Untuk Kekasihku

June 10th, 2006

Ambang gejolak rasa
punahkan semburat resah
nan kemelam kusam
ronai wajah
entah…
mentari ini terasa terik
meski dingin menggigit sanubari
tetap menyayat telapak kaki

mengiringi jejak kelana
sinaran ini merintih menjepit perih
teriakkan lelah
Ambang gejolak rasa
redupkan kemilau permata
tenggelam dalam alam
tiada cerah
resah …
kala asmara arungi sepi
berat menepi terpisah deburan samudera
hanya desah …
jemari lentik berbisik
menisik hidup yang pelik
lirih tak ada perih
cahaya hati itulah dirimu
waktu telah membawamu pada diriku
kutemui dirimu disaat aku lusuh
engkau tetap mencintaiku

My love, my country

February 20th, 2006 

Saat tulisan ini dibuat, ini saya belum pernah mengalami pernikahan apalagi punya anak. Belum pernah merasakan bagaimana dekatnya perasaan dua jenis kelamin yang berbeda setelah ada dalam satu atap, satu nuansa. Atau mengalami kekhawatiran di saat ada karunia cinta yang lain sebagai suatu anugerah dari cinta yang menyatu itu.
Namun dari sekian banyak praktek dan teori tentang cinta dan semua perilaku yang disebabkan oleh karenanya, saya mungkin bisa meraba mengapa selalu ada alasan dalam ikatan antara sesama anak bangsa.Cinta yang saya tahu ternyata tidak saja memberikan kebahagiaan. Ada dua tujuan disaat manusia menentukan pilihan dari kebijaksanaan yang diambil dalam hidupnya. Mungkin bisa saja cinta itu untuk memberikan kesenangan atau mungkin untuk menghindari penderitaan. Yang pasti, dari semua tanda – tanda tentang cinta, ada satu faktor yang selalu ada, yaitu kepedulian.
Kalau kita masih ribut tentang Aceh, Papua, Poso dan wilayah – wilayah di tanah air lainnya itu artinya kita masih punya rasa peduli pada saudara – saudara kita. Kita masih melihat, ada sinaran kasih sayang diantara kekumuhan kilauan air mata kemiskinan yang berusaha meraih senjangnya ketamakan. Hanya saja, kalau ternyata ada yang lebih bisa membuktikan kepedulian itu, tidak hanya karsa, tapi juga karya, mungkin saja cinta itu terpudarkan, tenggelam dengan kemilau lain yang lebih bermakna daripada cinta.
Saya belum pernah punya anak pungut atau anak tiri. Tapi saya sudah sering melihat perbedaan yang mana anak adopsi yang diberikan cinta, mana yang hanya diberikan kasih sayang, atau mana yang hanya dimanjakan kesenangan, atau ada yang malah dinafikan dari rasa cinta yang seharusnya dia miliki. Ada banyak kondisi yang menyebabkan semua itu terjadi. Tapi yang pasti, ada satu ukuran yang sering menjadi perenungan orang tua, yaitu dengan menyadari bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya memberikan kebahagiaan pada anak – anaknya, apakah mereka akan lalu memutuskan untuk melepaskan anak mereka begitu saja? Apakah mereka akan memutuskan untuk menyerahkan pengurusan anaknya pada orang lain yang mencintainya, tapi lebih bisa membuktikan kepeduliannya? Apakah orang yang sang orang tua percayai, benar benar mencintai anak- anaknya? Apakah sang orang tua sudah meyakinkan diri mereka sendiri bahwa cinta yang lain untuk anak-anaknya itu benar – benar cinta sejati?
Mencintai tanah air tidak bisa saya uraikan dengan kata – kata atau kebijakan politik dan rujukan sejarah semata. Cinta tercipta karena ada satu tujuan. Apakah untuk hanya sekedar pilihan politis atau historis yang sering membuat manusia munafik? Atau mungkin cinta kita pada sang ibu pertiwi buta, tidak punya tujuan? Saya nggak berani menjawabnya. Terlalu naif bagi saya untuk menilai kadar cinta tanah air yang dimiliki oleh saudara – saudara saya sebangsa hanya untuk standard pilihan – pilihan itu saja. Karena buat saya, cinta adalah satu karunia Tuhan, yang baru bisa didefinisikan kadar dan ukurannya oleh sang makhluk yang dikaruniai cinta itu sendiri.
Kalaulah memang, rumah saya di negeri tercinta ditakdirkan untuk menjadi ajang penafian cinta, jika memang realita cinta sudah semakin bergeser pada nilai – nilai yang tidak abadi, saya lebih baik bertanya pada diri saya. Mungkinkah kisah sejarah negeri tercinta menjadi sentimentil seperti kisah cinta romeo dan juliet yang baru bisa terpisahkan oleh maut dan air mata? Atau mungkin zaman sekarang cinta sudah biasa diukur dengan harta? Yang pasti, saya akan didatangi kegelisahan, menunggu giliran cinta yang ada pada saya dicabut oleh Tuhan dari jiwa dan raga saya.

In God I Change

February 14th, 2006 by sequential life


The wind blows and shakes the trees
at those moments time seems meaningless
leaves are falling down
soon they cover the ground
and hopes seems beyond me



My learning will continue throughout my life
‘cos no one deserves to have
a perfect pattern of love
of honesty and sincerity
of unselfishness in values
Being the change I’d like to see
it’s not as easy as somebody
turning his palm upside down
or getting my life the right way round
always a burning question remains
the search for the truth in each of our hearts
let the spirit wind blow and reveal where to start
O, my Lord
I feel worthless to be in your presence
nor am I ready to live with your anger
bad choices have made some people live like princes
while others are suffering a hell on earth
So…please help me face this malaise
for the sake of the unforeseen future
to dedicate my life to You Almighty
to be changed as You wish me to change
for the sake of a better world I seek Your guidance