Mencermati Perilaku Radikal dalam Film The Joker

Dua jam dua menit menyaksikan akting Joaquin Phoenix sedikit banyak membuka cakrawala berfikir psikologis, menghadirkan pemahaman lain tentang masyarakat awam yang hanya bisa menertawakan kepahitan hidup akibat rumitnya tekanan ekonomi. Di tengah sistem kemasyarakatan yang semrawut, tidak selamanya kebaikan bisa mengalahkan kejahatan. Karena dibalik sosok – sosok yang dermawan, terdapat sifat munafik yang mengantarkannya pada kesombongan dan kehancuran.

Settingan The Joker
Settingan Kangamay

Kontroversi karakter Arthur Fleck membawa pesan lain tentang bertumbuhnya gerakan radikal, yang bisa muncul begitu rupa seiring apatisme vs kritisisme publik terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, entah politik, entah ekonomi, maupun persekongkolan para koruptor dengan aparat penegak hukum. Hingga pada proses pembentukan perilaku selanjutnya, keradikalan itu menular ke masyarakat luas yang punya nasib serupa, yang lemah dan tersakiti kemudian menjadi psikopat yang menggalang anarki.

Menonton film ini hendaknya memiliki pemikiran yang bijak dalam semua aspek kehidupan. Plot cerita yang dibangun untuk menggambarkan kejahatan yang lahir dari orang depresi, suatu kondisi delusi, atau membedakan apakah fikiran kita sedang berada dalam ilusi atau realita – cukup menarik untuk kita pelajari. Bagaimana mindset positif ternyata juga bisa terjebak dalam manipulasi alam bawah sadar. Mencermati perilaku Arthur yang larut dalam obsesi, meneliti alur perkembangan kepribadian Arthur yang terseret warisan halusinasi ibu angkatnya, lumayan merangsang fikiran untuk melakukan refleksi.

Saya kira, nuansa thriller bukanlah hal yang ditonjolkan dalam film ini, melainkan lebih pada nuansa balada. Namun saya cukup khawatir terhadap keunggulan akting Phoenix membawakan karakter Arthur sang komedian gila – jangan sampai menginspirasi perilaku anarki yang sepertinya berpotensi menjadi wabah penyakit di negeri ini.

#The Joker

Menggali Makna Sejarah Benteng Kedung Cowek, Menelusuri Warisan Leluhur Prajurit Arhanud

Kedung Cowek saat ini hanya dikenal sebagai areal wisata alternatif bagi penduduk Surabaya. Di daerah itu terdapat kumpulan bangunan yang telah begitu tua menghadap ke arah selat Madura. Tidak banyak yang tahu asal-muasal bangunan tua yang sering disebut “Benteng” oleh penduduk kampung di sekitarnya. Meski hanya terpaut  beberapa ratus meter di sebelah timur pembangunan jembatan Suramadu, tidak banyak orang yang peduli dengan kebesaran nama benteng Kedung Cowek. Mungkin beberapa orang saja yang pernah tahu bahwa disana terkubur jiwa-jiwa yang mulia, yang telah ikut membesarkan nama negara dan bangsa Indonesia. Dan tidak banyak pula yang mengerti, diantara reruntuhan bangunan benteng tersebut terselip peristiwa bersejarah yang begitu bermakna bagi keluhuran jati diri korps dan identitas prajurit-prajurit Artileri Pertahanan Udara.

Sejarah Benteng Kedung Cowek

          Arti penting dari fungsi benteng Kedung Cowek, baru diulas dengan jelas “pada tahun 2001 dalam buku “10 November ’45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?” karangan Batara R. Hutagalung. Pada saat terjadinya pertempuran hebat antara pejuang-pejuang kita dengan tentara sekutu, benteng tersebut menjadi saksi bisu keberanian prajurit-prajurit yang mengawaki meriam penangkis serangan udara melawan keganasan mesin perang pasukan asing yang lebih modern.

          Berdasarkan buku Hutagalung, rentetan benteng pantai yang menghiasi Kedung Cowek dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Sejumlah meriam yang besar dilindungi oleh beton yang tebal dan kokoh, dimaksudkan untuk menghadapi kapal musuh yang mendekati pelabuhan dan pantai Surabaya. Namun sampai saat pasukan Jepang menduduki wilayah jajahan Belanda, benteng tersebut tidak sempat digunakan. Tentara Jepang kemudian menambah persenjataan dan memperkuat perlindungan. Itupun, setelah Jepang menyerah benteng-benteng tersebut masih utuh karena mereka tak sempat memanfaatkannya. Sehingga lokasi pertahanan yang kokoh dan lengkap dengan persenjataannya boleh dikatakan jatuh secara utuh ke tangan pejuang-pejuang Republik Indonesia.

          Menjelang pertempuran 10 November 1945 Pasukan yang menduduki Kedung Cowek dikenal dengan nama pasukan Sriwijaya yang merupakan mantan pasukan Gyugun ( bentukan Jepang ) dan telah mempunyai pengalaman tempur melawan tentara Amerika Serikat. Pasukan ini sebagian besar berasal dari Tapanuli, Deli dan Aceh  yang di bawa oleh Jepang ke Morotai, Halmahera Utara, karena Jepang kekurangan tentara selama Perang Dunia ke-II, pasukan tersebut telah mengalami pemboman serta gempuran pesawat terbang dan kapal perang Amerika, saat mempertahankan Morotai. Ketika Jepang menyerah pasukan Gyugun termasuk yang berada di Morotai dibubarkan mereka dilepaskan begitu saja, kemudian berupaya keluar Morotai dengan berbagai cara. Sekitar 400-500 orang diantaranya dengan menaiki sejumlah perahu terdampar di Madura. Dari sana mereka menyeberang ke Surabaya tanpa mengetahui lokasi yang di tempuh tidak mengusai bahasa Jawa bahkan tidak memiliki uang.

Kedung Cowek
Jalan Setapak Kedung Cowek

          Secara kebetulan, Kolonel dr. Wiliater Hutagalung berjumpa dengan dua orang pimpinan rombongan petualang tersebut, yang juga berasal dari Tapanuli. Setelah diberitahu tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mereka sepakat membentuk pasukan sendiri dan bergabung dengan tentara Indonesia yang sedang dalam proses pembentukan. Selanjutnya pasukan sriwijaya tersebut ikut dalam perebutan senjata dari tentara Jepang di Morokrembangan. Dari pasukan itu, yang sudah biasa melayani meriam ditempatkan di Kedung Cowek. Sedangkan yang sanggup menggunakan senjata penangkis serangan udara disebarkan menurut lokasi meriam penangkis serangan udara.

          Saat berlangsung pertempuran 10 November 1945, terjadi pertempuran hebat di benteng Kedung Cowek. Pada waktu kapal perang Inggris menembaki kota Surabaya, pihak Inggris sangat terkejut melihat perlawanan dari arah benteng-benteng tersebut. Dari kualitas tembakan, Inggris mengira yang melayani meriam-meriam itu adalah anggota tentara Jepang yang tak tunduk pada perintah sekutu, sehingga perlawanan itu disangka sebagai tindakan penjahat-penjahat perang (War Criminals). Atas dasar alasan itulah , maka Inggris membombardir benteng tersebut. Dikemudian hari, dari sejumlah orang Indonesia yang di Pasukan Inggris itu terungkap bahwa Inggris tidak memperhitungkan kalau pihak Indonesia memiliki anggota pasukan berkemampuan melayani meriam-meriam Berat di benteng-benteng Kedung cowek.

          “Setelah pertempuran tiga minggu di Surabaya sejak 10 November 1945, jumlah anggota pasukan sangat menyusut, maka pada Desember 1945, sisa pasukan Sriwijaya digabungkan ke pasukan Jarot Subiantoro. Pada bulan Juli 1947, sebagian dari mereka ikut dengan dr. Hutagalung untuk berjuang di Sumatera, namun karena agresi militer Belanda yang pertama tanggal 21 Juli 1947, perjalanan mereka terhenti di Yogyakarta.”(Hutagalung, 2001).

Makna Sejarah Benteng Kedung Cowek

          “To know history is to know your self”. Di era globalisasi dewasa ini, arti penting dari sebuah jati diri bangsa menjadi sangat penting. Jati diri bangsa merupakan kekuatan terbesar dalam menonjolkan identitas di tengah hiruk pikuk nilai-nilai universal yang dianut masyarakat global. Dan salah satu sumber untuk menyelami jati diri bangsa ini adalah memahami kandungan nilai-nilai sejarah yang dimiliki. Tanpa kita mengerti dan menguasai sejarah bangsa ini, mustahil ada penghargaan dari bangsa lain kepada kita. Salah satu pembuktian dari hal tersebut adalah Press release yang dikeluarkan oleh kedutaan besar Inggris pada tanggal 27 Oktober 2000 di Lemhanas Jakarta tentang permohonan maaf dan penyesalan orang Inggris atas begitu banyaknya korban korban dalam pertempuran 10 November 1945. Pernyataan tersebut merupakan suatu pembelajaran bahwa pengorbanan jiwa dan raga yang diberikan oleh pejuang-pejuang pendahulu kita telah berbuah menjadi nilai-nilai martabat bangsa yang dihargai oleh bangsa lain.

            Demikian pula halnya dengan kandungan nilai sejarah di balik kumpulan bangunan benteng Kedung Cowek. Data dan fakta sejarah yang ada disana merupakan acuan dalam menguak kebesaran hati, keberanian dan heroisme prajurit-prajurit eks Gyugun yang terkubur tanpa nisan. Sebagai bagian dari kehebatan pertempuran 10 November 1945, kontroversi atas perbedaan interpretasi atas peristiwa tersebut tidak perlu menjadikan nilai-nilai kejuangan dan pembelajaran aspek-aspek pertempuran yang termuat di dalam keberadaan benteng tersebut menjadi terlupakan begitu saja. Mereka mungkin tidak tercatat sebagai bagian yang paling penting dalam kisah pertempuran yang senantiasa dikenang oleh seluruh bangsa Indonesia. Namun di balik bekas-bekas bangunan yang kusam, ada selarik sinar yang bisa membuka mata hati generasi sekarang untuk memahami siapa dan bagaimana bangsa ini memperjuangkan martabat dan harga diri sehingga sekarang dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia internasional.

          Oleh karena itu keberadaan Benteng Kedung Cowek perlu tetap dilestarikan. Sisa-sisa bangunan, rel-rel galangan pengantar munisi meriam dan keterangan para saksi yang menyatakan adanya pasukan yang mengawaki senjata meriam besar di sana, tidak sepatutnya dinilai sebatas kepingan masa lalu, hanya sebatas kisah kepahlawanan nasional. Data dan fakta tersebut justru menjadi pembelajaran bagi “generasi-generasi pengisi kemerdekaan”untuk merenungi makna di balik peristiwa heroik yang pernah terjadi disana. Jika kita berdiri di atas benteng tersebut dan kemudian melepas pandangan ke arah laut lepas, kita akan merasakan betapa besarnya pengorbanan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan, cita-cita dan martabat bangsa Indonesia.

Keterkaitan Sejarah benteng kedung Cowek dengan Sejarah Kecabangan Artileri Pertahanan Udara TNI AD

          Jika pasukan Arhanud Australia memiliki cerita bersejarah “ack-ack unit” yang dikenal dengan the “sitting duck” pada saat pertempuran di Normandia, kisah kehebatan pasukan penangkis serangan udara yang dimiliki rakyat Indonesia  juga tidak kalah hebatnya. Yang berbeda, sasaran yang dihadapi oleh pasukan Sriwijaya saat itu adalah kapal laut, dan pesawat udara. Di dalam buku “10 November 1945, Gelora Kepahlawanan Indonesia” karangan Brigjen (purn) Barlan Setiadijaya, kehebatan pasukan penangkis serangan udara juga ditunjukkan di daerah Tandes. Dalam pertempuran 10 November 1945 hari pertama, pasukan-pasukan meriam penangkis serangan udara sudah dapat merontokkan 2 pesawat Inggris.

          Pertempuran di Kedung Cowek beserta kisah pasukan penangkis serangan udara yang turut mewarnai kedahsyatan perang 10 November 1945 merupakan acuan peristiwa yang melambangkan fungsi dan peran penting pasukan penangkis serangan udara dalam suatu situasi peperangan yang sesungguhnya. Dalam peristiwa tersebut, dapat kita pelajari bagaimana pasukan penangkis serangan udara menghadapi serangan musuh saat itu. Penempatan benteng Kedung Cowek yang dibangun untuk gelar statis meriam-meriam penangkis serangan udara merupakan aspek pembelajaran penting dalam peran dan fungsi kecabangan Artileri Pertahanan Udara. Pada masa itu tidak ada doktrin yang menjadi dasar bagi susunan bertempur pasukan untuk menghadapi serangan musuh. Pasukan Sriwijaya yang bertempur di benteng Kedung Cowek saat itu hanya mengandalkan pengalaman bertempur mereka pada saat mendukung pasukan Jepang melawan tentara Amerika di Morotai.

          Mungkin tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan dari perlawanan pasukan Sriwijaya di benteng Kedung Cowek. Hanya keberanian dan semangat pengorbanan luar biasa yang bisa kita kenang sebagai lambang kesatriaan dan patriotisme prajurit kebanggaan rakyat. Namun itu sudah cukup untuk membangun nilai-nilai identitas prajurit-prajurit Arhanud TNI AD. Dalam catatan sejarah kecabangan Arhanud TNI AD, tidak ada lagi peristiwa serupa yang dapat menggambarkan aspek pertempuran pasukan penangkis serangan udara. Bagaimanapun taktik, pengalaman bertempur dan persenjataan yang canggih tidak berarti apa-apa tanpa diiringi nilai-nilai keprajuritan yang sesungguhnya. Kekalahan yang dialami oleh pasukan Sriwijaya justru merupakan pelajaran penting bahwa wilayah-wilayah di negara ini memerlukan pasukan-pasukan penangkis serangan udara yang tangguh dan dapat diandalkan untuk mengusir serangan musuh.

          Pada intinya sejarah benteng Kedung Cowek yang sempat menjadi medan pertempuran pasukan penangkis serangan udara merupakan peristiwa penting dalam pengenalan jati diri prajurit Arhanud TNI AD. Karena di tempat tersebut pertama kali digunakan meriam-meriam penangkis serangan udara yang saat ini telah berkembang menjadi kecabangan “Artileri Pertahanan Udara TNI AD”. Sejarah perlawanan pasukan penangkis serangan udara mungkin hanya terjadi di Kedung Cowek. Meskipun pasukan tersebut tidak menamakan dirinya sebagai pasukan Artileri, namun kemampuan mengawaki meriam penangkis serangan udara melawan serangan musuh jelas merupakan identitas utama yang harus dijadikan sumber pengakuan siapa sesungguhnya senior-senior prajurit-prajurit Artileri Pertahanan Udara TNI AD.

          Oleh karena itu keberadaan benteng Kedung Cowek yang saat ini dalam kondisi kritis karena sedang direncanakan untuk dialihkan fungsinya sebagai obyek non-militer perlu mendapatkan perhatian yang besar dari pimpinan generasi masa kini. Meskipun sampai saat ini pengelolaan bangunan tersebut telah berada dalam tanggung jawab dinas Kodam, nilai historis bangunan tersebut perlu dieksplorasi untuk dilestarikan. Patriotisme para prajurit yang pernah bertempur di benteng Kedung Cowek yang semestinya kita kenang selalu sebagai bagian dari sejarah yang mencerminkan jati diri dan sumber pembelajaran kita untuk menjadi bangsa yang besar dan dihormati oleh masyarakat internasional. Sudah selayaknya areal benteng Kedung Cowek menjadi cagar sejarah yang dapat dijadikan sumber inspirasi dan rujukan dalam mengenang jasa-jasa para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan negeri tercinta ini.

 

Referensi

Setiadijaya, Barlan, 1991, “10 November 1945 Gelora Kepahlawanan Indonesia”, Yayasan Dwi Warna, Jakarta.

Hutagalung, Batara R, 2001, “10 November ’45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?” Milenium Publisher, Jakarta.