Masa depan penuh misteri

Semakin maju teknologi, hal – hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya semakin banyak terwujud nyata. Apakah kita tetap akan bertahan dengan mimpi masa lalu yang diwariskan orang tua kita, atau berani membuat mimpi yang sama sekali berbeda ? Pilihan ada di fikiran kita pada saat ini,

apakah akan mencitrakan diri kita di masa depan sebagai penonton, pemilik, pencipta atau penghancur teknologi ? Apa yang sedang Anda fikirkan sekarang, boleh jadi itulah yang akan anda alami di masa depan.

My strength is trust. I know nothing about my fathers, I know nothing about the thousand children that every year spring out of me. I live out the secret of my seed to the very end, and I care for nothing else. I trust that God is in me. I trust that my labor is holy. Out of this trust, I live.



Memandang Kepemimpinan di Era Sinergi

Pemimpin zaman sekarang sejatinya hanya manusia biasa, yang membedakannya dengan umat yang dipimpinnya adalah amanah untuk membawa seluruh umatnya selamat sampai tujuan. Namun siapa yang bisa menjamin setiap manusia bisa selamat 100 persen sampai di tujuan selain Tuhan Yang Maha Kuasa atas kehidupan ini ?

Kesadaran akan jaminan keselamatan hidup di dunia yang tidak seratus persen ini seharusnya ada dalam setiap benak manusia. Termasuk kesadaran para pemimpin, dirinya membawa amanah nasib keselamatan para umatnya, tidak bisa membiarkan dirinya sebagai obyek pengkultusan umatnya demikian juga sebaliknya menjadikan umat sebagai obyek kepemimpinannya. Banyak faktor yang berpengaruh dalam kepemimpinan, dalam menautkan hubungan kausalitas antara keselamatan nasib umat dengan sosok pemimpinnya.

Manusia modern semestinya semakin menyadari bahwasanya antara subyek dengan obyek, metode serta faktor – faktor yang berpengaruh dalam kepemimpinan terdapat hubungan transendental yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesamanya, dan hanya menyembah semata-mata kepada Yang Maha Kuasa. Kesadaran puncak yang menegaskan realita kun fayaa kun, bahwa semua yang terjadi di dunia ini semata-mata atas kehendak-Nya.

Teknologi dan gaya hidup modern mungkin telah menghipnotis kesejatian sebagian besar umat sekarang menjadi terkubur, mati, tidak memiliki kemuliaan, menjadi umat yang ‘ummi’. Terbelenggu oleh taklid dan kultus, sebagan besar umat membiarkan kesadaran dirinya terenggut oleh nafsu yang merasa paling benar karena terbawa perasaan sudah dimenangkan oleh Tuhan. Secara tidak sadar sebagian umat ter”hack” oleh kesemuan yang melenakan akalnya, sebagian besar saraf otaknya berfungsi namun dalam kondisi idle, terlihat ada dalam “task manager” namun menjadi “zonk” ketika dipaksa menampilkan kesejatian.

Karena merasa nyaman dengan sang pemimpin, sebagian besar umat membiarkan alam kesadarannya menuju pemujaan buta, bahkan ikut serta menjadikannya sosok ‘sesembahan’, bersedia melakukan apa saja agar ketokohan sang pemimpin menjadi ‘ma’shum’, tanpa dosa, bahkan mencitrakan ucapannya sebagai ‘wahyu’ atau ‘titah’, yang wajib ditaati agar bisa hidup sukses. Sementara pendapat atau pandangan yang bersifat bantahan atau penolakan dianggap sebagai ‘ra’yu’, meskipun diiringi dalil yang mantiq sekalipun.

Pemashuman atas pemimpin bukan hanya terjadi di kalangan kaum marginal yang membentuk kelompok fanatik, di kalangan kaum mainstream yang terbilang moderat pun terjadi. Saya melihatnya seperti konservatisme dalam kemoderatan, menjadi wahana baru dalam memetakan proses pemashuman yang sekarang terjadi dilingkungan umat saat ini. Betapapun menyimpangnya perilaku para pemimpin, dan betapa dosanya, yang dilakukan para pemimpin, semuanya mereka maklumi. Kadang-kadang para pengikutnya, mengatakan kita belum sampai kepada maqomnya, agar bisa memahami apa yang dilakukan para pemimpin.

Padahal semakin maju peradaban, semestinya umat manusia ini makin faham bahwa Pemimpin adalah manusia biasa yang terus melalui proses pembelajaran. Kapan saja dan dimana saja pemimpin bisa khilaf, namun yakinlah sang pemimpin selalu belajar dan memperbaiki kesalahannya. Di zaman yang semakin modern ini, semestinya para umat menyadari sinergisitas dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Sekarang bukan zamannya lagi mencari-cari sosok pemimpin yang sempurna untuk ditokohkan, kemudian ramai-ramai mencari pembenaran atas ketidaksempurnaan upaya penokohan yang sudah dilakukan. Sudah bukan jamannya kita meletakkan segala kesalahan hanya pada pemimpin sementara umat melenakan dirinya dalam forum debat yang tidak berkesudahan.

Mestinya umat sekarang tidak membiasakan untuk menghabiskan waktu dalam gaya hidup “ayti” (IT) untuk cuci tangan atas segala permasalahan yang ada padahal semestinya bisa menyelami “ayat” untuk senantiasa berpartisipasi saat dibutuhkan : tolong menolong dan gotong royong menjadi fitrah bagi semua umat yang ingin maju dalam peradaban.

Pada hakikatnya kita adalah pemimpin dan menjadi bagian dari kepemimpinan itu sendiri. Semakin dalamnya pengetahuan umat, semestinya makin menyadarkan diri bahwa segala daya dan upaya manusia tidak bisa disandarkan pada satu sosok manusia, tidak bisa menyandarkan semuanya pada sang pemimpin. Semakin terang kesadaran, semestinya menggugah tekad untuk saling bekerjasama dalam memuliakan tujuan hidup bersama. Semakin tercerahkan, semestinya umat makin bersatu dalam kebhinekaan. Semakin faham kebenaran sejati, mestinya makin bersinergi.

Pembelajaran Sosial dalam Pengembangan Kepemimpinan Organisasi

Dalam berorganisasi, Kita melakukan pembelajaran sosial. Kita mengetahui bagaimana orang menerapkan perilaku yang baru dengan meniru model peran orang lain (role model) melalui proses otodidak (belajar mengalami sendiri). Pembelajaran sosial mengacu pada fakta bahwa Kita berperilaku (misalnya memegang senapan, memukul bola tenis, memberikan pidato, menggunakan program komputer) dengan pengamatan dan

imitasi terhadap perilaku orang lain. Hal ini merupakan fungsi dari karakteristik pribadi dan kondisi lingkungan. Menurut Bandura, teori pembelajaran sosial menjelaskan interaksi secara terus-menerus antara berbagai determinan kognitif, perilaku, dan lingkungan. Fungsi kognitif tidak boleh diabaikan dalam menjelaskan, memahami dan memodifikasi perilaku individu.

Teori pembelajaran sosial mengenalkan kita pada konsep belajar mengalami sendiri melalui gambaran perilaku orang lain (modeling), simbolisme dan pengendalian diri. Kita meniru orang tua, teman, pahlawan, guru, pelatih, mentor, dan pemimpin yang Kita hormati karena kita mengidentifikasi nilai – nilai yang persis sama dengan mereka. Kita juga menggunakan simbolisme sebagai panduan bagi perilaku kita. Sebagai contoh, kita memahami dengan baik untuk tidak menarik tuas pegangan exit dalam pesawat karena gambaran mental kita tentang konsekuensi dari tiba-tiba kehilangan tekanan dalam kabin; Kita membayangkan keberhasilan mencapai tujuan pribadi untuk memotivasi diri kita sendiri; dan Kita juga menggunakan pengingat mental untuk mengingat nama-nama teman Kita. Kita juga berusaha untuk mengendalikan diri dengan tidak merokok, tidak makan-minum berlebihan, dan tidak secara fisik mencederai orang – orang yang meremehkan keluarga Kita atau main hakim sendiri terhadap orang – orang yang melanggar aturan dan etos kerja.
Salah satu konsep terpenting dalam teori pembelajaran sosial, adalah konsep self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa seseorang dapat melakukan sesuatu secara memadai dalam situasi tertentu. Self-efficacy memiliki tiga dimensi: yaitu besaran (magnitude), tingkat kesulitan tugas yang dipercaya oleh seseorang bisa dia atasi; kekuatan (strength), mengacu pada keyakinan terhadap besaran (magnitude) dipersepsikan dengan kuat atau lemah; dan keumuman (generality), sejauh mana harapan yang umumnya berlaku dalam setiap situasi. Naluri untuk merasa mampu (sense of capability) – (Dapatkah saya melakukan pekerjaan itu?) – mempengaruhi persepsi, motivasi, dan kinerja. Kita jarang mencoba untuk melakukan pekerjaan atau tugas ketika kita berharap tugas tersebut tidak efektif untuk kita lakukan. Bagaimana Anda ingin menembak musuh dalam pertempuran ? Bagaimana Anda ingin menulis essay seperti yang dibuat oleh teman kita yang baru mendapatkan penghargaan dari Kasad ? Kita cenderung dan sering menghindari orang-orang, aturan dan situasi yang kita rasa kita tidak mampu memenuhi tuntutan kinerja yang kita perlukan.
Penilaian self-efficacy mempengaruhi pilihan kita terhadap tugas, situasi, dan pertemanan, berapa banyak usaha yang akan kita lakukan, dan berapa lama kita akan mencoba berbagai upaya untuk memenuhi tujuan hidup kita. Seberapa keras dan lama seorang peserta didik melalui masa – masa pendidikan atau masa – masa latihan lebih tergantung pada rasa self-efficacydari pada kemampuan yang sebenarnya.
Self-efficacy terkait dengan konsep motivasi lainnya. Menurut Edwin Locke dan rekan sejawatnya, self-efficacy menyediakan mekanisme untuk mengintegrasikan teori belajar dan berbagai pendekatan lainnya untuk mencapai tujuan. Untuk meningkatan motivasi kinerja, diperlukan umpan balik sebagai hal yang penting dalam merumuskan persepsi tentang efikasi yang berinteraksi dengan penetapan tujuan. Self-efficacy juga berhubungan dengan kinerja dalam teori motivasi yang berbasis harapan (expectancy theory).
Salah satu konsep yang memiliki efek potensial dalam self-efficacy adalah efek Pygmalion, yang mengacu pada peningkatan kualitas pembelajaran atau kinerja yang diperoleh dari harapan positif orang lain terhadap keberadaan kita. Artinya, fakta bahwa persepsi orang lain yang percaya kita mampu menampilkan tingkat kinerja yang tinggi dapat mendorong kita untuk menampilkan kinerja yang setara dengan harapan orang – orang tersebut. Banyak ahli percaya bahwa self-efficacybekerja dalam efek Pygmalion melalui pengaruh persuasif dari orang lain yang memiliki harapan positif. Harapan seorang pemimpin tentang kinerja Kita dapat kita pandang sebagai masukan penting untuk membentuk persepsi yang positif dari anggota organisasi untuk memperoleh efikasi yang berkhasiat. Misalnya, jika seorang pimpinan percaya dengan tulus bahwa anggotanya siap dan mampu untuk meraih prestasi (meskipun anggota tersebut tidak begitu yakin), maka harapan untuk sukses ini selalu akan meningkatkan kepercayaan diri anggota bahwa ia sebenarnya akan berhasil untuk melalui tantangan yang dihadapinya. Kekuatan persuasi akan dipengaruhi oleh kredibilitas pemimpin, hubungannya dengan anggota, pengaruhnya dalam organisasi, dan sebagainya. Hal ini juga mungkin berhubungan dengan jenis kelamin sang pemimpin, karena efek Pygmalion banyak ditemukan di antara pemimpin laki-laki daripada kalangan pemimpin perempuan. Namun apa pun definisi dan dampaknya, harapan memainkan peran yang utama dalam mempengaruhi perilaku seseorang dalam berorganisasi.

Diterjemahkan dari Gibson, J.L., et.al, 2012, Organizations: Behavior, Structure, Processes, 14th edition, the McGraw-Hill Companies, Inc. 

Merubah Keyakinan Inti menjadi Kunci Sukses Hidup

Di dunia yang serba tidak pasti ini, banyak orang mencari inspirasi hidup sukses untuk melengkapi keyakinan diri dalam rangka menghadapi masa depannya. Keyakinan merupakan bagian halus yang diam – diam membangun sebuah kepercayaan seperti butiran salju yang bilamana terakumulasi dengan kepercayaan – kepercayaan lainnya membuat bola salju keyakinan yang besar dan kuat. Dalam hidup kita, sebagian besar waktu terpakai oleh pola – pola perilaku yang dipandu oleh keyakinan dalam pekerjaan yang kita lakukan, agama, kesetiaan kepada keluarga, bangsa dan segala macam nilai-nilai lain yang kita yakini. Ketika keyakinan mulai berkuasa dan mengendalikan hidup
kita, maka terjadilah proses auto-pilot yang menyebabkan pola – pola perilaku yang sebagian besar tidak kita rencanakan dan tidak kita sadari. Banyak dari perilaku kekerasan atau kegilaan di dunia ini selalu terkait dengan keyakinan yang fanatik, dipegang teguh tanpa toleransi yang sebenarnya memenjarakan orang-orang yang terjebak dalam keyakinan mereka. Inilah salah satu hal mendasar yang menjadi akar permasalahan dalam sebagian besar kasus – kasus tribalisme, radikalisme, fundamentalisme agama yang terangkum dalam pola fikir konfrontatif dan menyebabkan konflik – konflik dalam interaksi sosial maupun pengertian konsep diri.

Dalam aspek keyakinan ini, banyak diantara kita yang telah kehilangan pandangan terhadap dua hal. Pertama, diri kita tercipta untuk mengendalikan keyakinan yang kita miliki, bukan sebaliknya. Kedua, ada tombol saklar dalam diri kita yang dapat menciptakan keyakinan baru untuk menciptakan realitas yang baru pula pada saat yang bersamaan. Kuasa untuk mengendalikan dan saklar diri itulah yang akan membentuk konsep diri yang dapat menjelaskan alasan suatu kasus ketika musuh berubah menjadi sekutu, ketika frustrasi berubah menjadi kesenangan, ketika korban menjadi penguasa yang arogan. Saat itu merupakan penanda aktivasi saklar diri dan terjadinya pergeseran realitas.

Keyakinan yang paling kuat adalah segala sesuatu yang saya sebut keyakinan inti, karena hal tersebut memberitahu kita tentang siapa Diri Kita. Jika seseorang sangat percaya “Aku sukses” dan orang lain percaya “Saya dicintai,” buah dari keyakinan inti ini akan sangat berbeda. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk memegang keyakinan inti yang positif dan mengaktifkannya dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani. Semakin Kita mengaktifkan keyakinan inti, realitas kehidupan yang kita jalani menjadi lebih dinamis dan mudah beradaptasi.

Ada empat keyakinan inti yang membuat perbedaan besar bagi seseorang ketika merumuskan konsep dirinya:

Cinta
Harga Diri
Merasa aman dan selamat
Merasa Utuh

Apapun prinsip hidup yang dimiliki setiap orang, selalu ada keyakinan tentang keempat hal ini dalam hatinya, dan keyakinan ini tidak selalu sederhana. Seluruh hidup Kita telah membentuk keyakinan inti yang masih Kita pegang teguh sampai dengan saat ini, sementara pada saat yang sama keyakinan inti telah membentuk seluruh hidup yang Kita jalani. Dari satu contoh tentang aspek cinta saja, ada banyak keyakinan inti yang mungkin dikembangkan seseorang dalam hidupnya, secara positif maupun negatif.

Keyakinan negatif:
Cinta hanya melemahkan saya.
Tidak ada Cinta yang tulus.
Cinta hanyalah awal dari kebencian.
Tidak ada seorang pun yang mencintai saya.
Cinta itu egois, hanya pembungkus nafsu belaka
Jatuh cinta adalah khayalan, semacam kegilaan romantis.

Keyakinan positif:
Cinta menjadi sumber kekuatan saya.
Cinta itu tanpa pamrih layak dan saya juga ingin memberinya tanpa syarat.
Cinta adalah abadi dan benar – benar melenyapkan kebencian
Banyak orang yang mencintai saya
Kesadaran itu sendiri mengandung kekuatan cinta.
Manusia mampu memiliki cinta sejati menuju derajat yang lebih tinggi.

Sebagaimana yang Kita lihat, seseorang yang memegang nilai keyakinan cinta pada contoh yang kedua akan lebih bahagia dan lebih puas daripada seseorang yang memegang contoh nilai – nilai yang pertama. Bilamana Kita diberikan pilihan dari dua perangkat nilai tersebut, kebanyakan orang yang membaca kata-kata inspiratif tentang cinta akan memiliki respon yang berbeda, “ya, indah juga” atau “kata-katanya bagus juga”. Kehidupan pribadi mereka telah membawa fikirannya dalam mind set yang terbentuk dari campuran pengalaman tentang cinta, tidak semuanya positif atau negatif. Namun, keyakinan inti tentang cinta ini bukanlah sebuah kotak pendapat, yang bisa Kita ambil keluar dari dalam diri kita kemudian memeriksa kesesuaiannya jika Kita punya waktu untuk membongkarnya. Perangkat keyakinan inti merupakan sebuah microchip yang dibenamkan dalam lapisan syaraf – syaraf otak yang merangsang fikiran kita. Dalam microchip inilah terdapat kode – kode untuk mengaktifkan pola fikir melalui pesan – pesan dari alam bawah sadar.

Pesan – pesan yang dipancarkan oleh microchip ini tidak akan berubah kecuali jika Kita membawa kesadaran diri untuk mengubahnya. Layaknya sebuah program auto pilot, microchip ini dibiarkan sendiri, melakukan tugas mekanis yang sama berulang-ulang. Oleh karena itu, bilamana seorang gadis muda percaya “Aku tidak layak dicintai” dirinya akan tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang berpikir dalam keyakinan yang sama, karena di tahun-tahun pengembaraan hidupnya, microchip ini selalu berbunyi, mengirimkan pesan yang sama, dan akhirnya pribadi gadis tersebut dalam kenyataannya akan sesuai dengan keyakinan negatif, yang dalam hal ini adalah tentang harga diri serta cinta.

Jika Kita ingin merubah hidup di lapisan keyakinan inti yang paling mendalam, kesadaran adalah saudara Kita yang paling dekat. Salah satu cara yang berguna untuk mulai mengubah keyakinan inti yaitu dengan memvisualisasikannya dalam tulisan. Bayangkan salah satu dari empat aspek keyakinan inti: cinta, harga diri, merasa selamat dan aman serta merasa utuh. Duduklah dengan selembar kertas dan buatlah dua judul, “keyakinan positif saya” dan “keyakinan negatif saya.” Tuliskan dalam daftar semua keyakinan yang Kita pegang di sekitar topik yang satu ini, seperti cinta. Jangan membatasi diri. Tuliskan semua keyakinan yang datang ke pikiran Kita.

Satu waktu, kembali ke daftar yang Kita buat, setidaknya dua kali di minggu berikutnya. Tambahkan ke sisi negatif dan positif tentang gagasan – gagasan yang terus Kita fikirkan – Kita akan menemukan bahwa kepercayaan yang lebih dalam akan mengambil waktu lebih banyak untuk muncul ke permukaan. Saat daftar Kita selesai, duduk kembali dan nilailah daftar yang Kita buat. Dari setiap gagasan yang Kita percayai, nilailah masing-masing keyakinan dengan tanda : K = keyakinan yang kuat, L = keyakinan yang lemah R = keyakinan yang tidak pasti atau tidak yakin. Langkah – langkah ini merupakan isyarat bahwa Kita sedang memetakan wilayah dari sistem kepercayaan inti, yang sangat berguna bagi diri Kita. Karena hal ini merupakan komunikasi pribadi Kita dengan diri sendiri, jangan malu untuk meletakkan keyakinan yang Kita anggap salah atau tidak dapat diterima – ini adalah waktu Kita untuk mengambil alih kendali atas semua keyakinan Kita.

Tahap berikutnya, sekaranglah saat untuk memulai untuk mendorong perubahan. Ambil satu keyakinan negatif yang kuat dan satu keyakinan positif yang kuat. Sebagai contoh, keyakinan negatif yang mungkin “Aku hanya akan mendapatkan cinta dari beberapa orang” dan keyakinan positif “Cinta mampu menyembuhkan.” Tugas Kita adalah untuk mengurangi keyakinan negatif dan memperkuat keyakinan positif. Langkah ini semacam pelatihan otak, dimana Kita berada dalam jalur baru dari pikiran dan perasaan yang terdalam. Jadi dalam kasus dua keyakinan ini, langkah-langkah apa yang dapat Kita ambil?

“Saya hanya akan mendapatkan cinta dari beberapa orang”

Untuk meminimalkan keyakinan ini, Kita perlu merasa lebih aman tentang cinta di luar lingkaran erat keluarga dan teman-teman Kita. Katakan pada diri sendiri bahwa ini adalah mungkin. Hanya karena beberapa orang mencintaimu sekarang bukan berarti bahwa tidak akan lebih banyak orang yang hanya mencintai Kita jika Kita memberikan cinta pada mereka. Mulai dari tempat – tempat yang Kita rasa aman, seperti bekerja di tempat penampungan atau membantu anak-anak kurang mampu – suatu kegiatan dimana Kita dapat melihat ekspresi cinta, yaitu tanggapan yang segera dari apresiasi dan rasa syukur. Secara umum, berkumpullah bersama orang-orang yang mencintai – mereka ada di sekitar Kita. Mereka mungkin sangat mencintai pekerjaan mereka, misi mereka, visi hidup mereka, berinteraksi dengan orang lain atau menikmati keindahan alam. Ada cara yang tak terbatas bagi cinta untuk mengekspresikan dirinya sendiri, dan ketika Kita terlibat dengan mereka, Kita menjadi bagian dari cinta ini.

“Cinta mampu menyembuhkan”

Untuk mengaktifkan keyakinan ini dan membuatnya berkembang, ada dua arah yang bisa kita lalui : menyembuhkan diri sendiri atau menyembuhkan orang lain. Masing – masing arah saling terhubung, dan sangatlah bagus bagi Kita untuk berfokus pada kedua arah tersebut pada saat Kita tumbuh dan berkembang. Namun perlu kita sadari bahwa Kita hanya bisa memberikan cinta yang Kita rasakan, sehingga sebagian besar orang akan mengarahkan fokus awalnya pada penyembuhan diri. Proyek ini dimulai dengan perawatan diri, mengungkapkan cinta untuk diri sendiri dengan mengadopsi pilihan gaya hidup – diet, olahraga, pola tidur dan manajemen stres – yang meningkatkan rasa sejahtera dalam keberadaan diri Kita. Segala sesuatu yang Kita lakukan untuk merawat tubuh dan pikiran adalah bentuk penyembuhan diri berdasarkan gagasan mencintai diri sendiri. Berikutnya kasih sayang datang sendiri, yang berarti menjadi lebih baik dan lebih pemaaf bagi diri sendiri. Kemudian akan datang pemurnian diri, yaitu proses membersihkan residu beracun dari masa lalu, luka lama, kenangan buruk dan penghibur diri yang telah usang. Akhirnya datanglah persekutuan dengan diri yang lebih tinggi dari Kita, yang selalu menjadi sumber penyembuhan dan cinta pada saat yang sama.

Dalam tulisan ini, Kita hanya melihat dua keping kepercayaan dari sekian banyak keyakinan yang Kita miliki, namun proses yang kita ikuti untuk merubahnya secara umum adalah sama untuk setiap perubahan keyakinan yang Kita inginkan, positif atau negatif. Secara sadar Kita mengurangi input negatif dan secara sadar pula Kita meningkatkan masukan yang positif. Menyusun program dalam proses ini akan menjamin hidup Kita selalu dinamis, karena tidak ada yang menciptakan perubahan dan transformasi selain memperoleh kendali atas keyakinan inti yang ada pada lapisan terdalam diri Kita. Ketika mereka berkembang, begitu juga Kita, bergerak maju pada perjalanan yang tak pernah berakhir yang didasarkan pada keyakinan terdalam tentang siapa diri Kita yang sebenarnya.

Diterjemahkan secara bebas dari Deepak Chopra, MD. https://www.linkedin.com/pulse/your-beliefs-can-change-life-deepak-chopra-md-official-

Hikmah


Sering kita mendengar kata Hikmah, namun belum faham akan artinya. Kata Hikmah berasal dari bahasa Arab yang bermakna kebijaksanaan. Dalam filsafat Islam, Hikma (حكمة), meliputi cahaya pandangan hidup mengenai alam semesta, etika, masyarakat, dan sebagainya. Dalam Islam,


Allah SWT dipandang sebagai Maha Bijaksana (Qur’an 45:37) demikian juga para utusan-nya selalu diberi kitab suci dan kebijaksanaan oleh-Nya (QS. 2:129). Umat muslim mempercayai bahwa mereka yang menolak iman kepada Allah sama artinya menolak hikmat yang dapat diumpamakan seperti kambing ternak yang tidak mendengarkan apa-apa kecuali panggilan dan teriakan: tuli, bisu, dan buta.” (QS. 2:171).


Hikmah memiliki beberapa arti sebagai berikut:
“Hikmah adalah untuk mengetahui yang terbaik dari hal-hal dengan cara yang terbaik dari ilmu. Dan orang yang unggul dalam pengetahuan tentang rincian berbagai hal tersebut sebagai orang yang hakim. “[1]


“Salah satu muhakkam adalah orang tua dengan pengalaman, dan orang seperti itu dianggap bahwa Hikmah berasal dari dia.” [2]



“Hikmah adalah keadilan dalam menilai, dan hal itu adalah pengetahuan tentang realitas benda-benda menurut bagaimana mereka yang sebenarnya, dan juga digambarkan sebagai kekuatan mapan logika yang berbasis pada pengetahuan. Hal ini telah juga didefinisikan sebagai upaya untuk mencapai kebenaran dengan pengetahuan dan tindakan … dan ketika dikatakan ‘ahkamahu,’ ini berarti bahwa seseorang telah dicegah dari melakukan kejahatan. “[3]



“Sebuah hikmah adalah pelana perak yang karena beratnya digunakan untuk turun naik binatang, dan karena merendahkannya bagi orang yang akan naik, mencegah hewan menjadi liar, dll” [4]



“Ini adalah sesuatu yang mencegah kebodohan.” [5]


‘Abd ar-Rahman as-Sa’di berkata: “Hikmah terdiri dari ilmu-ilmu bermanfaat, pengetahuan tentang fakta-fakta yang benar, logika perusahaan, gabungan semangat, dan menjadi akurat dalam ucapan dan tindakan. Dan semua urusan ini tidak segera dikoreksi kecuali dengan hikmah, yaitu untuk meletakkan segala sesuatu di tempat yang tepat, menempatkan mereka status yang tepat, yang akan datang kapan saat yang tepat untuk melakukannya, dan menahan diri ketika tepat untuk melakukannya. ” [6]



Ar-Razi mengatakan: “. Yang dimaksud dengan hikmah adalah pengetahuan yang baik, atau melakukan apa yang benar” [7]



Ibnu ‘Asyur mengatakan: “Hikmah telah dijelaskan dengan mengetahui hal-hal apa yang sebenarnya, sebanyak mungkin. Dengan kata lain, hal ini adalah bahwa orang menjadi tidak bingung dengan berbagai kemungkinan yang diragukan karena dicampur bersama, dan tidak salah, mengapa hal-hal tertentu telah terjadi. “[8]



Sayyid Qutb mengatakan: “Ini adalah akurasi dan keadilan, dan realisasi alasan dan tujuan, dan meringankan wawasan yang memandu satu dengan yang benar dan akurat dalam gerakan dan tindakannya.” [9]



Ibnu Hajar mengatakan, dalam hal hadits Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ya Allah!” “Yang Mengajarinya Hikmah itu! ” :” Dan ada perbedaan pendapat dalam hal makna hikmah di sini. Jadi, dikatakan bahwa hal itu adalah: kebenaran dalam sabda, pemahaman Allah, bahwa kebenaran yang dikonfirmasi oleh logika, cahaya yang membedakan antara inspirasi dan bisikan jahat, kecepatan dalam menjawab dengan benar, dan beberapa dari mereka menjelaskan hikmah dalm hal ini berarti Qur’an “[‘Fath al-Bari’, 7/100].


Ibnul Qayyim berkata: “Yang terbaik yang telah dikatakan tentang hikmah adalah hal yang dikatakan oleh Mujahid dan Malik:” Pengetahuan tentang kebenaran, bertindak atasnya, kebenaran dalam ucapan dan tindakan, “dan ini adalah mustahil untuk mencapai kecuali dengan memahami Al Qur’an, dan memiliki fiqh dalam hukum Islam serta realitas iman. “[10]



Dia, Ibnul Qayyim juga mengatakan: “. Hikmah adalah melakukan sesuatu yang perlu dilakukan, dengan cara tertentu yang mana hal itu perlu dilakukan dan pada saat di mana hal itu perlu dilakukan” [11]



Dia juga membaginya menjadi dua kategori hikmah dan terdiri dari tiga tingkat:



“Hikmah ada dua jenis: yang berkaitan dengan pengetahuan, dan yang berhubungan dengan tindakan. Jadi, hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan adalah untuk mewujudkan esensi dari  semua hal, dan untuk memahami hubungan antara sebab dan akibat – dalam hal Penciptaan, terjadinya peristiwa, nasib, dan legislasi. Adapun hikmah berbasis tindakan, hal itu adalah untuk meletakkan segala sesuatu di tempat yang tepat.”



Adapun tiga tingkatan hikmah yaitu:



1) bahwa Anda memberikan segalanya dengan benar dan tidak melebihi batas dalam hal ini, dan bahwa Anda tidak terburu-buru sebelum atau menunda melewati waktu yang tepat;



2) bahwa Anda menyadari maksud Allah dalam janji-Nya, menyadri prewujudan Keadilan-Nya dalam Keputusan-Nya, serta kasih karunia-Nya dalam mencegah Anda dari sesuatu. Dan dari hal tersebut yang mendefinisikan tingkat ini adalah sebagaimana yang telah dikatakan oleh orang-orang berpendirian dan ahli Sunnah: ‘Hikmah terdiri dari tujuan mulia dan terpuji yang diharuskan oleh Penciptaan-Nya dan Perintah-Nya, demi sesuatu yang Dia Diperintahkan, dan demi sesuatu yang Dia Ditakdirkan;



3) bahwa Anda mencapai tingkat tertinggi dalam pengetahuan ketika membuat deduksi dan menuju pada kesimpulan, dan itu adalah wawasan, pengetahuan yang terdapat dalam hati seperti sesuatu yang sedang ditatap oleh mata yang melihat hal tersebut (yaitu, ketika kita meyakini bahwa sebuah organ berfungsi dengan baik). Dan hal ini adalah tingkat eksklusif yang telah disediakan bagi para Sahabat atas umat yang tersisa, dan merupakan tingkat tertinggi yang dapat dicapai oleh para ulama. “[12]


Diterjemahkan dari http://en.wikipedia.org/wiki/Hikmah

Catatan kaki

[1]         Ibnu Mandhur. Lisan al-‘Arab. hlm 15/30.
[2]         Al-Asma’i. as-Shihah. hlm 5/1901.
[3]         Taj al-‘Arus’. hlm 8/353.
[4]         Al-Misbah al-Munir. hlm 1/200.
[5]         Ibnu Faris itu. Mu’jam al-Lughah Maqayis. hlm 2/91.
[6]         Taysir Al-Karim ar-Rahman. hlm 1/233.
[7]         Tafsir ar-Razi. hlm 7/67.
[8]         At-Tahrir wat Tanwir-. hlm 3/61].
[9]         Fi Dhilal al-Qur’an. hlm 1/312.
[10]      At-Tafsir al-Qayyim. p. 226.
[11]      Madarij as-Salikin. hlm 2/479.
[12]      Madarij as-Salikin. hlm 2/478.

Mengenal Sajian Teh

Kita biasanya meminum teh dengan menyeduh daun Camellia sintesis dalam air. Camellia sinensis, spesies tanaman yang daun dan pucuk daunnya digunakan untuk membuat teh,termasuk genus Camellia (Hanzi tradisional: 茶花; bahasa Tionghoa: 茶花; Pinyin: Cháhuā), suatu genus tumbuhan berbunga dari famili Theaceae. Semua jenis teh,

baik teh putih, teh hijau, oolongdan teh hitam, didapat dari spesies ini, namun diproses secara berbeda untuk memperoleh tingkat oksidasi yang berbeda. Kukicha (teh ranting) juga dipanen dari Camellia sinensis, namun tidak memakai daun melainkan ranting. Teh merupakan minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok: teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih. Istilah “teh” juga digunakan untuk minuman yang dibuat dari buah, rempah-rempah atau tanaman obat lain yang diseduh, misalnya, teh rosehip, camomile, krisan dan Jiaogulan. Teh yang tidak mengandung daun teh disebut teh herbal. Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidandengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri saat meminumnya.

Warga China telah mengenal dan mengkonsumsi minuman teh selama 3.000 tahun karena tanaman ini berasal dari daratan Asia. Meski saat ini teh telah dikonsumsi oleh banyak orang di seluruh dunia, namun ada beberapa hal yang mungkin perlu Anda ketahui tentang teh. Seperti dilansir oleh Shine! (13/02), terdapat beberapa hal-hal yang mungkin tidak Anda ketahui selama ini mengenai teh.
1. Semua teh berasal dari satu tanaman. Teh putih, hijau, atau hitam sebenarnya berasal dari satu tanaman, yaitu Camellia sinesis. Yang berbeda adalah masa pengambilan daun teh, disesuaikan dengan jenis teh yang diinginkan. Teh putih, hijau, atau hitam bergantung pada seberapa lama daun teh diproses dan dioksidasi. Sementara itu, teh herbal yang terbuat dari chamomile atau mint merupakan kategori yang berbeda. Begitu juga dengan teh merah yang tak terbuat dari teh, melainkan tanaman lain dari Afrika Selatan.

2. Minuman terpopuler kedua di dunia. Teh adalah jenis minuman terpopuler kedua yang dikonsumsi oleh penduduk dunia. Minuman populer pertama adalah air. Dan, teh bahkan mengalahkan kopi untuk urusan popularitas.

3. Beda teh, beda waktu penyeduhan. Setiap jenis teh membutuhkan waktu perendaman dan temperatur yang berbeda agar terasa sempurna. Misalkan teh putih harus direndam selama dua sampai tiga menit dalam air bersuhu 180 derajat. Sementara teh hijau harus direndam selama tiga menit pada suhu yang lebih panas. Sementara itu teh herbal, teh hitam, dan teh merah akan terasa sangat nikmat ketika direndam selama lima sampai tujuh menit dalam air yang hampir mendidih.

4. Teh memiliki manfaat kesehatan luar biasa. Mengonsumsi dua cangkir teh setiap hari menurunkan risiko serangan jantung dan stroke. Ditambah lagi, penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi dua cangkir teh setiap hari bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh, melawan kanker, dan melindungi enamel gigi, serta melawan penurunan kekuatan ingatan ketika Anda semakin menua. Teh hijau memiliki kandungan antioksidan yang meningkatkan tekstur kulit dan mencegah kerutan.

Di sisi lain, anda juga harus hati-hati saat mengkonsumsi teh. Selain mengandung kafein, dan teh sekarang banyak dikemas dalam bentuk teh celup. Teh celup sebaiknya tidak dicelupkan terlalu lama karena adanya kandungan zat klorin dalam kantong kertas teh celup. Ini berlaku untuk semua teh, berwarna maupun teh hijau. Zat ini fungsinya untuk disinfektan kertas sehingga kertas akan terbebas dari bakteri pembusuk dan tahan lama. Kertas dengan klorin tampak lebih bersih. Karena disinfektan, klorin dalam jumlah besar tentu berbahaya. Tak jauh beda dari racun serangga. Banyak penelitian mencurigai kaitan antara asupan klorin dalam tubuh manusia dengan kemandulan pada pria, bayi lahir cacat, mental terbelakang dan kanker. Sehingga dianjurkan jangan mencelupkan teh celup dalam waktu lama.

Jika mencelup kantong teh lebih dari 3 – 5 menit, klorin akan ikut larut dalam teh. Dan banyak khasiat teh yang tertinggal dalam minuman teh. Agar terhindar dari kemungkinan – kemungkinan penyakit, sebaiknya jangan mencelup kantong teh lebih dari 3 menit. Kasus teh celup yang merenggut korban masih simpang siur kejelasan penyebabnya. Salah seorang karyawati pabrik sosis yang turut menjadi korban teh maut itu membantah  teh tersebut beracun. Ia mengaku dirinya minum teh kadaluwarsa. Kasus teh celup yang memakan korban menjadi perhatian masyarakat. Sebab, teh merupakan minuman yang dikonsumsi tiap hari. Teh juga disuguhkan sebagai minuman saat tamu bertandang. Terlepas dari kasus teh celup maut tersebut, bagaimana sebaiknya  mengonsumsi teh agar bermanfaat?


Dari hasil penelitian salah seorang lulusan Teknologi Pertanian Unud Anju Aprianto Aritonang, teh mengandung antioksidan, khususnya teh hijau. Mahasiswa angkatan tahun 2006 ini khusus meneliti teh hijau celup. Kandungan antioksidannya lebih tinggi dibanding teh hitam. Teh hijau mengandung antioksidan 2-4 %. Adapun antioksidan yang dimaksud adalah catechin, yang mengais radikal bebas yang dapat merusak DNA dan berkontribusi antara lain terhadap kanker dan atherosclerosis—plak yang terbentuk dalam arteri. Dr. David B. Samadi, Wakil Ketua Departemen Urologi dan Kepala Robotika dan Bedah Invasif Minimal di Mount Sinai School of Medicine di New York City, Amerika Serikat, menulis di FoxNews.com, Rabu (7/11),  bahwa catechin mengandung epigallocatechin-3-gallate (EGCG) yang unik dan melimpah dalam teh hijau sebagai hasil dari pengolahan minimal untuk menghasilkan teh tersebut.


Studi laboratorium menunjukkan EGCG dan beberapa catechin lain dapat lebih kuat daripada vitamin C dan E dalam menghentikan kerusakan oksidatif pada sel-sel dan berpotensi memiliki kemampuan untuk melawan penyakit lain. Selain itu, diperkirakan EGCG memainkan peran penting dalam menghambat sintesis DNA dan replikasi sel, yang sama-sama untuk kelangsungan hidup sel-sel kanker. Untuk alasan tersebut, penelitian telah menunjukkan hubungan antara konsumsi teh hijau dan penurunan risiko untuk hiperlipidemia—penyakit akibat kadar lemak tingkat tinggi dalam darah–, hipertensi, atherosclerosis, Parkinson, dan beberapa kanker, termasuk kulit, payudara, paru-paru, kolorektal, lambung, kerongkongan, dan prostat.

Sebagian besar dari penelitian tersebut, menurut Dr Samadi, telah dilakukan pada tikus besar atau tikus kecil, sehingga sulit untuk menerapkan kesimpulan pada manusia. Hanya beberapa studi observasional telah dilakukan pada manusia, yang sering mencuatkan bukti yang bertentangan. Sebagian besar inkonsistensi tadi mungkin lantaran variasi dalam persiapan teh, konsumsi, faktor gaya hidup lain, dan genetika. Selain itu, sebagian besar penelitian ini dilakukan pada populasi Asia yang menjadikan teh sebagai minuman pokok. Pengganggu hubungan ini lebih merupakan kebiasaan diet lain, seperti konsumsi daging protein tinggi sehingga sulit untuk menjelaskan manfaat langsung dari konsumsi teh hijau. Dr Samadi juga mengingatkan bahwa teh hijau bukanlah obat mujarab. “Tidak ada pengganti untuk diet sehat, aktivitas fisik, dan pemeriksaan kondisi kesehatan yang memadai,” kata dia. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, dia menambahkan, pastikan Anda hanya mencelupkan kantong teh atau menyeduh daun teh selama tiga sampai lima menit. Minumlah cukup sekitar tiga cangkir setiap hari.


Yang tak kalah penting, menurut Dr. Samadi, catechins dalam teh hijau seduh lebih melimpah dibandingkan dari teh instan, teh botol, atau teh tanpa kafein. Juga, teh hijau terbukti mengganggu penyerapan zat besi, terutama dari sumber buah dan sayuran. Tapi, menambahkan lemon atau susu pada teh di antara makanan akan membantu mengatasi masalah ini.


“Walaupun antioksidan hanya dibutuhkan sedikit dalam tubuh, namun fungsinya sangat penting. Antioksidan  menangkal radikal bebas dalam tubuh dan ampuh mencegah tumbuhnya sel kanker. Radikal bebas dalam tubuh disebabkan  polusi lingkungan dan makanan yang dikonsumsi tercemar,” kata pengajar Teknologi Pertanian Unud Ir. Luh Putu Wrasiati, M.P. Menurutnya, selain teh yang berasal dari daun teh camellia sinensis, sekarang banyak juga beredar teh herbal untuk kesehatan dari akar, bunga, atau batang seperti teh benalu, rosella, dan krisan. “Aktivitas antioksidan teh herbal ini juga tinggi. Teh herbal banyak digunakan di rumah kecantikan. Antioksidan tidak saja bekerja saat diminum tetapi bekerja juga lewat kulit,” papar perempuan yang kini sedang menempuh studi program S3 Ilmu Kedokteran konsentrasi Biomedis ini.

Hal senada juga diungkapkan dokter spesialis penyakit dalam Prof. Nyoman Dwi Sutanegara. Menurutnya, antioksidan merupakan bahan yang dapat menetralisir kelebihan elektron-elektron radikal bebas. Radikal bebas ini muncul pada orang tua atau pasien diabetes dan hipertensi. “Belakangan ini diketahui, radikal bebas ikut berperan dalam munculnya proses degenerasi khususnya terjadi di pembuluh darah sehingga muncul serangan jantung dan stroke,” kata Prof. Dwi. Antisipasinya, dengan  memberikan obat-obatan yang melawan radikal bebas yakni antioksidan. Teh salah satunya yang mengandung antioksidan flavonoid, khususnya teh hijau. Jika dikonsumsi jangka panjang memberi pengaruh positif menangkal radikal bebas.


Menurut Guru Besar FK Unud ini, teh berasal dari tanaman, sehingga penyimpanannya harus bersih dan kering agar tidak ditumbuhi jamur. “Kalau sudah kadaluwarsa dan terkontaminasi jamur sebaiknya jangan dikonsumsi. Untuk mengetahui ada tidaknya jamur, perlu dicek ke laboratorium,” ujarnya.


Teh berjamur dapat mengakibatkan gangguan kesehatan seperti keracunan. Muncul diare dan muntah dalam kurun waktu 1- 2 jam setelah mengonsumsinya. Perut mulas,  muntah-muntah, badan meriang, dan diare akibat tubuh bereaksi menolak masuknya zat asing. Jika gejalanya sangat hebat, cairan tubuh banyak yang hilang. Komposisi tubuh anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Sebanyak 50% lebih tubuh anak mengandung cairan. “Jika cairan hilang,  dapat mengakibatkan dehidrasi. Terlambat penanganan, organ tubuh bermasalah, gagal ginjal, jantung tidak berfungsi, bahkan mengakibatkan kematian,” paparnya. Kalau diduga masih tersisa racun di saluran cerna, racun harus segera  dikeluarkan dengan cuci lambung atau kumbah lambung. Akibat kehilangan cairan ini, tubuh  harus diinfus. Kekurangan cairan berperan besar  terjadinya kematian. Sebagian besar kematian karena keracunan akibat dehidrasi.

Ia mengatakan ada racun tertentu memengaruhi sel darah merah. Wajah menjadi biru terutama di bibir, lidah, dan di telapak tangan, serta di bawah kuku. Jika keracunan makanan, dapat dipastikan dari muntah dan diare. Tubuh memiliki pertahanan sendiri  dari serangan berbagai zat negatif.  Lever adalah organ tubuh yang mampu memetabolisir bahan-bahan racun.“Tiap kita makan, sari makanan diserap usus dan dialirkan ke lever.  Terjadi proses-proses metabolisme di lever yang mengubah makanan beracun menjadi  tidak beracun. Lever berperan sebagai benteng dalam tubuh,” ujarnya.  Namun, kata Prof. Dwi, kalau serangan datang terus menerus lever kewalahan.  Kadang masih  tersisa secara halus produk metabolisme yang belum sempat dinetralisir, tetapi sudah beredar ke seluruh tubuh.  Ini sangat mematikan. Selain lever, tubuh juga memiliki seluler sebagai pertahanan yang dapat memakan bakteri.

Hati-hati mengkonsumsi teh celup


Ir. Luh Putu Wrasiati menyatakan masyarakat cenderung menginginkan yang hemat dan  praktis. Teh  celup alternatifnya. “Daun teh dibungkus dalam kantung  kertas yang berisi tali agar memudahkan untuk mencelupnya,” katanya.  Umumnya, kertas dibuat dari bubur kertas yang terbuat dari kayu. Untuk membuat kertas  ini menjadi putih digunakan senyawa klorin. Kertas yang berserat ini digunakan sebagai kantung teh celup. Sampai saat ini belum ada penelitian  dampak kandungan klorin dalam kantung teh celup.

Namun, Wrasiati menyarankan,  konsumen  sebaiknya mencelupkan teh kurang dari 3 menit. Setelah itu, bandul teh dibuang. “Biasanya kita mencelup teh hanya satu menit. Lebih dari itu warnanya sudah pekat. Bagi yang biasa menaruh teh celup dalam cangkir sampai dingin, hendaknya mulai mengubah kebiasaan ini,”  kata istri Anom Wijaya ini. Tujuannya, agar senyawa klorin atau senyawa lain pembuat kertas tidak ikut larut ke dalamnya.  Kalau direndam terlalu lama, kantung teh dapat rusak dan beberapa zat kimia dapat  ikut terlarut  di dalamnya.  Menurutnya, sebaiknya minum teh selagi hangat akan terasa lebih nikmat dan  dapat menyegarkan tubuh serta pikiran.  Ia berharap Balai POM  aktif dan bergerak cepat jika ada indikasi. “Jangan bergerak setelah ada masalah,” sarannya.  Pemerintah memunyai beberapa standar yang harus dikuti produsen agar menggunakan kertas yang layak untuk makanan. “Ada strandar khusus dari Departemen Kesehatan RI,” tambahnya.

Menurut Kepala Bidang Pengujian Teranokoko (terapik, narkotika, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen) Balai POM Denpasar Drs. I Wayan Eka Ratnata, Apt., pihaknya belum pernah melakukan pengujian langsung terhadap pembungkus teh celup. “Kami hanya menguji isinya,” ujarnya. Menurutnya,  ika memang pembungkus teh celup terkontaminasi jamur, pasti terdeteksi dalam isinya.  “Sebelum dikonsumsi, teh melalui proses  penyeduhan sehingga kalau ada mikroba akan mati,” jelas Eka.

Ia mengatakan, Balai POM selalu melakukan pengujian secara rutin ke lapangan.  Selama ini, kata Eka, belum pernah ditemui teh beracun atau berjamur yang dipasarkan. “Tiap produk selalu memiliki masa kaladuwarsanya. Puluhan produk teh beredar di pasaran termasuk teh herbal untuk kesehatan. Rata-rata produsen teh sudah diakui proses produksinya bagus dan layak dikonsumsi,” jelasnya.  Dalam sebulan Balai POM melakukan pengecekan ke lapangan sekitar 30 kali surat tugas. “Tidak mengkhusus hanya makanan dan minuman, juga obat, obat tradisional termasuk  suplemen makanan,  kosmetik, dan narkotika psikotropika yang digunakan  pengobatan,” paparnya. Menurut Eka, dalam setahun ada dana pengujian 4000 sampel.  Pengujian makanan dan minuman tahun 2009 sekitar 1600 sampel dari dana Balai POM. Sementara dari pihak luar sekitar 500 sampel.


Demikianlah beberapa fakta mengenai teh yang mungkin belum pernah Anda ketahui sebelumnya. Semoga dengan pengetahuan baru ini, anda lebih dapat menikmati sajian teh yang sedang anda seruput tanpa perlu dengan dahi berkerut.


Sumber
http://id.wikipedia.org/wiki/Teh
http://www.smallcrab.com/kesehatan/766-celup-teh-terlalu-lama-tak-jauh-beda-dari-racun-serangga
http://shnews.co/detile-10539-manfaat-minum-teh-hijau.html

Indonesian Tea


For more than 200 years, tea has been part of the way of life in Indonesia. But, there is no tea drinking ritual such as course of conduct reflected by local tradition. Sundanese sometime use no sugar tea drinking as a habitual “mode of action” when they have finished their breakfast. No one single ethnic in this country use it to be the way of life prescribed as normative. But



traditional tea has been a very popular drink in Indonesia and the popularity of tea extends across the entire country. Historically, the tea trade in Indonesia founded by the Dutch in late 1700. The Dutchman Jacobus Isidorus Lonevijk Levien Jacobson begin to cultivate Java’s tea industry in 1827. His strenuous trips to China for six years had been influential so he was able to start a tea plantation in Bogor. Then, the Indonesian tea industry continued to grow, and now the country is the fifth largest producer of tea in the world. The industry went into decline after the 2nd World War.
In 1984, Indonesia’s tea industry was revived. The tea estates began drawing tourists as the result of collaborative initiative by the Indonesian government, state-owned plantations and travel bureaus. After decades of isolation and after much effort and investment, tea exports from Indonesia began to make their presence felt in the tea market. Since then, constant improvement and modernisation of tea production and replanting of old estates have continued to this day.
Despite its high penetration, with products which cover all income segments, tea still managed to record off-trade volume growth of 7% in 2011, much of which was due to the rising popularity of modern tea in innovative formats. The rise of the health and wellness trend is also promoting higher tea consumption for various purposes such as detoxification, slimming, increasing stamina and reducing cholesterol. The appeal of these healthy varieties of tea, however, remains largely restricted to women and older consumers.
This beverage commodity has also been expanded to attract tourism since tea fields have been turned into hiking trails. The trend of mountain cyclists riding in hilly paths endorse processing factories offer educational and tasting tours and colonial homes. Some factories built guesthouses so that vacationers can travel back to a bygone era and partake in ecological adventures without ever having to set foot on an airplane. Today, there are more than 30 state-owned tea plantations in West Java and a handful of them are tapping into the growing tourism market.
Indonesian tea differs from other tea producing countries in respect to location, soil, and the climate where the tea estates are found. Teas there are planted in the highlands where volcanic soil and tropical climate are predominant. The main product is the black tea and about 80% of production is exported. Indonesian teas are light and flavourful and most are sold for blending purposes as this translates to excellent financial returns through foreign exchange for the country. In recent years it has even become possible to purchase Indonesian tea as a specialty tea. The Research Institute for Tea and Cinchona in Gambung, West Java, has a vital responsibility to increase tea production and to improve its quality. To-date, several clones have been invented that are more suitable to the soil, climate and for modern tea processing in Indonesia. Export quality tea is sold mainly through auction in Jakarta. The Joint Marketing Office or Kantor Pemasaran Bersama (KPB conducts the auction).
Gunung Slamat PT continues to lead tea in Indonesia and held a 27% off-trade value share in 2011. The company is a subsidiary of Sinar Sosro PT, the leading player in RTD tea in Indonesia through its various brands including Teh Botol Sosro, Joy Tea, S-Tee and Fruit Tea. In hot drinks tea, the company markets an extensive portfolio of brands, including Cap Botol Biru, Cap Botol Hijau, Teh Poci, Teh Celup Sosro, Teh Seduh Sosro, Sosro Heritage, Teh Cap Sadel, Teh Cap Trompet, Teh Cap Berko and Teh Cap Sepatu. The majority of products offered under these brands consist of loose tea, although in recent years there has been a gradual shift towards the development of tea bags and the company has launched several of its products of the tea bags variants. Many of the company’s products are only available in tea bags, including Teh Celup Sosro, Teh Seduh Sosro and Sosro Heritage. Each of these products contains a unique mixture of jasmine, black tea and green tea. Under its Teh Poci brand, the company also offers fruit infusion tea. In an attempt to tap into the rising demand for premium tea, in 2010 Gunung Slamat PT launched Sosro Heritage in 12 varieties in with the aim of broadening the perception of tea among local consumers.
In line with accelerating population growth and the relentless rise of the health and wellness trend in Indonesia, tea is expected to increase in off-trade volume at a CAGR of 5% over the forecast period. This growth is expected to predominantly attributable to the continuous increase in the numbers of people shifting away from traditional loose tea towards tea bags, a situation which is set to result in robust growth in tea bags. Functional varieties of tea such as fruit/herbal tea and healthy varieties of tea categorised under other tea will contribute to the healthy growth expected in tea during the forecast period.

Reference

http://www.teauction.com/industry/indonestea.asp
http://www.thejakartaglobe.com/lifeandtimes/drink-in-an-indonesian-highland-tea-tour/453852
http://www.euromonitor.com/tea-in-indonesia/report

Waktunya untuk Berani dan Bertakwa


Bilamana waktu identik dengan ruang, maka dimensi waktu memiliki wahana perjalanan. Apakah waktu yang berpindah atau seseorang atau sesuatu yang berpindah, belum ada teori yang dapat membuktikannya. Einstein hanya


bisa membuktikan hubungan yang relative antara waktu dengan benda atau makhluk, namun dia tidak bisa menjelaskan tentang perjalanan waktu. Pun, sampai sekarang belum ada ilmuwan yang sanggup menjelaskan teori fisika yang mengijinkan perjalanan waktu dalam segala bentuk, meskipun ada satu teori yang mengijinkan tentang kemungkinan melipat waktu untuk meloncat dari suatu titik ke titik lainnya[1]
Terlepas dari berbagai asumsi dan keyakinan banyak orang mengenai berbagai kemungkinan perjalanan waktu – seperti cerita John Titor, kepastian hidup kita sekarang berada dalam satu dimensi waktu yang berbeda dengan dimensi waktu yang kita alami sebelumnya. Kita bisa melihat perbedaan itu dari berbagai rekaman sejarah yang menjelaskan kisah hidup seseorang, suatu kaum, suatu bangsa dan umat manusia. Rekaman sejarah adalah alat bantu kita melihat masa lalu, agar kita mengetahui bahwa kita sedang hidup di masa kini dan sedang bergerak maju menuju masa depan. Dan saat ini kita meyakini bahwa kita hidup di era globalisasi, dalam suatu masa yang menghadirkan proses penyebaran unsur-unsur baru – terutama  informasi – secara mendunia melalui berbagai media sehingga tidak ada lagi batasan ruang dan waktu akibat kemajuan teknologi yang diterapkan oleh manusia.
Banyak hal yang bisa kita tangkap dengan panca indera kita di era globalisasi ini. Begitu banyak dan rumit sehingga untuk memaknai segala sesuatu yang ditangkap oleh panca indera kita sampai dengan saat ini tidak lagi sesederhana membalikkan tangan. Kita membutuhkan berbagai pandangan dan hubungan dari berbagai ahli karena dasar-dasar ilmu yang kita pahami selama mengikuti pendidikan maupun dari keluarga dan masyarakat tidak lagi cukup memadai dengan kenyataan yang kita alami di zaman modern ini. Ketidakpastian senantiasa hadir di alam global yang terus menghasilkan berbagai inovasi teknologi. Hal ini dikarenakan suatu hal yang tidak mungkin di masa lalu, bisa saja terjadi di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Dunia sekarang begitu semakin hebat karena semakin banyak terungkap keajaiban dan rahasia-rahasia yang tersembunyi selama puluhan abad. Temuan-temuan dan fenomena baru di alam global ini seharusnya menyadarkan kita tentang makna lain dalam perjalanan waktu. Yaitu, ketika suatu kemungkinan hadir dalam dimensi waktu, maka di saat itu pula ketidakpastian bergerak menghantui keyakinan yang sudah lama terbentuk dalam akal manusia.
Dari hal tersebut, seharusnya kita dapat mengedepankan suatu refleksi. Bukan untuk mecari pamrih atas karya dan pengabdian kita, melainkan untuk mengukur bagaimana kita mengembangkan kontribusi kita yang terbaik bagi sesama manusia dan alam di sekitar kita. Berbagai fenomena hidup yang kita alami hingga kita tiba di satu titik saat ini seharusnya bisa mengantar kita pada satu kesadaran tentang makna dari jati diri kita. Sudah menjadi bagaimana kita sekarang ? Hendak kemanakah kita nanti setelah ini ? Saya sendiri sampai sekarang tidak bisa menjelaskan secara bijaksana bagaimana itu “menjadi manusia”. Karena menjadi manusia sebagaimana yang didambakan, ditengah riuhnya pergulatan kepentingan individu, kelompok, suku sampai dengan bangsa bukanlah masalah yang ringan. Untuk mengurai masalahnya tidak cukup dengan satu halaman blog dan diskusi satu malam. Oleh karena itu, kita cukup melihat apa yang sedang terjadi di Negara kita ini sekarang.
Di Indonesia, kegaduhan politik setelah era reformasi telah mengantarkan satu pepatah yang menebalkan keyakinan bahwa dunia ini milik orang berani, sedangkan akhirat milik orang bertakwa. Perubahan besar yang terjadi di era reformasi menuju alam demokrasi memberi peluang banyak individu untuk menguji pilihan hidupnya. Keran demokrasi yang membuka lebar pintu kebebasan seakan mewajibkan setiap individu untuk mengenyahkan ketakutan-ketakutan yang diyakini kebenarannya selama masa orde baru. Akademisi tidak boleh lagi takut mengemukakan teorinya, pengusaha tidak boleh lagi takut mengembangkan bisnisnya, pejabat tidak boleh lagi takut berseberangan dengan atasannya, bahkan pengemis pun tidak boleh takut mengkoordinir pekerjaan pengemis-pengemis di jalanan. Kebebasan demokratis telah mewarnai wajah dunia di nusantara sekarang pada satu citra tentang bagaimana ketatnya persaingan hidup mengharuskan seseorang memiliki keberanian yang lebih besar untuk menghasilkan suatu perubahan.
Ya, perubahan. Itulah yang diinginkan banyak orang dari era reformasi ini. Namun sayangnya perubahan itu tidak menuju kondisi ideal yang diharapkan banyak orang. Karena perubahan yang diinginkan tersebut tidak selalu dilandasi dengan keberanian yang bersumber dari nilai-nilai moralitas. Hakekat moral sebagai integrasi dari nilai-nilai kemanusiaan kurang menjiwai banyak perubahan di era reformasi ini. Sehingga keberanian yang mendorong perubahan tersebut lebih bermakna untuk kepentingan sesaat, sempit atau hanya dijiwai oleh keberanian untuk mengikuti nafsu kemanusiaan semata. Padahal, perubahan identik dengan perjuangan, yang artinya membutuhkan banyak pengorbanan. Disinilah letak keberanian menjadi penentu keberhasilan seseorang di zaman sekarang, yaitu bagaimana dia mengorbankan  suatu hal yang sudah dipegangnya selama bertahun-tahun kemudian berganti dengan hal yang lain karena adanya tuntutan perubahan dari lingkungannya. Hal ini di sisi lain menjadi paradox. Keuntungan yang diyakini dapat diraih dari keberanian melakukan perubahan dapat mendorong setiap orang untuk tampil beda. Siapa yang lebih kreatif dan dapat memuaskan banyak orang dan diikuti dengan keberanian maka langkah selanjutnya dapat dengan mudah meraih bunga dunia yang diinginkannya.
Anda mungkin tidak setuju dengan pendapat saya karena setiap situasi berbeda kondisinya. Argumen saya dilatarbelakangi dasar pemikiran tentang kehidupan manusia di era reformasi ini yang sudah tidak lagi memegang prinsip-prinsip hidup yang diyakini oleh orang-orang yang hidup di masa lalu. Nilai-nilai prinsiipil  itu kini menghadapi persaingan dengan nilai-nilai baru yang lebih universal dan mampu menggoyahkan keyakinan seseorang terhadap nilai-nilai standard yang sudah ditetapkan oleh Negara dan masyarakat yang sedang berlaku. Dan barangsiapa berani menerapkan nilai-nilai yang lebih baru tersebut di dalam masyarakat saat ini, maka dia lebih banyak memiliki kesempatan untuk mendapat penghargaan banyak orang. Dampak positif atau negative dari perubahan yang dihasilkan dari keberanian seseorang menerapkan nilai-nilai yang lebih baru tersebut tentunya tergantung dari bahan mendasar yang menjadi acuan nilai-nilai perubahan tersebut. Yang lebih esensial tentunya adalah keberanian orang tersebut membawa perubahan tersebut. Keberanian untuk berubah, itulah yang dibutuhkan. Hitam atau putih perubahan itu, maka ditinjau dari aspek keberanian semata, dialah yang terbaik.
Dengan demikian, kebaikan dari keberanian yang diperoleh seseorang tergantung dari tepat atau tidaknya waktu dan cara keberanian tersebut diterapkan. Pada prinsipnya keberanian bisa diperoleh dan diterapkan dimanapun lingkungan berada. Keberanian yang dilakukan ditempat sebelumnya dapat menjadi dasar atau pemicu untuk melakukan keberanian di tempat lain meskipun dengan jenis dan cara yang berbeda. Oleh karena itu, keberanian dalam era reformasi ini ibaratkan keberanian Daud mengalahkan Goliat. Cerita Daud mengalahkan Goliat saat ini banyak dijadikan referensi banyak kepentingan. Ditinjau dari sisi negatif, keberanian teroris melawan hegemoni barat bisa menjadi contoh keberanian sekelompok orang dalam mewujudkan nilai-nilai baru yang lebih diyakininya. Namun seharusnya gambaran Daud mengalahkan Goliat ini dilihat dari aspek yang lebih bermakna yaitu tentang bagaimana upaya bangsa ini melakukan reformasi birokrasi di negeri ini. Tantangan yang besar dan tidak sebanding terlihat dari sistem birokrasi negeri ini yang akut dan menjadi tumpangan kepentingan banyak orang harus dibidik oleh kalangan reformis yang menginginkan perbaikan dan perubahan ke arah Indonesia yang lebih baik.
Kita bisa melihat sisi paradox yang  lain dari keberanian ini dari kasus cicak buaya, atau yang sedang terjadi terhadap penyidik KPK saat ini. Keberanian seorang Letjen Susno Duaji atau Kompol Novel dalam menerapkan kesungguhannya sebagai penyidik harus menghadapi kekuatan besar birokrasi di tubuh organisasi yang sedang menjadi obyek idealismenya. Namun di sisi lain, para aparat Polri juga harus berani menegakkan aturan yang berlaku terhadap anggotanya yang melanggar aturan organisasi namun mendapat dukungan kekuatan yang besar dari publik. Dua kepentingan yang melahirkan keberanian-keberanian humanis dari seorang aparat dalam mewujudkan perubahan-perubahan yang diyakininya. Dua kepentingan tersebut tentunya memiliki dasar nilai yang benar, bahkan mungkin dilandasi kepentingan untuk mewujudkan reformasi birokrasi yang masuk akal.
Untuk mengungkap keberanian siapa yang lebih tepat untuk dihargai, hanya nurani kita yang bisa menjawabnya. Apabila hati kita masih memiliki komitmen yang kuat untuk mendengarkan bisikan nurani, maka kita bisa menilai keberanian manakah yang seharusnya mendapat penghargaan di dunia ini. Karena pada dasarnya keberanian bermodalkan pada pribadi atau jiwa, jasmani, pengetahuan, pengaruh  lingkungan serta situasi dan kondisi yang berlaku. Dan itu semua sangat tergantung dari tingkat ketakwaan yang dimiliki seseorang. Ketakwaan seseorang dapat mendorong seseorang menjadi berani. Karena dengan dilandasi ketakwaannya, dia meyakini bahwa tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang dapat menandingi kekuatan terbesar di alam semesta ini.
Namun demikian untuk mencapai ketakwaan yang dapat melahirkan keberanian yang hakiki diperlukan kepercayaan dan keyakinan. Sehingga dengan kepercayaan dan keyakinan tersebut, lahirlah ucapan dan tindakan serta perilaku yang dapat mengatasi ketakutan-ketakutan yang dihadapinya. Disinilah makna dari akherat milik orang yang bertakwa. Keyakinan tentang adanya surga dan neraka, adanya balasan atas perbuatan baik dan buruk menurut ajaran agama, rahasia dan keajaiaban akhirat, serta banyak hal yang belum dapat kita lihat dan kita rasakan secara langsung di dunia ini membutuhkan energi yang lebih. Artinya, seseorang harus memiliki kekuatan mentuk memilki visi tentang “gelap dan terang”. Proses pemahaman terhadap hal-hal tersebut tidak hanya melibatkan kemampuan akal, melainkan juga kemampuan batin sehingga tergambar hal-hal yang berkaitan dengan kini dan besok, baik dan buruk, ya dan tidak, jangan dan boleh dan sebagainya. Pada proses inilah terjadi pertarungan sengit yang membawa pada keberanian yang berdampak positif atau negatif.

Bukan Negara Mafia
     
   Tepatkah penilaian seorang Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dr Laode Ida, tentang sebutan mafia pada negeri ini ? Menurutnya, maraknya markus di Indonesia menunjukkan bila negara ini sudah mirip dengan negara mafia karena semua lini atau pos-pos di negeri ini tidak lepas dari praktek-praktek kotor mafia. Namun penyebutan Indonesia sebagai negara mafia berarti menganggap Negara ini diatur oleh sebuah dinasti keluarga yang melegalkan praktik kotor, brutalisme dan kejahatan terselubung. Kasus Letjen Susno Duadji dan Kompol Novel seakan membenarkan asumsi tersebut dan mengindikasikan sedang terjadinya konflik dalam kehidupan keluarga mafia. Susno dan Novel yang berani mengungkap kasus-kasus besar dianggap sebagai  pengkhianat yang dapat menggoyahkan dinasti keluarga mafia dan karena itu dia harus disingkirkan dan tentu saja dengan cara-cara yang dapat saja secara formal disebut sebagai sesuai dengan ketentuan atau atau aturan hukum yang berlaku. Namun benarkah sedemikian buruk praktek kenegaraan yang berlaku saat ini ?
   Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentunya diperlukan keberanian untuk mengungkap fakta yang ada. Penilaian Dr. Laode Ida bisa menjadi keyakinan banyak orang apabila setiap saat bangsa ini disuguhi praktek-praktek penegakkan hukum yang tidak profesional dan bertanggungjawab. Pendapat Dr. Laode Ida akan semakin diamini kalangan masyarakat dan bahkan mungkin akan mendorong munculnya mafia-mafia yang sebenarnya dan ingin merebut kekuasaan mafia yang sedang berkuasa saat ini. Namun kehidupan di negeri ini tidaklah serumit pandangan Dr. Laode Ida tentang praktek mafioso. Praktek kenegaraan yang ada saat ini bukanlah praktek mafioso gaya baru. Negara dan bangsa ini memiliki landasan karakter yang kuat, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Apabila Negara dan bangsa ini dianggap sebagai Negara mafia, maka sama saja tidak ada lagi karakter yang dimiliki bangsa ini. Mungkin lebih tepat dikatakan jika jati diri bangsa ini mulai melemah, yang berarti pula nilai-nilai pegangan hidup kita sebagai warga bangsa dan Negara mulai pupus.
Dengan demikian, keberanian yang harus kita kedepankan di era reformasi ini adalah mewujudkan good and clean governance, membangun pemerintahan yang bersih dan berwibawa dengan dilandasi kesadaran kita akan semangat kebangsaan dan nasionalisme Indonesia. Nasionalisme Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai luhur bangsa tidak identik dengan dengan dunia mafia. Bangsa ini memiliki karakter, yaitu Pancasila. Oleh karena itu sangat ironis bila keberanian di era reformasi ini menghadapi paradox. Di satu sisi, agenda mulia reformasi mengandung makna perubahan menuju kondisi yang lebih maju yaitu kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang adil makmur, dan sejahtera. Namun di satu sisi lainnya, pengelolaan birokrasi dipengaruhi oleh gaya mafia dan tanpa memiliki karakter terpuji, terutama di kalangan elit penguasa.



Oleh karena itu, roh reformasi yang nyaris lenyap harus ditarik kembali dengan strategi membangkitkan keberanian memberantas berbagai gurita praktik mafia. Tujuannya (end) ? Pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Caranya (ways) ? Awali dengan membangun karakter diri kita sendiri. Wujudkan kepemimpinan yang diliputi semangat kebangsaan untuk memberantas segala bentuk praktik mafia dalam segala aspek kehidupan. Sarananya (means) ? Penerapan ajaran agama secara konsisten. Setuju ?



[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Perjalanan_waktu

Mengatasi Penguatan dan Penyebaran Prasangka Sosial dalam Kemajemukan Masyakat Indonesia di Era Global

Negeri Indonesia sudah lama menjadi daya tarik berbagai bangsa yang hidup di muka bumi ini. Kemasyhuran Indonesia terkenal karena wujudnya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.508 pulau beserta aneka macam flora dan fauna serta ratusan etnis dengan beragam budaya yang hidup di dalamnya. Indonesia merupakan
salah satu tujuan utama bagi pelancong yang berkeinginan melihat Negara yang mempunyai banyak suku, golongan, ras agama, adat istiadat. Pesona Indonesia terpancar dari keunikan wujud kesatuan budayanya yang dapat memadukan ratusan macam bahasa, tarian, dan lagu daerah, cerita rakyat, pakaian dan ritual adat dalam satu khasanah kebangsaan, yaitu Bhineka Tunggal Ika.

Keberagaman adalah realitas yang harus diterima oleh rakyat Indonesia sebagai tempaan perjalanan sejarah sampai akhirnya ratusan etnis dari Sabang sampai Merauke bersepakat bersama-sama berjuang mewujudkan sebuah Negara yang merdeka dari belenggu kolonialisme. Kemerdekaan itulah yang menghimpun kebersamaan nasib dan cita-cita sebagai lem kuat yang merekatkan berbagai macam suku, agama, ras dan golongan ke dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun tampaknya, kemerdekaan itu pulalah yang dapat mencerai-beraikan ikatan tersebut. Kemerdekaan yang saat ini banyak dianut oleh generasi sekarang sangat jauh berbeda dengan makna kemerdekaan “jembatan emas” sebagaimana diuraikan oleh Presiden Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945.

Ideologi global rupanya telah membawa dampak perubahan di semua aspek kehidupan manusia, tanpa terkecuali dalam makna Kemerdekaan. Perubahan di semua aspek kehidupan yang menjadi inspirasi global mampu menghilangkan sekat-sekat negara. Didukung oleh kemajuan Iptek, faham perubahan telah menggeser makna kemerdekaan yang seharusnya mengacu pada aspek tanggung jawab menuju pada azasi kebebasan tanpa batas. Dalam teori anthropology kebudayaan, kebebasan sekarang tidak seperti konsep strukturalismeClaude LeviStrauss, yaitu secara warisan keturunan (genetis) setiap manusia memiliki kemampuan menyusun suatu struktur tertentu di hadapan gejala-gejala yang dihadapi. Sebaliknya kebebasan terkini lebih mendekati konsepsi subyektifitas Jean Paul Sartre tentang eksistensi manusia sebagai mahluk yang bebas dan otonom (Yusuf, 2010).

Dalam dimensi perubahan pola fikir masyarakat yang mengglobal tersebut, peran ilmu anthropologi menjadi sangat penting untuk menjelaskan permasalahan dalam integrasi Nasional dan persatuan bangsa Indonesia. Khasanah budaya yang merupakan hasil olah pikir dan karsa manusia merupakan rujukan bernilai guna dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan sila ke tiga dari Pancasila. Karena dalam kebudayaan itulah, manusia dapat menemukan nilai-nilai hakikat kemanusiaan yang sesungguhnya. Di dalam warisan budaya yang menumbuhkembangkan kepribadiannya itulah, manusia Indonesia dipengaruhi oleh pemahaman azas kebebasan tanpa batas yang mengandung banyak potensi negatip untuk memperlemah jati dirinya sebagai suatu bangsa. Dan oleh karena itulah, maka  pihak-pihak tertentu yang berkeinginan melakukan praktek adu domba dapat secara leluasa memainkan perannya dalam kedok nilai-nilai budaya dengan slogan-slogan memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebagaimana terlihat dalam kompleksitas permasalahan bangsa Indonesia saat ini, persoalan demi persoalan selalu memuat wajah-wajah budaya asing yang ingin membenturkan nilai-nilai budaya lokal untuk merangsang tumbuhnya potensi anarkisme antar golongan yang semakin besar serta menurunnya kepercayaan masyarakat pada kebijakan pimpinannya masing-masing. 

Dihadapkan dengan komitmen “NKRI harga mati!”, maka permasalahan yang sebenarnya terjadi di masyarakat Indonesia sekarang ini merupakan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan menguatnya dan menyebarnya prasangka sosial yang dapat menimbulkan keretakan hubungan antar etnis, suku atau golongan (SARA). Dari tinjauan ilmu anthropologi, penguatan dan penyebaran prasangka sosial yang berkembang dalam budaya masyarakat Indonesia merupakan dampak dari keanekaragaman budaya yang mempengaruhi tindakan sosial/perilaku manusia sebagai anggota kelompok masyarakat. Karena secara teoritis, Kebhinekaan Indonesia mengandung arti identitas multikultural yang tetap melekat kuat dan akan tetap ada selama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila tetap eksis. Kenyataan alamiah inilah yang menjadi rujukan naluriah setiap manusia Indonesia, yaitu ikatan emosional yang kuat dengan segala sesuatu yang menjadi simbol identitas dirinya berbeda dengan manusia lainnya[1]. Identitas ini biasanya terkait dengan tanda-tanda yang terberi atau kodrati. Bagi manusia Indonesia ungkapan “Di dadaku Merah putih ! Aku cinta Indonesia !” mengatasi symbol atau pun tanda-tanda primordial seperti suku, ras, adat istiadat, agama dan asal daerah. Namun demikian kondisi ideal tersebut tampaknya sulit terwujud apabila tidak diiringi upaya untuk mengatasi gejala menguatnya prasangka sosial di masyarakat.
  
Beberapa kerangka analisis yang dapat digunakan untuk memahami pengaruh prasangka sosial dalam kemajemukan masyarakat Indonesia terdapat dalam tulisan Rahardjo (2010). Menurutnya, etnosentrisme, stereotip dan prasangka menyebabkan pemahaman yang relatif terbatas tentang pluralitas kultural. Orang secara individual maupun kelompok sering dengan sangat mudah mengekspresikan kendala-kendala dalam komunikasi antarbudaya (intercultural inhibitors), meskipun faktor-faktor penyebab dari konflik tersebut sebenarnya tidak mempunyai kaitan langsung dengan perbedaan-perbedaan latar belakang kultural. Dalam paparan Rahardjo (2010) disebutkan juga pandangan antropolog UI, Parsudi Suparlan (dalam I. Wibowo (ed.), 1999:165), bahwa sentimen etnis dapat diaktifkan untuk menciptakan solidaritas sosial. Kemudian saat terjadi situasi persaingan seperti perebutan sumber-sumber ekonomi dan pengalokasian pendistribusiannya, atau untuk mempertahankan dan memperjuangkan kehormatan etnisnya, sentiment etnis itulah yang dimainkan. Mengacu pada pendapat antropolog Kathryn Robinson (2000) dalam Rahardjo (2010), untuk mengerti kekerasan atau teror kita harus bisa memahami pikiran orang lain, yaitu mengapa mereka benci kepada kita atau karena mereka tidak mengerti.
   
Rangkuman mengenai teori prasangka juga terdapat dalam tulisan Nuraeni dan Faturrohman (2006) dan Maulana, dkk (2010). Feldman (1985); Mar’at (1981), Kimball Young dan Sherif and Sherif memandangnya sebagai sikap dan dugaan-dugaan actorn yang hanya didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok itu sebagai acto khas pertentangan antara kelompok yang ditandai oleh kuatnya ingroup dan outgroup. Pengertian teori prasangka tidak jauh dari pemahaman pelopor teori tersebut, G. Allport (1954) yang menyebutkan, bahwa prasangka adalah antipati berdasarkan generalisasi yang salah atau generalisasi yang tidak luwes, yang dapat dinyatakan dan dirasakan. Antipati bisa muncul pada seseorang secara individual atau pada kelompok. Menurut (David O. Sears, :149), prasangka adalah penilaian terhadap suatu kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok orang itu. Prasangka adalah sikap (biasanya negatif) kepada anggota kelompok tertentu yang semata-mata didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok (Baron & Byrne, 1991). Misalnya karena setiap orang suku Baduy sering bepergian jauh tanpa menggunakan sandal, maka setiap orang yang bertelanjang kaki dianggap memiliki perilaku seperti orang Baduy. Sementara itu, definisi prasangka lebih spesifik diberikan oleh Daft (1999) yakni kecenderungan untuk menilai secara negatif orang yang memiliki perbedaan dari umumnya orang dalam hal seksualitas, ras, etnik, atau yang memiliki kekurangan kemampuan fisik. Soekanto (1993) dalam ‘Kamus Sosiologi’ menyebutkan pula adanya prasangka kelas, yakni sikap-sikap diskriminatif terselubung terhadap gagasan atau perilaku kelas tertentu. Prasangka ini ada pada kelas masyarakat tertentu dan dialamatkan pada kelas masyarakat lain yang ada didalam masyarakat.

Ciri-ciri prasangka sosial menurut Brighman (1991) mempunyai kecenderungan untuk membuat kategori sosial (social categorization) dan dikuatkan oleh pengamat maupun anggota kelompok tersebut. Kategori sosial adalah kecenderungan untuk membagi dunia sosial menjadi dua kelompok, yaitu “kelompok kita” (ingroup) dan “kelompok mereka” (outgroup). Ingroup adalah kelompok sosial di mana individu merasa dirinya dimiliki atau memiliki  (“kelompok kami”). Sementara outgroup adalah grup di luar grup sendiri (“kelompok mereka”). Menurut Winedar (1997) dalam Nuraini dan Faturahman (2006), aspek-aspek prasangka terdiri dari kepribadian, frustasi dan peng”kambinghitam”-an, konflik karena kompetesi, kecemburuan sosial, norma/kultural, penilaian terlalu ekstrim dan menggeneralisir. Sedangkan komponen prasangka menurut Poortinga (1990) dalam Maulana, dkk (2010) terdiri dari tiga faktor utama yakni stereotip, jarak sosial, dan sikap diskriminasi. Ketiga faktor itu tidak terpisahkan dalam prasangka. Stereotip memunculkan prasangka, lalu karena prasangka maka terjadi jarak sosial, dan setiap orang yang berprasangka cenderung melakukan diskriminasi. Sementara itu Sears, Freedman & Peplau (1999) dalam Maulana, dkk (2010) menggolongkan prasangka, stereotip dan diskriminasi sebagai komponen dari antagonisme kelompok, yaitu suatu bentuk oposisi terhadap kelompok lain. Stereotip adalah komponen kognitif dimana kita memiliki keyakinan akan suatu kelompok. Stereotip adalah kombinasi dari ciri-ciri yang paling sering diterapkan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lain, atau oleh seseorang kepada orang lain (Soekanto, 1993).

Secara lebih tegas Matsumoto (1996) mendefinisikan stereotip sebagai generalisasi kesan yang kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian. Stereotip dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui bahasa verbal tanpa pernah adanya kontak dengan tujuan/objek stereotip (Brisslin,1993). Prasangka sebagai komponen afektif dimana kita memiliki perasaan tidak suka. Sedangkan, diskriminasi adalah komponen perilaku, yaitu menerima atau menolak seseorang semata-mata berdasarkan keanggotaannya dalam kelompok (Sears, Freedman & Peplau, 1999). Diskriminasi bisa terjadi tanpa adanya prasangka dan sebaliknya seseorang yang berprasangka juga belum tentu akan mendiskriminasikan (Duffy & Wong, 1996). Akan tetapi selalu terjadi kecenderungan kuat bahwa prasangka melahirkan diskriminasi. Prasangka menjadi sebab diskriminasi manakala digunakan sebagai rasionalisasi diskriminasi. Artinya prasangka yang dimiliki terhadap kelompok tertentu menjadi alasan untuk mendiskriminasikan kelompok tersebut. Menurut Turmono (2007), apabila prasangka telah begitu menguat dan menyebar dalam komunitas masyarakat yang majemuk akan berpengaruh pada pola komunikasi antar-etnik. Efek prasangka menimbulkan ketidaktulusan dalam menjalin interaksi yang dicerminkan oleh konsep mindlessness, yaitu orang yang sangat percaya pada kerangka referensi yang sudah dikenal atau kategori-kategori yang bersifat rutin dan cara-cara melakukan sesuatu yang sudah lazim (Ting-Toomey, 1999 dalam Rahardjo, 2010). Dalam kondisi seperti ini, jalinan komunikasi hanya sekadar untuk berbasa-basi dan tidak menyampaikan pesan yang sebenarnya. Hal ini berarti bahwa seseorang cenderung lebih bersikap reaktif daripada proaktifpada saat seseorang melakukan kontak antarbudaya dengan “orang asing” (stranger). Sehingga individu yang berada dalam keadaan mindless akibat pengaruh prasangka sosial, menjalankan aktivitas komunikasinya seperti “jalan sendiri” yang tidak dilandasi dengan kesadaran dalam berpikir.

Apabila kita perhatikan pendapat Rahardjo (2010), ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain yang dianggapnya berbeda, maka ia akan mengalami kerentanan emosional. Dalam arti, identitas kelompok (seperti misalnya identitas kultural) dan identitas individu (seperti misalnya sifat-sifat kepribadian) akan mempengaruhi cara-cara seseorang dalam mempersepsikan, berpikir dan berperilaku. Perilaku komunikasi yang tanpa kesadaran berfikir (mindless) disebabkan oleh ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) yang dialami oleh seseorang. Rahardjo mengutip Griffin (2000:396-397); Dodd (1998:9) dan Gudykunst & Kim, 1997:14) bahwa ketidakpastian dan kecemasan merupakan faktor-faktor penyebab dari kegagalan komunikasi dalam situasi antarkultural. Hal ini menimbulkan ekspresi dari perilaku yang tidak fungsional sehingga tidak memiliki kepedulian terhadap eksistensi orang lain, ketidaktulusan dalam berkomunikasi dengan orang lain, melakukan penghindaran komunikasi dan cenderung menciptakan permusuhan dengan orang lain (Dodd, 1998:9). Kehidupan bermasyarakat di Indonesia berlangsung unik dan berbeda dengan kelompok masyarakat di belahan bumi manapun. Keragaman yang sangat menonjol dalam proses interaksi timbal balik antara individu satu dengan yang lain menghasilkan khasanah demografis maupun sosiologis bangsa yang majemuk. Ciri khas kemajemukan ini, yang berupa perbedaan bahasa, (etnis) dan keyakinan agama serta kebiasaan-kebiasaan kultural lainnya, pada satu sisi merupakan kekayaan bangsa yang sangat bernilai. Namun pada sisi yang lain keragaman tersebut dapat berubah menjadi pemicu terjadinya disintegrasi atau perpecahan di masyarakat. Meskipun faktor-faktor penyebab dari pertikaian tersebut lebih cenderung pada aspek politik, ketidakadilan sosial dan kesenjangan ekonomi, kondisi budaya masyarakat yang plural ini seringkali dimanipulasi menjadi bahan provokasi konflik suku bangsa, agama, ras dan antargolongan (Rahardjo, 2010 : 12). 

Sebagaimana yang diungkap Koentjaraningrat (1993) dalam Idrus (2007), tidak hanya Indonesia yang memiliki penduduk heterogen karena diantara 175 negara yang tercatat di PBB, hanya 12 negara saja yang memiliki penduduk agak homogen. Dengan komposisi kemasyarakatan satu bangsa yang terjalin oleh kurang lebih 358 suku bangsa dan 200 sub-suku bangsa, bervariasinya etnis dan budaya yang melebur dalam satu wadah negara kesatuan merupakan wujud keinginan membangun bangsa berdasar keanekaragaman (kebhinekaan). Kondisi ini tentunya membutuhkan proses negosiasi diantara kelompok-kelompok yang berkepentingan agar tercapai kesepakatan win-win solution bukannya prasyarat yang mungkin saja merugikan kelompok tertentu namun sisi lainnya menguntungkan kelompok lain. Oleh karena itu proses musyawarah untuk mufakat, rembuk desa dan sejenisnya sebagai wujud peran serta masyarakat dalam memberi konstibusi yang positif kepada Pemerintah adalah sangat menentukan dalam mendinamisasi gerak Pembangunan Nasional di negara ini. Sebagai implikasi dari hal tersebut, pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, dan penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain sangat berpengaruh terhadap setiap hasil kesepakatan yang dicapai dalam proses musyawarah dan mufakat di Indonesia. Menurut pendapat Blum (2001: 16) dalam Idrus (2007), hal ini meliputi penilaian terhadap kebudayaan-kebudayaan orang lain, bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari kebudayaan-kebudayaan tersebut, melainkan mencoba melihat bagaimana kebudayaan tertentu dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-anggotanya sendiri. Penilaian tersebut tentunya bisa menghasilkan persepsi yang bermacam-macam tergantung dari aspek sikap dan perilaku individu sesuai dengan standard atau acuan karakter dalam kelompoknya. Dalam kondisi inilah kemungkinan besar munculnya pertentangan antara prasangka sosial dengan identitas etnik sehingga melahirkan stereotype yang sering terjadi akibat keterbatasan masyarakat Indonesia dalam memahami makna dari kemajemukan budaya bangsa Indonesia.

Berbagai peristiwa kekerasan sosial yang terjadi belakangan ini merupakan indikasi bahwa proses musyawarah mufakat sebagai bentuk negosiasi kepentingan antar warga tidak lagi murni dalam pelaksanaannya. Aplikasi musyawarah untuk mufakat sudah membias jauh, sulit ditempuh dan bahkan cenderung lebih mengedepankan kepentingan sesaat dengan berbagai alibi yang pada akhirnya berpotensi anarkisme golongan. Di sisi lain telah terjadi krisis kepercayaan di masyarakat, sehingga pada penghujung tahun 2011, banyak terjadi unjuk rasa masyarakat yang berkembang dengan tindakan brutal dengan dalih menuntut keadilan dan menentang kebijakan Pimpinan Daerah yang dinilai oleh sebagian pihak seolah-olah tidak memihak kepada kepentingan rakyat kecil/Wong Cilik. Figur aparat dinilai tidak sudi menengahi, akan tetapi cenderung pasang badan untuk membela penguasa dan pengusaha. Dalam kondisi tersebut terlihat bahwa proses musyawarah yang menghasilkan keputusan bersama maupun kebijakan unsur pimpinan maupun ketegasan aparat dalam membuat keputusan yang bersifat netral tidak lagi dapat diterapkan dengan sempurna. Seharusnya keputusan dalam musyawarah dan mufakat harus dapat dijunjung sebagai pertanggungjawaban bersama. Namun tampaknya forum musyawarah dan mufakat berubah menjadi sarana formalitas belaka sehingga sekarang tidak lagi dapat membendung kepentingan etnis tertentu yang bersikukuh untuk mempertahankan budayanya dan upaya-upaya untuk mengisolasi pengaruh budaya lain terhadap kelompoknya. Semakin kompleksnya permasalahan di masyarakat ditambah dengan pengaruh globalisasi mendorong perilaku-perilaku etnosentris semakin tajam.

Di sisi lain, pucuk-pucuk pimpinan masyarakat yang diandalkan untuk dapat berperan sebagai penengah kurang sensitif terhadap aspek-aspek budaya dan cenderung mengelompokkan etnis-etnis tertentu dalam kondisi yang terbelakang (untuk tidak menyebutnya sebagai primitif). Kondisi-kondisi seperti inilah yang tampaknya sedang berkembang di masyarakat Indonesia saat ini, yaitu penguatan dan penyebaran prasangka sosial sebagai akibat pemahaman yang sempit terhadap identitas kultural dalam wujud kebanggaan etnis atau fanatisme agama oleh masing-masing kelompok. Sebagai bagian dari masyarakat majemuk, kondisi seperti ini menunjukkan ketidakmampuan masyarakat dalam menjalankan komunikasi antarbudaya yang efektif. Hubungan yang terjalin kuat selama beberapa dekade sejak jaman revolusi kemerdekaan rupanya tidak menjamin kuatnya ikatan antar manusia yang bertujuan untuk meminimalkan kesalahpahaman budaya. Kondisi keberagaman masyarakat dan budaya di Indonesia seharusnya menumbuhkembangkan kebanggaan nasionalis yang menggambarkan kekayaan potensi sebuah masyarakat yang bertipe pluralis. Namun kondisi sekarang rupanya lebih menguatkan semangat dan ideologi yang etnosentris, yang menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior daripada kelompok etnik atau ras lain (Jones, dalam Liliweri, 2003). Kenyataan seperti ini mencerminkan penguatan prasangka sosial lebih cenderung pada tahap penilaian terhadap stereotype etnik namun dalam lingkup stereotype kebangsaan mengalami pertentangan (paradox). Di satu sisi stereotype terhadap kesukuan seakan mendapat pembenaran, misalnya suku bangsa A cenderung kasar, sedangkan etnis B identik dengan kehalusannya. Sementara itu dalam lingkup yang lebih besar, setereotype tersebut seakan dilemahkan. Manusia Indonesia memiliki gambaran stereotype bangsa yang ramah, terbuka pada siap saja, mudah tersenyum, mudah bergaul dan sebagainya. Namun pada kenyataannya stereotype tersebut tidak berlaku mutlak, bahkan cenderung berbeda 180 derajat seperti yang tercermin dalam vandalisme, kerusuhan, demo anarkis, bom teroris dan aksi-aksi kekerasan sosial yang muncul di tanah air belakangan ini. Pemandangan yang tergambar dari hal tersebut seakan menjelaskan sesuatu yang tidak lagi pas (inkonkurensi) antara pandangan yang terlihat dengan pandangan hidup yang diiinginkan dalam Pancasila sebagai pedoman hidup manusia Indonesia. 

Adanya kesenjangan antara realita kondisi masyarakat yang majemuk dan harapan untuk mewujudkan ke-bhineka-an dalam ke-tunggal ika-an seharusnya dapat dijembatani melalui komunikasi antar-budaya yang kaya toleransi. Semua unsur-unsur budaya akan memberikan makna yang khas bagi budaya tertentu membuka peluang terjadinya perbedaan makna. Bila terjadi perbedaan makna dalam komunikasi antarbudaya, dan perbedaan tersebut dapat diterima oleh masing-masing budaya secara apa adanya, maka komunikasi yang terjadi diharapkan dapat efektif. Tetapi, bila budaya lain dimaknai dari kacamata budaya kelompok tertentu maka efek komunikasi yang diterapkan justru sebaliknya. Hal inilah yang dimaksud dalam Pancasila sebagai nilai-nilai toleransi. Sehingga untuk mengatasi perbedaan makna dalam komunikasi antar budaya diperlukan nilai-nilai yang disepakati bersama. Dalam hal ini, kita harus mengakui kecerdasan pendahulu negeri ini yang telah merumuskan nilai-nilai yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia sebagai pedoman dalam menempatkan jutaan perbedaan makna budaya di negeri ini ke dalam satu konteks budaya nusantara. Sarana yang mengikat nilai-nilai kebangsaan tersebut terwujud dalam simbol-simbol negara berupa dasar negara Pancasila, bendera Merah Putih, bahasa Indonesia, lagu kebangsaan Indonesia Raya, sistem konstitusi UUD 1945 dan pranata-pranata budaya lainnya yang telah kokoh selama enam puluh tujuh tahun menjadi pengikat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Adapun saat ini, nilai-nilai yang termuat dalam Pancasila mendapat tantangan dari berkembangnya nilai-nilai kebebasan pasca reformasi yang dipandang sebagai nilai-nilai universal bagi berkembangnya masyarakat global. Globalisasi yang diiringi kemajuan Iptek dan derasnya arus informasi telah merubah tatanan masyarakat internasional. 

Berdasarkan laporan UNESCO (2011), erosi budaya merupakan masalah yang semakin menjadi sorotan dunia mengingat dampak yang muncul dari berbagai paradigma Barat yang seringkali berlebihan. Di satu sisi globalisasi dipandang sebagai suatu proses multidimensi dan multiarah yang melibatkan aliran segala macam hal (modal, komoditas, informasi, ide, kepercayaan, manusia) yang semakin kencang dan meningkat. Globalisasi juga mengakibatkan pertukaran internasional yang mengarah pada integrasi budaya suatu ‘pembauran kompleks’ identitas-identitas budaya. Namun di sisi lain, berbagai dampak negatif dari dorongan globalisasi terhadap keanekaragaman praktik-praktik budaya tidak dapat diabaikan. Salah satu efek utama dari globalisasi tersebut adalah melemahnya identitas baik secara kedaerahan maupun nasional. Sekarang, kita semakin banyak melihat warga negara Indonesia (WNI) yang memiliki identitas kewarganegaraan lain ataupun sebaliknya warga negara asing yang hidup menetap di negara kita selama bertahun-tahun menjadi WNI. Hal ini menegaskan fenomena yang dimaksud dalam laporan UNESCO bahwa dalam dunia yang semakin global, identitas budaya semakin luwes yang tercermin pada semakin kompleksnya aliran manusia, barang, dan informasi ke berbagai penjuru dunia. Dalam suatu lingkungan multikultur, seperti di negara kita, sekelompok orang akan memilih untuk mengadopsi bentuk identitas tertentu, sekelompok yang lain memilih hidup di dua bentuk identitas, dan sisanya menciptakan identitas campuran. Globalisasi dan teknologi baru telah memperluas ruang lingkup pilihan budaya yang memungkinkan masyarakat minoritas menjadikan diri mereka dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini dapat menjadi prasarana untuk mengembangkan usaha terus-menerus yang diperlukan untuk membatasi stereotip dan prasangka yang sering ditujukan kepada masyarakat tersebut. Oleh karena itu pendidikan merupakan hal yang fundamental untuk mengatasi ketidaktahuan dan ketidakpercayaan yang merupakan sumber konflik manusia. Berhubung prasangka didasarkan antara lain pada ketidaktahuan kita atau prasangka yang salah, memfasilitasi budaya keterbukaan adalah kunci untuk mendorong dialog antarbudaya. Dengan demikian pengembangan kompetensi antarbudaya tidak hanya terbatas di dalam ruang kelas saja melainkan harus dipupuk di lingkungan sekolah secara umum, serta melalui keterlibatan orang tua dan masyarakat setempat.

Sebagai akhir dari tulisan ini, dapat dibuatkesimpulan bahwa fenomena melemahnya forum musyawarah dan mufakat serta meningkatnya kekecewaan masyarakat pada pimpinan daerah diakibatkan oleh Prasangka Sosial yang berlebihan. Penguatan dan penyebaran prasangka sosial tersebut terjadi karena semakin kompleksnya permasalahan dalam masyarakat sehingga tidak lagi sesuai dengan kapasitas forum musyawarah dan mufakat yang menjadi acuan solusi dialogis antar budaya sesuai ajaran Pancasila. Di sisi lain, faktor kepemimpinan yang dipandang mampu menjadi penengah juga semakin kurang sensitif dalam memahami aspek-aspek kemajemukan budaya. Kedua faktor tersebut menyebabkan pemahaman terhadap identitas kultural oleh masing-masing kelompok menjadi sempit. Kebanggaan etnis atau fanatisme agama pada akhirnya menyebabkan komunikasi antar budaya juga tidak efektif sebagai akibat melemahnya pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai toleransi yang dimaksud dalam Pancasila maupun nilai-nilai lain yang merupakan pemersatu keragaman nilai-nilai budaya yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adapun saat ini, nilai-nilai Pancasila juga sedang menghadapi tantangan dari nilai-nilai kebebasan yang terdapat dalam globalisasi. Untuk itu, agar pengaruhnya tidak semakin memperkuat sentimen kedaerahan yang sudah ada, diperlukan upaya untuk memberikan pendidikan kompetensi antar budaya sebagai wahana untuk menghilangkan prasangka dan stereotip di masyarakat. Mengacu pada tugas pemberdayaan wilayah pertahanan matra darat, menguatnya prasangka sosial perlu dipandang sebagai sumber ancaman yang dapat melemahkan ketahanan nasional. Oleh karena itu, semua faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya kondisi tersebut harus dihilangkan. Sehingga untuk itu disarankan agar pelaksanaan tugas binter TNI AD senantiasa diiringi dengan upaya-upaya penanaman nilai-nilai empat pilar kebangsaan yang terangkum dalam Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya dihadapkan dengan tuntutan global yang mempersyaratakan kebutuhan terhadap pendidikan kompetensi antar budaya, disarankan agar nilai-nilai Pancasila dapat dikembangkan secara internasional karena pada prinsipnya telah teruji selama puluhan tahun mengatasi perbedaan budaya dalam kemajemukan masyarakat Indonesia.


Daftar Pustaka

Naskah Departemen tentang Antropologi Budaya untuk Pendidikan Reguler Sekolah Staf Dan Komando TNI AD NO  :    52 – 07 – C1 – I  0101, 2009, Keputusan  Danseskoad Nomor  Kep / 120  / Xii / 2009 Tanggal   31  Desember  2009

Yusuf, Andi, 2010, Claude Lévi-Strauss, http://oechoe.blogspot.com/2010/04/claude-levi-strauss.html

Idrus, Muhammad, S.Psi., M.Pd, 2007, Separatisme Etnis (Bukan Sekadar) Sebuah Wacana, Jakarta Publikasi internet .

Nuraeni dan Faturrohman (2006), Faktor Prasangka Sosial dan Identitas Sosial dalam Perilaku Agresi pada Konflik Warga (Kasus Konflik Warga Bearland dan Warga Palmeriam Matraman Jakarta Timur), Program Studi Psikologi UGM, Jogjakarta.

Faturohman, 2008, Mengelola Prasangka Sosial Dan Stereotipe Etnik-Keagamaan Melalui Psychological And Global Education, Publikasi internet.
Rahardjo, Turnomo (2010) Memahami Kemajemukan Masyarakat Indonesia (Perspektif Komunikasi Antarbudaya). Tesis PhD, Universitas Diponegoro, Semarang.

Taum, Yoseph Yapi, 2006, Masalah-Masalah Sosial dalam Masyarakat Multietnik, Makalah Focus Group Discussion (FGD) “Identifikasi Isu-isu Strategis yang Berkaitan dengan Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa”, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, tanggal 10 Oktober 2006, Yogyakarta

Suparlan, Parsudi, 2000,  Masyarakat Majemuk dan Perawatannya, makalah utama Simposium Internasional Jurnal ANTROPOLOGI INDONESIA ‘Mengawali abad ke-21: Menyongsong Otonomi Daerah, Mengenali Budaya Lokal, Membangun Integrasi Bangsa’, Kampus Universitas Hassanuddin, Makassar, 1-4 Agustus 2000.

Laporan Dunia UNESCO No. 2, 2011, Berinvestasi dalam KeanekaragamanBudaya dan Dialog Antarbudaya, UNESCU publishing, Spanyol <http://www.unesco. org/en/world-reports/cultural-diversity>

Suparlan, Parsudi, 2004, Masyarakat Majemuk, Masyarakat Multikultural, dan Minoritas: Memperjuangakan Hak-hak Minoritas, presentasi dalam Workshop Yayasan Interseksi, Hak-hak Minoritas dalam Landscape Multikultural, Mungkinkah di Indonesia? Wisma PKBI, 10 Agustus 2004, Jakarta.
 http://interseksi.org/publications/essays/articles/masyarakat_majemuk.html#_ftn1
Maulana, Ahmad, dkk, Prasangka & Politik, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung. <http://technurlogy.wordpress.com/2011/01/10/prasang ka-politik/>


[1]http://juliefisipuns.blogspot.com/2011/08/antara-keberagaman-dan-keseragaman_11.html