinya terus bergerak, meliuk tanpa keluh dan kesah.

Saat tiupan angin yang keras membuat sang gelagah menunduk, terlihat bayangan dirinya tercermin dalam beningnya genangan air telaga, memantulkan keheningan dirinya yang tak merasa sepi. Butiran – butiran benih di pucuknya terlihat seperti mata yang melihat tarian dirinya yang gemulai diiringi senyuman bersama hembusan angin segar. Tak ada penonton yang memberikan tepukan meriah, tak ada suara sorakan gempita. Tak ada aku dan kamu yang memperhatikannya. Namun ia tetap meliuk. Ia tetap menari. Ia menari untuk mensyukuri hadiah hari ini dan hari kemarin. Ia mempersembahkan tariannya hari ini buat hari esok.
 
Ah, betapa sering aku menantikan orang lain memberikan kata-kata motivasi yang tak pernah muncul. Betapa sering aku melimpahkan semua masalahku pada sesuatu di luar diriku. Betapa aku sering lupa, kalau aku harus mengerti diriku sendiri lebih dari pada dimengerti oleh orang lain, bahwa aku harus mencintai diriku sendiri lebih dahulu sebelum aku dicintai orang lain.
 
Aku harus belajar menari – seperti batang gelagah di bibir telaga itu – walau tak seorangpun bertepuk tangan memberikan sorakan. Aku harus lebih mampu mengaktualisasikan diriku dalam waktu yang tidak lama, selalu bisa menikmati, mensyukuri setiap karunia yang telah aku miliki.
 
Terima kasih batang gelagah yang gemulai, yang hidup dalam jangka waktu sebentar. Engkau telah mengajarkan aku tentang berartinya hidup, untuk lebih mencintai dan dicintai dalam hidupku.

 

Kekuatan dari Kata – kata yang Terucap

Mengungkapkan kata-kata secara sadar atau tidak sadar merupakan pilihan. Kekuatan kata-kata bisa merubah kebiasaan bahkan kegiatan kita dalam kehidupan karena setiap ucapan ataupun isyarat yang dipilih merupakan pesan untuk mengkomunikasikan suara hati maupun fikiran. Cognito ergo Sum, kehidupan kita terbentuk oleh pikiran, sehingga setiap kata-kata yang terucap menjadi alat yang mendorong kesadaran untuk mengungkapkan kehendak dalam diri kita. Salah satu contoh kisah untuk memahami hal ini dapat kita baca dalam karya Joe Vitale yang berjudul ‘Zero Limits, Metoda Rahasia Hawaii untuk Memperoleh Kekayaan, Kesehatan, Kedamaian. Kisah yang diceritakan Joe Vitale dalam buku tersebut menggambarkan pertemuannya dengan sosok Ihaleakala Hew Len yang memiliki metode penyembuhan yang unik.
Hal yang aneh bagi praktisi medis adalah Hew Len menyembuhkan sebangsal penuh narapidana yang sakit jiwa tanpa pernah melihat seorang pun dari mereka secara profesional. Ternyata Hew Len menggunakan metoda penyembuhan dengan tuntunan ho’oponopono sebuah cara “pembersihan diri” secara terus menerus kepada diri sendiri. Lebih jelasnya pembersihan diri tersebut adalah dengan ungkapan “Saya mengasihi Anda”, “Maafkanlah Saya”, “Terimakasih”, dan terakhir adalah “Salam kedamaian”. Dalam pandangan Hew Len, untuk memperbaiki dunia, lingkungan atau siapapun maka langkah awal yang harus dilakukan adalah memperbaiki diri sendiri terus menerus. Sehingga diri kita selalu dalam keadaan bahagia, damai dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang kepada semua makhluk baik yang bernyawa maupun yang kelihatan tidak bernyawa. Dan semua “kegagalan” di dunia ini menjadi 100% tanggung jawab manusia. Ketika tanggung jawab sudah 100% kita ambil, maka tidak ada lagi alasan untuk menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam dan alasan-alasan lainnya yang dicari-cari.
Bila semua orang memiliki sikap seperti ini maka dunia ini akan sangat damai, atmosfer yang dipenuhi dengan energi positif yang bertebaran dimana – mana. Alam semesta akan tersenyum melihat mental-mental manusia yang sehat, sikap-sikap manusia sebagai pemimpin dunia yang adil. Karena setiap diri manusia mengerakkan gelombang – gelombang resonansi yang menggetarkan kesadarannya. Karena hampir 80 persen tubuh kita terdiri dari air, tidak heran kalau penelitian Masaru Emoto dalam The Power of Water membuka wawasan kita tentang resonansi energi positif dan negatif yang bertebaran di sekitar kita. Hasil penelitiannya tentang bentuk – bentuk kristal air mengungkapkan pengaruh ungkapan manusia terhadap karakter air. Bentuk kristal air yang diberi ungkapan-ungkapan yang baik-baik akan terlihat sangat indah. Sementara air yang dimaki, dimarahi, dibenci akan memunculkan bentuk kristal yang jelek.
Secara jujur kita perlu menyadari, dunia kita sudah terlalu sesak dipenuhi energi negatif yang bertebaran di sana-sini. Ada satu hikayat yang menyebutkan bahwa keburukan di dunia ini bisa dihitung dengan jumlah setan yang masih berkeliaran sejak zaman Nabi Adam. Dalam hikayat itu tersebut setiap kali bayi lahir maka seekor setan juga tercipta, namun saat bayi itu tumbuh menjadi orang dewasa kemudian meninggal, setan yang mengiringinya tetap bergentayangan sampai hari akhir. Bisa dibayangkan bila jumlah manusia saat ini sekitar 7,7 Milyar berapa ekor jumlah setan yang sedang bergentayangan saat ini. Dihitung dari sejak turunnya Nabi Adam, entah berapa perbandingan kuantitatif antara energi positif dengan energi negatif yang bertebaran. Meskipun jumlah energi negatif tersebut semakin banyak, konon ada pandangan yang mengatakan bahwa 9 energi negatif akan netral dengan 1 energi positif. Benarkah? Memang kita belum memiliki bukti secara ilmiah yang menyimpulkan tesis tersebut. Tapi secara sederhana kita bisa membuktikan, kalau ada sekelompok orang yang bertikai, kemudian datang seorang arif bijak yang mendamaikan pertikaian tersebut, besar kemungkinan pertikaian tadi bisa dihentikan.
Dari hikayat tersebut, sadarkah kita akan tanggungjawab yang ada pada diri kita? Kalau kita mengambil tanggung jawab 100% untuk membuat kebaikan di lingkungan sekitar kita, maka 1:10 atau bahkan lebih banyak lagi, kita bisa membuat energi positif lebih banyak bertebaran di alam semesta ini. Cukup dengan hal sederhana, dengan memperbaiki tata cara kita berkata – kata. Apa sih susahnya untuk mengatakan “Saya Mengasihi Anda”, “Terimakasih”, “Maafkanlah Saya”, “Salam kedamaian”, atau bisa ditambah lagi dengan kata-kata lain seperti “Sukses Selalu buat Anda”, “Bahagia selalu untuk Anda”, “Keberkahan untuk Anda” dll. Dengan ucapan terebut, kita berniat untuk mengisinya dengan do’a-do’a baik untuk orang sekitar kita dan ungkapan rasa syukur. Mau mencoba? Ya, harus kita coba dulu efektifitas ungkapan kata-kata tersebut. Dan ungkapan tadi tidak hanya kepada manusia, kepada benda, hewan atau makhluk tidak hidup lainnya juga patut untuk diungkapkan. 
Kata-kata adalah jiwanya komunikasi. Tentu saja untuk berkomunikasi lisan bagi orang dengan panca indera yang berfungsi optimal. Bagi sebagian saudara kita yang “luar biasa”, penggunaan kata-kata termanifestasi melalui gerak isyarat dan suara. Misalnya pada saudara kita yang tuna rungu, bisu dan tuli, yang lebih menggunakan body language (gesture) dalam komunikasinya. Bilamana kita amati kegunaan kata – kata dalam kehidupan kita sehari – hari, berbicara dengan menggunakan kata-kata positif dan negatif merupakan pilihan seorang manusia. Berbicara dengan kata-kata positif sangat sangat berbeda dampaknya dengan menggunakan kata-kata negatif. Sangat jelas. Para pakar psikologi mengatakan ucapan dan perbuatan yang positif berawal dari adanya pikiran atau pola pikir yang positif pula. Demikian sebaliknya. Mengucapkan kata-kata negatif seperti halnya seseorang menancapkan paku-paku di sebatang pohon. Walaupun paku-paku tersebut telah dicabut, tetap saja meninggalkan bekas yang dalam. Sedangkan kata-kata positif akan memberkas baik bagi pembicaranya maupun bagi pendengarnya. Seperti halnya yang dilakukan oleh Hew Len, pilihan kata – katanya menghasilkan perbuatan positif yang berdampak pada tercapainya hasil yang positif pula.
Memang tidak cukup hanya dengan mengeluarkan kata-kata tersebut di atas lantas perbuatan kita akan memperbaiki segalanya. Namun apabila kata-kata tersebut di atas diucapkan berulang-ulang sampai menyatu dengan diri kita, menyatu dengan pikiran dan hati, Tuhan akan memunculkan keajaiban-keajaiban. Tentunya kata-kata tersebut harus diucapkan dengan sepenuh hati sehingga memunculkan perasaan bahagia dan damai setiap saat. Mengucapkan kata – kata positif tersebut di sisi lain akan memberi dampak berupa terpeliharanya kita dari godaan-godaan untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat. Sebenarnya kata-kata yang kita ungkapkan memiliki makna berbeda setelah masuk ke dalam pikiran kita. Pikiran akan memberikan gambaran atas kata yang kita ucapkan. Ketika kita mengucapkan kata mengasihi maka pikiran menggambarkan seseorang yang mengusap-usap seseorang (anak kecil), atau memberikan perhatian kepada orang yang kesusahan atau memberikan menjaga orang yang membutuhkan bantuan.
Hal ini penting karena, jika Anda mengelola Hidup Anda dengan arti yang berbeda maka perasaan Anda juga akan ikut berbeda. Ketika mengungkapkan kata “Maafkan saya”, ketika itu pula ada rasa melepaskan energi negatif dan beban yang ada di pikiran dengan sebuah pengakuan. Dan orang yang mendengar kata-kata tersebut juga akan muncul rasa yang lembut yang juga mengucapkan kata yang sama, “Maafkan saya juga”.  Kalau perasaan Anda berbeda, maka tindakan Anda pun akan berbeda. Jika tindakan Anda berbeda, hasilnya juga berbeda. Dan jika hasilnya berbeda, maka nasibnya berbeda. Kalau nasibnya berbeda, maka hidupnya pun berbeda. Karena pada dasarnya setiap orang mempunyai definisi hidup yang berbeda- beda.
Jika Anda beranggapan hidup itu penuh dengan perjuangan, maka kehidupan Anda selamanya hanya berjuang. Memangnya enak kalau berjuang terus dan Anda tidak menikmati hidup? Disini Anda hanya berjuang terus menerus. Mungkin tidak ada yang salah dalam hal ini, namun definisi Anda menggambarkan kehidupan Anda untuk sekarang dan untuk kedepannya. Berhati- hatilah terhadap definisi hidup tersebut. Anda memberikan arti hidup yang Anda inginkan. Dan jika Anda salah dalam memberikan arti hidup maka pengelolaan hidup nomor satu anda sudah GaTot – Gagal Total. Untuk itu, yang paling pertama dalam langkah kita mengatur hidup adalah bagaimana kita bisa memberikan arti hidup itu sendiri. Jawablah pertanyaan ini sekarang : seperti apa dan hendak kemana hidup itu …??? (Anda bisa menjawabnya dengan jawaban Anda sendiri).
Dalam menjawab pertanyaan itu, sandingkanlah pilihan jawaban anda dengan kata – kata berikut ini : “Luar biasa indah dunia ini bilamana diisi dengan kata-kata yang berenergi positif. Sudah saatnya kita menyadari akan kekuatan kata – kata positif sehingga diri kita lebih ikhlas, lebih memancarkan kekuatan syukur, kekuatan damai, kekuatan cinta dan kasih sayang dan bahagia”. Ucapkan kata-kata tersebut terus menerus setiap saat, maka kita akan senantiasa berada dalam pencerahan yang luar biasa. Pilihlah kata – kata yang benar- benar bermakna, kata – kata yang berarti besarnya kekuatan positif dalam hidup anda.

Harga Sebuah Penyesalan

Pada satu titik waktu dalam kehidupan ini, banyak diantara kita yang akan membuat perubahan besar. Suatu kondisi yang tidak hanya akan menghabiskan banyak uang dan semua sumberdaya yang ada, namun juga akan merugikan mental dan akan menghabiskan banyak energi. Namun demikian setiap perubahan dalam hidup, akan selalu mengajarkan pilihan apakah kita akan membayar untuk harga disiplin atau untuk harga penyesalan.

Kita selalu membayar harga untuk kedua hal ini di semua bidang kehidupan : karir, hubungan, kesehatan, perkembangan spiritual dan urusan keuangan. Namun sayangnya banyak dari kita gagal memahami hukum kehidupan sederhana tersebut.
 
Seumpama Kita tidak bahagia dimana Kita berada, banyak yang Kita lakukan untuk  mengubah situasi yang ada. Karena kita manusia, bukan pohon, bukan benda mati – Kita bisa bergerak. Bahkan jika itu berarti pindah dari satu kota ke kota lainnya, itu adalah hidup Kita dan Kita harus bahagia pada akhirnya. Banyak hal yang mungkin akan Kita temui sedikit sulit di awal kita berpindah dan juga tidak ada yang mengatakan akan mudah.
 
Bagi Kita yang berakal, awal perubahan akan kita sikapi dengan mematuhi hukum yang berlaku untuk semua masalah kehidupan, seperti disiplin, komitmen, kesabaran, integritas, latihan, pengendalian diri, dan fokus. Keseluruhan nilai – nilai tersebut akan membantu kita hidup dengan kebebasan, kedamaian, dan harmoni untuk bersanding dengan keadaan buruk yang membawa rasa sakit hati, kegagalan dan kemalangan saat kita bergerak sepanjang jalan hidup yang kita tempuh. Sebagian besar hal – hal buruk tersebut bisa dihindari (meskipun, tidak semuanya) jika kita mengerti, menerima, dan mengintegrasikan nilai kebenaran sederhana ini ke dalam kehidupan kita.
 
Namun dalam banyak hal, Kita harus mendengarkan naluri lebih banyak lagi ? Karena  ada satu hal yang bahkan lebih buruk daripada semua itu: PENYESALAN.
 
Pendorong utama yang bisa menciptakan penyesalan adalah mimpi dan harapan. Jika Kita memiliki mimpi, naluri kita akan mendorong diri untuk mengejarnya. Karena tidak peduli seberapa banyak Kita mencoba dan gagal akan jauh lebih menyakitkan daripada mengetahui bahwa Kita bahkan tidak mencobanya sekalipun hanya karena seseorang tidak menyukai mimpi Kita. Jika Kita memiliki impian untuk hidup, maka pergilah tanpa perlu memikirkan apa yang orang lain katakan, karena Kita tidak ingin menyesali hal-hal yang bisa Kita lakukan dan peluang yang bisa Kita ambil saat Kita tua !
 
Harga penyesalan yang disebabkan oleh tidak adanya upaya Kita mewujudkan mimpi akan sebanding dengan harga kedisiplinan untuk menjalani proses pencapaian wujud mimpi Kita. Harga kedisiplinan adalah dosis harian untuk berlatih, moderasi dalam urusan hidup, kebiasaan makan, strategi hubungan antar perorangan, seperti komunikasi terbuka dan kejujuran dan, tentu saja, mengelola sumber daya kita dengan bijak. Tidak adanya disiplin kecil sehari-hari ini akan terakumulasi, hari demi hari, dan dari tahun ke tahun sampai Kita mewarisi konsekuensi jangka panjang dari kesalahan sedikit saja yang kita lakukan dalam proses pencapaian sasaran ini.
 
Kita semua memiliki banyak pengalaman pribadi dimana kurangnya disiplin sehari-hari datang pada suatu hari untuk menghantui Kita. Seperti yang tersirat dalam kisah sepasang suami-istri yang sudah dikaruniai seorang anak berumur satu tahun hidup dengan bahagia. Mereka memelihara seekor anjing yang begitu setia.
 
Sejak dari pacaran sampai sudah dikaruniai anak, anjing ini telah menjadi bagian dalam hidup mereka. Sebagai teman bermain, penjaga sekaligus pelindung keluarga. Merekapun sangat menyayangi dan mempercayai anjing ini.
 
Suatu saat kedua suami istri ini keluar rumah dan meninggalkan anak mereka bersama anjing peliharaannya. Namun mereka lupa memberi makan anjing tersebut. Saat pulang, terkejutlah mereka dengan tetesan-tetesan darah yang berserakan dilantai. Kaget, takut, khawatir bercampur aduk dalam benak mereka langsung berlari menuju kamar.
 
Di depan pintu kamar, duduk anjing peliharaan mereka dengan mulut yang masih meneteskan darah segar. Histeris, kedua suami-istri berteriak. Si istri terduduk lemas dengan isak tangis, sedangkan sang suami langsung mengambil kursi yang ada diruangan, dan menghantamkannya bertubi-tubi ke kepala anjing mereka. Si anjing seolah pasrah menerima nasibnya tanpa berusaha menghindar, hingga akhirnya mati.
 
Dengan perasaan hancur dan tangis yang semakin menjadi, kedua suami istri itu pun berpelukan. Dalam hati mereka tidak menyangka telah kehilangan sang buah hati dan anjing peliharaan bersamaan. Dengan langkah lunglai, keduanya memasuki kamar. Dan betapa kagetnya mereka saat melihat anak mereka tertidur pulas diatas ranjang, sedangkan disamping ranjang tergeletak seekor ular yang sudah mati berlumuran darah.
 
Mereka baru sadar, ternyata anjing peliharaan mereka telah melindungi anak mereka dari ancaman si ular. Mereka sangat menyesali perbuatannya tetapi apa mau dikata semua sudah terlambat. Mereka menyesali keterlenaan jiwa mereka dalam memahami isyarat perilaku anjingnya, menyesali kelemahan mereka dalam melatih kepekaan rasa sat memandang pengabdian diri, meskipun hanya seekor makhluk yang derajat akalnya jauh dibawah manusia.
 
Kisah diatas mengingatkan kita tentang pentingnya disiplin yang dibalut naluri dalam pengendalian diri. Kita harus selalu membiasakan untuk tidak ceroboh dalam bertindak karena penyesalan selalu datang terakhir dan biasanya datang terlambat saat semua sudah berakhir. Setiap langkah Kita akan membawa konsekuensi masing-masing yang harus Kita bayar, dengan beberapa cara, cepat atau lambat. Ingatlah, disiplin sehari-hari beratnya hanya beberapa ons dalam “beban hidup”, sementara penyesalan seumur hidup bisa terasa seperti menimbang jutaan ton “Mimpi buruk”.
 
Rasa lelah sampai berkeringat untuk memelihara disiplin dan pengorbanan tidaklah seberapa dibandingkan dengan rasa sakit dan penyesalan karena kelambanan kita merespon situasi dengan benar.
 
Beberapa dari Kita mungkin telah dengan senang hati menemukan pentingnya disiplin untuk menghindari penyesalan yang tidak berkesudahan. Melalui pengalaman dan pembelajaran dalam hidup ini, tidak ada yang kebal terhadap rasa penyesalan. Namun seringkali keangkuhan, ketidaktahuan, atau kombinasi keduanya menjadi alasan pembenar, sehingga Kita benar-benar tidak peduli jika Kita mengklaim salah satu atau keduanya sebagai alasan terjadinya masalah yang Kita hadapi.

Sedalam apa komitmen Kita pada kesejahteraan umat Manusia ?

Tahukah anda pada bulan September 2015, para Pemimpin Dunia telah berkomitmen untuk mencapai Sasaran Global dalam rangka Pembangunan Berkelanjutan. 17 sasaran untuk mencapai 3 hal yang luar biasa dalam 15 tahun ke depan : mengakhiri kemiskinan yang ekstrim, melawan ketidaksetaraan dan ketidakadilan serta memperbaiki perubahan iklim. Untuk mewujudkan Sasaran ini, diperlukan partisipasi semua warga dunia dan mengajarkan generasi muda tentang pentingnya pencapaian tujuan – tujuan tersebut dan mendorong mereka untuk menjadi generasi yang mengubah dunia. Kemudian pada tanggal 20 September 2016 yang lalu, komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam debat tahunan Majelis Umum PBB.


Gambar dan video yang saya kirim ini merupakan salah satu media untuk mengingatkan komitmen tersebut. Diantara ketujuhbelas sasaran yang ada, kemiskinan dan kelaparan merupakan salah satu keadaan yang masih sering kita temui. Saya tidak tahu apakah media ini sebatas pencitraan atau bukan, namun saya yakin peristiwa itu benar – benar merefleksikan realita yang sering kita abaikan. Video dan gambar ini benar – benar mengingatkan Kita untuk selalu bersyukur dan berterimakasih dengan keadaan yang kita terima. Tidak cukup itu, Kita juga harus selalu berfikir untuk mewujudkan rasa syukur tersebut dalam satu tindakan. Meskipun sederhana, saya yakin Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan kesempatan pada kita untuk memberi daripada sekedar melihat dan merasa kasihan. Semoga hari ini saya bisa mengajak diri saya maupun anda untuk berbuat lebih kreatif, inovatif dan solutif. Sekecil apapun itu, selama dilakukan dengan ikhlas saya yakin akan menjadi sesuatu yang besar. Jika mereka yang sangat kekurangan saja mampu memberi, mengapa kita yang berlebih tidak mampu melakukan sesuatu yang lebih baik bagi orang – orang yang sedang ditimpa kemiskinan dan kelaparan ?

Kemiskinan hati maupun harta seringkali timbul dari pemahaman yang kurang menyeluruh tentang makna keadilan. Siapapun kita telah melalui berbagai pengalaman kerja atau hidup bersama dengan anak-anak akan tahu kemampuan mereka untuk mendeteksi ketidakadilan. Anak – anak atau kita sendiri di masa kecil sering mengatakan – “…tapi itu tidak adil..” kemudian membiasakan untuk menahan diri dengan tidak mengatakannya secara berlebihan. Hal ini sebenarnya merupakan salah satu bentuk bakat yang jarang disalurkan yaitu mencari bentuk keadilan dalam diskusi yang produktif dan kritis tentang sifat kesetaraan, apa saja yang termasuk perlakuan yang adil, dan siapa yang akan menentukan standar keadilan tersebut. Saya kira pembelajaran tentang masalah ini akan terus berlanjut sampai akhir masa kita hidup di dunia ini. Namun yang lebih penting adalah bertindak dan beraksi nyata untuk berlaku adil meskipun hanya Tuhan lah Yang Maha Adil terhadap diri kita, keluarga dan lingkungan di sekitar kita. Mulai dengan hal yang sederhana, dengan memberi sesuatu yang kita miliki dan memaafkan kekurangan yang kita miliki. Misalnya memberi senyum dan memaafkan dengan tersenyum.

Masa depan penuh misteri

Semakin maju teknologi, hal – hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya semakin banyak terwujud nyata. Apakah kita tetap akan bertahan dengan mimpi masa lalu yang diwariskan orang tua kita, atau berani membuat mimpi yang sama sekali berbeda ? Pilihan ada di fikiran kita pada saat ini,

apakah akan mencitrakan diri kita di masa depan sebagai penonton, pemilik, pencipta atau penghancur teknologi ? Apa yang sedang Anda fikirkan sekarang, boleh jadi itulah yang akan anda alami di masa depan.

My strength is trust. I know nothing about my fathers, I know nothing about the thousand children that every year spring out of me. I live out the secret of my seed to the very end, and I care for nothing else. I trust that God is in me. I trust that my labor is holy. Out of this trust, I live.