Mencermati Perilaku Radikal dalam Film The Joker

Dua jam dua menit menyaksikan akting Joaquin Phoenix sedikit banyak membuka cakrawala berfikir psikologis, menghadirkan pemahaman lain tentang masyarakat awam yang hanya bisa menertawakan kepahitan hidup akibat rumitnya tekanan ekonomi. Di tengah sistem kemasyarakatan yang semrawut, tidak selamanya kebaikan bisa mengalahkan kejahatan. Karena dibalik sosok – sosok yang dermawan, terdapat sifat munafik yang mengantarkannya pada kesombongan dan kehancuran.

Settingan The Joker
Settingan Kangamay

Kontroversi karakter Arthur Fleck membawa pesan lain tentang bertumbuhnya gerakan radikal, yang bisa muncul begitu rupa seiring apatisme vs kritisisme publik terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, entah politik, entah ekonomi, maupun persekongkolan para koruptor dengan aparat penegak hukum. Hingga pada proses pembentukan perilaku selanjutnya, keradikalan itu menular ke masyarakat luas yang punya nasib serupa, yang lemah dan tersakiti kemudian menjadi psikopat yang menggalang anarki.

Menonton film ini hendaknya memiliki pemikiran yang bijak dalam semua aspek kehidupan. Plot cerita yang dibangun untuk menggambarkan kejahatan yang lahir dari orang depresi, suatu kondisi delusi, atau membedakan apakah fikiran kita sedang berada dalam ilusi atau realita – cukup menarik untuk kita pelajari. Bagaimana mindset positif ternyata juga bisa terjebak dalam manipulasi alam bawah sadar. Mencermati perilaku Arthur yang larut dalam obsesi, meneliti alur perkembangan kepribadian Arthur yang terseret warisan halusinasi ibu angkatnya, lumayan merangsang fikiran untuk melakukan refleksi.

Saya kira, nuansa thriller bukanlah hal yang ditonjolkan dalam film ini, melainkan lebih pada nuansa balada. Namun saya cukup khawatir terhadap keunggulan akting Phoenix membawakan karakter Arthur sang komedian gila – jangan sampai menginspirasi perilaku anarki yang sepertinya berpotensi menjadi wabah penyakit di negeri ini.

#The Joker

Menggali Makna Sejarah Benteng Kedung Cowek, Menelusuri Warisan Leluhur Prajurit Arhanud

Kedung Cowek saat ini hanya dikenal sebagai areal wisata alternatif bagi penduduk Surabaya. Di daerah itu terdapat kumpulan bangunan yang telah begitu tua menghadap ke arah selat Madura. Tidak banyak yang tahu asal-muasal bangunan tua yang sering disebut “Benteng” oleh penduduk kampung di sekitarnya. Meski hanya terpaut  beberapa ratus meter di sebelah timur pembangunan jembatan Suramadu, tidak banyak orang yang peduli dengan kebesaran nama benteng Kedung Cowek. Mungkin beberapa orang saja yang pernah tahu bahwa disana terkubur jiwa-jiwa yang mulia, yang telah ikut membesarkan nama negara dan bangsa Indonesia. Dan tidak banyak pula yang mengerti, diantara reruntuhan bangunan benteng tersebut terselip peristiwa bersejarah yang begitu bermakna bagi keluhuran jati diri korps dan identitas prajurit-prajurit Artileri Pertahanan Udara.

Sejarah Benteng Kedung Cowek

          Arti penting dari fungsi benteng Kedung Cowek, baru diulas dengan jelas “pada tahun 2001 dalam buku “10 November ’45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?” karangan Batara R. Hutagalung. Pada saat terjadinya pertempuran hebat antara pejuang-pejuang kita dengan tentara sekutu, benteng tersebut menjadi saksi bisu keberanian prajurit-prajurit yang mengawaki meriam penangkis serangan udara melawan keganasan mesin perang pasukan asing yang lebih modern.

          Berdasarkan buku Hutagalung, rentetan benteng pantai yang menghiasi Kedung Cowek dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Sejumlah meriam yang besar dilindungi oleh beton yang tebal dan kokoh, dimaksudkan untuk menghadapi kapal musuh yang mendekati pelabuhan dan pantai Surabaya. Namun sampai saat pasukan Jepang menduduki wilayah jajahan Belanda, benteng tersebut tidak sempat digunakan. Tentara Jepang kemudian menambah persenjataan dan memperkuat perlindungan. Itupun, setelah Jepang menyerah benteng-benteng tersebut masih utuh karena mereka tak sempat memanfaatkannya. Sehingga lokasi pertahanan yang kokoh dan lengkap dengan persenjataannya boleh dikatakan jatuh secara utuh ke tangan pejuang-pejuang Republik Indonesia.

          Menjelang pertempuran 10 November 1945 Pasukan yang menduduki Kedung Cowek dikenal dengan nama pasukan Sriwijaya yang merupakan mantan pasukan Gyugun ( bentukan Jepang ) dan telah mempunyai pengalaman tempur melawan tentara Amerika Serikat. Pasukan ini sebagian besar berasal dari Tapanuli, Deli dan Aceh  yang di bawa oleh Jepang ke Morotai, Halmahera Utara, karena Jepang kekurangan tentara selama Perang Dunia ke-II, pasukan tersebut telah mengalami pemboman serta gempuran pesawat terbang dan kapal perang Amerika, saat mempertahankan Morotai. Ketika Jepang menyerah pasukan Gyugun termasuk yang berada di Morotai dibubarkan mereka dilepaskan begitu saja, kemudian berupaya keluar Morotai dengan berbagai cara. Sekitar 400-500 orang diantaranya dengan menaiki sejumlah perahu terdampar di Madura. Dari sana mereka menyeberang ke Surabaya tanpa mengetahui lokasi yang di tempuh tidak mengusai bahasa Jawa bahkan tidak memiliki uang.

Kedung Cowek
Jalan Setapak Kedung Cowek

          Secara kebetulan, Kolonel dr. Wiliater Hutagalung berjumpa dengan dua orang pimpinan rombongan petualang tersebut, yang juga berasal dari Tapanuli. Setelah diberitahu tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mereka sepakat membentuk pasukan sendiri dan bergabung dengan tentara Indonesia yang sedang dalam proses pembentukan. Selanjutnya pasukan sriwijaya tersebut ikut dalam perebutan senjata dari tentara Jepang di Morokrembangan. Dari pasukan itu, yang sudah biasa melayani meriam ditempatkan di Kedung Cowek. Sedangkan yang sanggup menggunakan senjata penangkis serangan udara disebarkan menurut lokasi meriam penangkis serangan udara.

          Saat berlangsung pertempuran 10 November 1945, terjadi pertempuran hebat di benteng Kedung Cowek. Pada waktu kapal perang Inggris menembaki kota Surabaya, pihak Inggris sangat terkejut melihat perlawanan dari arah benteng-benteng tersebut. Dari kualitas tembakan, Inggris mengira yang melayani meriam-meriam itu adalah anggota tentara Jepang yang tak tunduk pada perintah sekutu, sehingga perlawanan itu disangka sebagai tindakan penjahat-penjahat perang (War Criminals). Atas dasar alasan itulah , maka Inggris membombardir benteng tersebut. Dikemudian hari, dari sejumlah orang Indonesia yang di Pasukan Inggris itu terungkap bahwa Inggris tidak memperhitungkan kalau pihak Indonesia memiliki anggota pasukan berkemampuan melayani meriam-meriam Berat di benteng-benteng Kedung cowek.

          “Setelah pertempuran tiga minggu di Surabaya sejak 10 November 1945, jumlah anggota pasukan sangat menyusut, maka pada Desember 1945, sisa pasukan Sriwijaya digabungkan ke pasukan Jarot Subiantoro. Pada bulan Juli 1947, sebagian dari mereka ikut dengan dr. Hutagalung untuk berjuang di Sumatera, namun karena agresi militer Belanda yang pertama tanggal 21 Juli 1947, perjalanan mereka terhenti di Yogyakarta.”(Hutagalung, 2001).

Makna Sejarah Benteng Kedung Cowek

          “To know history is to know your self”. Di era globalisasi dewasa ini, arti penting dari sebuah jati diri bangsa menjadi sangat penting. Jati diri bangsa merupakan kekuatan terbesar dalam menonjolkan identitas di tengah hiruk pikuk nilai-nilai universal yang dianut masyarakat global. Dan salah satu sumber untuk menyelami jati diri bangsa ini adalah memahami kandungan nilai-nilai sejarah yang dimiliki. Tanpa kita mengerti dan menguasai sejarah bangsa ini, mustahil ada penghargaan dari bangsa lain kepada kita. Salah satu pembuktian dari hal tersebut adalah Press release yang dikeluarkan oleh kedutaan besar Inggris pada tanggal 27 Oktober 2000 di Lemhanas Jakarta tentang permohonan maaf dan penyesalan orang Inggris atas begitu banyaknya korban korban dalam pertempuran 10 November 1945. Pernyataan tersebut merupakan suatu pembelajaran bahwa pengorbanan jiwa dan raga yang diberikan oleh pejuang-pejuang pendahulu kita telah berbuah menjadi nilai-nilai martabat bangsa yang dihargai oleh bangsa lain.

            Demikian pula halnya dengan kandungan nilai sejarah di balik kumpulan bangunan benteng Kedung Cowek. Data dan fakta sejarah yang ada disana merupakan acuan dalam menguak kebesaran hati, keberanian dan heroisme prajurit-prajurit eks Gyugun yang terkubur tanpa nisan. Sebagai bagian dari kehebatan pertempuran 10 November 1945, kontroversi atas perbedaan interpretasi atas peristiwa tersebut tidak perlu menjadikan nilai-nilai kejuangan dan pembelajaran aspek-aspek pertempuran yang termuat di dalam keberadaan benteng tersebut menjadi terlupakan begitu saja. Mereka mungkin tidak tercatat sebagai bagian yang paling penting dalam kisah pertempuran yang senantiasa dikenang oleh seluruh bangsa Indonesia. Namun di balik bekas-bekas bangunan yang kusam, ada selarik sinar yang bisa membuka mata hati generasi sekarang untuk memahami siapa dan bagaimana bangsa ini memperjuangkan martabat dan harga diri sehingga sekarang dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia internasional.

          Oleh karena itu keberadaan Benteng Kedung Cowek perlu tetap dilestarikan. Sisa-sisa bangunan, rel-rel galangan pengantar munisi meriam dan keterangan para saksi yang menyatakan adanya pasukan yang mengawaki senjata meriam besar di sana, tidak sepatutnya dinilai sebatas kepingan masa lalu, hanya sebatas kisah kepahlawanan nasional. Data dan fakta tersebut justru menjadi pembelajaran bagi “generasi-generasi pengisi kemerdekaan”untuk merenungi makna di balik peristiwa heroik yang pernah terjadi disana. Jika kita berdiri di atas benteng tersebut dan kemudian melepas pandangan ke arah laut lepas, kita akan merasakan betapa besarnya pengorbanan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan, cita-cita dan martabat bangsa Indonesia.

Keterkaitan Sejarah benteng kedung Cowek dengan Sejarah Kecabangan Artileri Pertahanan Udara TNI AD

          Jika pasukan Arhanud Australia memiliki cerita bersejarah “ack-ack unit” yang dikenal dengan the “sitting duck” pada saat pertempuran di Normandia, kisah kehebatan pasukan penangkis serangan udara yang dimiliki rakyat Indonesia  juga tidak kalah hebatnya. Yang berbeda, sasaran yang dihadapi oleh pasukan Sriwijaya saat itu adalah kapal laut, dan pesawat udara. Di dalam buku “10 November 1945, Gelora Kepahlawanan Indonesia” karangan Brigjen (purn) Barlan Setiadijaya, kehebatan pasukan penangkis serangan udara juga ditunjukkan di daerah Tandes. Dalam pertempuran 10 November 1945 hari pertama, pasukan-pasukan meriam penangkis serangan udara sudah dapat merontokkan 2 pesawat Inggris.

          Pertempuran di Kedung Cowek beserta kisah pasukan penangkis serangan udara yang turut mewarnai kedahsyatan perang 10 November 1945 merupakan acuan peristiwa yang melambangkan fungsi dan peran penting pasukan penangkis serangan udara dalam suatu situasi peperangan yang sesungguhnya. Dalam peristiwa tersebut, dapat kita pelajari bagaimana pasukan penangkis serangan udara menghadapi serangan musuh saat itu. Penempatan benteng Kedung Cowek yang dibangun untuk gelar statis meriam-meriam penangkis serangan udara merupakan aspek pembelajaran penting dalam peran dan fungsi kecabangan Artileri Pertahanan Udara. Pada masa itu tidak ada doktrin yang menjadi dasar bagi susunan bertempur pasukan untuk menghadapi serangan musuh. Pasukan Sriwijaya yang bertempur di benteng Kedung Cowek saat itu hanya mengandalkan pengalaman bertempur mereka pada saat mendukung pasukan Jepang melawan tentara Amerika di Morotai.

          Mungkin tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan dari perlawanan pasukan Sriwijaya di benteng Kedung Cowek. Hanya keberanian dan semangat pengorbanan luar biasa yang bisa kita kenang sebagai lambang kesatriaan dan patriotisme prajurit kebanggaan rakyat. Namun itu sudah cukup untuk membangun nilai-nilai identitas prajurit-prajurit Arhanud TNI AD. Dalam catatan sejarah kecabangan Arhanud TNI AD, tidak ada lagi peristiwa serupa yang dapat menggambarkan aspek pertempuran pasukan penangkis serangan udara. Bagaimanapun taktik, pengalaman bertempur dan persenjataan yang canggih tidak berarti apa-apa tanpa diiringi nilai-nilai keprajuritan yang sesungguhnya. Kekalahan yang dialami oleh pasukan Sriwijaya justru merupakan pelajaran penting bahwa wilayah-wilayah di negara ini memerlukan pasukan-pasukan penangkis serangan udara yang tangguh dan dapat diandalkan untuk mengusir serangan musuh.

          Pada intinya sejarah benteng Kedung Cowek yang sempat menjadi medan pertempuran pasukan penangkis serangan udara merupakan peristiwa penting dalam pengenalan jati diri prajurit Arhanud TNI AD. Karena di tempat tersebut pertama kali digunakan meriam-meriam penangkis serangan udara yang saat ini telah berkembang menjadi kecabangan “Artileri Pertahanan Udara TNI AD”. Sejarah perlawanan pasukan penangkis serangan udara mungkin hanya terjadi di Kedung Cowek. Meskipun pasukan tersebut tidak menamakan dirinya sebagai pasukan Artileri, namun kemampuan mengawaki meriam penangkis serangan udara melawan serangan musuh jelas merupakan identitas utama yang harus dijadikan sumber pengakuan siapa sesungguhnya senior-senior prajurit-prajurit Artileri Pertahanan Udara TNI AD.

          Oleh karena itu keberadaan benteng Kedung Cowek yang saat ini dalam kondisi kritis karena sedang direncanakan untuk dialihkan fungsinya sebagai obyek non-militer perlu mendapatkan perhatian yang besar dari pimpinan generasi masa kini. Meskipun sampai saat ini pengelolaan bangunan tersebut telah berada dalam tanggung jawab dinas Kodam, nilai historis bangunan tersebut perlu dieksplorasi untuk dilestarikan. Patriotisme para prajurit yang pernah bertempur di benteng Kedung Cowek yang semestinya kita kenang selalu sebagai bagian dari sejarah yang mencerminkan jati diri dan sumber pembelajaran kita untuk menjadi bangsa yang besar dan dihormati oleh masyarakat internasional. Sudah selayaknya areal benteng Kedung Cowek menjadi cagar sejarah yang dapat dijadikan sumber inspirasi dan rujukan dalam mengenang jasa-jasa para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan negeri tercinta ini.

 

Referensi

Setiadijaya, Barlan, 1991, “10 November 1945 Gelora Kepahlawanan Indonesia”, Yayasan Dwi Warna, Jakarta.

Hutagalung, Batara R, 2001, “10 November ’45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?” Milenium Publisher, Jakarta.

Harga Sebuah Penyesalan

Pada satu titik waktu dalam kehidupan ini, banyak diantara kita yang akan membuat perubahan besar. Suatu kondisi yang tidak hanya akan menghabiskan banyak uang dan semua sumberdaya yang ada, namun juga akan merugikan mental dan akan menghabiskan banyak energi. Namun demikian setiap perubahan dalam hidup, akan selalu mengajarkan pilihan apakah kita akan membayar untuk harga disiplin atau untuk harga penyesalan.

Kita selalu membayar harga untuk kedua hal ini di semua bidang kehidupan : karir, hubungan, kesehatan, perkembangan spiritual dan urusan keuangan. Namun sayangnya banyak dari kita gagal memahami hukum kehidupan sederhana tersebut.
 
Seumpama Kita tidak bahagia dimana Kita berada, banyak yang Kita lakukan untuk  mengubah situasi yang ada. Karena kita manusia, bukan pohon, bukan benda mati – Kita bisa bergerak. Bahkan jika itu berarti pindah dari satu kota ke kota lainnya, itu adalah hidup Kita dan Kita harus bahagia pada akhirnya. Banyak hal yang mungkin akan Kita temui sedikit sulit di awal kita berpindah dan juga tidak ada yang mengatakan akan mudah.
 
Bagi Kita yang berakal, awal perubahan akan kita sikapi dengan mematuhi hukum yang berlaku untuk semua masalah kehidupan, seperti disiplin, komitmen, kesabaran, integritas, latihan, pengendalian diri, dan fokus. Keseluruhan nilai – nilai tersebut akan membantu kita hidup dengan kebebasan, kedamaian, dan harmoni untuk bersanding dengan keadaan buruk yang membawa rasa sakit hati, kegagalan dan kemalangan saat kita bergerak sepanjang jalan hidup yang kita tempuh. Sebagian besar hal – hal buruk tersebut bisa dihindari (meskipun, tidak semuanya) jika kita mengerti, menerima, dan mengintegrasikan nilai kebenaran sederhana ini ke dalam kehidupan kita.
 
Namun dalam banyak hal, Kita harus mendengarkan naluri lebih banyak lagi ? Karena  ada satu hal yang bahkan lebih buruk daripada semua itu: PENYESALAN.
 
Pendorong utama yang bisa menciptakan penyesalan adalah mimpi dan harapan. Jika Kita memiliki mimpi, naluri kita akan mendorong diri untuk mengejarnya. Karena tidak peduli seberapa banyak Kita mencoba dan gagal akan jauh lebih menyakitkan daripada mengetahui bahwa Kita bahkan tidak mencobanya sekalipun hanya karena seseorang tidak menyukai mimpi Kita. Jika Kita memiliki impian untuk hidup, maka pergilah tanpa perlu memikirkan apa yang orang lain katakan, karena Kita tidak ingin menyesali hal-hal yang bisa Kita lakukan dan peluang yang bisa Kita ambil saat Kita tua !
 
Harga penyesalan yang disebabkan oleh tidak adanya upaya Kita mewujudkan mimpi akan sebanding dengan harga kedisiplinan untuk menjalani proses pencapaian wujud mimpi Kita. Harga kedisiplinan adalah dosis harian untuk berlatih, moderasi dalam urusan hidup, kebiasaan makan, strategi hubungan antar perorangan, seperti komunikasi terbuka dan kejujuran dan, tentu saja, mengelola sumber daya kita dengan bijak. Tidak adanya disiplin kecil sehari-hari ini akan terakumulasi, hari demi hari, dan dari tahun ke tahun sampai Kita mewarisi konsekuensi jangka panjang dari kesalahan sedikit saja yang kita lakukan dalam proses pencapaian sasaran ini.
 
Kita semua memiliki banyak pengalaman pribadi dimana kurangnya disiplin sehari-hari datang pada suatu hari untuk menghantui Kita. Seperti yang tersirat dalam kisah sepasang suami-istri yang sudah dikaruniai seorang anak berumur satu tahun hidup dengan bahagia. Mereka memelihara seekor anjing yang begitu setia.
 
Sejak dari pacaran sampai sudah dikaruniai anak, anjing ini telah menjadi bagian dalam hidup mereka. Sebagai teman bermain, penjaga sekaligus pelindung keluarga. Merekapun sangat menyayangi dan mempercayai anjing ini.
 
Suatu saat kedua suami istri ini keluar rumah dan meninggalkan anak mereka bersama anjing peliharaannya. Namun mereka lupa memberi makan anjing tersebut. Saat pulang, terkejutlah mereka dengan tetesan-tetesan darah yang berserakan dilantai. Kaget, takut, khawatir bercampur aduk dalam benak mereka langsung berlari menuju kamar.
 
Di depan pintu kamar, duduk anjing peliharaan mereka dengan mulut yang masih meneteskan darah segar. Histeris, kedua suami-istri berteriak. Si istri terduduk lemas dengan isak tangis, sedangkan sang suami langsung mengambil kursi yang ada diruangan, dan menghantamkannya bertubi-tubi ke kepala anjing mereka. Si anjing seolah pasrah menerima nasibnya tanpa berusaha menghindar, hingga akhirnya mati.
 
Dengan perasaan hancur dan tangis yang semakin menjadi, kedua suami istri itu pun berpelukan. Dalam hati mereka tidak menyangka telah kehilangan sang buah hati dan anjing peliharaan bersamaan. Dengan langkah lunglai, keduanya memasuki kamar. Dan betapa kagetnya mereka saat melihat anak mereka tertidur pulas diatas ranjang, sedangkan disamping ranjang tergeletak seekor ular yang sudah mati berlumuran darah.
 
Mereka baru sadar, ternyata anjing peliharaan mereka telah melindungi anak mereka dari ancaman si ular. Mereka sangat menyesali perbuatannya tetapi apa mau dikata semua sudah terlambat. Mereka menyesali keterlenaan jiwa mereka dalam memahami isyarat perilaku anjingnya, menyesali kelemahan mereka dalam melatih kepekaan rasa sat memandang pengabdian diri, meskipun hanya seekor makhluk yang derajat akalnya jauh dibawah manusia.
 
Kisah diatas mengingatkan kita tentang pentingnya disiplin yang dibalut naluri dalam pengendalian diri. Kita harus selalu membiasakan untuk tidak ceroboh dalam bertindak karena penyesalan selalu datang terakhir dan biasanya datang terlambat saat semua sudah berakhir. Setiap langkah Kita akan membawa konsekuensi masing-masing yang harus Kita bayar, dengan beberapa cara, cepat atau lambat. Ingatlah, disiplin sehari-hari beratnya hanya beberapa ons dalam “beban hidup”, sementara penyesalan seumur hidup bisa terasa seperti menimbang jutaan ton “Mimpi buruk”.
 
Rasa lelah sampai berkeringat untuk memelihara disiplin dan pengorbanan tidaklah seberapa dibandingkan dengan rasa sakit dan penyesalan karena kelambanan kita merespon situasi dengan benar.
 
Beberapa dari Kita mungkin telah dengan senang hati menemukan pentingnya disiplin untuk menghindari penyesalan yang tidak berkesudahan. Melalui pengalaman dan pembelajaran dalam hidup ini, tidak ada yang kebal terhadap rasa penyesalan. Namun seringkali keangkuhan, ketidaktahuan, atau kombinasi keduanya menjadi alasan pembenar, sehingga Kita benar-benar tidak peduli jika Kita mengklaim salah satu atau keduanya sebagai alasan terjadinya masalah yang Kita hadapi.

Sedalam apa komitmen Kita pada kesejahteraan umat Manusia ?

Tahukah anda pada bulan September 2015, para Pemimpin Dunia telah berkomitmen untuk mencapai Sasaran Global dalam rangka Pembangunan Berkelanjutan. 17 sasaran untuk mencapai 3 hal yang luar biasa dalam 15 tahun ke depan : mengakhiri kemiskinan yang ekstrim, melawan ketidaksetaraan dan ketidakadilan serta memperbaiki perubahan iklim. Untuk mewujudkan Sasaran ini, diperlukan partisipasi semua warga dunia dan mengajarkan generasi muda tentang pentingnya pencapaian tujuan – tujuan tersebut dan mendorong mereka untuk menjadi generasi yang mengubah dunia. Kemudian pada tanggal 20 September 2016 yang lalu, komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam debat tahunan Majelis Umum PBB.


Gambar dan video yang saya kirim ini merupakan salah satu media untuk mengingatkan komitmen tersebut. Diantara ketujuhbelas sasaran yang ada, kemiskinan dan kelaparan merupakan salah satu keadaan yang masih sering kita temui. Saya tidak tahu apakah media ini sebatas pencitraan atau bukan, namun saya yakin peristiwa itu benar – benar merefleksikan realita yang sering kita abaikan. Video dan gambar ini benar – benar mengingatkan Kita untuk selalu bersyukur dan berterimakasih dengan keadaan yang kita terima. Tidak cukup itu, Kita juga harus selalu berfikir untuk mewujudkan rasa syukur tersebut dalam satu tindakan. Meskipun sederhana, saya yakin Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan kesempatan pada kita untuk memberi daripada sekedar melihat dan merasa kasihan. Semoga hari ini saya bisa mengajak diri saya maupun anda untuk berbuat lebih kreatif, inovatif dan solutif. Sekecil apapun itu, selama dilakukan dengan ikhlas saya yakin akan menjadi sesuatu yang besar. Jika mereka yang sangat kekurangan saja mampu memberi, mengapa kita yang berlebih tidak mampu melakukan sesuatu yang lebih baik bagi orang – orang yang sedang ditimpa kemiskinan dan kelaparan ?

Kemiskinan hati maupun harta seringkali timbul dari pemahaman yang kurang menyeluruh tentang makna keadilan. Siapapun kita telah melalui berbagai pengalaman kerja atau hidup bersama dengan anak-anak akan tahu kemampuan mereka untuk mendeteksi ketidakadilan. Anak – anak atau kita sendiri di masa kecil sering mengatakan – “…tapi itu tidak adil..” kemudian membiasakan untuk menahan diri dengan tidak mengatakannya secara berlebihan. Hal ini sebenarnya merupakan salah satu bentuk bakat yang jarang disalurkan yaitu mencari bentuk keadilan dalam diskusi yang produktif dan kritis tentang sifat kesetaraan, apa saja yang termasuk perlakuan yang adil, dan siapa yang akan menentukan standar keadilan tersebut. Saya kira pembelajaran tentang masalah ini akan terus berlanjut sampai akhir masa kita hidup di dunia ini. Namun yang lebih penting adalah bertindak dan beraksi nyata untuk berlaku adil meskipun hanya Tuhan lah Yang Maha Adil terhadap diri kita, keluarga dan lingkungan di sekitar kita. Mulai dengan hal yang sederhana, dengan memberi sesuatu yang kita miliki dan memaafkan kekurangan yang kita miliki. Misalnya memberi senyum dan memaafkan dengan tersenyum.

Masa depan penuh misteri

Semakin maju teknologi, hal – hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya semakin banyak terwujud nyata. Apakah kita tetap akan bertahan dengan mimpi masa lalu yang diwariskan orang tua kita, atau berani membuat mimpi yang sama sekali berbeda ? Pilihan ada di fikiran kita pada saat ini,

apakah akan mencitrakan diri kita di masa depan sebagai penonton, pemilik, pencipta atau penghancur teknologi ? Apa yang sedang Anda fikirkan sekarang, boleh jadi itulah yang akan anda alami di masa depan.

My strength is trust. I know nothing about my fathers, I know nothing about the thousand children that every year spring out of me. I live out the secret of my seed to the very end, and I care for nothing else. I trust that God is in me. I trust that my labor is holy. Out of this trust, I live.



Memandang Kepemimpinan di Era Sinergi

Pemimpin zaman sekarang sejatinya hanya manusia biasa, yang membedakannya dengan umat yang dipimpinnya adalah amanah untuk membawa seluruh umatnya selamat sampai tujuan. Namun siapa yang bisa menjamin setiap manusia bisa selamat 100 persen sampai di tujuan selain Tuhan Yang Maha Kuasa atas kehidupan ini ?

Kesadaran akan jaminan keselamatan hidup di dunia yang tidak seratus persen ini seharusnya ada dalam setiap benak manusia. Termasuk kesadaran para pemimpin, dirinya membawa amanah nasib keselamatan para umatnya, tidak bisa membiarkan dirinya sebagai obyek pengkultusan umatnya demikian juga sebaliknya menjadikan umat sebagai obyek kepemimpinannya. Banyak faktor yang berpengaruh dalam kepemimpinan, dalam menautkan hubungan kausalitas antara keselamatan nasib umat dengan sosok pemimpinnya.

Manusia modern semestinya semakin menyadari bahwasanya antara subyek dengan obyek, metode serta faktor – faktor yang berpengaruh dalam kepemimpinan terdapat hubungan transendental yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesamanya, dan hanya menyembah semata-mata kepada Yang Maha Kuasa. Kesadaran puncak yang menegaskan realita kun fayaa kun, bahwa semua yang terjadi di dunia ini semata-mata atas kehendak-Nya.

Teknologi dan gaya hidup modern mungkin telah menghipnotis kesejatian sebagian besar umat sekarang menjadi terkubur, mati, tidak memiliki kemuliaan, menjadi umat yang ‘ummi’. Terbelenggu oleh taklid dan kultus, sebagan besar umat membiarkan kesadaran dirinya terenggut oleh nafsu yang merasa paling benar karena terbawa perasaan sudah dimenangkan oleh Tuhan. Secara tidak sadar sebagian umat ter”hack” oleh kesemuan yang melenakan akalnya, sebagian besar saraf otaknya berfungsi namun dalam kondisi idle, terlihat ada dalam “task manager” namun menjadi “zonk” ketika dipaksa menampilkan kesejatian.

Karena merasa nyaman dengan sang pemimpin, sebagian besar umat membiarkan alam kesadarannya menuju pemujaan buta, bahkan ikut serta menjadikannya sosok ‘sesembahan’, bersedia melakukan apa saja agar ketokohan sang pemimpin menjadi ‘ma’shum’, tanpa dosa, bahkan mencitrakan ucapannya sebagai ‘wahyu’ atau ‘titah’, yang wajib ditaati agar bisa hidup sukses. Sementara pendapat atau pandangan yang bersifat bantahan atau penolakan dianggap sebagai ‘ra’yu’, meskipun diiringi dalil yang mantiq sekalipun.

Pemashuman atas pemimpin bukan hanya terjadi di kalangan kaum marginal yang membentuk kelompok fanatik, di kalangan kaum mainstream yang terbilang moderat pun terjadi. Saya melihatnya seperti konservatisme dalam kemoderatan, menjadi wahana baru dalam memetakan proses pemashuman yang sekarang terjadi dilingkungan umat saat ini. Betapapun menyimpangnya perilaku para pemimpin, dan betapa dosanya, yang dilakukan para pemimpin, semuanya mereka maklumi. Kadang-kadang para pengikutnya, mengatakan kita belum sampai kepada maqomnya, agar bisa memahami apa yang dilakukan para pemimpin.

Padahal semakin maju peradaban, semestinya umat manusia ini makin faham bahwa Pemimpin adalah manusia biasa yang terus melalui proses pembelajaran. Kapan saja dan dimana saja pemimpin bisa khilaf, namun yakinlah sang pemimpin selalu belajar dan memperbaiki kesalahannya. Di zaman yang semakin modern ini, semestinya para umat menyadari sinergisitas dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Sekarang bukan zamannya lagi mencari-cari sosok pemimpin yang sempurna untuk ditokohkan, kemudian ramai-ramai mencari pembenaran atas ketidaksempurnaan upaya penokohan yang sudah dilakukan. Sudah bukan jamannya kita meletakkan segala kesalahan hanya pada pemimpin sementara umat melenakan dirinya dalam forum debat yang tidak berkesudahan.

Mestinya umat sekarang tidak membiasakan untuk menghabiskan waktu dalam gaya hidup “ayti” (IT) untuk cuci tangan atas segala permasalahan yang ada padahal semestinya bisa menyelami “ayat” untuk senantiasa berpartisipasi saat dibutuhkan : tolong menolong dan gotong royong menjadi fitrah bagi semua umat yang ingin maju dalam peradaban.

Pada hakikatnya kita adalah pemimpin dan menjadi bagian dari kepemimpinan itu sendiri. Semakin dalamnya pengetahuan umat, semestinya makin menyadarkan diri bahwa segala daya dan upaya manusia tidak bisa disandarkan pada satu sosok manusia, tidak bisa menyandarkan semuanya pada sang pemimpin. Semakin terang kesadaran, semestinya menggugah tekad untuk saling bekerjasama dalam memuliakan tujuan hidup bersama. Semakin tercerahkan, semestinya umat makin bersatu dalam kebhinekaan. Semakin faham kebenaran sejati, mestinya makin bersinergi.

Pembelajaran Sosial dalam Pengembangan Kepemimpinan Organisasi

Dalam berorganisasi, Kita melakukan pembelajaran sosial. Kita mengetahui bagaimana orang menerapkan perilaku yang baru dengan meniru model peran orang lain (role model) melalui proses otodidak (belajar mengalami sendiri). Pembelajaran sosial mengacu pada fakta bahwa Kita berperilaku (misalnya memegang senapan, memukul bola tenis, memberikan pidato, menggunakan program komputer) dengan pengamatan dan

imitasi terhadap perilaku orang lain. Hal ini merupakan fungsi dari karakteristik pribadi dan kondisi lingkungan. Menurut Bandura, teori pembelajaran sosial menjelaskan interaksi secara terus-menerus antara berbagai determinan kognitif, perilaku, dan lingkungan. Fungsi kognitif tidak boleh diabaikan dalam menjelaskan, memahami dan memodifikasi perilaku individu.

Teori pembelajaran sosial mengenalkan kita pada konsep belajar mengalami sendiri melalui gambaran perilaku orang lain (modeling), simbolisme dan pengendalian diri. Kita meniru orang tua, teman, pahlawan, guru, pelatih, mentor, dan pemimpin yang Kita hormati karena kita mengidentifikasi nilai – nilai yang persis sama dengan mereka. Kita juga menggunakan simbolisme sebagai panduan bagi perilaku kita. Sebagai contoh, kita memahami dengan baik untuk tidak menarik tuas pegangan exit dalam pesawat karena gambaran mental kita tentang konsekuensi dari tiba-tiba kehilangan tekanan dalam kabin; Kita membayangkan keberhasilan mencapai tujuan pribadi untuk memotivasi diri kita sendiri; dan Kita juga menggunakan pengingat mental untuk mengingat nama-nama teman Kita. Kita juga berusaha untuk mengendalikan diri dengan tidak merokok, tidak makan-minum berlebihan, dan tidak secara fisik mencederai orang – orang yang meremehkan keluarga Kita atau main hakim sendiri terhadap orang – orang yang melanggar aturan dan etos kerja.
Salah satu konsep terpenting dalam teori pembelajaran sosial, adalah konsep self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa seseorang dapat melakukan sesuatu secara memadai dalam situasi tertentu. Self-efficacy memiliki tiga dimensi: yaitu besaran (magnitude), tingkat kesulitan tugas yang dipercaya oleh seseorang bisa dia atasi; kekuatan (strength), mengacu pada keyakinan terhadap besaran (magnitude) dipersepsikan dengan kuat atau lemah; dan keumuman (generality), sejauh mana harapan yang umumnya berlaku dalam setiap situasi. Naluri untuk merasa mampu (sense of capability) – (Dapatkah saya melakukan pekerjaan itu?) – mempengaruhi persepsi, motivasi, dan kinerja. Kita jarang mencoba untuk melakukan pekerjaan atau tugas ketika kita berharap tugas tersebut tidak efektif untuk kita lakukan. Bagaimana Anda ingin menembak musuh dalam pertempuran ? Bagaimana Anda ingin menulis essay seperti yang dibuat oleh teman kita yang baru mendapatkan penghargaan dari Kasad ? Kita cenderung dan sering menghindari orang-orang, aturan dan situasi yang kita rasa kita tidak mampu memenuhi tuntutan kinerja yang kita perlukan.
Penilaian self-efficacy mempengaruhi pilihan kita terhadap tugas, situasi, dan pertemanan, berapa banyak usaha yang akan kita lakukan, dan berapa lama kita akan mencoba berbagai upaya untuk memenuhi tujuan hidup kita. Seberapa keras dan lama seorang peserta didik melalui masa – masa pendidikan atau masa – masa latihan lebih tergantung pada rasa self-efficacydari pada kemampuan yang sebenarnya.
Self-efficacy terkait dengan konsep motivasi lainnya. Menurut Edwin Locke dan rekan sejawatnya, self-efficacy menyediakan mekanisme untuk mengintegrasikan teori belajar dan berbagai pendekatan lainnya untuk mencapai tujuan. Untuk meningkatan motivasi kinerja, diperlukan umpan balik sebagai hal yang penting dalam merumuskan persepsi tentang efikasi yang berinteraksi dengan penetapan tujuan. Self-efficacy juga berhubungan dengan kinerja dalam teori motivasi yang berbasis harapan (expectancy theory).
Salah satu konsep yang memiliki efek potensial dalam self-efficacy adalah efek Pygmalion, yang mengacu pada peningkatan kualitas pembelajaran atau kinerja yang diperoleh dari harapan positif orang lain terhadap keberadaan kita. Artinya, fakta bahwa persepsi orang lain yang percaya kita mampu menampilkan tingkat kinerja yang tinggi dapat mendorong kita untuk menampilkan kinerja yang setara dengan harapan orang – orang tersebut. Banyak ahli percaya bahwa self-efficacybekerja dalam efek Pygmalion melalui pengaruh persuasif dari orang lain yang memiliki harapan positif. Harapan seorang pemimpin tentang kinerja Kita dapat kita pandang sebagai masukan penting untuk membentuk persepsi yang positif dari anggota organisasi untuk memperoleh efikasi yang berkhasiat. Misalnya, jika seorang pimpinan percaya dengan tulus bahwa anggotanya siap dan mampu untuk meraih prestasi (meskipun anggota tersebut tidak begitu yakin), maka harapan untuk sukses ini selalu akan meningkatkan kepercayaan diri anggota bahwa ia sebenarnya akan berhasil untuk melalui tantangan yang dihadapinya. Kekuatan persuasi akan dipengaruhi oleh kredibilitas pemimpin, hubungannya dengan anggota, pengaruhnya dalam organisasi, dan sebagainya. Hal ini juga mungkin berhubungan dengan jenis kelamin sang pemimpin, karena efek Pygmalion banyak ditemukan di antara pemimpin laki-laki daripada kalangan pemimpin perempuan. Namun apa pun definisi dan dampaknya, harapan memainkan peran yang utama dalam mempengaruhi perilaku seseorang dalam berorganisasi.

Diterjemahkan dari Gibson, J.L., et.al, 2012, Organizations: Behavior, Structure, Processes, 14th edition, the McGraw-Hill Companies, Inc. 

Merubah Keyakinan Inti menjadi Kunci Sukses Hidup

Di dunia yang serba tidak pasti ini, banyak orang mencari inspirasi hidup sukses untuk melengkapi keyakinan diri dalam rangka menghadapi masa depannya. Keyakinan merupakan bagian halus yang diam – diam membangun sebuah kepercayaan seperti butiran salju yang bilamana terakumulasi dengan kepercayaan – kepercayaan lainnya membuat bola salju keyakinan yang besar dan kuat. Dalam hidup kita, sebagian besar waktu terpakai oleh pola – pola perilaku yang dipandu oleh keyakinan dalam pekerjaan yang kita lakukan, agama, kesetiaan kepada keluarga, bangsa dan segala macam nilai-nilai lain yang kita yakini. Ketika keyakinan mulai berkuasa dan mengendalikan hidup
kita, maka terjadilah proses auto-pilot yang menyebabkan pola – pola perilaku yang sebagian besar tidak kita rencanakan dan tidak kita sadari. Banyak dari perilaku kekerasan atau kegilaan di dunia ini selalu terkait dengan keyakinan yang fanatik, dipegang teguh tanpa toleransi yang sebenarnya memenjarakan orang-orang yang terjebak dalam keyakinan mereka. Inilah salah satu hal mendasar yang menjadi akar permasalahan dalam sebagian besar kasus – kasus tribalisme, radikalisme, fundamentalisme agama yang terangkum dalam pola fikir konfrontatif dan menyebabkan konflik – konflik dalam interaksi sosial maupun pengertian konsep diri.

Dalam aspek keyakinan ini, banyak diantara kita yang telah kehilangan pandangan terhadap dua hal. Pertama, diri kita tercipta untuk mengendalikan keyakinan yang kita miliki, bukan sebaliknya. Kedua, ada tombol saklar dalam diri kita yang dapat menciptakan keyakinan baru untuk menciptakan realitas yang baru pula pada saat yang bersamaan. Kuasa untuk mengendalikan dan saklar diri itulah yang akan membentuk konsep diri yang dapat menjelaskan alasan suatu kasus ketika musuh berubah menjadi sekutu, ketika frustrasi berubah menjadi kesenangan, ketika korban menjadi penguasa yang arogan. Saat itu merupakan penanda aktivasi saklar diri dan terjadinya pergeseran realitas.

Keyakinan yang paling kuat adalah segala sesuatu yang saya sebut keyakinan inti, karena hal tersebut memberitahu kita tentang siapa Diri Kita. Jika seseorang sangat percaya “Aku sukses” dan orang lain percaya “Saya dicintai,” buah dari keyakinan inti ini akan sangat berbeda. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk memegang keyakinan inti yang positif dan mengaktifkannya dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani. Semakin Kita mengaktifkan keyakinan inti, realitas kehidupan yang kita jalani menjadi lebih dinamis dan mudah beradaptasi.

Ada empat keyakinan inti yang membuat perbedaan besar bagi seseorang ketika merumuskan konsep dirinya:

Cinta
Harga Diri
Merasa aman dan selamat
Merasa Utuh

Apapun prinsip hidup yang dimiliki setiap orang, selalu ada keyakinan tentang keempat hal ini dalam hatinya, dan keyakinan ini tidak selalu sederhana. Seluruh hidup Kita telah membentuk keyakinan inti yang masih Kita pegang teguh sampai dengan saat ini, sementara pada saat yang sama keyakinan inti telah membentuk seluruh hidup yang Kita jalani. Dari satu contoh tentang aspek cinta saja, ada banyak keyakinan inti yang mungkin dikembangkan seseorang dalam hidupnya, secara positif maupun negatif.

Keyakinan negatif:
Cinta hanya melemahkan saya.
Tidak ada Cinta yang tulus.
Cinta hanyalah awal dari kebencian.
Tidak ada seorang pun yang mencintai saya.
Cinta itu egois, hanya pembungkus nafsu belaka
Jatuh cinta adalah khayalan, semacam kegilaan romantis.

Keyakinan positif:
Cinta menjadi sumber kekuatan saya.
Cinta itu tanpa pamrih layak dan saya juga ingin memberinya tanpa syarat.
Cinta adalah abadi dan benar – benar melenyapkan kebencian
Banyak orang yang mencintai saya
Kesadaran itu sendiri mengandung kekuatan cinta.
Manusia mampu memiliki cinta sejati menuju derajat yang lebih tinggi.

Sebagaimana yang Kita lihat, seseorang yang memegang nilai keyakinan cinta pada contoh yang kedua akan lebih bahagia dan lebih puas daripada seseorang yang memegang contoh nilai – nilai yang pertama. Bilamana Kita diberikan pilihan dari dua perangkat nilai tersebut, kebanyakan orang yang membaca kata-kata inspiratif tentang cinta akan memiliki respon yang berbeda, “ya, indah juga” atau “kata-katanya bagus juga”. Kehidupan pribadi mereka telah membawa fikirannya dalam mind set yang terbentuk dari campuran pengalaman tentang cinta, tidak semuanya positif atau negatif. Namun, keyakinan inti tentang cinta ini bukanlah sebuah kotak pendapat, yang bisa Kita ambil keluar dari dalam diri kita kemudian memeriksa kesesuaiannya jika Kita punya waktu untuk membongkarnya. Perangkat keyakinan inti merupakan sebuah microchip yang dibenamkan dalam lapisan syaraf – syaraf otak yang merangsang fikiran kita. Dalam microchip inilah terdapat kode – kode untuk mengaktifkan pola fikir melalui pesan – pesan dari alam bawah sadar.

Pesan – pesan yang dipancarkan oleh microchip ini tidak akan berubah kecuali jika Kita membawa kesadaran diri untuk mengubahnya. Layaknya sebuah program auto pilot, microchip ini dibiarkan sendiri, melakukan tugas mekanis yang sama berulang-ulang. Oleh karena itu, bilamana seorang gadis muda percaya “Aku tidak layak dicintai” dirinya akan tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang berpikir dalam keyakinan yang sama, karena di tahun-tahun pengembaraan hidupnya, microchip ini selalu berbunyi, mengirimkan pesan yang sama, dan akhirnya pribadi gadis tersebut dalam kenyataannya akan sesuai dengan keyakinan negatif, yang dalam hal ini adalah tentang harga diri serta cinta.

Jika Kita ingin merubah hidup di lapisan keyakinan inti yang paling mendalam, kesadaran adalah saudara Kita yang paling dekat. Salah satu cara yang berguna untuk mulai mengubah keyakinan inti yaitu dengan memvisualisasikannya dalam tulisan. Bayangkan salah satu dari empat aspek keyakinan inti: cinta, harga diri, merasa selamat dan aman serta merasa utuh. Duduklah dengan selembar kertas dan buatlah dua judul, “keyakinan positif saya” dan “keyakinan negatif saya.” Tuliskan dalam daftar semua keyakinan yang Kita pegang di sekitar topik yang satu ini, seperti cinta. Jangan membatasi diri. Tuliskan semua keyakinan yang datang ke pikiran Kita.

Satu waktu, kembali ke daftar yang Kita buat, setidaknya dua kali di minggu berikutnya. Tambahkan ke sisi negatif dan positif tentang gagasan – gagasan yang terus Kita fikirkan – Kita akan menemukan bahwa kepercayaan yang lebih dalam akan mengambil waktu lebih banyak untuk muncul ke permukaan. Saat daftar Kita selesai, duduk kembali dan nilailah daftar yang Kita buat. Dari setiap gagasan yang Kita percayai, nilailah masing-masing keyakinan dengan tanda : K = keyakinan yang kuat, L = keyakinan yang lemah R = keyakinan yang tidak pasti atau tidak yakin. Langkah – langkah ini merupakan isyarat bahwa Kita sedang memetakan wilayah dari sistem kepercayaan inti, yang sangat berguna bagi diri Kita. Karena hal ini merupakan komunikasi pribadi Kita dengan diri sendiri, jangan malu untuk meletakkan keyakinan yang Kita anggap salah atau tidak dapat diterima – ini adalah waktu Kita untuk mengambil alih kendali atas semua keyakinan Kita.

Tahap berikutnya, sekaranglah saat untuk memulai untuk mendorong perubahan. Ambil satu keyakinan negatif yang kuat dan satu keyakinan positif yang kuat. Sebagai contoh, keyakinan negatif yang mungkin “Aku hanya akan mendapatkan cinta dari beberapa orang” dan keyakinan positif “Cinta mampu menyembuhkan.” Tugas Kita adalah untuk mengurangi keyakinan negatif dan memperkuat keyakinan positif. Langkah ini semacam pelatihan otak, dimana Kita berada dalam jalur baru dari pikiran dan perasaan yang terdalam. Jadi dalam kasus dua keyakinan ini, langkah-langkah apa yang dapat Kita ambil?

“Saya hanya akan mendapatkan cinta dari beberapa orang”

Untuk meminimalkan keyakinan ini, Kita perlu merasa lebih aman tentang cinta di luar lingkaran erat keluarga dan teman-teman Kita. Katakan pada diri sendiri bahwa ini adalah mungkin. Hanya karena beberapa orang mencintaimu sekarang bukan berarti bahwa tidak akan lebih banyak orang yang hanya mencintai Kita jika Kita memberikan cinta pada mereka. Mulai dari tempat – tempat yang Kita rasa aman, seperti bekerja di tempat penampungan atau membantu anak-anak kurang mampu – suatu kegiatan dimana Kita dapat melihat ekspresi cinta, yaitu tanggapan yang segera dari apresiasi dan rasa syukur. Secara umum, berkumpullah bersama orang-orang yang mencintai – mereka ada di sekitar Kita. Mereka mungkin sangat mencintai pekerjaan mereka, misi mereka, visi hidup mereka, berinteraksi dengan orang lain atau menikmati keindahan alam. Ada cara yang tak terbatas bagi cinta untuk mengekspresikan dirinya sendiri, dan ketika Kita terlibat dengan mereka, Kita menjadi bagian dari cinta ini.

“Cinta mampu menyembuhkan”

Untuk mengaktifkan keyakinan ini dan membuatnya berkembang, ada dua arah yang bisa kita lalui : menyembuhkan diri sendiri atau menyembuhkan orang lain. Masing – masing arah saling terhubung, dan sangatlah bagus bagi Kita untuk berfokus pada kedua arah tersebut pada saat Kita tumbuh dan berkembang. Namun perlu kita sadari bahwa Kita hanya bisa memberikan cinta yang Kita rasakan, sehingga sebagian besar orang akan mengarahkan fokus awalnya pada penyembuhan diri. Proyek ini dimulai dengan perawatan diri, mengungkapkan cinta untuk diri sendiri dengan mengadopsi pilihan gaya hidup – diet, olahraga, pola tidur dan manajemen stres – yang meningkatkan rasa sejahtera dalam keberadaan diri Kita. Segala sesuatu yang Kita lakukan untuk merawat tubuh dan pikiran adalah bentuk penyembuhan diri berdasarkan gagasan mencintai diri sendiri. Berikutnya kasih sayang datang sendiri, yang berarti menjadi lebih baik dan lebih pemaaf bagi diri sendiri. Kemudian akan datang pemurnian diri, yaitu proses membersihkan residu beracun dari masa lalu, luka lama, kenangan buruk dan penghibur diri yang telah usang. Akhirnya datanglah persekutuan dengan diri yang lebih tinggi dari Kita, yang selalu menjadi sumber penyembuhan dan cinta pada saat yang sama.

Dalam tulisan ini, Kita hanya melihat dua keping kepercayaan dari sekian banyak keyakinan yang Kita miliki, namun proses yang kita ikuti untuk merubahnya secara umum adalah sama untuk setiap perubahan keyakinan yang Kita inginkan, positif atau negatif. Secara sadar Kita mengurangi input negatif dan secara sadar pula Kita meningkatkan masukan yang positif. Menyusun program dalam proses ini akan menjamin hidup Kita selalu dinamis, karena tidak ada yang menciptakan perubahan dan transformasi selain memperoleh kendali atas keyakinan inti yang ada pada lapisan terdalam diri Kita. Ketika mereka berkembang, begitu juga Kita, bergerak maju pada perjalanan yang tak pernah berakhir yang didasarkan pada keyakinan terdalam tentang siapa diri Kita yang sebenarnya.

Diterjemahkan secara bebas dari Deepak Chopra, MD. https://www.linkedin.com/pulse/your-beliefs-can-change-life-deepak-chopra-md-official-