Harga Sebuah Penyesalan

Pada satu titik waktu dalam kehidupan ini, banyak diantara kita yang akan membuat perubahan besar. Suatu kondisi yang tidak hanya akan menghabiskan banyak uang dan semua sumberdaya yang ada, namun juga akan merugikan mental dan akan menghabiskan banyak energi. Namun demikian setiap perubahan dalam hidup, akan selalu mengajarkan pilihan apakah kita akan membayar untuk harga disiplin atau untuk harga penyesalan.

Kita selalu membayar harga untuk kedua hal ini di semua bidang kehidupan : karir, hubungan, kesehatan, perkembangan spiritual dan urusan keuangan. Namun sayangnya banyak dari kita gagal memahami hukum kehidupan sederhana tersebut.
 
Seumpama Kita tidak bahagia dimana Kita berada, banyak yang Kita lakukan untuk  mengubah situasi yang ada. Karena kita manusia, bukan pohon, bukan benda mati – Kita bisa bergerak. Bahkan jika itu berarti pindah dari satu kota ke kota lainnya, itu adalah hidup Kita dan Kita harus bahagia pada akhirnya. Banyak hal yang mungkin akan Kita temui sedikit sulit di awal kita berpindah dan juga tidak ada yang mengatakan akan mudah.
 
Bagi Kita yang berakal, awal perubahan akan kita sikapi dengan mematuhi hukum yang berlaku untuk semua masalah kehidupan, seperti disiplin, komitmen, kesabaran, integritas, latihan, pengendalian diri, dan fokus. Keseluruhan nilai – nilai tersebut akan membantu kita hidup dengan kebebasan, kedamaian, dan harmoni untuk bersanding dengan keadaan buruk yang membawa rasa sakit hati, kegagalan dan kemalangan saat kita bergerak sepanjang jalan hidup yang kita tempuh. Sebagian besar hal – hal buruk tersebut bisa dihindari (meskipun, tidak semuanya) jika kita mengerti, menerima, dan mengintegrasikan nilai kebenaran sederhana ini ke dalam kehidupan kita.
 
Namun dalam banyak hal, Kita harus mendengarkan naluri lebih banyak lagi ? Karena  ada satu hal yang bahkan lebih buruk daripada semua itu: PENYESALAN.
 
Pendorong utama yang bisa menciptakan penyesalan adalah mimpi dan harapan. Jika Kita memiliki mimpi, naluri kita akan mendorong diri untuk mengejarnya. Karena tidak peduli seberapa banyak Kita mencoba dan gagal akan jauh lebih menyakitkan daripada mengetahui bahwa Kita bahkan tidak mencobanya sekalipun hanya karena seseorang tidak menyukai mimpi Kita. Jika Kita memiliki impian untuk hidup, maka pergilah tanpa perlu memikirkan apa yang orang lain katakan, karena Kita tidak ingin menyesali hal-hal yang bisa Kita lakukan dan peluang yang bisa Kita ambil saat Kita tua !
 
Harga penyesalan yang disebabkan oleh tidak adanya upaya Kita mewujudkan mimpi akan sebanding dengan harga kedisiplinan untuk menjalani proses pencapaian wujud mimpi Kita. Harga kedisiplinan adalah dosis harian untuk berlatih, moderasi dalam urusan hidup, kebiasaan makan, strategi hubungan antar perorangan, seperti komunikasi terbuka dan kejujuran dan, tentu saja, mengelola sumber daya kita dengan bijak. Tidak adanya disiplin kecil sehari-hari ini akan terakumulasi, hari demi hari, dan dari tahun ke tahun sampai Kita mewarisi konsekuensi jangka panjang dari kesalahan sedikit saja yang kita lakukan dalam proses pencapaian sasaran ini.
 
Kita semua memiliki banyak pengalaman pribadi dimana kurangnya disiplin sehari-hari datang pada suatu hari untuk menghantui Kita. Seperti yang tersirat dalam kisah sepasang suami-istri yang sudah dikaruniai seorang anak berumur satu tahun hidup dengan bahagia. Mereka memelihara seekor anjing yang begitu setia.
 
Sejak dari pacaran sampai sudah dikaruniai anak, anjing ini telah menjadi bagian dalam hidup mereka. Sebagai teman bermain, penjaga sekaligus pelindung keluarga. Merekapun sangat menyayangi dan mempercayai anjing ini.
 
Suatu saat kedua suami istri ini keluar rumah dan meninggalkan anak mereka bersama anjing peliharaannya. Namun mereka lupa memberi makan anjing tersebut. Saat pulang, terkejutlah mereka dengan tetesan-tetesan darah yang berserakan dilantai. Kaget, takut, khawatir bercampur aduk dalam benak mereka langsung berlari menuju kamar.
 
Di depan pintu kamar, duduk anjing peliharaan mereka dengan mulut yang masih meneteskan darah segar. Histeris, kedua suami-istri berteriak. Si istri terduduk lemas dengan isak tangis, sedangkan sang suami langsung mengambil kursi yang ada diruangan, dan menghantamkannya bertubi-tubi ke kepala anjing mereka. Si anjing seolah pasrah menerima nasibnya tanpa berusaha menghindar, hingga akhirnya mati.
 
Dengan perasaan hancur dan tangis yang semakin menjadi, kedua suami istri itu pun berpelukan. Dalam hati mereka tidak menyangka telah kehilangan sang buah hati dan anjing peliharaan bersamaan. Dengan langkah lunglai, keduanya memasuki kamar. Dan betapa kagetnya mereka saat melihat anak mereka tertidur pulas diatas ranjang, sedangkan disamping ranjang tergeletak seekor ular yang sudah mati berlumuran darah.
 
Mereka baru sadar, ternyata anjing peliharaan mereka telah melindungi anak mereka dari ancaman si ular. Mereka sangat menyesali perbuatannya tetapi apa mau dikata semua sudah terlambat. Mereka menyesali keterlenaan jiwa mereka dalam memahami isyarat perilaku anjingnya, menyesali kelemahan mereka dalam melatih kepekaan rasa sat memandang pengabdian diri, meskipun hanya seekor makhluk yang derajat akalnya jauh dibawah manusia.
 
Kisah diatas mengingatkan kita tentang pentingnya disiplin yang dibalut naluri dalam pengendalian diri. Kita harus selalu membiasakan untuk tidak ceroboh dalam bertindak karena penyesalan selalu datang terakhir dan biasanya datang terlambat saat semua sudah berakhir. Setiap langkah Kita akan membawa konsekuensi masing-masing yang harus Kita bayar, dengan beberapa cara, cepat atau lambat. Ingatlah, disiplin sehari-hari beratnya hanya beberapa ons dalam “beban hidup”, sementara penyesalan seumur hidup bisa terasa seperti menimbang jutaan ton “Mimpi buruk”.
 
Rasa lelah sampai berkeringat untuk memelihara disiplin dan pengorbanan tidaklah seberapa dibandingkan dengan rasa sakit dan penyesalan karena kelambanan kita merespon situasi dengan benar.
 
Beberapa dari Kita mungkin telah dengan senang hati menemukan pentingnya disiplin untuk menghindari penyesalan yang tidak berkesudahan. Melalui pengalaman dan pembelajaran dalam hidup ini, tidak ada yang kebal terhadap rasa penyesalan. Namun seringkali keangkuhan, ketidaktahuan, atau kombinasi keduanya menjadi alasan pembenar, sehingga Kita benar-benar tidak peduli jika Kita mengklaim salah satu atau keduanya sebagai alasan terjadinya masalah yang Kita hadapi.

Sedalam apa komitmen Kita pada kesejahteraan umat Manusia ?

Tahukah anda pada bulan September 2015, para Pemimpin Dunia telah berkomitmen untuk mencapai Sasaran Global dalam rangka Pembangunan Berkelanjutan. 17 sasaran untuk mencapai 3 hal yang luar biasa dalam 15 tahun ke depan : mengakhiri kemiskinan yang ekstrim, melawan ketidaksetaraan dan ketidakadilan serta memperbaiki perubahan iklim. Untuk mewujudkan Sasaran ini, diperlukan partisipasi semua warga dunia dan mengajarkan generasi muda tentang pentingnya pencapaian tujuan – tujuan tersebut dan mendorong mereka untuk menjadi generasi yang mengubah dunia. Kemudian pada tanggal 20 September 2016 yang lalu, komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam debat tahunan Majelis Umum PBB.


Gambar dan video yang saya kirim ini merupakan salah satu media untuk mengingatkan komitmen tersebut. Diantara ketujuhbelas sasaran yang ada, kemiskinan dan kelaparan merupakan salah satu keadaan yang masih sering kita temui. Saya tidak tahu apakah media ini sebatas pencitraan atau bukan, namun saya yakin peristiwa itu benar – benar merefleksikan realita yang sering kita abaikan. Video dan gambar ini benar – benar mengingatkan Kita untuk selalu bersyukur dan berterimakasih dengan keadaan yang kita terima. Tidak cukup itu, Kita juga harus selalu berfikir untuk mewujudkan rasa syukur tersebut dalam satu tindakan. Meskipun sederhana, saya yakin Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan kesempatan pada kita untuk memberi daripada sekedar melihat dan merasa kasihan. Semoga hari ini saya bisa mengajak diri saya maupun anda untuk berbuat lebih kreatif, inovatif dan solutif. Sekecil apapun itu, selama dilakukan dengan ikhlas saya yakin akan menjadi sesuatu yang besar. Jika mereka yang sangat kekurangan saja mampu memberi, mengapa kita yang berlebih tidak mampu melakukan sesuatu yang lebih baik bagi orang – orang yang sedang ditimpa kemiskinan dan kelaparan ?

Kemiskinan hati maupun harta seringkali timbul dari pemahaman yang kurang menyeluruh tentang makna keadilan. Siapapun kita telah melalui berbagai pengalaman kerja atau hidup bersama dengan anak-anak akan tahu kemampuan mereka untuk mendeteksi ketidakadilan. Anak – anak atau kita sendiri di masa kecil sering mengatakan – “…tapi itu tidak adil..” kemudian membiasakan untuk menahan diri dengan tidak mengatakannya secara berlebihan. Hal ini sebenarnya merupakan salah satu bentuk bakat yang jarang disalurkan yaitu mencari bentuk keadilan dalam diskusi yang produktif dan kritis tentang sifat kesetaraan, apa saja yang termasuk perlakuan yang adil, dan siapa yang akan menentukan standar keadilan tersebut. Saya kira pembelajaran tentang masalah ini akan terus berlanjut sampai akhir masa kita hidup di dunia ini. Namun yang lebih penting adalah bertindak dan beraksi nyata untuk berlaku adil meskipun hanya Tuhan lah Yang Maha Adil terhadap diri kita, keluarga dan lingkungan di sekitar kita. Mulai dengan hal yang sederhana, dengan memberi sesuatu yang kita miliki dan memaafkan kekurangan yang kita miliki. Misalnya memberi senyum dan memaafkan dengan tersenyum.

Masa depan penuh misteri

Semakin maju teknologi, hal – hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya semakin banyak terwujud nyata. Apakah kita tetap akan bertahan dengan mimpi masa lalu yang diwariskan orang tua kita, atau berani membuat mimpi yang sama sekali berbeda ? Pilihan ada di fikiran kita pada saat ini,

apakah akan mencitrakan diri kita di masa depan sebagai penonton, pemilik, pencipta atau penghancur teknologi ? Apa yang sedang Anda fikirkan sekarang, boleh jadi itulah yang akan anda alami di masa depan.

My strength is trust. I know nothing about my fathers, I know nothing about the thousand children that every year spring out of me. I live out the secret of my seed to the very end, and I care for nothing else. I trust that God is in me. I trust that my labor is holy. Out of this trust, I live.



Memandang Kepemimpinan di Era Sinergi

Pemimpin zaman sekarang sejatinya hanya manusia biasa, yang membedakannya dengan umat yang dipimpinnya adalah amanah untuk membawa seluruh umatnya selamat sampai tujuan. Namun siapa yang bisa menjamin setiap manusia bisa selamat 100 persen sampai di tujuan selain Tuhan Yang Maha Kuasa atas kehidupan ini ?

Kesadaran akan jaminan keselamatan hidup di dunia yang tidak seratus persen ini seharusnya ada dalam setiap benak manusia. Termasuk kesadaran para pemimpin, dirinya membawa amanah nasib keselamatan para umatnya, tidak bisa membiarkan dirinya sebagai obyek pengkultusan umatnya demikian juga sebaliknya menjadikan umat sebagai obyek kepemimpinannya. Banyak faktor yang berpengaruh dalam kepemimpinan, dalam menautkan hubungan kausalitas antara keselamatan nasib umat dengan sosok pemimpinnya.

Manusia modern semestinya semakin menyadari bahwasanya antara subyek dengan obyek, metode serta faktor – faktor yang berpengaruh dalam kepemimpinan terdapat hubungan transendental yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesamanya, dan hanya menyembah semata-mata kepada Yang Maha Kuasa. Kesadaran puncak yang menegaskan realita kun fayaa kun, bahwa semua yang terjadi di dunia ini semata-mata atas kehendak-Nya.

Teknologi dan gaya hidup modern mungkin telah menghipnotis kesejatian sebagian besar umat sekarang menjadi terkubur, mati, tidak memiliki kemuliaan, menjadi umat yang ‘ummi’. Terbelenggu oleh taklid dan kultus, sebagan besar umat membiarkan kesadaran dirinya terenggut oleh nafsu yang merasa paling benar karena terbawa perasaan sudah dimenangkan oleh Tuhan. Secara tidak sadar sebagian umat ter”hack” oleh kesemuan yang melenakan akalnya, sebagian besar saraf otaknya berfungsi namun dalam kondisi idle, terlihat ada dalam “task manager” namun menjadi “zonk” ketika dipaksa menampilkan kesejatian.

Karena merasa nyaman dengan sang pemimpin, sebagian besar umat membiarkan alam kesadarannya menuju pemujaan buta, bahkan ikut serta menjadikannya sosok ‘sesembahan’, bersedia melakukan apa saja agar ketokohan sang pemimpin menjadi ‘ma’shum’, tanpa dosa, bahkan mencitrakan ucapannya sebagai ‘wahyu’ atau ‘titah’, yang wajib ditaati agar bisa hidup sukses. Sementara pendapat atau pandangan yang bersifat bantahan atau penolakan dianggap sebagai ‘ra’yu’, meskipun diiringi dalil yang mantiq sekalipun.

Pemashuman atas pemimpin bukan hanya terjadi di kalangan kaum marginal yang membentuk kelompok fanatik, di kalangan kaum mainstream yang terbilang moderat pun terjadi. Saya melihatnya seperti konservatisme dalam kemoderatan, menjadi wahana baru dalam memetakan proses pemashuman yang sekarang terjadi dilingkungan umat saat ini. Betapapun menyimpangnya perilaku para pemimpin, dan betapa dosanya, yang dilakukan para pemimpin, semuanya mereka maklumi. Kadang-kadang para pengikutnya, mengatakan kita belum sampai kepada maqomnya, agar bisa memahami apa yang dilakukan para pemimpin.

Padahal semakin maju peradaban, semestinya umat manusia ini makin faham bahwa Pemimpin adalah manusia biasa yang terus melalui proses pembelajaran. Kapan saja dan dimana saja pemimpin bisa khilaf, namun yakinlah sang pemimpin selalu belajar dan memperbaiki kesalahannya. Di zaman yang semakin modern ini, semestinya para umat menyadari sinergisitas dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Sekarang bukan zamannya lagi mencari-cari sosok pemimpin yang sempurna untuk ditokohkan, kemudian ramai-ramai mencari pembenaran atas ketidaksempurnaan upaya penokohan yang sudah dilakukan. Sudah bukan jamannya kita meletakkan segala kesalahan hanya pada pemimpin sementara umat melenakan dirinya dalam forum debat yang tidak berkesudahan.

Mestinya umat sekarang tidak membiasakan untuk menghabiskan waktu dalam gaya hidup “ayti” (IT) untuk cuci tangan atas segala permasalahan yang ada padahal semestinya bisa menyelami “ayat” untuk senantiasa berpartisipasi saat dibutuhkan : tolong menolong dan gotong royong menjadi fitrah bagi semua umat yang ingin maju dalam peradaban.

Pada hakikatnya kita adalah pemimpin dan menjadi bagian dari kepemimpinan itu sendiri. Semakin dalamnya pengetahuan umat, semestinya makin menyadarkan diri bahwa segala daya dan upaya manusia tidak bisa disandarkan pada satu sosok manusia, tidak bisa menyandarkan semuanya pada sang pemimpin. Semakin terang kesadaran, semestinya menggugah tekad untuk saling bekerjasama dalam memuliakan tujuan hidup bersama. Semakin tercerahkan, semestinya umat makin bersatu dalam kebhinekaan. Semakin faham kebenaran sejati, mestinya makin bersinergi.

Pembelajaran Sosial dalam Pengembangan Kepemimpinan Organisasi

Dalam berorganisasi, Kita melakukan pembelajaran sosial. Kita mengetahui bagaimana orang menerapkan perilaku yang baru dengan meniru model peran orang lain (role model) melalui proses otodidak (belajar mengalami sendiri). Pembelajaran sosial mengacu pada fakta bahwa Kita berperilaku (misalnya memegang senapan, memukul bola tenis, memberikan pidato, menggunakan program komputer) dengan pengamatan dan

imitasi terhadap perilaku orang lain. Hal ini merupakan fungsi dari karakteristik pribadi dan kondisi lingkungan. Menurut Bandura, teori pembelajaran sosial menjelaskan interaksi secara terus-menerus antara berbagai determinan kognitif, perilaku, dan lingkungan. Fungsi kognitif tidak boleh diabaikan dalam menjelaskan, memahami dan memodifikasi perilaku individu.

Teori pembelajaran sosial mengenalkan kita pada konsep belajar mengalami sendiri melalui gambaran perilaku orang lain (modeling), simbolisme dan pengendalian diri. Kita meniru orang tua, teman, pahlawan, guru, pelatih, mentor, dan pemimpin yang Kita hormati karena kita mengidentifikasi nilai – nilai yang persis sama dengan mereka. Kita juga menggunakan simbolisme sebagai panduan bagi perilaku kita. Sebagai contoh, kita memahami dengan baik untuk tidak menarik tuas pegangan exit dalam pesawat karena gambaran mental kita tentang konsekuensi dari tiba-tiba kehilangan tekanan dalam kabin; Kita membayangkan keberhasilan mencapai tujuan pribadi untuk memotivasi diri kita sendiri; dan Kita juga menggunakan pengingat mental untuk mengingat nama-nama teman Kita. Kita juga berusaha untuk mengendalikan diri dengan tidak merokok, tidak makan-minum berlebihan, dan tidak secara fisik mencederai orang – orang yang meremehkan keluarga Kita atau main hakim sendiri terhadap orang – orang yang melanggar aturan dan etos kerja.
Salah satu konsep terpenting dalam teori pembelajaran sosial, adalah konsep self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa seseorang dapat melakukan sesuatu secara memadai dalam situasi tertentu. Self-efficacy memiliki tiga dimensi: yaitu besaran (magnitude), tingkat kesulitan tugas yang dipercaya oleh seseorang bisa dia atasi; kekuatan (strength), mengacu pada keyakinan terhadap besaran (magnitude) dipersepsikan dengan kuat atau lemah; dan keumuman (generality), sejauh mana harapan yang umumnya berlaku dalam setiap situasi. Naluri untuk merasa mampu (sense of capability) – (Dapatkah saya melakukan pekerjaan itu?) – mempengaruhi persepsi, motivasi, dan kinerja. Kita jarang mencoba untuk melakukan pekerjaan atau tugas ketika kita berharap tugas tersebut tidak efektif untuk kita lakukan. Bagaimana Anda ingin menembak musuh dalam pertempuran ? Bagaimana Anda ingin menulis essay seperti yang dibuat oleh teman kita yang baru mendapatkan penghargaan dari Kasad ? Kita cenderung dan sering menghindari orang-orang, aturan dan situasi yang kita rasa kita tidak mampu memenuhi tuntutan kinerja yang kita perlukan.
Penilaian self-efficacy mempengaruhi pilihan kita terhadap tugas, situasi, dan pertemanan, berapa banyak usaha yang akan kita lakukan, dan berapa lama kita akan mencoba berbagai upaya untuk memenuhi tujuan hidup kita. Seberapa keras dan lama seorang peserta didik melalui masa – masa pendidikan atau masa – masa latihan lebih tergantung pada rasa self-efficacydari pada kemampuan yang sebenarnya.
Self-efficacy terkait dengan konsep motivasi lainnya. Menurut Edwin Locke dan rekan sejawatnya, self-efficacy menyediakan mekanisme untuk mengintegrasikan teori belajar dan berbagai pendekatan lainnya untuk mencapai tujuan. Untuk meningkatan motivasi kinerja, diperlukan umpan balik sebagai hal yang penting dalam merumuskan persepsi tentang efikasi yang berinteraksi dengan penetapan tujuan. Self-efficacy juga berhubungan dengan kinerja dalam teori motivasi yang berbasis harapan (expectancy theory).
Salah satu konsep yang memiliki efek potensial dalam self-efficacy adalah efek Pygmalion, yang mengacu pada peningkatan kualitas pembelajaran atau kinerja yang diperoleh dari harapan positif orang lain terhadap keberadaan kita. Artinya, fakta bahwa persepsi orang lain yang percaya kita mampu menampilkan tingkat kinerja yang tinggi dapat mendorong kita untuk menampilkan kinerja yang setara dengan harapan orang – orang tersebut. Banyak ahli percaya bahwa self-efficacybekerja dalam efek Pygmalion melalui pengaruh persuasif dari orang lain yang memiliki harapan positif. Harapan seorang pemimpin tentang kinerja Kita dapat kita pandang sebagai masukan penting untuk membentuk persepsi yang positif dari anggota organisasi untuk memperoleh efikasi yang berkhasiat. Misalnya, jika seorang pimpinan percaya dengan tulus bahwa anggotanya siap dan mampu untuk meraih prestasi (meskipun anggota tersebut tidak begitu yakin), maka harapan untuk sukses ini selalu akan meningkatkan kepercayaan diri anggota bahwa ia sebenarnya akan berhasil untuk melalui tantangan yang dihadapinya. Kekuatan persuasi akan dipengaruhi oleh kredibilitas pemimpin, hubungannya dengan anggota, pengaruhnya dalam organisasi, dan sebagainya. Hal ini juga mungkin berhubungan dengan jenis kelamin sang pemimpin, karena efek Pygmalion banyak ditemukan di antara pemimpin laki-laki daripada kalangan pemimpin perempuan. Namun apa pun definisi dan dampaknya, harapan memainkan peran yang utama dalam mempengaruhi perilaku seseorang dalam berorganisasi.

Diterjemahkan dari Gibson, J.L., et.al, 2012, Organizations: Behavior, Structure, Processes, 14th edition, the McGraw-Hill Companies, Inc. 

Merubah Keyakinan Inti menjadi Kunci Sukses Hidup

Di dunia yang serba tidak pasti ini, banyak orang mencari inspirasi hidup sukses untuk melengkapi keyakinan diri dalam rangka menghadapi masa depannya. Keyakinan merupakan bagian halus yang diam – diam membangun sebuah kepercayaan seperti butiran salju yang bilamana terakumulasi dengan kepercayaan – kepercayaan lainnya membuat bola salju keyakinan yang besar dan kuat. Dalam hidup kita, sebagian besar waktu terpakai oleh pola – pola perilaku yang dipandu oleh keyakinan dalam pekerjaan yang kita lakukan, agama, kesetiaan kepada keluarga, bangsa dan segala macam nilai-nilai lain yang kita yakini. Ketika keyakinan mulai berkuasa dan mengendalikan hidup
kita, maka terjadilah proses auto-pilot yang menyebabkan pola – pola perilaku yang sebagian besar tidak kita rencanakan dan tidak kita sadari. Banyak dari perilaku kekerasan atau kegilaan di dunia ini selalu terkait dengan keyakinan yang fanatik, dipegang teguh tanpa toleransi yang sebenarnya memenjarakan orang-orang yang terjebak dalam keyakinan mereka. Inilah salah satu hal mendasar yang menjadi akar permasalahan dalam sebagian besar kasus – kasus tribalisme, radikalisme, fundamentalisme agama yang terangkum dalam pola fikir konfrontatif dan menyebabkan konflik – konflik dalam interaksi sosial maupun pengertian konsep diri.

Dalam aspek keyakinan ini, banyak diantara kita yang telah kehilangan pandangan terhadap dua hal. Pertama, diri kita tercipta untuk mengendalikan keyakinan yang kita miliki, bukan sebaliknya. Kedua, ada tombol saklar dalam diri kita yang dapat menciptakan keyakinan baru untuk menciptakan realitas yang baru pula pada saat yang bersamaan. Kuasa untuk mengendalikan dan saklar diri itulah yang akan membentuk konsep diri yang dapat menjelaskan alasan suatu kasus ketika musuh berubah menjadi sekutu, ketika frustrasi berubah menjadi kesenangan, ketika korban menjadi penguasa yang arogan. Saat itu merupakan penanda aktivasi saklar diri dan terjadinya pergeseran realitas.

Keyakinan yang paling kuat adalah segala sesuatu yang saya sebut keyakinan inti, karena hal tersebut memberitahu kita tentang siapa Diri Kita. Jika seseorang sangat percaya “Aku sukses” dan orang lain percaya “Saya dicintai,” buah dari keyakinan inti ini akan sangat berbeda. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk memegang keyakinan inti yang positif dan mengaktifkannya dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani. Semakin Kita mengaktifkan keyakinan inti, realitas kehidupan yang kita jalani menjadi lebih dinamis dan mudah beradaptasi.

Ada empat keyakinan inti yang membuat perbedaan besar bagi seseorang ketika merumuskan konsep dirinya:

Cinta
Harga Diri
Merasa aman dan selamat
Merasa Utuh

Apapun prinsip hidup yang dimiliki setiap orang, selalu ada keyakinan tentang keempat hal ini dalam hatinya, dan keyakinan ini tidak selalu sederhana. Seluruh hidup Kita telah membentuk keyakinan inti yang masih Kita pegang teguh sampai dengan saat ini, sementara pada saat yang sama keyakinan inti telah membentuk seluruh hidup yang Kita jalani. Dari satu contoh tentang aspek cinta saja, ada banyak keyakinan inti yang mungkin dikembangkan seseorang dalam hidupnya, secara positif maupun negatif.

Keyakinan negatif:
Cinta hanya melemahkan saya.
Tidak ada Cinta yang tulus.
Cinta hanyalah awal dari kebencian.
Tidak ada seorang pun yang mencintai saya.
Cinta itu egois, hanya pembungkus nafsu belaka
Jatuh cinta adalah khayalan, semacam kegilaan romantis.

Keyakinan positif:
Cinta menjadi sumber kekuatan saya.
Cinta itu tanpa pamrih layak dan saya juga ingin memberinya tanpa syarat.
Cinta adalah abadi dan benar – benar melenyapkan kebencian
Banyak orang yang mencintai saya
Kesadaran itu sendiri mengandung kekuatan cinta.
Manusia mampu memiliki cinta sejati menuju derajat yang lebih tinggi.

Sebagaimana yang Kita lihat, seseorang yang memegang nilai keyakinan cinta pada contoh yang kedua akan lebih bahagia dan lebih puas daripada seseorang yang memegang contoh nilai – nilai yang pertama. Bilamana Kita diberikan pilihan dari dua perangkat nilai tersebut, kebanyakan orang yang membaca kata-kata inspiratif tentang cinta akan memiliki respon yang berbeda, “ya, indah juga” atau “kata-katanya bagus juga”. Kehidupan pribadi mereka telah membawa fikirannya dalam mind set yang terbentuk dari campuran pengalaman tentang cinta, tidak semuanya positif atau negatif. Namun, keyakinan inti tentang cinta ini bukanlah sebuah kotak pendapat, yang bisa Kita ambil keluar dari dalam diri kita kemudian memeriksa kesesuaiannya jika Kita punya waktu untuk membongkarnya. Perangkat keyakinan inti merupakan sebuah microchip yang dibenamkan dalam lapisan syaraf – syaraf otak yang merangsang fikiran kita. Dalam microchip inilah terdapat kode – kode untuk mengaktifkan pola fikir melalui pesan – pesan dari alam bawah sadar.

Pesan – pesan yang dipancarkan oleh microchip ini tidak akan berubah kecuali jika Kita membawa kesadaran diri untuk mengubahnya. Layaknya sebuah program auto pilot, microchip ini dibiarkan sendiri, melakukan tugas mekanis yang sama berulang-ulang. Oleh karena itu, bilamana seorang gadis muda percaya “Aku tidak layak dicintai” dirinya akan tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang berpikir dalam keyakinan yang sama, karena di tahun-tahun pengembaraan hidupnya, microchip ini selalu berbunyi, mengirimkan pesan yang sama, dan akhirnya pribadi gadis tersebut dalam kenyataannya akan sesuai dengan keyakinan negatif, yang dalam hal ini adalah tentang harga diri serta cinta.

Jika Kita ingin merubah hidup di lapisan keyakinan inti yang paling mendalam, kesadaran adalah saudara Kita yang paling dekat. Salah satu cara yang berguna untuk mulai mengubah keyakinan inti yaitu dengan memvisualisasikannya dalam tulisan. Bayangkan salah satu dari empat aspek keyakinan inti: cinta, harga diri, merasa selamat dan aman serta merasa utuh. Duduklah dengan selembar kertas dan buatlah dua judul, “keyakinan positif saya” dan “keyakinan negatif saya.” Tuliskan dalam daftar semua keyakinan yang Kita pegang di sekitar topik yang satu ini, seperti cinta. Jangan membatasi diri. Tuliskan semua keyakinan yang datang ke pikiran Kita.

Satu waktu, kembali ke daftar yang Kita buat, setidaknya dua kali di minggu berikutnya. Tambahkan ke sisi negatif dan positif tentang gagasan – gagasan yang terus Kita fikirkan – Kita akan menemukan bahwa kepercayaan yang lebih dalam akan mengambil waktu lebih banyak untuk muncul ke permukaan. Saat daftar Kita selesai, duduk kembali dan nilailah daftar yang Kita buat. Dari setiap gagasan yang Kita percayai, nilailah masing-masing keyakinan dengan tanda : K = keyakinan yang kuat, L = keyakinan yang lemah R = keyakinan yang tidak pasti atau tidak yakin. Langkah – langkah ini merupakan isyarat bahwa Kita sedang memetakan wilayah dari sistem kepercayaan inti, yang sangat berguna bagi diri Kita. Karena hal ini merupakan komunikasi pribadi Kita dengan diri sendiri, jangan malu untuk meletakkan keyakinan yang Kita anggap salah atau tidak dapat diterima – ini adalah waktu Kita untuk mengambil alih kendali atas semua keyakinan Kita.

Tahap berikutnya, sekaranglah saat untuk memulai untuk mendorong perubahan. Ambil satu keyakinan negatif yang kuat dan satu keyakinan positif yang kuat. Sebagai contoh, keyakinan negatif yang mungkin “Aku hanya akan mendapatkan cinta dari beberapa orang” dan keyakinan positif “Cinta mampu menyembuhkan.” Tugas Kita adalah untuk mengurangi keyakinan negatif dan memperkuat keyakinan positif. Langkah ini semacam pelatihan otak, dimana Kita berada dalam jalur baru dari pikiran dan perasaan yang terdalam. Jadi dalam kasus dua keyakinan ini, langkah-langkah apa yang dapat Kita ambil?

“Saya hanya akan mendapatkan cinta dari beberapa orang”

Untuk meminimalkan keyakinan ini, Kita perlu merasa lebih aman tentang cinta di luar lingkaran erat keluarga dan teman-teman Kita. Katakan pada diri sendiri bahwa ini adalah mungkin. Hanya karena beberapa orang mencintaimu sekarang bukan berarti bahwa tidak akan lebih banyak orang yang hanya mencintai Kita jika Kita memberikan cinta pada mereka. Mulai dari tempat – tempat yang Kita rasa aman, seperti bekerja di tempat penampungan atau membantu anak-anak kurang mampu – suatu kegiatan dimana Kita dapat melihat ekspresi cinta, yaitu tanggapan yang segera dari apresiasi dan rasa syukur. Secara umum, berkumpullah bersama orang-orang yang mencintai – mereka ada di sekitar Kita. Mereka mungkin sangat mencintai pekerjaan mereka, misi mereka, visi hidup mereka, berinteraksi dengan orang lain atau menikmati keindahan alam. Ada cara yang tak terbatas bagi cinta untuk mengekspresikan dirinya sendiri, dan ketika Kita terlibat dengan mereka, Kita menjadi bagian dari cinta ini.

“Cinta mampu menyembuhkan”

Untuk mengaktifkan keyakinan ini dan membuatnya berkembang, ada dua arah yang bisa kita lalui : menyembuhkan diri sendiri atau menyembuhkan orang lain. Masing – masing arah saling terhubung, dan sangatlah bagus bagi Kita untuk berfokus pada kedua arah tersebut pada saat Kita tumbuh dan berkembang. Namun perlu kita sadari bahwa Kita hanya bisa memberikan cinta yang Kita rasakan, sehingga sebagian besar orang akan mengarahkan fokus awalnya pada penyembuhan diri. Proyek ini dimulai dengan perawatan diri, mengungkapkan cinta untuk diri sendiri dengan mengadopsi pilihan gaya hidup – diet, olahraga, pola tidur dan manajemen stres – yang meningkatkan rasa sejahtera dalam keberadaan diri Kita. Segala sesuatu yang Kita lakukan untuk merawat tubuh dan pikiran adalah bentuk penyembuhan diri berdasarkan gagasan mencintai diri sendiri. Berikutnya kasih sayang datang sendiri, yang berarti menjadi lebih baik dan lebih pemaaf bagi diri sendiri. Kemudian akan datang pemurnian diri, yaitu proses membersihkan residu beracun dari masa lalu, luka lama, kenangan buruk dan penghibur diri yang telah usang. Akhirnya datanglah persekutuan dengan diri yang lebih tinggi dari Kita, yang selalu menjadi sumber penyembuhan dan cinta pada saat yang sama.

Dalam tulisan ini, Kita hanya melihat dua keping kepercayaan dari sekian banyak keyakinan yang Kita miliki, namun proses yang kita ikuti untuk merubahnya secara umum adalah sama untuk setiap perubahan keyakinan yang Kita inginkan, positif atau negatif. Secara sadar Kita mengurangi input negatif dan secara sadar pula Kita meningkatkan masukan yang positif. Menyusun program dalam proses ini akan menjamin hidup Kita selalu dinamis, karena tidak ada yang menciptakan perubahan dan transformasi selain memperoleh kendali atas keyakinan inti yang ada pada lapisan terdalam diri Kita. Ketika mereka berkembang, begitu juga Kita, bergerak maju pada perjalanan yang tak pernah berakhir yang didasarkan pada keyakinan terdalam tentang siapa diri Kita yang sebenarnya.

Diterjemahkan secara bebas dari Deepak Chopra, MD. https://www.linkedin.com/pulse/your-beliefs-can-change-life-deepak-chopra-md-official-

Hikmah


Sering kita mendengar kata Hikmah, namun belum faham akan artinya. Kata Hikmah berasal dari bahasa Arab yang bermakna kebijaksanaan. Dalam filsafat Islam, Hikma (حكمة), meliputi cahaya pandangan hidup mengenai alam semesta, etika, masyarakat, dan sebagainya. Dalam Islam,


Allah SWT dipandang sebagai Maha Bijaksana (Qur’an 45:37) demikian juga para utusan-nya selalu diberi kitab suci dan kebijaksanaan oleh-Nya (QS. 2:129). Umat muslim mempercayai bahwa mereka yang menolak iman kepada Allah sama artinya menolak hikmat yang dapat diumpamakan seperti kambing ternak yang tidak mendengarkan apa-apa kecuali panggilan dan teriakan: tuli, bisu, dan buta.” (QS. 2:171).


Hikmah memiliki beberapa arti sebagai berikut:
“Hikmah adalah untuk mengetahui yang terbaik dari hal-hal dengan cara yang terbaik dari ilmu. Dan orang yang unggul dalam pengetahuan tentang rincian berbagai hal tersebut sebagai orang yang hakim. “[1]


“Salah satu muhakkam adalah orang tua dengan pengalaman, dan orang seperti itu dianggap bahwa Hikmah berasal dari dia.” [2]



“Hikmah adalah keadilan dalam menilai, dan hal itu adalah pengetahuan tentang realitas benda-benda menurut bagaimana mereka yang sebenarnya, dan juga digambarkan sebagai kekuatan mapan logika yang berbasis pada pengetahuan. Hal ini telah juga didefinisikan sebagai upaya untuk mencapai kebenaran dengan pengetahuan dan tindakan … dan ketika dikatakan ‘ahkamahu,’ ini berarti bahwa seseorang telah dicegah dari melakukan kejahatan. “[3]



“Sebuah hikmah adalah pelana perak yang karena beratnya digunakan untuk turun naik binatang, dan karena merendahkannya bagi orang yang akan naik, mencegah hewan menjadi liar, dll” [4]



“Ini adalah sesuatu yang mencegah kebodohan.” [5]


‘Abd ar-Rahman as-Sa’di berkata: “Hikmah terdiri dari ilmu-ilmu bermanfaat, pengetahuan tentang fakta-fakta yang benar, logika perusahaan, gabungan semangat, dan menjadi akurat dalam ucapan dan tindakan. Dan semua urusan ini tidak segera dikoreksi kecuali dengan hikmah, yaitu untuk meletakkan segala sesuatu di tempat yang tepat, menempatkan mereka status yang tepat, yang akan datang kapan saat yang tepat untuk melakukannya, dan menahan diri ketika tepat untuk melakukannya. ” [6]



Ar-Razi mengatakan: “. Yang dimaksud dengan hikmah adalah pengetahuan yang baik, atau melakukan apa yang benar” [7]



Ibnu ‘Asyur mengatakan: “Hikmah telah dijelaskan dengan mengetahui hal-hal apa yang sebenarnya, sebanyak mungkin. Dengan kata lain, hal ini adalah bahwa orang menjadi tidak bingung dengan berbagai kemungkinan yang diragukan karena dicampur bersama, dan tidak salah, mengapa hal-hal tertentu telah terjadi. “[8]



Sayyid Qutb mengatakan: “Ini adalah akurasi dan keadilan, dan realisasi alasan dan tujuan, dan meringankan wawasan yang memandu satu dengan yang benar dan akurat dalam gerakan dan tindakannya.” [9]



Ibnu Hajar mengatakan, dalam hal hadits Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ya Allah!” “Yang Mengajarinya Hikmah itu! ” :” Dan ada perbedaan pendapat dalam hal makna hikmah di sini. Jadi, dikatakan bahwa hal itu adalah: kebenaran dalam sabda, pemahaman Allah, bahwa kebenaran yang dikonfirmasi oleh logika, cahaya yang membedakan antara inspirasi dan bisikan jahat, kecepatan dalam menjawab dengan benar, dan beberapa dari mereka menjelaskan hikmah dalm hal ini berarti Qur’an “[‘Fath al-Bari’, 7/100].


Ibnul Qayyim berkata: “Yang terbaik yang telah dikatakan tentang hikmah adalah hal yang dikatakan oleh Mujahid dan Malik:” Pengetahuan tentang kebenaran, bertindak atasnya, kebenaran dalam ucapan dan tindakan, “dan ini adalah mustahil untuk mencapai kecuali dengan memahami Al Qur’an, dan memiliki fiqh dalam hukum Islam serta realitas iman. “[10]



Dia, Ibnul Qayyim juga mengatakan: “. Hikmah adalah melakukan sesuatu yang perlu dilakukan, dengan cara tertentu yang mana hal itu perlu dilakukan dan pada saat di mana hal itu perlu dilakukan” [11]



Dia juga membaginya menjadi dua kategori hikmah dan terdiri dari tiga tingkat:



“Hikmah ada dua jenis: yang berkaitan dengan pengetahuan, dan yang berhubungan dengan tindakan. Jadi, hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan adalah untuk mewujudkan esensi dari  semua hal, dan untuk memahami hubungan antara sebab dan akibat – dalam hal Penciptaan, terjadinya peristiwa, nasib, dan legislasi. Adapun hikmah berbasis tindakan, hal itu adalah untuk meletakkan segala sesuatu di tempat yang tepat.”



Adapun tiga tingkatan hikmah yaitu:



1) bahwa Anda memberikan segalanya dengan benar dan tidak melebihi batas dalam hal ini, dan bahwa Anda tidak terburu-buru sebelum atau menunda melewati waktu yang tepat;



2) bahwa Anda menyadari maksud Allah dalam janji-Nya, menyadri prewujudan Keadilan-Nya dalam Keputusan-Nya, serta kasih karunia-Nya dalam mencegah Anda dari sesuatu. Dan dari hal tersebut yang mendefinisikan tingkat ini adalah sebagaimana yang telah dikatakan oleh orang-orang berpendirian dan ahli Sunnah: ‘Hikmah terdiri dari tujuan mulia dan terpuji yang diharuskan oleh Penciptaan-Nya dan Perintah-Nya, demi sesuatu yang Dia Diperintahkan, dan demi sesuatu yang Dia Ditakdirkan;



3) bahwa Anda mencapai tingkat tertinggi dalam pengetahuan ketika membuat deduksi dan menuju pada kesimpulan, dan itu adalah wawasan, pengetahuan yang terdapat dalam hati seperti sesuatu yang sedang ditatap oleh mata yang melihat hal tersebut (yaitu, ketika kita meyakini bahwa sebuah organ berfungsi dengan baik). Dan hal ini adalah tingkat eksklusif yang telah disediakan bagi para Sahabat atas umat yang tersisa, dan merupakan tingkat tertinggi yang dapat dicapai oleh para ulama. “[12]


Diterjemahkan dari http://en.wikipedia.org/wiki/Hikmah

Catatan kaki

[1]         Ibnu Mandhur. Lisan al-‘Arab. hlm 15/30.
[2]         Al-Asma’i. as-Shihah. hlm 5/1901.
[3]         Taj al-‘Arus’. hlm 8/353.
[4]         Al-Misbah al-Munir. hlm 1/200.
[5]         Ibnu Faris itu. Mu’jam al-Lughah Maqayis. hlm 2/91.
[6]         Taysir Al-Karim ar-Rahman. hlm 1/233.
[7]         Tafsir ar-Razi. hlm 7/67.
[8]         At-Tahrir wat Tanwir-. hlm 3/61].
[9]         Fi Dhilal al-Qur’an. hlm 1/312.
[10]      At-Tafsir al-Qayyim. p. 226.
[11]      Madarij as-Salikin. hlm 2/479.
[12]      Madarij as-Salikin. hlm 2/478.

Mengenal Sajian Teh

Kita biasanya meminum teh dengan menyeduh daun Camellia sintesis dalam air. Camellia sinensis, spesies tanaman yang daun dan pucuk daunnya digunakan untuk membuat teh,termasuk genus Camellia (Hanzi tradisional: 茶花; bahasa Tionghoa: 茶花; Pinyin: Cháhuā), suatu genus tumbuhan berbunga dari famili Theaceae. Semua jenis teh,

baik teh putih, teh hijau, oolongdan teh hitam, didapat dari spesies ini, namun diproses secara berbeda untuk memperoleh tingkat oksidasi yang berbeda. Kukicha (teh ranting) juga dipanen dari Camellia sinensis, namun tidak memakai daun melainkan ranting. Teh merupakan minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok: teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih. Istilah “teh” juga digunakan untuk minuman yang dibuat dari buah, rempah-rempah atau tanaman obat lain yang diseduh, misalnya, teh rosehip, camomile, krisan dan Jiaogulan. Teh yang tidak mengandung daun teh disebut teh herbal. Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidandengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri saat meminumnya.

Warga China telah mengenal dan mengkonsumsi minuman teh selama 3.000 tahun karena tanaman ini berasal dari daratan Asia. Meski saat ini teh telah dikonsumsi oleh banyak orang di seluruh dunia, namun ada beberapa hal yang mungkin perlu Anda ketahui tentang teh. Seperti dilansir oleh Shine! (13/02), terdapat beberapa hal-hal yang mungkin tidak Anda ketahui selama ini mengenai teh.
1. Semua teh berasal dari satu tanaman. Teh putih, hijau, atau hitam sebenarnya berasal dari satu tanaman, yaitu Camellia sinesis. Yang berbeda adalah masa pengambilan daun teh, disesuaikan dengan jenis teh yang diinginkan. Teh putih, hijau, atau hitam bergantung pada seberapa lama daun teh diproses dan dioksidasi. Sementara itu, teh herbal yang terbuat dari chamomile atau mint merupakan kategori yang berbeda. Begitu juga dengan teh merah yang tak terbuat dari teh, melainkan tanaman lain dari Afrika Selatan.

2. Minuman terpopuler kedua di dunia. Teh adalah jenis minuman terpopuler kedua yang dikonsumsi oleh penduduk dunia. Minuman populer pertama adalah air. Dan, teh bahkan mengalahkan kopi untuk urusan popularitas.

3. Beda teh, beda waktu penyeduhan. Setiap jenis teh membutuhkan waktu perendaman dan temperatur yang berbeda agar terasa sempurna. Misalkan teh putih harus direndam selama dua sampai tiga menit dalam air bersuhu 180 derajat. Sementara teh hijau harus direndam selama tiga menit pada suhu yang lebih panas. Sementara itu teh herbal, teh hitam, dan teh merah akan terasa sangat nikmat ketika direndam selama lima sampai tujuh menit dalam air yang hampir mendidih.

4. Teh memiliki manfaat kesehatan luar biasa. Mengonsumsi dua cangkir teh setiap hari menurunkan risiko serangan jantung dan stroke. Ditambah lagi, penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi dua cangkir teh setiap hari bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh, melawan kanker, dan melindungi enamel gigi, serta melawan penurunan kekuatan ingatan ketika Anda semakin menua. Teh hijau memiliki kandungan antioksidan yang meningkatkan tekstur kulit dan mencegah kerutan.

Di sisi lain, anda juga harus hati-hati saat mengkonsumsi teh. Selain mengandung kafein, dan teh sekarang banyak dikemas dalam bentuk teh celup. Teh celup sebaiknya tidak dicelupkan terlalu lama karena adanya kandungan zat klorin dalam kantong kertas teh celup. Ini berlaku untuk semua teh, berwarna maupun teh hijau. Zat ini fungsinya untuk disinfektan kertas sehingga kertas akan terbebas dari bakteri pembusuk dan tahan lama. Kertas dengan klorin tampak lebih bersih. Karena disinfektan, klorin dalam jumlah besar tentu berbahaya. Tak jauh beda dari racun serangga. Banyak penelitian mencurigai kaitan antara asupan klorin dalam tubuh manusia dengan kemandulan pada pria, bayi lahir cacat, mental terbelakang dan kanker. Sehingga dianjurkan jangan mencelupkan teh celup dalam waktu lama.

Jika mencelup kantong teh lebih dari 3 – 5 menit, klorin akan ikut larut dalam teh. Dan banyak khasiat teh yang tertinggal dalam minuman teh. Agar terhindar dari kemungkinan – kemungkinan penyakit, sebaiknya jangan mencelup kantong teh lebih dari 3 menit. Kasus teh celup yang merenggut korban masih simpang siur kejelasan penyebabnya. Salah seorang karyawati pabrik sosis yang turut menjadi korban teh maut itu membantah  teh tersebut beracun. Ia mengaku dirinya minum teh kadaluwarsa. Kasus teh celup yang memakan korban menjadi perhatian masyarakat. Sebab, teh merupakan minuman yang dikonsumsi tiap hari. Teh juga disuguhkan sebagai minuman saat tamu bertandang. Terlepas dari kasus teh celup maut tersebut, bagaimana sebaiknya  mengonsumsi teh agar bermanfaat?


Dari hasil penelitian salah seorang lulusan Teknologi Pertanian Unud Anju Aprianto Aritonang, teh mengandung antioksidan, khususnya teh hijau. Mahasiswa angkatan tahun 2006 ini khusus meneliti teh hijau celup. Kandungan antioksidannya lebih tinggi dibanding teh hitam. Teh hijau mengandung antioksidan 2-4 %. Adapun antioksidan yang dimaksud adalah catechin, yang mengais radikal bebas yang dapat merusak DNA dan berkontribusi antara lain terhadap kanker dan atherosclerosis—plak yang terbentuk dalam arteri. Dr. David B. Samadi, Wakil Ketua Departemen Urologi dan Kepala Robotika dan Bedah Invasif Minimal di Mount Sinai School of Medicine di New York City, Amerika Serikat, menulis di FoxNews.com, Rabu (7/11),  bahwa catechin mengandung epigallocatechin-3-gallate (EGCG) yang unik dan melimpah dalam teh hijau sebagai hasil dari pengolahan minimal untuk menghasilkan teh tersebut.


Studi laboratorium menunjukkan EGCG dan beberapa catechin lain dapat lebih kuat daripada vitamin C dan E dalam menghentikan kerusakan oksidatif pada sel-sel dan berpotensi memiliki kemampuan untuk melawan penyakit lain. Selain itu, diperkirakan EGCG memainkan peran penting dalam menghambat sintesis DNA dan replikasi sel, yang sama-sama untuk kelangsungan hidup sel-sel kanker. Untuk alasan tersebut, penelitian telah menunjukkan hubungan antara konsumsi teh hijau dan penurunan risiko untuk hiperlipidemia—penyakit akibat kadar lemak tingkat tinggi dalam darah–, hipertensi, atherosclerosis, Parkinson, dan beberapa kanker, termasuk kulit, payudara, paru-paru, kolorektal, lambung, kerongkongan, dan prostat.

Sebagian besar dari penelitian tersebut, menurut Dr Samadi, telah dilakukan pada tikus besar atau tikus kecil, sehingga sulit untuk menerapkan kesimpulan pada manusia. Hanya beberapa studi observasional telah dilakukan pada manusia, yang sering mencuatkan bukti yang bertentangan. Sebagian besar inkonsistensi tadi mungkin lantaran variasi dalam persiapan teh, konsumsi, faktor gaya hidup lain, dan genetika. Selain itu, sebagian besar penelitian ini dilakukan pada populasi Asia yang menjadikan teh sebagai minuman pokok. Pengganggu hubungan ini lebih merupakan kebiasaan diet lain, seperti konsumsi daging protein tinggi sehingga sulit untuk menjelaskan manfaat langsung dari konsumsi teh hijau. Dr Samadi juga mengingatkan bahwa teh hijau bukanlah obat mujarab. “Tidak ada pengganti untuk diet sehat, aktivitas fisik, dan pemeriksaan kondisi kesehatan yang memadai,” kata dia. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, dia menambahkan, pastikan Anda hanya mencelupkan kantong teh atau menyeduh daun teh selama tiga sampai lima menit. Minumlah cukup sekitar tiga cangkir setiap hari.


Yang tak kalah penting, menurut Dr. Samadi, catechins dalam teh hijau seduh lebih melimpah dibandingkan dari teh instan, teh botol, atau teh tanpa kafein. Juga, teh hijau terbukti mengganggu penyerapan zat besi, terutama dari sumber buah dan sayuran. Tapi, menambahkan lemon atau susu pada teh di antara makanan akan membantu mengatasi masalah ini.


“Walaupun antioksidan hanya dibutuhkan sedikit dalam tubuh, namun fungsinya sangat penting. Antioksidan  menangkal radikal bebas dalam tubuh dan ampuh mencegah tumbuhnya sel kanker. Radikal bebas dalam tubuh disebabkan  polusi lingkungan dan makanan yang dikonsumsi tercemar,” kata pengajar Teknologi Pertanian Unud Ir. Luh Putu Wrasiati, M.P. Menurutnya, selain teh yang berasal dari daun teh camellia sinensis, sekarang banyak juga beredar teh herbal untuk kesehatan dari akar, bunga, atau batang seperti teh benalu, rosella, dan krisan. “Aktivitas antioksidan teh herbal ini juga tinggi. Teh herbal banyak digunakan di rumah kecantikan. Antioksidan tidak saja bekerja saat diminum tetapi bekerja juga lewat kulit,” papar perempuan yang kini sedang menempuh studi program S3 Ilmu Kedokteran konsentrasi Biomedis ini.

Hal senada juga diungkapkan dokter spesialis penyakit dalam Prof. Nyoman Dwi Sutanegara. Menurutnya, antioksidan merupakan bahan yang dapat menetralisir kelebihan elektron-elektron radikal bebas. Radikal bebas ini muncul pada orang tua atau pasien diabetes dan hipertensi. “Belakangan ini diketahui, radikal bebas ikut berperan dalam munculnya proses degenerasi khususnya terjadi di pembuluh darah sehingga muncul serangan jantung dan stroke,” kata Prof. Dwi. Antisipasinya, dengan  memberikan obat-obatan yang melawan radikal bebas yakni antioksidan. Teh salah satunya yang mengandung antioksidan flavonoid, khususnya teh hijau. Jika dikonsumsi jangka panjang memberi pengaruh positif menangkal radikal bebas.


Menurut Guru Besar FK Unud ini, teh berasal dari tanaman, sehingga penyimpanannya harus bersih dan kering agar tidak ditumbuhi jamur. “Kalau sudah kadaluwarsa dan terkontaminasi jamur sebaiknya jangan dikonsumsi. Untuk mengetahui ada tidaknya jamur, perlu dicek ke laboratorium,” ujarnya.


Teh berjamur dapat mengakibatkan gangguan kesehatan seperti keracunan. Muncul diare dan muntah dalam kurun waktu 1- 2 jam setelah mengonsumsinya. Perut mulas,  muntah-muntah, badan meriang, dan diare akibat tubuh bereaksi menolak masuknya zat asing. Jika gejalanya sangat hebat, cairan tubuh banyak yang hilang. Komposisi tubuh anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Sebanyak 50% lebih tubuh anak mengandung cairan. “Jika cairan hilang,  dapat mengakibatkan dehidrasi. Terlambat penanganan, organ tubuh bermasalah, gagal ginjal, jantung tidak berfungsi, bahkan mengakibatkan kematian,” paparnya. Kalau diduga masih tersisa racun di saluran cerna, racun harus segera  dikeluarkan dengan cuci lambung atau kumbah lambung. Akibat kehilangan cairan ini, tubuh  harus diinfus. Kekurangan cairan berperan besar  terjadinya kematian. Sebagian besar kematian karena keracunan akibat dehidrasi.

Ia mengatakan ada racun tertentu memengaruhi sel darah merah. Wajah menjadi biru terutama di bibir, lidah, dan di telapak tangan, serta di bawah kuku. Jika keracunan makanan, dapat dipastikan dari muntah dan diare. Tubuh memiliki pertahanan sendiri  dari serangan berbagai zat negatif.  Lever adalah organ tubuh yang mampu memetabolisir bahan-bahan racun.“Tiap kita makan, sari makanan diserap usus dan dialirkan ke lever.  Terjadi proses-proses metabolisme di lever yang mengubah makanan beracun menjadi  tidak beracun. Lever berperan sebagai benteng dalam tubuh,” ujarnya.  Namun, kata Prof. Dwi, kalau serangan datang terus menerus lever kewalahan.  Kadang masih  tersisa secara halus produk metabolisme yang belum sempat dinetralisir, tetapi sudah beredar ke seluruh tubuh.  Ini sangat mematikan. Selain lever, tubuh juga memiliki seluler sebagai pertahanan yang dapat memakan bakteri.

Hati-hati mengkonsumsi teh celup


Ir. Luh Putu Wrasiati menyatakan masyarakat cenderung menginginkan yang hemat dan  praktis. Teh  celup alternatifnya. “Daun teh dibungkus dalam kantung  kertas yang berisi tali agar memudahkan untuk mencelupnya,” katanya.  Umumnya, kertas dibuat dari bubur kertas yang terbuat dari kayu. Untuk membuat kertas  ini menjadi putih digunakan senyawa klorin. Kertas yang berserat ini digunakan sebagai kantung teh celup. Sampai saat ini belum ada penelitian  dampak kandungan klorin dalam kantung teh celup.

Namun, Wrasiati menyarankan,  konsumen  sebaiknya mencelupkan teh kurang dari 3 menit. Setelah itu, bandul teh dibuang. “Biasanya kita mencelup teh hanya satu menit. Lebih dari itu warnanya sudah pekat. Bagi yang biasa menaruh teh celup dalam cangkir sampai dingin, hendaknya mulai mengubah kebiasaan ini,”  kata istri Anom Wijaya ini. Tujuannya, agar senyawa klorin atau senyawa lain pembuat kertas tidak ikut larut ke dalamnya.  Kalau direndam terlalu lama, kantung teh dapat rusak dan beberapa zat kimia dapat  ikut terlarut  di dalamnya.  Menurutnya, sebaiknya minum teh selagi hangat akan terasa lebih nikmat dan  dapat menyegarkan tubuh serta pikiran.  Ia berharap Balai POM  aktif dan bergerak cepat jika ada indikasi. “Jangan bergerak setelah ada masalah,” sarannya.  Pemerintah memunyai beberapa standar yang harus dikuti produsen agar menggunakan kertas yang layak untuk makanan. “Ada strandar khusus dari Departemen Kesehatan RI,” tambahnya.

Menurut Kepala Bidang Pengujian Teranokoko (terapik, narkotika, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen) Balai POM Denpasar Drs. I Wayan Eka Ratnata, Apt., pihaknya belum pernah melakukan pengujian langsung terhadap pembungkus teh celup. “Kami hanya menguji isinya,” ujarnya. Menurutnya,  ika memang pembungkus teh celup terkontaminasi jamur, pasti terdeteksi dalam isinya.  “Sebelum dikonsumsi, teh melalui proses  penyeduhan sehingga kalau ada mikroba akan mati,” jelas Eka.

Ia mengatakan, Balai POM selalu melakukan pengujian secara rutin ke lapangan.  Selama ini, kata Eka, belum pernah ditemui teh beracun atau berjamur yang dipasarkan. “Tiap produk selalu memiliki masa kaladuwarsanya. Puluhan produk teh beredar di pasaran termasuk teh herbal untuk kesehatan. Rata-rata produsen teh sudah diakui proses produksinya bagus dan layak dikonsumsi,” jelasnya.  Dalam sebulan Balai POM melakukan pengecekan ke lapangan sekitar 30 kali surat tugas. “Tidak mengkhusus hanya makanan dan minuman, juga obat, obat tradisional termasuk  suplemen makanan,  kosmetik, dan narkotika psikotropika yang digunakan  pengobatan,” paparnya. Menurut Eka, dalam setahun ada dana pengujian 4000 sampel.  Pengujian makanan dan minuman tahun 2009 sekitar 1600 sampel dari dana Balai POM. Sementara dari pihak luar sekitar 500 sampel.


Demikianlah beberapa fakta mengenai teh yang mungkin belum pernah Anda ketahui sebelumnya. Semoga dengan pengetahuan baru ini, anda lebih dapat menikmati sajian teh yang sedang anda seruput tanpa perlu dengan dahi berkerut.


Sumber
http://id.wikipedia.org/wiki/Teh
http://www.smallcrab.com/kesehatan/766-celup-teh-terlalu-lama-tak-jauh-beda-dari-racun-serangga
http://shnews.co/detile-10539-manfaat-minum-teh-hijau.html

Indonesian Tea


For more than 200 years, tea has been part of the way of life in Indonesia. But, there is no tea drinking ritual such as course of conduct reflected by local tradition. Sundanese sometime use no sugar tea drinking as a habitual “mode of action” when they have finished their breakfast. No one single ethnic in this country use it to be the way of life prescribed as normative. But



traditional tea has been a very popular drink in Indonesia and the popularity of tea extends across the entire country. Historically, the tea trade in Indonesia founded by the Dutch in late 1700. The Dutchman Jacobus Isidorus Lonevijk Levien Jacobson begin to cultivate Java’s tea industry in 1827. His strenuous trips to China for six years had been influential so he was able to start a tea plantation in Bogor. Then, the Indonesian tea industry continued to grow, and now the country is the fifth largest producer of tea in the world. The industry went into decline after the 2nd World War.
In 1984, Indonesia’s tea industry was revived. The tea estates began drawing tourists as the result of collaborative initiative by the Indonesian government, state-owned plantations and travel bureaus. After decades of isolation and after much effort and investment, tea exports from Indonesia began to make their presence felt in the tea market. Since then, constant improvement and modernisation of tea production and replanting of old estates have continued to this day.
Despite its high penetration, with products which cover all income segments, tea still managed to record off-trade volume growth of 7% in 2011, much of which was due to the rising popularity of modern tea in innovative formats. The rise of the health and wellness trend is also promoting higher tea consumption for various purposes such as detoxification, slimming, increasing stamina and reducing cholesterol. The appeal of these healthy varieties of tea, however, remains largely restricted to women and older consumers.
This beverage commodity has also been expanded to attract tourism since tea fields have been turned into hiking trails. The trend of mountain cyclists riding in hilly paths endorse processing factories offer educational and tasting tours and colonial homes. Some factories built guesthouses so that vacationers can travel back to a bygone era and partake in ecological adventures without ever having to set foot on an airplane. Today, there are more than 30 state-owned tea plantations in West Java and a handful of them are tapping into the growing tourism market.
Indonesian tea differs from other tea producing countries in respect to location, soil, and the climate where the tea estates are found. Teas there are planted in the highlands where volcanic soil and tropical climate are predominant. The main product is the black tea and about 80% of production is exported. Indonesian teas are light and flavourful and most are sold for blending purposes as this translates to excellent financial returns through foreign exchange for the country. In recent years it has even become possible to purchase Indonesian tea as a specialty tea. The Research Institute for Tea and Cinchona in Gambung, West Java, has a vital responsibility to increase tea production and to improve its quality. To-date, several clones have been invented that are more suitable to the soil, climate and for modern tea processing in Indonesia. Export quality tea is sold mainly through auction in Jakarta. The Joint Marketing Office or Kantor Pemasaran Bersama (KPB conducts the auction).
Gunung Slamat PT continues to lead tea in Indonesia and held a 27% off-trade value share in 2011. The company is a subsidiary of Sinar Sosro PT, the leading player in RTD tea in Indonesia through its various brands including Teh Botol Sosro, Joy Tea, S-Tee and Fruit Tea. In hot drinks tea, the company markets an extensive portfolio of brands, including Cap Botol Biru, Cap Botol Hijau, Teh Poci, Teh Celup Sosro, Teh Seduh Sosro, Sosro Heritage, Teh Cap Sadel, Teh Cap Trompet, Teh Cap Berko and Teh Cap Sepatu. The majority of products offered under these brands consist of loose tea, although in recent years there has been a gradual shift towards the development of tea bags and the company has launched several of its products of the tea bags variants. Many of the company’s products are only available in tea bags, including Teh Celup Sosro, Teh Seduh Sosro and Sosro Heritage. Each of these products contains a unique mixture of jasmine, black tea and green tea. Under its Teh Poci brand, the company also offers fruit infusion tea. In an attempt to tap into the rising demand for premium tea, in 2010 Gunung Slamat PT launched Sosro Heritage in 12 varieties in with the aim of broadening the perception of tea among local consumers.
In line with accelerating population growth and the relentless rise of the health and wellness trend in Indonesia, tea is expected to increase in off-trade volume at a CAGR of 5% over the forecast period. This growth is expected to predominantly attributable to the continuous increase in the numbers of people shifting away from traditional loose tea towards tea bags, a situation which is set to result in robust growth in tea bags. Functional varieties of tea such as fruit/herbal tea and healthy varieties of tea categorised under other tea will contribute to the healthy growth expected in tea during the forecast period.

Reference

http://www.teauction.com/industry/indonestea.asp
http://www.thejakartaglobe.com/lifeandtimes/drink-in-an-indonesian-highland-tea-tour/453852
http://www.euromonitor.com/tea-in-indonesia/report