Tuhan Membawamu Kembali


Gesekan menyayat halus suara biola mengalun indah. Irama syahdunya menggelayut semu di telinga, hati dan otak Kasih. Terlihat sosok seorang lelaki yang memakai seragam putih abu-abu, mengayun – ayunkan tangannya menari di atas biola putih itu. Menghantarkan deretan nada-nada yang indah, bahkan sangat indah.


Tegar mendongakkan kepalanya dan menatap gadis yang sedari tadi duduk di sebelahnya, menatapnya penuh arti. Suara Tegar memecah keheningan. “Tidak perlu bakat untuk menjadi hebat dalam sesuatu, hanya butuh kemauan dan kerja keras. Keajaiban akan membuatmu hebat”. Kasih terbungkam. Suasana hatinya kali ini sungguh bergejolak dengan jutaan amarah dan ketidakpercayaan. “Tapi aku beneran ga bisa Gar.” “Ga ada yang ga bisa Sih, kamu masih bisa belajar. Kesempatan itu masih ada Sih. Aku mau tangan kamu yang mainin biola putih ini, bukan aku.” “Tapi Gar …”. “Demi aku Sih, demi aku. Kasih mendekat ke arah Tegar, menatap matanya dalam kesungguhan. Tak butuh waktu 2 detik, Kasih sudah memeluk erat Tegar. Cairan hangat di pelupuk matanya tumpah melimpah tanpa diperintah. Semakin erat Kasih memeluk Tegar semakin kencang pula tangisannya. “Demi Tuhan, aku cinta kamu Gar !!! Jangan tinggalin aku please, aku butuh kamu ! Aku sayang, aku cinta, aku ga mau kehilangan kamu Gar ?!” Tegar mendorong halus tubuh mungil Kasih. Mengusap air matanya kemudian membelai rambut hitam sebahu yang sering dikaguminya. “Aku juga cinta kamu Sih, lebih dari sekedar cinta. Tapi, aku gak bisa Sih! Maaf”. Tubuh Kasih masih terguncang. Tak perlu orang yang ahli psikologi, bahwa tangisannya terlalu perih. Lebih dari sekedar menangis, lirih isakannya tak hanya menguakkan kesedihan, bukan semata meronta dalam kepiluan ataupun meminta kehadiran dalam kesunyian.

Tegar mengepalkan tangannya, meninju cermin yang ada di hadapannya. Seketika pucuk tangannya mengeluarkan cairan berwarna merah, yang ia biarkan mengalir begitu saja. Nafasnya naik-turun tak karuan, emosinya memuncak. Setelah kejadian di ruang musik tadi pagi, butuh waktu yang cukup lama untuk mengembalikan stabilitas emosinya. Tidak cukup belasan helaan nafas untuk memurnikan paru-parunya dengan oksigen yang sepertinya sangat susah untuk di dapatkan dalam terpaan amarah yang sedang mengaliri jiwanya. Dalam hitungan keduapuluhsatu, helaan nafasnya berhasil menguak himpitan sesak di sekitar ulu hatinya, Tegar akhirnya tenang, dibersihkannya luka di pucuk tangan dan membalutnya dengan perban – asal saja. Sementara otaknya berputar, namun hatinya, telah jauh menerawang mengapa hal ini terjadi. Pertanyaan itu kemudian menyedot kembali hawa sesak yang merangsang perasaan pusing di kepalanya. Tegas merasa Tuhan sedang tak adil. Mengapa disaat ia telah menemukan seorang gadis yang sangat ia cinta dan juga mencintainya. Tapi, Tuhan malah mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Semakin Tegar memikirkan ketidakadilan dalam persepsi dirinya, tanpa sadar mengasah pinggiran hawa sesak yang dari tadi mencengkramnya untuk mengiris – iris hatinya .

Dua minggu yang lalu itu kejadian yang sangat mengerikan sepanjang umurnya. Kecelakaan yang merenggut nyawa sang Kakak sungguh membuat hidupnya tak berarti. Ditambah lagi, saat dokter menyatakan kedua kaki Tegar mengalami cedera serius yang mengharuskan tindakan medis, amputasi ! Memotong tungkai kakinya hingga batas lutut. Tapi malaikat mungkin sudah siap menjemputnya. Mengamputasi kedua kakinya ternyata masih tidak cukup untuk menyelamatkan nyawanya. Waktunya sebentar lagi. Tuhan tak memberinya pilihan. Hanya itu-lah jalan, yang harus ia tempuh. Harus.

Sementara Kasih sudah terbaring di atas brangkar menuju ruang operasi. Sebelum operasi cangkok jantung dilakukan. Kasih sudah tak sadarkan diri sejak satu jam yang lalu, di samping brangkarnya, ada kedua orang tuanya dan Ray, sang kakak. Tegar masuk ke dalam ruang operasi menggunakan kursi rodanya. Menempatkan posisi tepat di samping Kasih. Kedua orang tua Kasih telah keluar dari ruangan sesaat setelah Tegar datang. Tersisa 3 orang di dalam ruangan bernuansa putih tersebut. Ray, Tegar dan Kasih. Suasana saat itu hening. Tak satu pun bersuara. Efek obat bius yang disuntikkan dokter anestesi pada Kasih membuatnya terlelap, Kasih masih tetap berada di posisi yang sama, tak bergerak sedikitpun. Perlahan, Tegar menyentuh tangan Kasih. Kepalanya menengok ke arah samping memberi isyarat agar Ray keluar dari ruangan. Tanpa bicara, Ray sudah berjalan ke arah pintu dan hilang dari balik pintu. Tegar mencium lembut punggung tangan Kasih. Pelupuk matanya tak bisa lagi menahan air mata yang sudah terkumpul sejak tadi. Tangannya lagi-lagi membelai halus rambut Kasih. “Maaf, aku jatuh cinta… sama kamu.” Tegar tertunduk, tapi tangannya masih menggenggam erat tangan Kasih. Satu kata terakhir yang terucap dari mulut Tegar. “Maafkan aku Kasih”. 

Pagi itu matahari masih enggan keluar dari tempat persembunyiannya. Burung-burung berkicauan, menyanyikan senandung yang menyemangatkan pagi hari ini. Kasih terduduk di bangku taman yang memang menjadi tempat favouritenya sejak dulu. Kasih tidak sendiri, ia ditemani oleh Ray lengkap dengan angin pagi yang menusuk tulangnya. Terlalu dingin pikirnya. “Wanita yang tegar, wanita yang selalu menghadapi masalah dengan senyuman. Dan aku yakin kamu itu termasuk ke dalam kategori wanita yang tegar. Keep smile my sista.” Ray membelai halus rambut Kasih dan memberikannya sepucuk surat berwarna putih dan sekuntum mawar putih. Ray berjalan menjauh dari Kasih dan meninggalkannya sendiri. Saat Kasih sadar Ray tidak lagi berada disampingnya, nafasnya tercekat, jantungnya berdebar dengan cepat. Entah mengapa, perasaannya begitu campur aduk melihat tulisan tangan yang tertera di bagian atas surat. Kasih sangat sangat mengenali pemilik dari tulisan tangan itu.

“To : Kasih.

Mengenalmu adalah hal yang sangat indah. Memilikimu adalah karunia terbesar yang pernah kumiliki. Dan mengenangmu, membuatku tahu bahwa kau adalah anugerah terindah yang pernah ku miliki? Kasih, aku mencintaimu. Sangat amat mencintaimu. Melebihi bintang yang mencintai rembulan. Biarkan aku menjadi bagian dari dirimu, hidup bersamamu selamanya. Aku memang sudah tak terlihat, aku menjadi semu. Tapi yang perlu kamu tau, aku ada dan selalu ada dalam dirimu, setiap waktu. Akulah hidupmu, aku bukanlah lagi seorang lelaki yang akan selalu menjagamu. Tapi akulah yang selalu ada setiap detik untukmu. Hanya untukmu. Aku ada di dalam jantungmu, jantungku adalah jantungmu. Dan kini, kita akan terus bersama. Selamanya!! Tersenyumlah, dengan begitu aku bisa merasakan kebahagiaan darimu ? Aku hadir di setiap detak jantungmu. Aku ada di setiap denyut nadimu. Jangan biarkan, kisah kita menjadi usang di sudut ingatan. Kau mampu membuat hidupku yang singkat ini menjadi lebih berwarna. Terima kasih, Kasih. Aku mencintaimu ! Kita memang berbeda, kau putih dan aku hitam. Tapi, layaknya biola dan penggeseknya. Kita akan tetap bersatu memainkan nada-nada yang indah. Jika takdir memisahkan kita di dunia ini. Maka, yakinlah bahwa takdir akan membawa kita bersama di surga nanti ? I LOVE YOU, Kasih. SO MUCH ! TEGAR.

Degup jantung Kasih berpacu hebat. Tak ada satu kata pun yang terlintas dalam fikirannya. Semua yang hadir dalam benaknya seakan – akan menggumpal menjadi kabut. Sulit untuk di cerna. Dedaunan kering yang jatuh tertiup angin, mendukung suasana hatinya saat ini. Kegalauan, kehampaan, dan kepiluan, kini menyatu dalam gumpalan fikiran kotor. Perih. Menyayat hati, pelupuk matanya tak sanggup lagi menahan cairan bening yang terkumpul sejak tadi. Air matanya mulai terjatuh tanpa bisa di tahan, bahkan hanya untuk sedetik. Beribu pertanyaan kini hadir dalam benaknya.

Sore itu, awan mulai bergeser menutupi matahari sehingga terlihat eksotika warna kejinggaanya. 8 Desember 2012, harusnya ia berdiri disini didampingi Tegar. Bersenda gurau penuh canda di atas rerumputan taman yang hijau. Memeluk Tegar. Tapi Kasih saat ini sendiri. Berjalan selangkah demi selangkah. Tersenyum manis memandang awan. “Kamu pasti dapet tempat selembut awan Gar”. Kasih terpejam cukup lama, menahan airmatanya agar tidak tumpah. “Tuhan, jagain Tegar ya…, biar Tegar bisa jagain aku dari sana juga. ”Malam ini bintang begitu agung memancarkan kempakannya, taburannya begitu indah menghias awan hitam. Namun pandangan mata Kasih tertuju hanya pada satu bintang yang berkilau paling bersinar. Sirius. Bibirnya melengkungkan senyuman. Kasih yakin bintang yang paling bersinar itulah yang akan selalu menjaga dan memperhatikannya setiap hari. Walaupun malam berubah menjadi siang. “Tegar? Kamu liat aku kan ? Aku kangen sama kamu. Kamu temenin aku ya, Gar. Aku sayang banget sama kamu. Tunggu aku ya Gar, I love you”.

THE END

Tarian Hening Batang Gelagah

Aku masih duduk terpaku. Membisu. Memandang riuh-riuh kecil ombak pantai yang menyapa butir-butir pasir putih di tepiannya. Sesekali kuambil salah satu cangkang kerang yang berserakan di sekelilingku, lalu kulemparkan cangkang itu ke arah laut. Bunyi kecipaknya nyaris tak terdengar. Kulihat sebatang gelagah, tegak menjulang di bibir sebuah telaga yang hampir kering. Batangnya bergoyang tertiup hembusan angin, meliuk ke sana ke mari menuruti irama sepoi – sepoi. Hanya sebatang saja diantara gelagah – gelagah lain yang telah lama layu dan mati. Gelagah – gelagah muda belum lagi muncul. Dia hanya sendiri, namun dalam sepinya terus bergerak, meliuk tanpa keluh dan kesah.

Saat tiupan angin yang keras membuat sang gelagah menunduk, terlihat bayangan dirinya tercermin dalam beningnya genangan air telaga, memantulkan keheningan dirinya yang tak merasa sepi. Butiran – butiran benih di pucuknya terlihat seperti mata yang melihat tarian dirinya yang gemulai diiringi senyuman bersama hembusan angin segar. Tak ada penonton yang memberikan tepukan meriah, tak ada suara sorakan gempita. Tak ada aku dan kamu yang memperhatikannya. Namun ia tetap meliuk. Ia tetap menari. Ia menari untuk mensyukuri hadiah hari ini dan hari kemarin. Ia mempersembahkan tariannya hari ini buat hari esok.
 
Ah, betapa sering aku menantikan orang lain memberikan kata-kata motivasi yang tak pernah muncul. Betapa sering aku melimpahkan semua masalahku pada sesuatu di luar diriku. Betapa aku sering lupa, kalau aku harus mengerti diriku sendiri lebih dari pada dimengerti oleh orang lain, bahwa aku harus mencintai diriku sendiri lebih dahulu sebelum aku dicintai orang lain.
 
Aku harus belajar menari – seperti batang gelagah di bibir telaga itu – walau tak seorangpun bertepuk tangan memberikan sorakan. Aku harus lebih mampu mengaktualisasikan diriku dalam waktu yang tidak lama, selalu bisa menikmati, mensyukuri setiap karunia yang telah aku miliki.
 
Terima kasih batang gelagah yang gemulai, yang hidup dalam jangka waktu sebentar. Engkau telah mengajarkan aku tentang berartinya hidup, untuk lebih mencintai dan dicintai dalam hidupku.

 

Kekuatan dari Kata – kata yang Terucap

Mengungkapkan kata-kata secara sadar atau tidak sadar merupakan pilihan. Kekuatan kata-kata bisa merubah kebiasaan bahkan kegiatan kita dalam kehidupan karena setiap ucapan ataupun isyarat yang dipilih merupakan pesan untuk mengkomunikasikan suara hati maupun fikiran. Cognito ergo Sum, kehidupan kita terbentuk oleh pikiran, sehingga setiap kata-kata yang terucap menjadi alat yang mendorong kesadaran untuk mengungkapkan kehendak dalam diri kita. Salah satu contoh kisah untuk memahami hal ini dapat kita baca dalam karya Joe Vitale yang berjudul ‘Zero Limits, Metoda Rahasia Hawaii untuk Memperoleh Kekayaan, Kesehatan, Kedamaian. Kisah yang diceritakan Joe Vitale dalam buku tersebut menggambarkan pertemuannya dengan sosok Ihaleakala Hew Len yang memiliki metode penyembuhan yang unik.
Hal yang aneh bagi praktisi medis adalah Hew Len menyembuhkan sebangsal penuh narapidana yang sakit jiwa tanpa pernah melihat seorang pun dari mereka secara profesional. Ternyata Hew Len menggunakan metoda penyembuhan dengan tuntunan ho’oponopono sebuah cara “pembersihan diri” secara terus menerus kepada diri sendiri. Lebih jelasnya pembersihan diri tersebut adalah dengan ungkapan “Saya mengasihi Anda”, “Maafkanlah Saya”, “Terimakasih”, dan terakhir adalah “Salam kedamaian”. Dalam pandangan Hew Len, untuk memperbaiki dunia, lingkungan atau siapapun maka langkah awal yang harus dilakukan adalah memperbaiki diri sendiri terus menerus. Sehingga diri kita selalu dalam keadaan bahagia, damai dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang kepada semua makhluk baik yang bernyawa maupun yang kelihatan tidak bernyawa. Dan semua “kegagalan” di dunia ini menjadi 100% tanggung jawab manusia. Ketika tanggung jawab sudah 100% kita ambil, maka tidak ada lagi alasan untuk menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam dan alasan-alasan lainnya yang dicari-cari.
Bila semua orang memiliki sikap seperti ini maka dunia ini akan sangat damai, atmosfer yang dipenuhi dengan energi positif yang bertebaran dimana – mana. Alam semesta akan tersenyum melihat mental-mental manusia yang sehat, sikap-sikap manusia sebagai pemimpin dunia yang adil. Karena setiap diri manusia mengerakkan gelombang – gelombang resonansi yang menggetarkan kesadarannya. Karena hampir 80 persen tubuh kita terdiri dari air, tidak heran kalau penelitian Masaru Emoto dalam The Power of Water membuka wawasan kita tentang resonansi energi positif dan negatif yang bertebaran di sekitar kita. Hasil penelitiannya tentang bentuk – bentuk kristal air mengungkapkan pengaruh ungkapan manusia terhadap karakter air. Bentuk kristal air yang diberi ungkapan-ungkapan yang baik-baik akan terlihat sangat indah. Sementara air yang dimaki, dimarahi, dibenci akan memunculkan bentuk kristal yang jelek.
Secara jujur kita perlu menyadari, dunia kita sudah terlalu sesak dipenuhi energi negatif yang bertebaran di sana-sini. Ada satu hikayat yang menyebutkan bahwa keburukan di dunia ini bisa dihitung dengan jumlah setan yang masih berkeliaran sejak zaman Nabi Adam. Dalam hikayat itu tersebut setiap kali bayi lahir maka seekor setan juga tercipta, namun saat bayi itu tumbuh menjadi orang dewasa kemudian meninggal, setan yang mengiringinya tetap bergentayangan sampai hari akhir. Bisa dibayangkan bila jumlah manusia saat ini sekitar 7,7 Milyar berapa ekor jumlah setan yang sedang bergentayangan saat ini. Dihitung dari sejak turunnya Nabi Adam, entah berapa perbandingan kuantitatif antara energi positif dengan energi negatif yang bertebaran. Meskipun jumlah energi negatif tersebut semakin banyak, konon ada pandangan yang mengatakan bahwa 9 energi negatif akan netral dengan 1 energi positif. Benarkah? Memang kita belum memiliki bukti secara ilmiah yang menyimpulkan tesis tersebut. Tapi secara sederhana kita bisa membuktikan, kalau ada sekelompok orang yang bertikai, kemudian datang seorang arif bijak yang mendamaikan pertikaian tersebut, besar kemungkinan pertikaian tadi bisa dihentikan.
Dari hikayat tersebut, sadarkah kita akan tanggungjawab yang ada pada diri kita? Kalau kita mengambil tanggung jawab 100% untuk membuat kebaikan di lingkungan sekitar kita, maka 1:10 atau bahkan lebih banyak lagi, kita bisa membuat energi positif lebih banyak bertebaran di alam semesta ini. Cukup dengan hal sederhana, dengan memperbaiki tata cara kita berkata – kata. Apa sih susahnya untuk mengatakan “Saya Mengasihi Anda”, “Terimakasih”, “Maafkanlah Saya”, “Salam kedamaian”, atau bisa ditambah lagi dengan kata-kata lain seperti “Sukses Selalu buat Anda”, “Bahagia selalu untuk Anda”, “Keberkahan untuk Anda” dll. Dengan ucapan terebut, kita berniat untuk mengisinya dengan do’a-do’a baik untuk orang sekitar kita dan ungkapan rasa syukur. Mau mencoba? Ya, harus kita coba dulu efektifitas ungkapan kata-kata tersebut. Dan ungkapan tadi tidak hanya kepada manusia, kepada benda, hewan atau makhluk tidak hidup lainnya juga patut untuk diungkapkan. 
Kata-kata adalah jiwanya komunikasi. Tentu saja untuk berkomunikasi lisan bagi orang dengan panca indera yang berfungsi optimal. Bagi sebagian saudara kita yang “luar biasa”, penggunaan kata-kata termanifestasi melalui gerak isyarat dan suara. Misalnya pada saudara kita yang tuna rungu, bisu dan tuli, yang lebih menggunakan body language (gesture) dalam komunikasinya. Bilamana kita amati kegunaan kata – kata dalam kehidupan kita sehari – hari, berbicara dengan menggunakan kata-kata positif dan negatif merupakan pilihan seorang manusia. Berbicara dengan kata-kata positif sangat sangat berbeda dampaknya dengan menggunakan kata-kata negatif. Sangat jelas. Para pakar psikologi mengatakan ucapan dan perbuatan yang positif berawal dari adanya pikiran atau pola pikir yang positif pula. Demikian sebaliknya. Mengucapkan kata-kata negatif seperti halnya seseorang menancapkan paku-paku di sebatang pohon. Walaupun paku-paku tersebut telah dicabut, tetap saja meninggalkan bekas yang dalam. Sedangkan kata-kata positif akan memberkas baik bagi pembicaranya maupun bagi pendengarnya. Seperti halnya yang dilakukan oleh Hew Len, pilihan kata – katanya menghasilkan perbuatan positif yang berdampak pada tercapainya hasil yang positif pula.
Memang tidak cukup hanya dengan mengeluarkan kata-kata tersebut di atas lantas perbuatan kita akan memperbaiki segalanya. Namun apabila kata-kata tersebut di atas diucapkan berulang-ulang sampai menyatu dengan diri kita, menyatu dengan pikiran dan hati, Tuhan akan memunculkan keajaiban-keajaiban. Tentunya kata-kata tersebut harus diucapkan dengan sepenuh hati sehingga memunculkan perasaan bahagia dan damai setiap saat. Mengucapkan kata – kata positif tersebut di sisi lain akan memberi dampak berupa terpeliharanya kita dari godaan-godaan untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat. Sebenarnya kata-kata yang kita ungkapkan memiliki makna berbeda setelah masuk ke dalam pikiran kita. Pikiran akan memberikan gambaran atas kata yang kita ucapkan. Ketika kita mengucapkan kata mengasihi maka pikiran menggambarkan seseorang yang mengusap-usap seseorang (anak kecil), atau memberikan perhatian kepada orang yang kesusahan atau memberikan menjaga orang yang membutuhkan bantuan.
Hal ini penting karena, jika Anda mengelola Hidup Anda dengan arti yang berbeda maka perasaan Anda juga akan ikut berbeda. Ketika mengungkapkan kata “Maafkan saya”, ketika itu pula ada rasa melepaskan energi negatif dan beban yang ada di pikiran dengan sebuah pengakuan. Dan orang yang mendengar kata-kata tersebut juga akan muncul rasa yang lembut yang juga mengucapkan kata yang sama, “Maafkan saya juga”.  Kalau perasaan Anda berbeda, maka tindakan Anda pun akan berbeda. Jika tindakan Anda berbeda, hasilnya juga berbeda. Dan jika hasilnya berbeda, maka nasibnya berbeda. Kalau nasibnya berbeda, maka hidupnya pun berbeda. Karena pada dasarnya setiap orang mempunyai definisi hidup yang berbeda- beda.
Jika Anda beranggapan hidup itu penuh dengan perjuangan, maka kehidupan Anda selamanya hanya berjuang. Memangnya enak kalau berjuang terus dan Anda tidak menikmati hidup? Disini Anda hanya berjuang terus menerus. Mungkin tidak ada yang salah dalam hal ini, namun definisi Anda menggambarkan kehidupan Anda untuk sekarang dan untuk kedepannya. Berhati- hatilah terhadap definisi hidup tersebut. Anda memberikan arti hidup yang Anda inginkan. Dan jika Anda salah dalam memberikan arti hidup maka pengelolaan hidup nomor satu anda sudah GaTot – Gagal Total. Untuk itu, yang paling pertama dalam langkah kita mengatur hidup adalah bagaimana kita bisa memberikan arti hidup itu sendiri. Jawablah pertanyaan ini sekarang : seperti apa dan hendak kemana hidup itu …??? (Anda bisa menjawabnya dengan jawaban Anda sendiri).
Dalam menjawab pertanyaan itu, sandingkanlah pilihan jawaban anda dengan kata – kata berikut ini : “Luar biasa indah dunia ini bilamana diisi dengan kata-kata yang berenergi positif. Sudah saatnya kita menyadari akan kekuatan kata – kata positif sehingga diri kita lebih ikhlas, lebih memancarkan kekuatan syukur, kekuatan damai, kekuatan cinta dan kasih sayang dan bahagia”. Ucapkan kata-kata tersebut terus menerus setiap saat, maka kita akan senantiasa berada dalam pencerahan yang luar biasa. Pilihlah kata – kata yang benar- benar bermakna, kata – kata yang berarti besarnya kekuatan positif dalam hidup anda.

Sedalam apa komitmen Kita pada kesejahteraan umat Manusia ?

Tahukah anda pada bulan September 2015, para Pemimpin Dunia telah berkomitmen untuk mencapai Sasaran Global dalam rangka Pembangunan Berkelanjutan. 17 sasaran untuk mencapai 3 hal yang luar biasa dalam 15 tahun ke depan : mengakhiri kemiskinan yang ekstrim, melawan ketidaksetaraan dan ketidakadilan serta memperbaiki perubahan iklim. Untuk mewujudkan Sasaran ini, diperlukan partisipasi semua warga dunia dan mengajarkan generasi muda tentang pentingnya pencapaian tujuan – tujuan tersebut dan mendorong mereka untuk menjadi generasi yang mengubah dunia. Kemudian pada tanggal 20 September 2016 yang lalu, komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam debat tahunan Majelis Umum PBB.


Gambar dan video yang saya kirim ini merupakan salah satu media untuk mengingatkan komitmen tersebut. Diantara ketujuhbelas sasaran yang ada, kemiskinan dan kelaparan merupakan salah satu keadaan yang masih sering kita temui. Saya tidak tahu apakah media ini sebatas pencitraan atau bukan, namun saya yakin peristiwa itu benar – benar merefleksikan realita yang sering kita abaikan. Video dan gambar ini benar – benar mengingatkan Kita untuk selalu bersyukur dan berterimakasih dengan keadaan yang kita terima. Tidak cukup itu, Kita juga harus selalu berfikir untuk mewujudkan rasa syukur tersebut dalam satu tindakan. Meskipun sederhana, saya yakin Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan kesempatan pada kita untuk memberi daripada sekedar melihat dan merasa kasihan. Semoga hari ini saya bisa mengajak diri saya maupun anda untuk berbuat lebih kreatif, inovatif dan solutif. Sekecil apapun itu, selama dilakukan dengan ikhlas saya yakin akan menjadi sesuatu yang besar. Jika mereka yang sangat kekurangan saja mampu memberi, mengapa kita yang berlebih tidak mampu melakukan sesuatu yang lebih baik bagi orang – orang yang sedang ditimpa kemiskinan dan kelaparan ?

Kemiskinan hati maupun harta seringkali timbul dari pemahaman yang kurang menyeluruh tentang makna keadilan. Siapapun kita telah melalui berbagai pengalaman kerja atau hidup bersama dengan anak-anak akan tahu kemampuan mereka untuk mendeteksi ketidakadilan. Anak – anak atau kita sendiri di masa kecil sering mengatakan – “…tapi itu tidak adil..” kemudian membiasakan untuk menahan diri dengan tidak mengatakannya secara berlebihan. Hal ini sebenarnya merupakan salah satu bentuk bakat yang jarang disalurkan yaitu mencari bentuk keadilan dalam diskusi yang produktif dan kritis tentang sifat kesetaraan, apa saja yang termasuk perlakuan yang adil, dan siapa yang akan menentukan standar keadilan tersebut. Saya kira pembelajaran tentang masalah ini akan terus berlanjut sampai akhir masa kita hidup di dunia ini. Namun yang lebih penting adalah bertindak dan beraksi nyata untuk berlaku adil meskipun hanya Tuhan lah Yang Maha Adil terhadap diri kita, keluarga dan lingkungan di sekitar kita. Mulai dengan hal yang sederhana, dengan memberi sesuatu yang kita miliki dan memaafkan kekurangan yang kita miliki. Misalnya memberi senyum dan memaafkan dengan tersenyum.

Mengenal Sajian Teh

Kita biasanya meminum teh dengan menyeduh daun Camellia sintesis dalam air. Camellia sinensis, spesies tanaman yang daun dan pucuk daunnya digunakan untuk membuat teh,termasuk genus Camellia (Hanzi tradisional: 茶花; bahasa Tionghoa: 茶花; Pinyin: Cháhuā), suatu genus tumbuhan berbunga dari famili Theaceae. Semua jenis teh,

baik teh putih, teh hijau, oolongdan teh hitam, didapat dari spesies ini, namun diproses secara berbeda untuk memperoleh tingkat oksidasi yang berbeda. Kukicha (teh ranting) juga dipanen dari Camellia sinensis, namun tidak memakai daun melainkan ranting. Teh merupakan minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok: teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih. Istilah “teh” juga digunakan untuk minuman yang dibuat dari buah, rempah-rempah atau tanaman obat lain yang diseduh, misalnya, teh rosehip, camomile, krisan dan Jiaogulan. Teh yang tidak mengandung daun teh disebut teh herbal. Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidandengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri saat meminumnya.

Warga China telah mengenal dan mengkonsumsi minuman teh selama 3.000 tahun karena tanaman ini berasal dari daratan Asia. Meski saat ini teh telah dikonsumsi oleh banyak orang di seluruh dunia, namun ada beberapa hal yang mungkin perlu Anda ketahui tentang teh. Seperti dilansir oleh Shine! (13/02), terdapat beberapa hal-hal yang mungkin tidak Anda ketahui selama ini mengenai teh.
1. Semua teh berasal dari satu tanaman. Teh putih, hijau, atau hitam sebenarnya berasal dari satu tanaman, yaitu Camellia sinesis. Yang berbeda adalah masa pengambilan daun teh, disesuaikan dengan jenis teh yang diinginkan. Teh putih, hijau, atau hitam bergantung pada seberapa lama daun teh diproses dan dioksidasi. Sementara itu, teh herbal yang terbuat dari chamomile atau mint merupakan kategori yang berbeda. Begitu juga dengan teh merah yang tak terbuat dari teh, melainkan tanaman lain dari Afrika Selatan.

2. Minuman terpopuler kedua di dunia. Teh adalah jenis minuman terpopuler kedua yang dikonsumsi oleh penduduk dunia. Minuman populer pertama adalah air. Dan, teh bahkan mengalahkan kopi untuk urusan popularitas.

3. Beda teh, beda waktu penyeduhan. Setiap jenis teh membutuhkan waktu perendaman dan temperatur yang berbeda agar terasa sempurna. Misalkan teh putih harus direndam selama dua sampai tiga menit dalam air bersuhu 180 derajat. Sementara teh hijau harus direndam selama tiga menit pada suhu yang lebih panas. Sementara itu teh herbal, teh hitam, dan teh merah akan terasa sangat nikmat ketika direndam selama lima sampai tujuh menit dalam air yang hampir mendidih.

4. Teh memiliki manfaat kesehatan luar biasa. Mengonsumsi dua cangkir teh setiap hari menurunkan risiko serangan jantung dan stroke. Ditambah lagi, penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi dua cangkir teh setiap hari bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh, melawan kanker, dan melindungi enamel gigi, serta melawan penurunan kekuatan ingatan ketika Anda semakin menua. Teh hijau memiliki kandungan antioksidan yang meningkatkan tekstur kulit dan mencegah kerutan.

Di sisi lain, anda juga harus hati-hati saat mengkonsumsi teh. Selain mengandung kafein, dan teh sekarang banyak dikemas dalam bentuk teh celup. Teh celup sebaiknya tidak dicelupkan terlalu lama karena adanya kandungan zat klorin dalam kantong kertas teh celup. Ini berlaku untuk semua teh, berwarna maupun teh hijau. Zat ini fungsinya untuk disinfektan kertas sehingga kertas akan terbebas dari bakteri pembusuk dan tahan lama. Kertas dengan klorin tampak lebih bersih. Karena disinfektan, klorin dalam jumlah besar tentu berbahaya. Tak jauh beda dari racun serangga. Banyak penelitian mencurigai kaitan antara asupan klorin dalam tubuh manusia dengan kemandulan pada pria, bayi lahir cacat, mental terbelakang dan kanker. Sehingga dianjurkan jangan mencelupkan teh celup dalam waktu lama.

Jika mencelup kantong teh lebih dari 3 – 5 menit, klorin akan ikut larut dalam teh. Dan banyak khasiat teh yang tertinggal dalam minuman teh. Agar terhindar dari kemungkinan – kemungkinan penyakit, sebaiknya jangan mencelup kantong teh lebih dari 3 menit. Kasus teh celup yang merenggut korban masih simpang siur kejelasan penyebabnya. Salah seorang karyawati pabrik sosis yang turut menjadi korban teh maut itu membantah  teh tersebut beracun. Ia mengaku dirinya minum teh kadaluwarsa. Kasus teh celup yang memakan korban menjadi perhatian masyarakat. Sebab, teh merupakan minuman yang dikonsumsi tiap hari. Teh juga disuguhkan sebagai minuman saat tamu bertandang. Terlepas dari kasus teh celup maut tersebut, bagaimana sebaiknya  mengonsumsi teh agar bermanfaat?


Dari hasil penelitian salah seorang lulusan Teknologi Pertanian Unud Anju Aprianto Aritonang, teh mengandung antioksidan, khususnya teh hijau. Mahasiswa angkatan tahun 2006 ini khusus meneliti teh hijau celup. Kandungan antioksidannya lebih tinggi dibanding teh hitam. Teh hijau mengandung antioksidan 2-4 %. Adapun antioksidan yang dimaksud adalah catechin, yang mengais radikal bebas yang dapat merusak DNA dan berkontribusi antara lain terhadap kanker dan atherosclerosis—plak yang terbentuk dalam arteri. Dr. David B. Samadi, Wakil Ketua Departemen Urologi dan Kepala Robotika dan Bedah Invasif Minimal di Mount Sinai School of Medicine di New York City, Amerika Serikat, menulis di FoxNews.com, Rabu (7/11),  bahwa catechin mengandung epigallocatechin-3-gallate (EGCG) yang unik dan melimpah dalam teh hijau sebagai hasil dari pengolahan minimal untuk menghasilkan teh tersebut.


Studi laboratorium menunjukkan EGCG dan beberapa catechin lain dapat lebih kuat daripada vitamin C dan E dalam menghentikan kerusakan oksidatif pada sel-sel dan berpotensi memiliki kemampuan untuk melawan penyakit lain. Selain itu, diperkirakan EGCG memainkan peran penting dalam menghambat sintesis DNA dan replikasi sel, yang sama-sama untuk kelangsungan hidup sel-sel kanker. Untuk alasan tersebut, penelitian telah menunjukkan hubungan antara konsumsi teh hijau dan penurunan risiko untuk hiperlipidemia—penyakit akibat kadar lemak tingkat tinggi dalam darah–, hipertensi, atherosclerosis, Parkinson, dan beberapa kanker, termasuk kulit, payudara, paru-paru, kolorektal, lambung, kerongkongan, dan prostat.

Sebagian besar dari penelitian tersebut, menurut Dr Samadi, telah dilakukan pada tikus besar atau tikus kecil, sehingga sulit untuk menerapkan kesimpulan pada manusia. Hanya beberapa studi observasional telah dilakukan pada manusia, yang sering mencuatkan bukti yang bertentangan. Sebagian besar inkonsistensi tadi mungkin lantaran variasi dalam persiapan teh, konsumsi, faktor gaya hidup lain, dan genetika. Selain itu, sebagian besar penelitian ini dilakukan pada populasi Asia yang menjadikan teh sebagai minuman pokok. Pengganggu hubungan ini lebih merupakan kebiasaan diet lain, seperti konsumsi daging protein tinggi sehingga sulit untuk menjelaskan manfaat langsung dari konsumsi teh hijau. Dr Samadi juga mengingatkan bahwa teh hijau bukanlah obat mujarab. “Tidak ada pengganti untuk diet sehat, aktivitas fisik, dan pemeriksaan kondisi kesehatan yang memadai,” kata dia. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, dia menambahkan, pastikan Anda hanya mencelupkan kantong teh atau menyeduh daun teh selama tiga sampai lima menit. Minumlah cukup sekitar tiga cangkir setiap hari.


Yang tak kalah penting, menurut Dr. Samadi, catechins dalam teh hijau seduh lebih melimpah dibandingkan dari teh instan, teh botol, atau teh tanpa kafein. Juga, teh hijau terbukti mengganggu penyerapan zat besi, terutama dari sumber buah dan sayuran. Tapi, menambahkan lemon atau susu pada teh di antara makanan akan membantu mengatasi masalah ini.


“Walaupun antioksidan hanya dibutuhkan sedikit dalam tubuh, namun fungsinya sangat penting. Antioksidan  menangkal radikal bebas dalam tubuh dan ampuh mencegah tumbuhnya sel kanker. Radikal bebas dalam tubuh disebabkan  polusi lingkungan dan makanan yang dikonsumsi tercemar,” kata pengajar Teknologi Pertanian Unud Ir. Luh Putu Wrasiati, M.P. Menurutnya, selain teh yang berasal dari daun teh camellia sinensis, sekarang banyak juga beredar teh herbal untuk kesehatan dari akar, bunga, atau batang seperti teh benalu, rosella, dan krisan. “Aktivitas antioksidan teh herbal ini juga tinggi. Teh herbal banyak digunakan di rumah kecantikan. Antioksidan tidak saja bekerja saat diminum tetapi bekerja juga lewat kulit,” papar perempuan yang kini sedang menempuh studi program S3 Ilmu Kedokteran konsentrasi Biomedis ini.

Hal senada juga diungkapkan dokter spesialis penyakit dalam Prof. Nyoman Dwi Sutanegara. Menurutnya, antioksidan merupakan bahan yang dapat menetralisir kelebihan elektron-elektron radikal bebas. Radikal bebas ini muncul pada orang tua atau pasien diabetes dan hipertensi. “Belakangan ini diketahui, radikal bebas ikut berperan dalam munculnya proses degenerasi khususnya terjadi di pembuluh darah sehingga muncul serangan jantung dan stroke,” kata Prof. Dwi. Antisipasinya, dengan  memberikan obat-obatan yang melawan radikal bebas yakni antioksidan. Teh salah satunya yang mengandung antioksidan flavonoid, khususnya teh hijau. Jika dikonsumsi jangka panjang memberi pengaruh positif menangkal radikal bebas.


Menurut Guru Besar FK Unud ini, teh berasal dari tanaman, sehingga penyimpanannya harus bersih dan kering agar tidak ditumbuhi jamur. “Kalau sudah kadaluwarsa dan terkontaminasi jamur sebaiknya jangan dikonsumsi. Untuk mengetahui ada tidaknya jamur, perlu dicek ke laboratorium,” ujarnya.


Teh berjamur dapat mengakibatkan gangguan kesehatan seperti keracunan. Muncul diare dan muntah dalam kurun waktu 1- 2 jam setelah mengonsumsinya. Perut mulas,  muntah-muntah, badan meriang, dan diare akibat tubuh bereaksi menolak masuknya zat asing. Jika gejalanya sangat hebat, cairan tubuh banyak yang hilang. Komposisi tubuh anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Sebanyak 50% lebih tubuh anak mengandung cairan. “Jika cairan hilang,  dapat mengakibatkan dehidrasi. Terlambat penanganan, organ tubuh bermasalah, gagal ginjal, jantung tidak berfungsi, bahkan mengakibatkan kematian,” paparnya. Kalau diduga masih tersisa racun di saluran cerna, racun harus segera  dikeluarkan dengan cuci lambung atau kumbah lambung. Akibat kehilangan cairan ini, tubuh  harus diinfus. Kekurangan cairan berperan besar  terjadinya kematian. Sebagian besar kematian karena keracunan akibat dehidrasi.

Ia mengatakan ada racun tertentu memengaruhi sel darah merah. Wajah menjadi biru terutama di bibir, lidah, dan di telapak tangan, serta di bawah kuku. Jika keracunan makanan, dapat dipastikan dari muntah dan diare. Tubuh memiliki pertahanan sendiri  dari serangan berbagai zat negatif.  Lever adalah organ tubuh yang mampu memetabolisir bahan-bahan racun.“Tiap kita makan, sari makanan diserap usus dan dialirkan ke lever.  Terjadi proses-proses metabolisme di lever yang mengubah makanan beracun menjadi  tidak beracun. Lever berperan sebagai benteng dalam tubuh,” ujarnya.  Namun, kata Prof. Dwi, kalau serangan datang terus menerus lever kewalahan.  Kadang masih  tersisa secara halus produk metabolisme yang belum sempat dinetralisir, tetapi sudah beredar ke seluruh tubuh.  Ini sangat mematikan. Selain lever, tubuh juga memiliki seluler sebagai pertahanan yang dapat memakan bakteri.

Hati-hati mengkonsumsi teh celup


Ir. Luh Putu Wrasiati menyatakan masyarakat cenderung menginginkan yang hemat dan  praktis. Teh  celup alternatifnya. “Daun teh dibungkus dalam kantung  kertas yang berisi tali agar memudahkan untuk mencelupnya,” katanya.  Umumnya, kertas dibuat dari bubur kertas yang terbuat dari kayu. Untuk membuat kertas  ini menjadi putih digunakan senyawa klorin. Kertas yang berserat ini digunakan sebagai kantung teh celup. Sampai saat ini belum ada penelitian  dampak kandungan klorin dalam kantung teh celup.

Namun, Wrasiati menyarankan,  konsumen  sebaiknya mencelupkan teh kurang dari 3 menit. Setelah itu, bandul teh dibuang. “Biasanya kita mencelup teh hanya satu menit. Lebih dari itu warnanya sudah pekat. Bagi yang biasa menaruh teh celup dalam cangkir sampai dingin, hendaknya mulai mengubah kebiasaan ini,”  kata istri Anom Wijaya ini. Tujuannya, agar senyawa klorin atau senyawa lain pembuat kertas tidak ikut larut ke dalamnya.  Kalau direndam terlalu lama, kantung teh dapat rusak dan beberapa zat kimia dapat  ikut terlarut  di dalamnya.  Menurutnya, sebaiknya minum teh selagi hangat akan terasa lebih nikmat dan  dapat menyegarkan tubuh serta pikiran.  Ia berharap Balai POM  aktif dan bergerak cepat jika ada indikasi. “Jangan bergerak setelah ada masalah,” sarannya.  Pemerintah memunyai beberapa standar yang harus dikuti produsen agar menggunakan kertas yang layak untuk makanan. “Ada strandar khusus dari Departemen Kesehatan RI,” tambahnya.

Menurut Kepala Bidang Pengujian Teranokoko (terapik, narkotika, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen) Balai POM Denpasar Drs. I Wayan Eka Ratnata, Apt., pihaknya belum pernah melakukan pengujian langsung terhadap pembungkus teh celup. “Kami hanya menguji isinya,” ujarnya. Menurutnya,  ika memang pembungkus teh celup terkontaminasi jamur, pasti terdeteksi dalam isinya.  “Sebelum dikonsumsi, teh melalui proses  penyeduhan sehingga kalau ada mikroba akan mati,” jelas Eka.

Ia mengatakan, Balai POM selalu melakukan pengujian secara rutin ke lapangan.  Selama ini, kata Eka, belum pernah ditemui teh beracun atau berjamur yang dipasarkan. “Tiap produk selalu memiliki masa kaladuwarsanya. Puluhan produk teh beredar di pasaran termasuk teh herbal untuk kesehatan. Rata-rata produsen teh sudah diakui proses produksinya bagus dan layak dikonsumsi,” jelasnya.  Dalam sebulan Balai POM melakukan pengecekan ke lapangan sekitar 30 kali surat tugas. “Tidak mengkhusus hanya makanan dan minuman, juga obat, obat tradisional termasuk  suplemen makanan,  kosmetik, dan narkotika psikotropika yang digunakan  pengobatan,” paparnya. Menurut Eka, dalam setahun ada dana pengujian 4000 sampel.  Pengujian makanan dan minuman tahun 2009 sekitar 1600 sampel dari dana Balai POM. Sementara dari pihak luar sekitar 500 sampel.


Demikianlah beberapa fakta mengenai teh yang mungkin belum pernah Anda ketahui sebelumnya. Semoga dengan pengetahuan baru ini, anda lebih dapat menikmati sajian teh yang sedang anda seruput tanpa perlu dengan dahi berkerut.


Sumber
http://id.wikipedia.org/wiki/Teh
http://www.smallcrab.com/kesehatan/766-celup-teh-terlalu-lama-tak-jauh-beda-dari-racun-serangga
http://shnews.co/detile-10539-manfaat-minum-teh-hijau.html

Indonesian Tea


For more than 200 years, tea has been part of the way of life in Indonesia. But, there is no tea drinking ritual such as course of conduct reflected by local tradition. Sundanese sometime use no sugar tea drinking as a habitual “mode of action” when they have finished their breakfast. No one single ethnic in this country use it to be the way of life prescribed as normative. But



traditional tea has been a very popular drink in Indonesia and the popularity of tea extends across the entire country. Historically, the tea trade in Indonesia founded by the Dutch in late 1700. The Dutchman Jacobus Isidorus Lonevijk Levien Jacobson begin to cultivate Java’s tea industry in 1827. His strenuous trips to China for six years had been influential so he was able to start a tea plantation in Bogor. Then, the Indonesian tea industry continued to grow, and now the country is the fifth largest producer of tea in the world. The industry went into decline after the 2nd World War.
In 1984, Indonesia’s tea industry was revived. The tea estates began drawing tourists as the result of collaborative initiative by the Indonesian government, state-owned plantations and travel bureaus. After decades of isolation and after much effort and investment, tea exports from Indonesia began to make their presence felt in the tea market. Since then, constant improvement and modernisation of tea production and replanting of old estates have continued to this day.
Despite its high penetration, with products which cover all income segments, tea still managed to record off-trade volume growth of 7% in 2011, much of which was due to the rising popularity of modern tea in innovative formats. The rise of the health and wellness trend is also promoting higher tea consumption for various purposes such as detoxification, slimming, increasing stamina and reducing cholesterol. The appeal of these healthy varieties of tea, however, remains largely restricted to women and older consumers.
This beverage commodity has also been expanded to attract tourism since tea fields have been turned into hiking trails. The trend of mountain cyclists riding in hilly paths endorse processing factories offer educational and tasting tours and colonial homes. Some factories built guesthouses so that vacationers can travel back to a bygone era and partake in ecological adventures without ever having to set foot on an airplane. Today, there are more than 30 state-owned tea plantations in West Java and a handful of them are tapping into the growing tourism market.
Indonesian tea differs from other tea producing countries in respect to location, soil, and the climate where the tea estates are found. Teas there are planted in the highlands where volcanic soil and tropical climate are predominant. The main product is the black tea and about 80% of production is exported. Indonesian teas are light and flavourful and most are sold for blending purposes as this translates to excellent financial returns through foreign exchange for the country. In recent years it has even become possible to purchase Indonesian tea as a specialty tea. The Research Institute for Tea and Cinchona in Gambung, West Java, has a vital responsibility to increase tea production and to improve its quality. To-date, several clones have been invented that are more suitable to the soil, climate and for modern tea processing in Indonesia. Export quality tea is sold mainly through auction in Jakarta. The Joint Marketing Office or Kantor Pemasaran Bersama (KPB conducts the auction).
Gunung Slamat PT continues to lead tea in Indonesia and held a 27% off-trade value share in 2011. The company is a subsidiary of Sinar Sosro PT, the leading player in RTD tea in Indonesia through its various brands including Teh Botol Sosro, Joy Tea, S-Tee and Fruit Tea. In hot drinks tea, the company markets an extensive portfolio of brands, including Cap Botol Biru, Cap Botol Hijau, Teh Poci, Teh Celup Sosro, Teh Seduh Sosro, Sosro Heritage, Teh Cap Sadel, Teh Cap Trompet, Teh Cap Berko and Teh Cap Sepatu. The majority of products offered under these brands consist of loose tea, although in recent years there has been a gradual shift towards the development of tea bags and the company has launched several of its products of the tea bags variants. Many of the company’s products are only available in tea bags, including Teh Celup Sosro, Teh Seduh Sosro and Sosro Heritage. Each of these products contains a unique mixture of jasmine, black tea and green tea. Under its Teh Poci brand, the company also offers fruit infusion tea. In an attempt to tap into the rising demand for premium tea, in 2010 Gunung Slamat PT launched Sosro Heritage in 12 varieties in with the aim of broadening the perception of tea among local consumers.
In line with accelerating population growth and the relentless rise of the health and wellness trend in Indonesia, tea is expected to increase in off-trade volume at a CAGR of 5% over the forecast period. This growth is expected to predominantly attributable to the continuous increase in the numbers of people shifting away from traditional loose tea towards tea bags, a situation which is set to result in robust growth in tea bags. Functional varieties of tea such as fruit/herbal tea and healthy varieties of tea categorised under other tea will contribute to the healthy growth expected in tea during the forecast period.

Reference

http://www.teauction.com/industry/indonestea.asp
http://www.thejakartaglobe.com/lifeandtimes/drink-in-an-indonesian-highland-tea-tour/453852
http://www.euromonitor.com/tea-in-indonesia/report

Waktunya untuk Berani dan Bertakwa


Bilamana waktu identik dengan ruang, maka dimensi waktu memiliki wahana perjalanan. Apakah waktu yang berpindah atau seseorang atau sesuatu yang berpindah, belum ada teori yang dapat membuktikannya. Einstein hanya


bisa membuktikan hubungan yang relative antara waktu dengan benda atau makhluk, namun dia tidak bisa menjelaskan tentang perjalanan waktu. Pun, sampai sekarang belum ada ilmuwan yang sanggup menjelaskan teori fisika yang mengijinkan perjalanan waktu dalam segala bentuk, meskipun ada satu teori yang mengijinkan tentang kemungkinan melipat waktu untuk meloncat dari suatu titik ke titik lainnya[1]
Terlepas dari berbagai asumsi dan keyakinan banyak orang mengenai berbagai kemungkinan perjalanan waktu – seperti cerita John Titor, kepastian hidup kita sekarang berada dalam satu dimensi waktu yang berbeda dengan dimensi waktu yang kita alami sebelumnya. Kita bisa melihat perbedaan itu dari berbagai rekaman sejarah yang menjelaskan kisah hidup seseorang, suatu kaum, suatu bangsa dan umat manusia. Rekaman sejarah adalah alat bantu kita melihat masa lalu, agar kita mengetahui bahwa kita sedang hidup di masa kini dan sedang bergerak maju menuju masa depan. Dan saat ini kita meyakini bahwa kita hidup di era globalisasi, dalam suatu masa yang menghadirkan proses penyebaran unsur-unsur baru – terutama  informasi – secara mendunia melalui berbagai media sehingga tidak ada lagi batasan ruang dan waktu akibat kemajuan teknologi yang diterapkan oleh manusia.
Banyak hal yang bisa kita tangkap dengan panca indera kita di era globalisasi ini. Begitu banyak dan rumit sehingga untuk memaknai segala sesuatu yang ditangkap oleh panca indera kita sampai dengan saat ini tidak lagi sesederhana membalikkan tangan. Kita membutuhkan berbagai pandangan dan hubungan dari berbagai ahli karena dasar-dasar ilmu yang kita pahami selama mengikuti pendidikan maupun dari keluarga dan masyarakat tidak lagi cukup memadai dengan kenyataan yang kita alami di zaman modern ini. Ketidakpastian senantiasa hadir di alam global yang terus menghasilkan berbagai inovasi teknologi. Hal ini dikarenakan suatu hal yang tidak mungkin di masa lalu, bisa saja terjadi di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Dunia sekarang begitu semakin hebat karena semakin banyak terungkap keajaiban dan rahasia-rahasia yang tersembunyi selama puluhan abad. Temuan-temuan dan fenomena baru di alam global ini seharusnya menyadarkan kita tentang makna lain dalam perjalanan waktu. Yaitu, ketika suatu kemungkinan hadir dalam dimensi waktu, maka di saat itu pula ketidakpastian bergerak menghantui keyakinan yang sudah lama terbentuk dalam akal manusia.
Dari hal tersebut, seharusnya kita dapat mengedepankan suatu refleksi. Bukan untuk mecari pamrih atas karya dan pengabdian kita, melainkan untuk mengukur bagaimana kita mengembangkan kontribusi kita yang terbaik bagi sesama manusia dan alam di sekitar kita. Berbagai fenomena hidup yang kita alami hingga kita tiba di satu titik saat ini seharusnya bisa mengantar kita pada satu kesadaran tentang makna dari jati diri kita. Sudah menjadi bagaimana kita sekarang ? Hendak kemanakah kita nanti setelah ini ? Saya sendiri sampai sekarang tidak bisa menjelaskan secara bijaksana bagaimana itu “menjadi manusia”. Karena menjadi manusia sebagaimana yang didambakan, ditengah riuhnya pergulatan kepentingan individu, kelompok, suku sampai dengan bangsa bukanlah masalah yang ringan. Untuk mengurai masalahnya tidak cukup dengan satu halaman blog dan diskusi satu malam. Oleh karena itu, kita cukup melihat apa yang sedang terjadi di Negara kita ini sekarang.
Di Indonesia, kegaduhan politik setelah era reformasi telah mengantarkan satu pepatah yang menebalkan keyakinan bahwa dunia ini milik orang berani, sedangkan akhirat milik orang bertakwa. Perubahan besar yang terjadi di era reformasi menuju alam demokrasi memberi peluang banyak individu untuk menguji pilihan hidupnya. Keran demokrasi yang membuka lebar pintu kebebasan seakan mewajibkan setiap individu untuk mengenyahkan ketakutan-ketakutan yang diyakini kebenarannya selama masa orde baru. Akademisi tidak boleh lagi takut mengemukakan teorinya, pengusaha tidak boleh lagi takut mengembangkan bisnisnya, pejabat tidak boleh lagi takut berseberangan dengan atasannya, bahkan pengemis pun tidak boleh takut mengkoordinir pekerjaan pengemis-pengemis di jalanan. Kebebasan demokratis telah mewarnai wajah dunia di nusantara sekarang pada satu citra tentang bagaimana ketatnya persaingan hidup mengharuskan seseorang memiliki keberanian yang lebih besar untuk menghasilkan suatu perubahan.
Ya, perubahan. Itulah yang diinginkan banyak orang dari era reformasi ini. Namun sayangnya perubahan itu tidak menuju kondisi ideal yang diharapkan banyak orang. Karena perubahan yang diinginkan tersebut tidak selalu dilandasi dengan keberanian yang bersumber dari nilai-nilai moralitas. Hakekat moral sebagai integrasi dari nilai-nilai kemanusiaan kurang menjiwai banyak perubahan di era reformasi ini. Sehingga keberanian yang mendorong perubahan tersebut lebih bermakna untuk kepentingan sesaat, sempit atau hanya dijiwai oleh keberanian untuk mengikuti nafsu kemanusiaan semata. Padahal, perubahan identik dengan perjuangan, yang artinya membutuhkan banyak pengorbanan. Disinilah letak keberanian menjadi penentu keberhasilan seseorang di zaman sekarang, yaitu bagaimana dia mengorbankan  suatu hal yang sudah dipegangnya selama bertahun-tahun kemudian berganti dengan hal yang lain karena adanya tuntutan perubahan dari lingkungannya. Hal ini di sisi lain menjadi paradox. Keuntungan yang diyakini dapat diraih dari keberanian melakukan perubahan dapat mendorong setiap orang untuk tampil beda. Siapa yang lebih kreatif dan dapat memuaskan banyak orang dan diikuti dengan keberanian maka langkah selanjutnya dapat dengan mudah meraih bunga dunia yang diinginkannya.
Anda mungkin tidak setuju dengan pendapat saya karena setiap situasi berbeda kondisinya. Argumen saya dilatarbelakangi dasar pemikiran tentang kehidupan manusia di era reformasi ini yang sudah tidak lagi memegang prinsip-prinsip hidup yang diyakini oleh orang-orang yang hidup di masa lalu. Nilai-nilai prinsiipil  itu kini menghadapi persaingan dengan nilai-nilai baru yang lebih universal dan mampu menggoyahkan keyakinan seseorang terhadap nilai-nilai standard yang sudah ditetapkan oleh Negara dan masyarakat yang sedang berlaku. Dan barangsiapa berani menerapkan nilai-nilai yang lebih baru tersebut di dalam masyarakat saat ini, maka dia lebih banyak memiliki kesempatan untuk mendapat penghargaan banyak orang. Dampak positif atau negative dari perubahan yang dihasilkan dari keberanian seseorang menerapkan nilai-nilai yang lebih baru tersebut tentunya tergantung dari bahan mendasar yang menjadi acuan nilai-nilai perubahan tersebut. Yang lebih esensial tentunya adalah keberanian orang tersebut membawa perubahan tersebut. Keberanian untuk berubah, itulah yang dibutuhkan. Hitam atau putih perubahan itu, maka ditinjau dari aspek keberanian semata, dialah yang terbaik.
Dengan demikian, kebaikan dari keberanian yang diperoleh seseorang tergantung dari tepat atau tidaknya waktu dan cara keberanian tersebut diterapkan. Pada prinsipnya keberanian bisa diperoleh dan diterapkan dimanapun lingkungan berada. Keberanian yang dilakukan ditempat sebelumnya dapat menjadi dasar atau pemicu untuk melakukan keberanian di tempat lain meskipun dengan jenis dan cara yang berbeda. Oleh karena itu, keberanian dalam era reformasi ini ibaratkan keberanian Daud mengalahkan Goliat. Cerita Daud mengalahkan Goliat saat ini banyak dijadikan referensi banyak kepentingan. Ditinjau dari sisi negatif, keberanian teroris melawan hegemoni barat bisa menjadi contoh keberanian sekelompok orang dalam mewujudkan nilai-nilai baru yang lebih diyakininya. Namun seharusnya gambaran Daud mengalahkan Goliat ini dilihat dari aspek yang lebih bermakna yaitu tentang bagaimana upaya bangsa ini melakukan reformasi birokrasi di negeri ini. Tantangan yang besar dan tidak sebanding terlihat dari sistem birokrasi negeri ini yang akut dan menjadi tumpangan kepentingan banyak orang harus dibidik oleh kalangan reformis yang menginginkan perbaikan dan perubahan ke arah Indonesia yang lebih baik.
Kita bisa melihat sisi paradox yang  lain dari keberanian ini dari kasus cicak buaya, atau yang sedang terjadi terhadap penyidik KPK saat ini. Keberanian seorang Letjen Susno Duaji atau Kompol Novel dalam menerapkan kesungguhannya sebagai penyidik harus menghadapi kekuatan besar birokrasi di tubuh organisasi yang sedang menjadi obyek idealismenya. Namun di sisi lain, para aparat Polri juga harus berani menegakkan aturan yang berlaku terhadap anggotanya yang melanggar aturan organisasi namun mendapat dukungan kekuatan yang besar dari publik. Dua kepentingan yang melahirkan keberanian-keberanian humanis dari seorang aparat dalam mewujudkan perubahan-perubahan yang diyakininya. Dua kepentingan tersebut tentunya memiliki dasar nilai yang benar, bahkan mungkin dilandasi kepentingan untuk mewujudkan reformasi birokrasi yang masuk akal.
Untuk mengungkap keberanian siapa yang lebih tepat untuk dihargai, hanya nurani kita yang bisa menjawabnya. Apabila hati kita masih memiliki komitmen yang kuat untuk mendengarkan bisikan nurani, maka kita bisa menilai keberanian manakah yang seharusnya mendapat penghargaan di dunia ini. Karena pada dasarnya keberanian bermodalkan pada pribadi atau jiwa, jasmani, pengetahuan, pengaruh  lingkungan serta situasi dan kondisi yang berlaku. Dan itu semua sangat tergantung dari tingkat ketakwaan yang dimiliki seseorang. Ketakwaan seseorang dapat mendorong seseorang menjadi berani. Karena dengan dilandasi ketakwaannya, dia meyakini bahwa tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang dapat menandingi kekuatan terbesar di alam semesta ini.
Namun demikian untuk mencapai ketakwaan yang dapat melahirkan keberanian yang hakiki diperlukan kepercayaan dan keyakinan. Sehingga dengan kepercayaan dan keyakinan tersebut, lahirlah ucapan dan tindakan serta perilaku yang dapat mengatasi ketakutan-ketakutan yang dihadapinya. Disinilah makna dari akherat milik orang yang bertakwa. Keyakinan tentang adanya surga dan neraka, adanya balasan atas perbuatan baik dan buruk menurut ajaran agama, rahasia dan keajaiaban akhirat, serta banyak hal yang belum dapat kita lihat dan kita rasakan secara langsung di dunia ini membutuhkan energi yang lebih. Artinya, seseorang harus memiliki kekuatan mentuk memilki visi tentang “gelap dan terang”. Proses pemahaman terhadap hal-hal tersebut tidak hanya melibatkan kemampuan akal, melainkan juga kemampuan batin sehingga tergambar hal-hal yang berkaitan dengan kini dan besok, baik dan buruk, ya dan tidak, jangan dan boleh dan sebagainya. Pada proses inilah terjadi pertarungan sengit yang membawa pada keberanian yang berdampak positif atau negatif.

Bukan Negara Mafia
     
   Tepatkah penilaian seorang Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dr Laode Ida, tentang sebutan mafia pada negeri ini ? Menurutnya, maraknya markus di Indonesia menunjukkan bila negara ini sudah mirip dengan negara mafia karena semua lini atau pos-pos di negeri ini tidak lepas dari praktek-praktek kotor mafia. Namun penyebutan Indonesia sebagai negara mafia berarti menganggap Negara ini diatur oleh sebuah dinasti keluarga yang melegalkan praktik kotor, brutalisme dan kejahatan terselubung. Kasus Letjen Susno Duadji dan Kompol Novel seakan membenarkan asumsi tersebut dan mengindikasikan sedang terjadinya konflik dalam kehidupan keluarga mafia. Susno dan Novel yang berani mengungkap kasus-kasus besar dianggap sebagai  pengkhianat yang dapat menggoyahkan dinasti keluarga mafia dan karena itu dia harus disingkirkan dan tentu saja dengan cara-cara yang dapat saja secara formal disebut sebagai sesuai dengan ketentuan atau atau aturan hukum yang berlaku. Namun benarkah sedemikian buruk praktek kenegaraan yang berlaku saat ini ?
   Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentunya diperlukan keberanian untuk mengungkap fakta yang ada. Penilaian Dr. Laode Ida bisa menjadi keyakinan banyak orang apabila setiap saat bangsa ini disuguhi praktek-praktek penegakkan hukum yang tidak profesional dan bertanggungjawab. Pendapat Dr. Laode Ida akan semakin diamini kalangan masyarakat dan bahkan mungkin akan mendorong munculnya mafia-mafia yang sebenarnya dan ingin merebut kekuasaan mafia yang sedang berkuasa saat ini. Namun kehidupan di negeri ini tidaklah serumit pandangan Dr. Laode Ida tentang praktek mafioso. Praktek kenegaraan yang ada saat ini bukanlah praktek mafioso gaya baru. Negara dan bangsa ini memiliki landasan karakter yang kuat, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Apabila Negara dan bangsa ini dianggap sebagai Negara mafia, maka sama saja tidak ada lagi karakter yang dimiliki bangsa ini. Mungkin lebih tepat dikatakan jika jati diri bangsa ini mulai melemah, yang berarti pula nilai-nilai pegangan hidup kita sebagai warga bangsa dan Negara mulai pupus.
Dengan demikian, keberanian yang harus kita kedepankan di era reformasi ini adalah mewujudkan good and clean governance, membangun pemerintahan yang bersih dan berwibawa dengan dilandasi kesadaran kita akan semangat kebangsaan dan nasionalisme Indonesia. Nasionalisme Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai luhur bangsa tidak identik dengan dengan dunia mafia. Bangsa ini memiliki karakter, yaitu Pancasila. Oleh karena itu sangat ironis bila keberanian di era reformasi ini menghadapi paradox. Di satu sisi, agenda mulia reformasi mengandung makna perubahan menuju kondisi yang lebih maju yaitu kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang adil makmur, dan sejahtera. Namun di satu sisi lainnya, pengelolaan birokrasi dipengaruhi oleh gaya mafia dan tanpa memiliki karakter terpuji, terutama di kalangan elit penguasa.



Oleh karena itu, roh reformasi yang nyaris lenyap harus ditarik kembali dengan strategi membangkitkan keberanian memberantas berbagai gurita praktik mafia. Tujuannya (end) ? Pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Caranya (ways) ? Awali dengan membangun karakter diri kita sendiri. Wujudkan kepemimpinan yang diliputi semangat kebangsaan untuk memberantas segala bentuk praktik mafia dalam segala aspek kehidupan. Sarananya (means) ? Penerapan ajaran agama secara konsisten. Setuju ?



[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Perjalanan_waktu

Mengatasi Penguatan dan Penyebaran Prasangka Sosial dalam Kemajemukan Masyakat Indonesia di Era Global

Negeri Indonesia sudah lama menjadi daya tarik berbagai bangsa yang hidup di muka bumi ini. Kemasyhuran Indonesia terkenal karena wujudnya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.508 pulau beserta aneka macam flora dan fauna serta ratusan etnis dengan beragam budaya yang hidup di dalamnya. Indonesia merupakan
salah satu tujuan utama bagi pelancong yang berkeinginan melihat Negara yang mempunyai banyak suku, golongan, ras agama, adat istiadat. Pesona Indonesia terpancar dari keunikan wujud kesatuan budayanya yang dapat memadukan ratusan macam bahasa, tarian, dan lagu daerah, cerita rakyat, pakaian dan ritual adat dalam satu khasanah kebangsaan, yaitu Bhineka Tunggal Ika.

Keberagaman adalah realitas yang harus diterima oleh rakyat Indonesia sebagai tempaan perjalanan sejarah sampai akhirnya ratusan etnis dari Sabang sampai Merauke bersepakat bersama-sama berjuang mewujudkan sebuah Negara yang merdeka dari belenggu kolonialisme. Kemerdekaan itulah yang menghimpun kebersamaan nasib dan cita-cita sebagai lem kuat yang merekatkan berbagai macam suku, agama, ras dan golongan ke dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun tampaknya, kemerdekaan itu pulalah yang dapat mencerai-beraikan ikatan tersebut. Kemerdekaan yang saat ini banyak dianut oleh generasi sekarang sangat jauh berbeda dengan makna kemerdekaan “jembatan emas” sebagaimana diuraikan oleh Presiden Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945.

Ideologi global rupanya telah membawa dampak perubahan di semua aspek kehidupan manusia, tanpa terkecuali dalam makna Kemerdekaan. Perubahan di semua aspek kehidupan yang menjadi inspirasi global mampu menghilangkan sekat-sekat negara. Didukung oleh kemajuan Iptek, faham perubahan telah menggeser makna kemerdekaan yang seharusnya mengacu pada aspek tanggung jawab menuju pada azasi kebebasan tanpa batas. Dalam teori anthropology kebudayaan, kebebasan sekarang tidak seperti konsep strukturalismeClaude LeviStrauss, yaitu secara warisan keturunan (genetis) setiap manusia memiliki kemampuan menyusun suatu struktur tertentu di hadapan gejala-gejala yang dihadapi. Sebaliknya kebebasan terkini lebih mendekati konsepsi subyektifitas Jean Paul Sartre tentang eksistensi manusia sebagai mahluk yang bebas dan otonom (Yusuf, 2010).

Dalam dimensi perubahan pola fikir masyarakat yang mengglobal tersebut, peran ilmu anthropologi menjadi sangat penting untuk menjelaskan permasalahan dalam integrasi Nasional dan persatuan bangsa Indonesia. Khasanah budaya yang merupakan hasil olah pikir dan karsa manusia merupakan rujukan bernilai guna dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan sila ke tiga dari Pancasila. Karena dalam kebudayaan itulah, manusia dapat menemukan nilai-nilai hakikat kemanusiaan yang sesungguhnya. Di dalam warisan budaya yang menumbuhkembangkan kepribadiannya itulah, manusia Indonesia dipengaruhi oleh pemahaman azas kebebasan tanpa batas yang mengandung banyak potensi negatip untuk memperlemah jati dirinya sebagai suatu bangsa. Dan oleh karena itulah, maka  pihak-pihak tertentu yang berkeinginan melakukan praktek adu domba dapat secara leluasa memainkan perannya dalam kedok nilai-nilai budaya dengan slogan-slogan memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebagaimana terlihat dalam kompleksitas permasalahan bangsa Indonesia saat ini, persoalan demi persoalan selalu memuat wajah-wajah budaya asing yang ingin membenturkan nilai-nilai budaya lokal untuk merangsang tumbuhnya potensi anarkisme antar golongan yang semakin besar serta menurunnya kepercayaan masyarakat pada kebijakan pimpinannya masing-masing. 

Dihadapkan dengan komitmen “NKRI harga mati!”, maka permasalahan yang sebenarnya terjadi di masyarakat Indonesia sekarang ini merupakan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan menguatnya dan menyebarnya prasangka sosial yang dapat menimbulkan keretakan hubungan antar etnis, suku atau golongan (SARA). Dari tinjauan ilmu anthropologi, penguatan dan penyebaran prasangka sosial yang berkembang dalam budaya masyarakat Indonesia merupakan dampak dari keanekaragaman budaya yang mempengaruhi tindakan sosial/perilaku manusia sebagai anggota kelompok masyarakat. Karena secara teoritis, Kebhinekaan Indonesia mengandung arti identitas multikultural yang tetap melekat kuat dan akan tetap ada selama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila tetap eksis. Kenyataan alamiah inilah yang menjadi rujukan naluriah setiap manusia Indonesia, yaitu ikatan emosional yang kuat dengan segala sesuatu yang menjadi simbol identitas dirinya berbeda dengan manusia lainnya[1]. Identitas ini biasanya terkait dengan tanda-tanda yang terberi atau kodrati. Bagi manusia Indonesia ungkapan “Di dadaku Merah putih ! Aku cinta Indonesia !” mengatasi symbol atau pun tanda-tanda primordial seperti suku, ras, adat istiadat, agama dan asal daerah. Namun demikian kondisi ideal tersebut tampaknya sulit terwujud apabila tidak diiringi upaya untuk mengatasi gejala menguatnya prasangka sosial di masyarakat.
  
Beberapa kerangka analisis yang dapat digunakan untuk memahami pengaruh prasangka sosial dalam kemajemukan masyarakat Indonesia terdapat dalam tulisan Rahardjo (2010). Menurutnya, etnosentrisme, stereotip dan prasangka menyebabkan pemahaman yang relatif terbatas tentang pluralitas kultural. Orang secara individual maupun kelompok sering dengan sangat mudah mengekspresikan kendala-kendala dalam komunikasi antarbudaya (intercultural inhibitors), meskipun faktor-faktor penyebab dari konflik tersebut sebenarnya tidak mempunyai kaitan langsung dengan perbedaan-perbedaan latar belakang kultural. Dalam paparan Rahardjo (2010) disebutkan juga pandangan antropolog UI, Parsudi Suparlan (dalam I. Wibowo (ed.), 1999:165), bahwa sentimen etnis dapat diaktifkan untuk menciptakan solidaritas sosial. Kemudian saat terjadi situasi persaingan seperti perebutan sumber-sumber ekonomi dan pengalokasian pendistribusiannya, atau untuk mempertahankan dan memperjuangkan kehormatan etnisnya, sentiment etnis itulah yang dimainkan. Mengacu pada pendapat antropolog Kathryn Robinson (2000) dalam Rahardjo (2010), untuk mengerti kekerasan atau teror kita harus bisa memahami pikiran orang lain, yaitu mengapa mereka benci kepada kita atau karena mereka tidak mengerti.
   
Rangkuman mengenai teori prasangka juga terdapat dalam tulisan Nuraeni dan Faturrohman (2006) dan Maulana, dkk (2010). Feldman (1985); Mar’at (1981), Kimball Young dan Sherif and Sherif memandangnya sebagai sikap dan dugaan-dugaan actorn yang hanya didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok itu sebagai acto khas pertentangan antara kelompok yang ditandai oleh kuatnya ingroup dan outgroup. Pengertian teori prasangka tidak jauh dari pemahaman pelopor teori tersebut, G. Allport (1954) yang menyebutkan, bahwa prasangka adalah antipati berdasarkan generalisasi yang salah atau generalisasi yang tidak luwes, yang dapat dinyatakan dan dirasakan. Antipati bisa muncul pada seseorang secara individual atau pada kelompok. Menurut (David O. Sears, :149), prasangka adalah penilaian terhadap suatu kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok orang itu. Prasangka adalah sikap (biasanya negatif) kepada anggota kelompok tertentu yang semata-mata didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok (Baron & Byrne, 1991). Misalnya karena setiap orang suku Baduy sering bepergian jauh tanpa menggunakan sandal, maka setiap orang yang bertelanjang kaki dianggap memiliki perilaku seperti orang Baduy. Sementara itu, definisi prasangka lebih spesifik diberikan oleh Daft (1999) yakni kecenderungan untuk menilai secara negatif orang yang memiliki perbedaan dari umumnya orang dalam hal seksualitas, ras, etnik, atau yang memiliki kekurangan kemampuan fisik. Soekanto (1993) dalam ‘Kamus Sosiologi’ menyebutkan pula adanya prasangka kelas, yakni sikap-sikap diskriminatif terselubung terhadap gagasan atau perilaku kelas tertentu. Prasangka ini ada pada kelas masyarakat tertentu dan dialamatkan pada kelas masyarakat lain yang ada didalam masyarakat.

Ciri-ciri prasangka sosial menurut Brighman (1991) mempunyai kecenderungan untuk membuat kategori sosial (social categorization) dan dikuatkan oleh pengamat maupun anggota kelompok tersebut. Kategori sosial adalah kecenderungan untuk membagi dunia sosial menjadi dua kelompok, yaitu “kelompok kita” (ingroup) dan “kelompok mereka” (outgroup). Ingroup adalah kelompok sosial di mana individu merasa dirinya dimiliki atau memiliki  (“kelompok kami”). Sementara outgroup adalah grup di luar grup sendiri (“kelompok mereka”). Menurut Winedar (1997) dalam Nuraini dan Faturahman (2006), aspek-aspek prasangka terdiri dari kepribadian, frustasi dan peng”kambinghitam”-an, konflik karena kompetesi, kecemburuan sosial, norma/kultural, penilaian terlalu ekstrim dan menggeneralisir. Sedangkan komponen prasangka menurut Poortinga (1990) dalam Maulana, dkk (2010) terdiri dari tiga faktor utama yakni stereotip, jarak sosial, dan sikap diskriminasi. Ketiga faktor itu tidak terpisahkan dalam prasangka. Stereotip memunculkan prasangka, lalu karena prasangka maka terjadi jarak sosial, dan setiap orang yang berprasangka cenderung melakukan diskriminasi. Sementara itu Sears, Freedman & Peplau (1999) dalam Maulana, dkk (2010) menggolongkan prasangka, stereotip dan diskriminasi sebagai komponen dari antagonisme kelompok, yaitu suatu bentuk oposisi terhadap kelompok lain. Stereotip adalah komponen kognitif dimana kita memiliki keyakinan akan suatu kelompok. Stereotip adalah kombinasi dari ciri-ciri yang paling sering diterapkan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lain, atau oleh seseorang kepada orang lain (Soekanto, 1993).

Secara lebih tegas Matsumoto (1996) mendefinisikan stereotip sebagai generalisasi kesan yang kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian. Stereotip dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui bahasa verbal tanpa pernah adanya kontak dengan tujuan/objek stereotip (Brisslin,1993). Prasangka sebagai komponen afektif dimana kita memiliki perasaan tidak suka. Sedangkan, diskriminasi adalah komponen perilaku, yaitu menerima atau menolak seseorang semata-mata berdasarkan keanggotaannya dalam kelompok (Sears, Freedman & Peplau, 1999). Diskriminasi bisa terjadi tanpa adanya prasangka dan sebaliknya seseorang yang berprasangka juga belum tentu akan mendiskriminasikan (Duffy & Wong, 1996). Akan tetapi selalu terjadi kecenderungan kuat bahwa prasangka melahirkan diskriminasi. Prasangka menjadi sebab diskriminasi manakala digunakan sebagai rasionalisasi diskriminasi. Artinya prasangka yang dimiliki terhadap kelompok tertentu menjadi alasan untuk mendiskriminasikan kelompok tersebut. Menurut Turmono (2007), apabila prasangka telah begitu menguat dan menyebar dalam komunitas masyarakat yang majemuk akan berpengaruh pada pola komunikasi antar-etnik. Efek prasangka menimbulkan ketidaktulusan dalam menjalin interaksi yang dicerminkan oleh konsep mindlessness, yaitu orang yang sangat percaya pada kerangka referensi yang sudah dikenal atau kategori-kategori yang bersifat rutin dan cara-cara melakukan sesuatu yang sudah lazim (Ting-Toomey, 1999 dalam Rahardjo, 2010). Dalam kondisi seperti ini, jalinan komunikasi hanya sekadar untuk berbasa-basi dan tidak menyampaikan pesan yang sebenarnya. Hal ini berarti bahwa seseorang cenderung lebih bersikap reaktif daripada proaktifpada saat seseorang melakukan kontak antarbudaya dengan “orang asing” (stranger). Sehingga individu yang berada dalam keadaan mindless akibat pengaruh prasangka sosial, menjalankan aktivitas komunikasinya seperti “jalan sendiri” yang tidak dilandasi dengan kesadaran dalam berpikir.

Apabila kita perhatikan pendapat Rahardjo (2010), ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain yang dianggapnya berbeda, maka ia akan mengalami kerentanan emosional. Dalam arti, identitas kelompok (seperti misalnya identitas kultural) dan identitas individu (seperti misalnya sifat-sifat kepribadian) akan mempengaruhi cara-cara seseorang dalam mempersepsikan, berpikir dan berperilaku. Perilaku komunikasi yang tanpa kesadaran berfikir (mindless) disebabkan oleh ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) yang dialami oleh seseorang. Rahardjo mengutip Griffin (2000:396-397); Dodd (1998:9) dan Gudykunst & Kim, 1997:14) bahwa ketidakpastian dan kecemasan merupakan faktor-faktor penyebab dari kegagalan komunikasi dalam situasi antarkultural. Hal ini menimbulkan ekspresi dari perilaku yang tidak fungsional sehingga tidak memiliki kepedulian terhadap eksistensi orang lain, ketidaktulusan dalam berkomunikasi dengan orang lain, melakukan penghindaran komunikasi dan cenderung menciptakan permusuhan dengan orang lain (Dodd, 1998:9). Kehidupan bermasyarakat di Indonesia berlangsung unik dan berbeda dengan kelompok masyarakat di belahan bumi manapun. Keragaman yang sangat menonjol dalam proses interaksi timbal balik antara individu satu dengan yang lain menghasilkan khasanah demografis maupun sosiologis bangsa yang majemuk. Ciri khas kemajemukan ini, yang berupa perbedaan bahasa, (etnis) dan keyakinan agama serta kebiasaan-kebiasaan kultural lainnya, pada satu sisi merupakan kekayaan bangsa yang sangat bernilai. Namun pada sisi yang lain keragaman tersebut dapat berubah menjadi pemicu terjadinya disintegrasi atau perpecahan di masyarakat. Meskipun faktor-faktor penyebab dari pertikaian tersebut lebih cenderung pada aspek politik, ketidakadilan sosial dan kesenjangan ekonomi, kondisi budaya masyarakat yang plural ini seringkali dimanipulasi menjadi bahan provokasi konflik suku bangsa, agama, ras dan antargolongan (Rahardjo, 2010 : 12). 

Sebagaimana yang diungkap Koentjaraningrat (1993) dalam Idrus (2007), tidak hanya Indonesia yang memiliki penduduk heterogen karena diantara 175 negara yang tercatat di PBB, hanya 12 negara saja yang memiliki penduduk agak homogen. Dengan komposisi kemasyarakatan satu bangsa yang terjalin oleh kurang lebih 358 suku bangsa dan 200 sub-suku bangsa, bervariasinya etnis dan budaya yang melebur dalam satu wadah negara kesatuan merupakan wujud keinginan membangun bangsa berdasar keanekaragaman (kebhinekaan). Kondisi ini tentunya membutuhkan proses negosiasi diantara kelompok-kelompok yang berkepentingan agar tercapai kesepakatan win-win solution bukannya prasyarat yang mungkin saja merugikan kelompok tertentu namun sisi lainnya menguntungkan kelompok lain. Oleh karena itu proses musyawarah untuk mufakat, rembuk desa dan sejenisnya sebagai wujud peran serta masyarakat dalam memberi konstibusi yang positif kepada Pemerintah adalah sangat menentukan dalam mendinamisasi gerak Pembangunan Nasional di negara ini. Sebagai implikasi dari hal tersebut, pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, dan penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain sangat berpengaruh terhadap setiap hasil kesepakatan yang dicapai dalam proses musyawarah dan mufakat di Indonesia. Menurut pendapat Blum (2001: 16) dalam Idrus (2007), hal ini meliputi penilaian terhadap kebudayaan-kebudayaan orang lain, bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari kebudayaan-kebudayaan tersebut, melainkan mencoba melihat bagaimana kebudayaan tertentu dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-anggotanya sendiri. Penilaian tersebut tentunya bisa menghasilkan persepsi yang bermacam-macam tergantung dari aspek sikap dan perilaku individu sesuai dengan standard atau acuan karakter dalam kelompoknya. Dalam kondisi inilah kemungkinan besar munculnya pertentangan antara prasangka sosial dengan identitas etnik sehingga melahirkan stereotype yang sering terjadi akibat keterbatasan masyarakat Indonesia dalam memahami makna dari kemajemukan budaya bangsa Indonesia.

Berbagai peristiwa kekerasan sosial yang terjadi belakangan ini merupakan indikasi bahwa proses musyawarah mufakat sebagai bentuk negosiasi kepentingan antar warga tidak lagi murni dalam pelaksanaannya. Aplikasi musyawarah untuk mufakat sudah membias jauh, sulit ditempuh dan bahkan cenderung lebih mengedepankan kepentingan sesaat dengan berbagai alibi yang pada akhirnya berpotensi anarkisme golongan. Di sisi lain telah terjadi krisis kepercayaan di masyarakat, sehingga pada penghujung tahun 2011, banyak terjadi unjuk rasa masyarakat yang berkembang dengan tindakan brutal dengan dalih menuntut keadilan dan menentang kebijakan Pimpinan Daerah yang dinilai oleh sebagian pihak seolah-olah tidak memihak kepada kepentingan rakyat kecil/Wong Cilik. Figur aparat dinilai tidak sudi menengahi, akan tetapi cenderung pasang badan untuk membela penguasa dan pengusaha. Dalam kondisi tersebut terlihat bahwa proses musyawarah yang menghasilkan keputusan bersama maupun kebijakan unsur pimpinan maupun ketegasan aparat dalam membuat keputusan yang bersifat netral tidak lagi dapat diterapkan dengan sempurna. Seharusnya keputusan dalam musyawarah dan mufakat harus dapat dijunjung sebagai pertanggungjawaban bersama. Namun tampaknya forum musyawarah dan mufakat berubah menjadi sarana formalitas belaka sehingga sekarang tidak lagi dapat membendung kepentingan etnis tertentu yang bersikukuh untuk mempertahankan budayanya dan upaya-upaya untuk mengisolasi pengaruh budaya lain terhadap kelompoknya. Semakin kompleksnya permasalahan di masyarakat ditambah dengan pengaruh globalisasi mendorong perilaku-perilaku etnosentris semakin tajam.

Di sisi lain, pucuk-pucuk pimpinan masyarakat yang diandalkan untuk dapat berperan sebagai penengah kurang sensitif terhadap aspek-aspek budaya dan cenderung mengelompokkan etnis-etnis tertentu dalam kondisi yang terbelakang (untuk tidak menyebutnya sebagai primitif). Kondisi-kondisi seperti inilah yang tampaknya sedang berkembang di masyarakat Indonesia saat ini, yaitu penguatan dan penyebaran prasangka sosial sebagai akibat pemahaman yang sempit terhadap identitas kultural dalam wujud kebanggaan etnis atau fanatisme agama oleh masing-masing kelompok. Sebagai bagian dari masyarakat majemuk, kondisi seperti ini menunjukkan ketidakmampuan masyarakat dalam menjalankan komunikasi antarbudaya yang efektif. Hubungan yang terjalin kuat selama beberapa dekade sejak jaman revolusi kemerdekaan rupanya tidak menjamin kuatnya ikatan antar manusia yang bertujuan untuk meminimalkan kesalahpahaman budaya. Kondisi keberagaman masyarakat dan budaya di Indonesia seharusnya menumbuhkembangkan kebanggaan nasionalis yang menggambarkan kekayaan potensi sebuah masyarakat yang bertipe pluralis. Namun kondisi sekarang rupanya lebih menguatkan semangat dan ideologi yang etnosentris, yang menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior daripada kelompok etnik atau ras lain (Jones, dalam Liliweri, 2003). Kenyataan seperti ini mencerminkan penguatan prasangka sosial lebih cenderung pada tahap penilaian terhadap stereotype etnik namun dalam lingkup stereotype kebangsaan mengalami pertentangan (paradox). Di satu sisi stereotype terhadap kesukuan seakan mendapat pembenaran, misalnya suku bangsa A cenderung kasar, sedangkan etnis B identik dengan kehalusannya. Sementara itu dalam lingkup yang lebih besar, setereotype tersebut seakan dilemahkan. Manusia Indonesia memiliki gambaran stereotype bangsa yang ramah, terbuka pada siap saja, mudah tersenyum, mudah bergaul dan sebagainya. Namun pada kenyataannya stereotype tersebut tidak berlaku mutlak, bahkan cenderung berbeda 180 derajat seperti yang tercermin dalam vandalisme, kerusuhan, demo anarkis, bom teroris dan aksi-aksi kekerasan sosial yang muncul di tanah air belakangan ini. Pemandangan yang tergambar dari hal tersebut seakan menjelaskan sesuatu yang tidak lagi pas (inkonkurensi) antara pandangan yang terlihat dengan pandangan hidup yang diiinginkan dalam Pancasila sebagai pedoman hidup manusia Indonesia. 

Adanya kesenjangan antara realita kondisi masyarakat yang majemuk dan harapan untuk mewujudkan ke-bhineka-an dalam ke-tunggal ika-an seharusnya dapat dijembatani melalui komunikasi antar-budaya yang kaya toleransi. Semua unsur-unsur budaya akan memberikan makna yang khas bagi budaya tertentu membuka peluang terjadinya perbedaan makna. Bila terjadi perbedaan makna dalam komunikasi antarbudaya, dan perbedaan tersebut dapat diterima oleh masing-masing budaya secara apa adanya, maka komunikasi yang terjadi diharapkan dapat efektif. Tetapi, bila budaya lain dimaknai dari kacamata budaya kelompok tertentu maka efek komunikasi yang diterapkan justru sebaliknya. Hal inilah yang dimaksud dalam Pancasila sebagai nilai-nilai toleransi. Sehingga untuk mengatasi perbedaan makna dalam komunikasi antar budaya diperlukan nilai-nilai yang disepakati bersama. Dalam hal ini, kita harus mengakui kecerdasan pendahulu negeri ini yang telah merumuskan nilai-nilai yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia sebagai pedoman dalam menempatkan jutaan perbedaan makna budaya di negeri ini ke dalam satu konteks budaya nusantara. Sarana yang mengikat nilai-nilai kebangsaan tersebut terwujud dalam simbol-simbol negara berupa dasar negara Pancasila, bendera Merah Putih, bahasa Indonesia, lagu kebangsaan Indonesia Raya, sistem konstitusi UUD 1945 dan pranata-pranata budaya lainnya yang telah kokoh selama enam puluh tujuh tahun menjadi pengikat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Adapun saat ini, nilai-nilai yang termuat dalam Pancasila mendapat tantangan dari berkembangnya nilai-nilai kebebasan pasca reformasi yang dipandang sebagai nilai-nilai universal bagi berkembangnya masyarakat global. Globalisasi yang diiringi kemajuan Iptek dan derasnya arus informasi telah merubah tatanan masyarakat internasional. 

Berdasarkan laporan UNESCO (2011), erosi budaya merupakan masalah yang semakin menjadi sorotan dunia mengingat dampak yang muncul dari berbagai paradigma Barat yang seringkali berlebihan. Di satu sisi globalisasi dipandang sebagai suatu proses multidimensi dan multiarah yang melibatkan aliran segala macam hal (modal, komoditas, informasi, ide, kepercayaan, manusia) yang semakin kencang dan meningkat. Globalisasi juga mengakibatkan pertukaran internasional yang mengarah pada integrasi budaya suatu ‘pembauran kompleks’ identitas-identitas budaya. Namun di sisi lain, berbagai dampak negatif dari dorongan globalisasi terhadap keanekaragaman praktik-praktik budaya tidak dapat diabaikan. Salah satu efek utama dari globalisasi tersebut adalah melemahnya identitas baik secara kedaerahan maupun nasional. Sekarang, kita semakin banyak melihat warga negara Indonesia (WNI) yang memiliki identitas kewarganegaraan lain ataupun sebaliknya warga negara asing yang hidup menetap di negara kita selama bertahun-tahun menjadi WNI. Hal ini menegaskan fenomena yang dimaksud dalam laporan UNESCO bahwa dalam dunia yang semakin global, identitas budaya semakin luwes yang tercermin pada semakin kompleksnya aliran manusia, barang, dan informasi ke berbagai penjuru dunia. Dalam suatu lingkungan multikultur, seperti di negara kita, sekelompok orang akan memilih untuk mengadopsi bentuk identitas tertentu, sekelompok yang lain memilih hidup di dua bentuk identitas, dan sisanya menciptakan identitas campuran. Globalisasi dan teknologi baru telah memperluas ruang lingkup pilihan budaya yang memungkinkan masyarakat minoritas menjadikan diri mereka dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini dapat menjadi prasarana untuk mengembangkan usaha terus-menerus yang diperlukan untuk membatasi stereotip dan prasangka yang sering ditujukan kepada masyarakat tersebut. Oleh karena itu pendidikan merupakan hal yang fundamental untuk mengatasi ketidaktahuan dan ketidakpercayaan yang merupakan sumber konflik manusia. Berhubung prasangka didasarkan antara lain pada ketidaktahuan kita atau prasangka yang salah, memfasilitasi budaya keterbukaan adalah kunci untuk mendorong dialog antarbudaya. Dengan demikian pengembangan kompetensi antarbudaya tidak hanya terbatas di dalam ruang kelas saja melainkan harus dipupuk di lingkungan sekolah secara umum, serta melalui keterlibatan orang tua dan masyarakat setempat.

Sebagai akhir dari tulisan ini, dapat dibuatkesimpulan bahwa fenomena melemahnya forum musyawarah dan mufakat serta meningkatnya kekecewaan masyarakat pada pimpinan daerah diakibatkan oleh Prasangka Sosial yang berlebihan. Penguatan dan penyebaran prasangka sosial tersebut terjadi karena semakin kompleksnya permasalahan dalam masyarakat sehingga tidak lagi sesuai dengan kapasitas forum musyawarah dan mufakat yang menjadi acuan solusi dialogis antar budaya sesuai ajaran Pancasila. Di sisi lain, faktor kepemimpinan yang dipandang mampu menjadi penengah juga semakin kurang sensitif dalam memahami aspek-aspek kemajemukan budaya. Kedua faktor tersebut menyebabkan pemahaman terhadap identitas kultural oleh masing-masing kelompok menjadi sempit. Kebanggaan etnis atau fanatisme agama pada akhirnya menyebabkan komunikasi antar budaya juga tidak efektif sebagai akibat melemahnya pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai toleransi yang dimaksud dalam Pancasila maupun nilai-nilai lain yang merupakan pemersatu keragaman nilai-nilai budaya yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adapun saat ini, nilai-nilai Pancasila juga sedang menghadapi tantangan dari nilai-nilai kebebasan yang terdapat dalam globalisasi. Untuk itu, agar pengaruhnya tidak semakin memperkuat sentimen kedaerahan yang sudah ada, diperlukan upaya untuk memberikan pendidikan kompetensi antar budaya sebagai wahana untuk menghilangkan prasangka dan stereotip di masyarakat. Mengacu pada tugas pemberdayaan wilayah pertahanan matra darat, menguatnya prasangka sosial perlu dipandang sebagai sumber ancaman yang dapat melemahkan ketahanan nasional. Oleh karena itu, semua faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya kondisi tersebut harus dihilangkan. Sehingga untuk itu disarankan agar pelaksanaan tugas binter TNI AD senantiasa diiringi dengan upaya-upaya penanaman nilai-nilai empat pilar kebangsaan yang terangkum dalam Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya dihadapkan dengan tuntutan global yang mempersyaratakan kebutuhan terhadap pendidikan kompetensi antar budaya, disarankan agar nilai-nilai Pancasila dapat dikembangkan secara internasional karena pada prinsipnya telah teruji selama puluhan tahun mengatasi perbedaan budaya dalam kemajemukan masyarakat Indonesia.


Daftar Pustaka

Naskah Departemen tentang Antropologi Budaya untuk Pendidikan Reguler Sekolah Staf Dan Komando TNI AD NO  :    52 – 07 – C1 – I  0101, 2009, Keputusan  Danseskoad Nomor  Kep / 120  / Xii / 2009 Tanggal   31  Desember  2009

Yusuf, Andi, 2010, Claude Lévi-Strauss, http://oechoe.blogspot.com/2010/04/claude-levi-strauss.html

Idrus, Muhammad, S.Psi., M.Pd, 2007, Separatisme Etnis (Bukan Sekadar) Sebuah Wacana, Jakarta Publikasi internet .

Nuraeni dan Faturrohman (2006), Faktor Prasangka Sosial dan Identitas Sosial dalam Perilaku Agresi pada Konflik Warga (Kasus Konflik Warga Bearland dan Warga Palmeriam Matraman Jakarta Timur), Program Studi Psikologi UGM, Jogjakarta.

Faturohman, 2008, Mengelola Prasangka Sosial Dan Stereotipe Etnik-Keagamaan Melalui Psychological And Global Education, Publikasi internet.
Rahardjo, Turnomo (2010) Memahami Kemajemukan Masyarakat Indonesia (Perspektif Komunikasi Antarbudaya). Tesis PhD, Universitas Diponegoro, Semarang.

Taum, Yoseph Yapi, 2006, Masalah-Masalah Sosial dalam Masyarakat Multietnik, Makalah Focus Group Discussion (FGD) “Identifikasi Isu-isu Strategis yang Berkaitan dengan Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa”, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, tanggal 10 Oktober 2006, Yogyakarta

Suparlan, Parsudi, 2000,  Masyarakat Majemuk dan Perawatannya, makalah utama Simposium Internasional Jurnal ANTROPOLOGI INDONESIA ‘Mengawali abad ke-21: Menyongsong Otonomi Daerah, Mengenali Budaya Lokal, Membangun Integrasi Bangsa’, Kampus Universitas Hassanuddin, Makassar, 1-4 Agustus 2000.

Laporan Dunia UNESCO No. 2, 2011, Berinvestasi dalam KeanekaragamanBudaya dan Dialog Antarbudaya, UNESCU publishing, Spanyol <http://www.unesco. org/en/world-reports/cultural-diversity>

Suparlan, Parsudi, 2004, Masyarakat Majemuk, Masyarakat Multikultural, dan Minoritas: Memperjuangakan Hak-hak Minoritas, presentasi dalam Workshop Yayasan Interseksi, Hak-hak Minoritas dalam Landscape Multikultural, Mungkinkah di Indonesia? Wisma PKBI, 10 Agustus 2004, Jakarta.
 http://interseksi.org/publications/essays/articles/masyarakat_majemuk.html#_ftn1
Maulana, Ahmad, dkk, Prasangka & Politik, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung. <http://technurlogy.wordpress.com/2011/01/10/prasang ka-politik/>


[1]http://juliefisipuns.blogspot.com/2011/08/antara-keberagaman-dan-keseragaman_11.html

Zen: Sepersekian detik waktu dan sepersekian sempit ruang dalam sekecil apapun kejadian

Setiap hari selalu ada hal-hal yang kita alami dalam hidup ini yang kita abaikan sebagai suatu keberuntungan atau suatu kesempatan atau hanya sesuatu yang lewat begitu saja. Tentu saja hal ini terjadi karena ada waktu-waktu tertentu dalam peristiwa yang melemparkan kita hingga
benar-benar kehilangan keseimbangan atau membuat kita merasa lemah atau merasa takut. 

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu nikmat yg kekal, yg tidak berpindah dan hilang. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keamanan dalam hari ketakutan.”
 
Saya berpikir bahwa sebagian besar waktu yang kita alami, begitu banyak berhubungan dengan rutinitas sehari-hari kita, entah itu pekerjaan, perjalanan dinas, tugas rutin dan sejenisnya. Semua hal tersebut menyebabkan kita lupa untuk memperhatikan hal-hal di sekitar kita yang membuat hidup kita lebih baik. Padahal …

Dibutuhkan satu pohon untuk membuat ribuan korek api namun butuh satu korek api untuk menghancurkan ribuan pohon.
Satu peristiwa yang membuat kita berpikir negatif dapat menghancurkan ribuan hal yang kita bangun untuk berpikir positif.

Sesungguhnya tidak ada saat-saat yang biasa, tidak ada menit atau detik yang berarti di saat kita tidak peduli apa yang sedang terjadi dalam hidup kita, Dan yang paling penting adalah bahwa kita tidak akan pernah kembali ke “saat-saat yang berlalu tanpa pengenalan” tersebut. Jadi, saudarakau, sangatlah masuk akal bagi kita untuk mencari , mengakui dan mensyukuri “hadiah harian” yang berasal dari alam semesta.

“ Jika anda membiarkan sesuatu yang kecil berlalu, anda akan menemukan hal yang kecil juga. Jika anda membiarkan lebih banyak hal berlalu, anda akan meraih lebih banyak kedamaian. Jika anda benar-benar membiarkan seluruhnya berlalu, anda akan mendapatkan seluruh kedamaian”.

Seperti pagi ini disaat diri saya terbangun mendengar kicau burung di luar jendela, kemudian bangkit dan membuat secangkir teh panas yang harum dan beberapa roti bakar mentega yang hangat. Kemudian siang hari saya menemukan anak saya mendengkur terlelap di tempat tidur yang terkena hangatnya sinar matahari. Saya menikmati saat-saat bermain dengan anak saya, sementara semua perasaan saya bersyukur terhadap hal-hal yang kecil, atas banyak hadiah kecil yang menyenangkan dalam hidup saya, seperti teh panas, anak saya yang selalu menggoda saya dan burung yang selalu bernyanyi.

Pada pandangan pertama, hal-hal ini mungkin tampak agak tidak penting, saudaraku, tetapi ketika saya berpikir tentang apakah hidup seperti ini mungkin tanpa mereka, saya menjadi lebih menghargai mereka semua, lebih besar dan lebih indah daripada apa yang mereka tampakkan. Dan jika Anda memikirkannya, Anda mungkin setuju bahwa hal-hal kecil adalah apa saja yang membuat kita gila atau membuat kita bahagia. Oleh karena itu, hal-hal kecil dalam hidup itu benar-benar penting, bahkan mungkin jika mereka tidak tampak pada saat itu.

Orang menaiki tangga tentu dimulai dari tangga yang paling bawah, setapak demi setapak barulah sampai diatas. Manusia sendiri dilahirkan dan menjadi bayi,anak-anak, remaja, dewasa, kemudian menjadi tua. Demikian pula untuk menjadi sesuatu yang besar tentunya berawal dari hal-hal yang kecil. Jangan pernah kita menyepelekan sesuatu yang kita peroleh meskipun kecil sekali, karena dari awal yang kecil itu kita akan mendapatkan hal yang lebih besar.

Bagi saya, hal terbaik untuk mengenali saat-saat seperti itu adalah bahwa ketika saya memperhatikan dan membuka diri ini kepada mereka. Saya melihat hal-hal tersebut dengan semua keluarbiasaan dan dengan perasaan seakan-akan seperti saya dapat menarik lebih banyak daripada yang hal-hal itu tampakkan. Tentunya dengan cara saya sendiri. Hasil akhirnya adalah bahwa saya merasa lebih bahagia dan lebih mendalami hidup saya apa adanya. Hingga saya akan mempertimbangkan setiap hari secara berbeda sebagaimana apa adanya dengan cara saya sendiri.

Apakah orang-orang sedikit lelah hari ini? Energi di sekitar Anda mungkin sedang jenuh, tetapi jangan biarkan hal itu mempengaruhi suasana hati Anda. Cobalah untuk membawa diri anda pada ketenangan dan getaran terpusat menghadapi depresi dan stres yang sedang berputar-putar melalui hari-hari Anda. Sebuah niat positif untuk mendalami Zen bisa mengubah mood anda secara keseluruhan.

Saudaraku, sedikit keajaiban terjadi setiap hari. Bunga-bunga yang mekar, bayi-bayi yang dilahirkan, sinar matahari yang menghangatkan kulit kita, membuat kita tetap hidup. Meskipun kecil, semua itu merupakan bagian dari pernapasan hidup ini, pernafasan alam semesta. Saya berharap bahwa pekan ini Anda akan meluangkan waktu untuk mengenali kehangatan semesta, saat khusus yang Anda luangkan untuk merasa baik tentang diri Anda dan dunia di sekitar Anda.

You can’t be bothered to do things the easy way today — you’d much rather take chances and bet big on risky bets. It’s one of those days when living large might actually pay off for you.

Teori Sistem

Penggunaan istilah “system” dalam kehidupan kita menunjukkan dua hal yaitu “Wujud / entitas” dan “Metode / Rencana / Alat / Tata Cara”. Menurut Murdick dan Ross (1982:9) sistem merupakan suatu susunan elemen yang membentuk suatu kegiatan atau suatu prosedur atau skema yang berorientasi ke arah tujuan yang sama dengan melalui pengoperasian data dan/atau energi dan/atau materi

untuk memperoleh suatu informasi sewaktu-waktu. Falsafah sistem adalah “Way of thinking” yaitu memberikan kemampuan mengenai cara berfikir memperlakukan segenap gejala dunia ini sebagai suatu keseluruhan termasuk bagian-bagiannya dan hubungan antar bagian. Falsafah sistem memiliki permasalahan secara konseptual dengan cara kogatif (memiliki, merenung), mengembangkan perhatian pada komponen-komponennya pada segi-segi religius, melihat kaitan sistem dengan lingkungannya, mempertimbangkan komponen-komponen sistem yang perlu diaktifkan/dipilih dan sebagainya. Salah satu pemikiran yang dikembangkan dalam falsafah sistem adalah menganalogikakan sistem dengan ilmu ialah sebagai struktural pengetahuan yang sistematis, melibatkan rangkaian prinsip-prinsip yang penting ataupun fakta-fakta yang disusun dalam suatu hubungan atau ketergantungan secara rasional, serangkaian ide-ide, prinsip-prinsip, hukum-hukum/rumus-rumus yang secara keseluruhan membentuk satu kesatuan yang lengkap.

Antara “sistem” dengan lingkungannya akan berinteraksi, yang kemudian menimbulkan permasalahan-permasalahan. Oleh karena itu alasan dasar mengapa analisis sistem digunakan yaitu dalam rangka pemecahan problem (Problem Solving), syarat baru (New reguirement), pengimplementasian ide atau teknologi baru dan perbaikan-perbaikan sistem secara luas (Broad systems improvement). Analisa pemecahan masalah digunakan apabila sistem yang ada tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Misalnya bagian tertentu dalam tubuh organisasi menghadapi suatu problem dalam bidang penetapan waktu (Scheduling), peramalan (Forecasting), kontrol persediaan (Inventoy Control), yang perlu diperbaiki/dikoreksi. Sedangkan untuk menganlisa syarat saru, maka terdapat peraturan baru yang dihadapi oleh organisasi misalnya berupa : undang-undang baru, praktek acounting, jasa organisasi, produk baru dan sebagainya. Adapun analisa sistem untuk mengimplementasikan ide atau teknologi baru berhbungan dengan adanya ide ataupun teknologi baru akan menyebabkan timbulnya sebuah sub sistem baru yang perlu dirancang hingga dapat memanfaatkan peralatan tersebut secara optimal. Misalnya suatu perusahaan mulai menggunakan alat OCH (optical character recognition). Terakhir, analisa sistem berguna untuk perbaikan-perbaikan sistem secara luas (Broad systems improvement), yaitu suatu keinginan untuk menemukan cara yang lebih baik terhadap pekerjaan yang kini sedang dilakukan. Sasaran-sasaran umum perbaikan sistem antara lain mencakup tentang pengurangan biaya, servis lebih baik terhadap langganan, pelaporan lebih cepat.

Era global menyajikan berbagai perubahan mendasar dalam kehidupan manusia yang berakibat pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan pendekatan multiperspektif, artinya tidak hanya berdasarkan disiplin tunggal. Untuk itu diperlukan pemikiran secara sistem (system thinking), pendekatan sistem (system approach), konsep sistem (system concept), pandangan sistem (system viewpoint) ataupun lebih sederhana dengan sistem-sistem (system). Dengan konsep ataupun sistem-sistem ini maka masalah yang komplek dalam suatu persoalan akan menjadi lebih sederhana sehigga lebih mudah diselesaikan. Dengan demikian teori sistem merujuk pada serangkaian pernyataan mengenai hubungan diantara berbagai unsur yang berinteraksi satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Pandangan mengenai system bisa bermacam-macam. Sistem bisa berupa suatu kegiatan atau suatu prosedur/skema yang berorientasi kearah tujuan yang sama (Murdick dan Ross: 1982). Bila dipandang sebagai suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau terorganisir (Johason Katzn, Roseuzwey: 1980). Bisa berupa suatu set atau rangkaian dari benda-benda; suatu himpunan entity (unsur/bagian) yang saling berkaitan; atau agregesi.

Pendekatan secara sistem adalah cara yang meliputi berfikir untuk mencari solusi yang terbaik dengan memperhatikan unsur-unsur yang berhubungan dengan suatu masalah secara menyeluruh dan rasional. Pendekatan kesisteman mempunyai pengertian suatu kerangka pikir yang menghendaki agar dalam melihat sesuatu harus memperhatikan bahwa sesuatu tersebut terdiri dari sejumlah aspek yang saling berkaitan. Aspek yang berkaitan tersebut dapat bersifat internal maupun eksternal dan harus memperhatikan/mempertimbangkan peran dan pengaruh tindakan factor-faktor tersebut terhadap lingkungan. Dengan demikian maka pendekatan kesisteman adalah suatu metode berfikir yang merupakan analisa dari berbagai fenomena untuk menjadi suatu sintesis. Penggunaan pendekatan dan analisa sistem dapat membantu pimpinan untuk melihat persoalan yang rumit menjadi lebih sederhana. Sebuah sistem bisa longgar atau ketat, stabil atau tidak stabil. Sistem lebih kecil yang disebut subsistem mungkin hidup dalam sistem yang lebih luas. Di sisi lain sebuah sistem memiliki batas-batas yang membedakan dari lingkungan dan merupakan jaringan komunikasi yang membuka aliran informasi untuk proses penyesuaian diri. Dari dua sisi tersebut saja, kita dapat memahami bahwa untuk mengurai kompleksitas permasalahan yang kita temui diperlukan teori dan pendekatan kesisteman.

Hal-hal yang perlu dikembangkan dalam Teori system ini adalah adalah bagaimana merumuskan permasalahan berdasarkan komponen-komponen yang terdapat dalam suatu permasalahan lalu mengembangkan alaternatif pemecahan masalah. Penekanannya yaitu pemahaman tentang perlunya memeriksa seluruh bagian sistem. Karena sering sekali kita menganalisa sebuah permasalahan dengan memusatkan perhatian hanya pada satu komponen sistem, yang berarti dia telah mengambil tindakan yang mungkin tidak efektif, karena beberapa komponen yang penting diabaikan. Hal lain yang perlu dikembangkan yaitu bagaimana kita memahami pengaruh dari luar sistem dan memahami karakter dari sistem yang sedang kita tempati. Apakah kita berada dalam sistem yang terbuka atau tertutup ? Bagaimanakah kita memecahkan masalah dalam sistem yang tertutup? Lalu bagaimana kita mengolah informasi dari luar sistem namun tetap dapat digunakan untuk sebuah sistem yang bersifat tertutup?